
Segala ucapan dan perlakuan Briyan dimasa lalu kini begitu membekas di pikiran Asha, kebenciannya semakin menjadi kala dia mengingat kenangan buruknya dimasa lalu, tubuh bergetar, rambut acak-acakan, tangan yang terluka hingga menimbulkan beberapa bercak darah, air mata tidak surut dari pelupuk matanya.
Matanya menatap nyalang menahan amarah, seketika bayangan Briyan menjadi sangat menjijikan, bahkan foto-foto Briyan yang awalnya terpajang rapi di kamarnya kini sudah tidak bisa diselamatkan lagi, semuanya sudah hancur di tangan Asha. Asha membenci Briyan, bahkan untuk mendengar namanya saja Asha begitu jijik.
Sungguh, definisi sakit hati yang sesungguhnya menurut Asha itu adalah kala Asha telah dikhianati oleh pria yang awalnya begitu dicintainya, hatinya begitu terluka, mungkin saja Briyan tidak salah mengenai perasaannya, karena sedari awal Briyan memang sudah menolaknya, namun Asha tetap memaksa Briyan untuk tetap berada di hatinya, sementara Briyan tidak mengizinkannya, hati Asha begitu perih kala cintanya tidak terbalas, ketulusannya dibalas dengan dusta oleh Briyan. Asha kecewa.
Mata Asha mengedar pada kamar yang kini sudah bak kapal pecah, entah sudah berapa kali barang-barang yang ada di kamarnya menjadi korban amarah Asha.
Seketika matanya menatap pada manakin yang terpajang di pojok kamarnya, mata Asha kembali menetes.
“Aku begitu mencintaimu, tapi kenapa kamu selalu memperlakukan aku dengan buruk? Kamu mengkhianati pernikahan kita, sementara aku terus memikirkanmu? Adilkah ini untukku?” air mata Asha lolos begitu saja, tangan halusnya menyapu lembut pada baju yang tergantung di hadapannya, seketika bayangannya kembali pada beberapa bulan lalu.
‘Aku akan membuat baju pengantin untuk diriku sendiri!’ Asha bersorak senang setelah selesai membuat gambar untuk baju impiannya sendiri, guru di tempat lesnya sudah mengajarinya cara membuat baju pengantin yang sangat sederhana, tentu saja kemampuan Asha belum sampai di tahap profesional, hanya saja Asha kukuh untuk mendesign baju pernikahannya sendiri.
Berhari-hari Asha berusaha menyelesaikan pekerjaannya, namun seringkali gagal, gadis itu tidak mengeluh, hanya sesekali menangis kala jarinya tertusuk jarum, atau tertusuk gunting, hingga tangannya banyak ditempeli plester.
‘Non, bukankah kain baju ini sama seperti baju tidur Non?’ Bi Inah mengerutkan keningnya kala mengintip hasil kerja Asha yang baru seperempatnya, padahal sudah satu minggu Asha bergelung dengan pekerjaannya.
‘Hmh, aku sengaja membuat gaun pengantinku berbahan baju tidur silk, agar gaunnya setelah acara pesta bisa aku gunakan untuk tidur juga’ Asha menjelaskan dengan semangat.
‘Loh? Bukannya aneh ya Non?’ Bi Inah semakin tidak mengerti.
‘Gak aneh Bi, nanti kalau sudah selesai akan terlihat cantik, ini belum beres Bi, ah ... aku sudah tidak sabar lagi, bagaimana nanti aku akan menggunakan gaun ini di acara resepsiku nanti, gaun ini akan multi fungsi, bisa digunakan untuk pesta, juga bisa langsung digunakan untuk tidur, huaaaahhhh ... aku gak sabar banget Bi’ mata Asha kian berbinar, Bi Inah hanya tersenyum kala melihat tingkah Asha kala itu.
‘Sekarang non makan dulu, sudah sejak seminggu lalu Non kurang makan dan kurang istirahat, simpan saja dulu Non, nanti dilanjut lagi.’ Bi Inah menyarankan.
‘Gak bisa Bi! Aku harus segera menyelesaikannya, bulan depan aku mau nyusul Briyan, kebetulan nanti pas Briyan liburan semester, jadi dia bisa pulang dan kita langsung adain resepsi, kan surat nikahnya udah jadi’ Asha terkikik dengan khayalannya.
‘Oalaaahhh, Bibi ikut seneng Non,’ Bi Inah tersenyum sambil manggut-manggut.
