
Napas Briyan kian memburu, pria kecil itu terus menyeret langkahnya entah kemana, entah sudah berapa lama dia berlari namun tetap saja keempat pria itu berada di belakangnya, ikut berlari mengejar dirinya, napas Briyan hampir putus rasanya, ketakutan menghampirinya, seketika dia merasa menyesal telah berlari jauh untuk menghindari Asha tadi.
Asha! Gadis itu selalu saja membuatnya sulit sedari dulu! Briyan mengutuki dan semakin membenci kehadiran Asha, karenanya kini dia berada di posisi sulit.
Melirik kebelakang, Briyan melihat para penculik itu tertinggal cukup jauh, dengan lincah Briyan segera mengelitkan tubuhnya, mencoba peruntungan untuk bersembunyi dibalik pohon besar yang begitu rindang, pencahayaan begitu minim hanya tersinari dari lampu jalanan juga sinar bulan purnama yang remang, harusnya para penjahat itu tidak bisa menemukan Briyan.
Briyan masih terengah dengan tangan menyeka keringatnya yang membanjiri wajahnya, mata beningnya terus menatap awas pada kejauhan, tidak ada pergerakan dari sana! Apakah mungkin para preman itu sudah memutuskan untuk berhenti mengejar Briyan? Pria kecil itu menghela napas berat, jiwanya masih dihantui rasa takut, bagaimana jika para preman itu berhasil menangkapnya, menculiknya, lalu membunuhnya? Briyan bergidik ngeri dengan pemikirannya.
Lama, akhirnya Briyan keluar dari persembunyiannya, mengelus dada karena merasa dia telah terhindar dari bahaya, celingukan Briyan mengira-ngira dia berada dimana, ternyata dirinya berada di jalanan yang cukup jauh menuju Villanya, menghela napas berat, Briyan harus berjalan cukup jauh untuk kembali, tidak menyangka jika dirinya bisa berlari sejauh itu tadi.
“Haha! Kena kamu!” teriakan menggema berasal dari belakang tubuh Briyan, membuat Briyan mematung seketika! Perhitungan Briyan salah! Briyan telah dikelabui, ternyata para preman itu hanya memancing Briyan agar keluar dari persembunyiannya, lalu mereka sekarang akan menangkap Briyan, haruskah Briyan pasrah saja?.
“Mau kemana Adek? Sebaiknya Adek ikut kami sekarang” si pria perut gendut yang kini napasnya masih terengah tertawa mengejek, diikuti tawa temannya yang lain.
“Tidak! Tolooonnngg!” jiwa ketakutan Briyan semakin menjadi, akhirnya Briyan berteriak minta tolong dengan panik.
“Ssssttt! Jangan berisik! Disini gak akan ada yang nolongin kamu!” pria bertatto terkekeh mendengar teriakan Briyan yang mengiba.
“Mamih! Papih! Toloooonnggg!” Briyan kembali berteriak.
“Haha! Silahkan teriak sampai pita suaramu habis! Tidak ada yang menolongmu!” pria bertubuh tinggi itu tersenyum menyeringai.
“Tidak!” Briyan memundurkan langkahnya, keringat kembali membanjiri tubuhnya, Briyan sungguh ketakutan kali ini.
Briyan kembali berlari sekuat tenaga, menyusuri jalanan sunyi yang kini mulai dipenuhi pepohonan yang berjajar, apa Briyan sekarang memasuki hutan? Briyan bertanya-tanya, namun dia tidak peduli, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan dirinya.
Tenaga Briyan mulai melemah, Briyan mulai kelelahan, tubuh Briyan mulai ambruk, Briyan kehabisan daya dan upaya. Hingga dalam keputus asaannya tiba-tiba tubuh Briyan terhuyung karena merasa menabrak sesuatu, hingga Briyan jatuh tersungkur.