Akhirnya gaun itu bisa diselesaikan Asha tepat sebelum kepergiannya untuk mengunjungi Briyan, dan kini gaun itu seolah sedang mengolok Asha, setelah keadaan menjadi serumit sekarang, bagaimana mungkin Asha masih bermimpi untuk menggunakan gaun tersebut?.
Segera Asha menendang manekin yang memajang gaun pengantinnya, lalu menginjaknya dengan kesal.
“Aku membencimu! Pembunuh! Aku bersumpah, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan!” gigi Asha gemelatuk kuat, segera dia menyeka darah dan air matanya, lalu bangkit meninggalkan kamarnya, mendial nomor yang ada di ponselnya lalu melangkahkan kakinya menuju mobilnya dalam kondisi yang acak-acakan.
‘Ya! Aku ingin bertemu!’ suara Asha begitu tegas, gadis itu menghidupkan mesin mobilnya, melajukannya dengan kecepatan tinggi, menghiraukan teriakan Bi Inah yang meneriakan namanya.
***
“Di mana Asha? Aku ingin bertemu dengan istriku Asha”
Pria dewasa yang tengah berusaha untuk mengunci gerbang sebuah Villa itu terdiam, mengerutkan kening lalu meneliti penampilan pria muda di hadapannya dengan teliti.
“Aden ini siapa?” tanyanya bingung.
“Aku Briyan, suami Asha, dia pasti ada di dalam bukan?” tanya Briyan tak sabaran, pandangannya mengintai pada dalam Villa yang terlihat kosong, namun Briyan menangkap sesuatu, jika Villa itu baru saja dihuni seseorang, aromanya sungguh ketara.
“Maaf, Non Asha tidak ada disini Den” pria yang mengaku bernama Asep sebagai penjaga Villa tersebut menggelengkan kepalanya.
“Sungguh Den, Non Asha tidak ada disini” Asep kembali menggeleng.
“Lalu, siapa yang meninggali Villa ini sebelumnya, aku tahu persis jika Villa ini sudah dikosongkan bertahun-tahun, dan sekarang kamu ada disini?” Briyan melirik sinis pada Asep.
“S sa saya hanya ditugaskan untuk membersihkan Villa ini oleh Nyonya, Den” ucap Mang Asep gugup.
“Nyonya? Siapa maksud mang Asep?” Briyan menatap tajam pada pria di hadapannya, membuat pria tersebut terlihat ketar-ketir.
“Nyonya Agnes Den” ucap Mang Asep dalam satu kali tarikan napas.
“Mamih?” Briyan membulatkan matanya, dari tadi dia kalang kabut mencari tahu keberadaan Asha sendirian, kenapa dia tidak bertanya pada Mamih atau Papih? Ya! Mereka pasti tahu sesuatu.
“Bodoh!” umpat Briyan pada dirinya sendiri, namun di tanggapi lain oleh Mang Asep yang ada dihadapannya.
“Bodoh? Siapa? Saya?” tanyanya pada diri sendiri dengan nada geram karena di bilang bodoh, tak ingin ambil pusing, lanjut pria itu segera mengunci pintu gerbang Villa tersebut, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kehadiran Briyan.
“Anak sekarang tidak sopan pada orangtua” gerutu Mang Asep dengan kesal. Namun, kekesalan Mang Asep segera teralihkan kala ponselnya terus berdering, mengangkat telponnya Mang Asep segera berbicara dengan lawan bicaranya dengan tubuh membungkuk penuh hormat.
“Ya, Tuan?” Mang Asep terlihat begitu ketakutan kala mendengar suara di seberang sana.
“...”
“Ya, Den Briyan baru saja pergi Tuan”
“...”
“Sesuai perintah Tuan”
“...”
“Baik Tuan”
Mang Asep mengusap wajahnya kasar, lalu mengatur napasnya perlahan, kenapa juga manusia tidak berwujud itu begitu menyeramkan? Bahkan wujudnya saja tidak tahu, tapi Mang Asep begitu ketakutan kala dia melakukan kesalahan.
“Aura orang kaya memang berbeda, hhiiiyyy ...”
.
.
.
Hay gengs ... jangan lupa dukung karya ini yaaaa, lakukan apa yang kalian bisa untuk tetap membuat aku termotivasi untuk melanjutkan karya ini.
See you
Sayang kalian banyak-banyak. Love.