Briyan mendongakkan kepalanya, seketika matanya terbelalak merasa senang karena pertolongan Tuhan ternyata telah tiba, sedari tadi bibirnya terus merapalkan permintaan tolong pada Tuhannya.
“Mamah! Papah! Tolong Briyan!”
Briyan memohon pada sepasang suami istri yang tengah menggandeng putrinya, ya mereka Mamah dan Papah Asha yang tengah menuntun Asha untuk mencari Briyan, sebuah kebetulan akhirnya mereka bisa menemukan Briyan disini, dengan raut lega Mamah memeluk Briyan dengan sayang.
“Briyan, nak ... kamu dari mana saja? Mamah, Papah juga Mamih dan Papihmu mencarimu sedari tadi”
“Mah! Ada orang jahat! Mereka mau menyakiti Briyan” jelas Briyan putus-putus karena rasa takutnya masih mendominasi.
“Orang jahat? Siapa?” Papah mengedarkan pandangannya.
Hingga akhirnya ke empat orang pria jahat yang mengejar Briyan akhirnya tiba di hadapan mereka, ketegangan seketika tercipta, Mamah dan Papah memundurkan langkah melindungi anak-anak, terutama Asha, Mamah seketika memeluk putrinya dengan ketakutan kala keempat pria itu mengeluarkan senjatanya, masing-masing dari mereka mengeluarkan sebuah belati tajam.
“Jangan takut! Ayo berlindung di belakang tubuh Papah” Papah menarik tubuh Briyan agar berlindung di balik tubuhnya, Papah segera memasang kuda-kuda untuk melawan para penjahat yang kini sudah bersiap menyerangnya.
“Pah hati-hati” Mamah mewanti-wanti dengan tubuh yang tidak kalah gemetar.
“Kak Briyan, Asha pegangin tangan Kak Briyan ya” Briyan mendongak, menatap wajah cantik yang kini tengah menggenggam tangannya dengan senyuman tertahan, tangan gadis itu juga terasa bergetar kuat.
“Hmh, aku juga akan memegang tanganmu” Briyan mengangguk, menautkan jemari mereka, seketika Briyan sadar, jika apa yang dilakukannya selama ini pada Asha adalah kesalahan, Asha tetap baik meski sejahat apapun perlakuan Briyan, diam-diam Briyan berjanji tidak akan melakukan hal buruk lagi pada Asha.
“Kak Briyan tenang ya? Papah akan menyelamatkan kita”
Perkelahian antara Papah dan keempat preman itu berlangsung, Mamah terus berteriak histeris kala melihat suaminya hampir kalah, jelas saja satu banding empat bukan lawan yang sepadan.
“Papah Awas!” Mamah menutup wajahnya kala melihat pria bertattoo menusukkan belatinya tepat di dada Papah,
“Papah!” Asha menjerit menghempaskan tautan tangan Briyan, mencoba mendekati Papah yang kini dadanya tengah memuncratkan darah segar hingga mengenai baju Asha.
“Jangan! Jangan bunuh Papah!” Asha menjerit ketakutan kala melihat preman itu kembali menancapkan belatinya di dada Papah untuk kedua kalinya, papah mengaum hebat, menatap anak dan istrinya dengan pandangan sayu.
“Pe pergi” Papah berucap lirih sebelum beliau menutup mata.
“Papah!” Mamah dan Asha berteriak histeris, ingin memeluk tubuh Papah yang bersimbah darah, namun tiba-tiba saja preman berkepala plontos itu juga menusukkan belatinya di perut Mamah.
Cleb!
“Mamah!” Asha kembali histeris kala darah segar dari perut Mamah juga mengenai tubuhnya, gadis itu terdiam untuk beberapa saat karena shock,
“Mamaaahhh!” tubuh Asha terjatuh lunglai ke tanah, gadis itu menatap nanar pada kedua orangtuanya yang sudah tergeletak tidak bergerak, mencoba untuk memeluk kedua orangtuanya yang bersimbah darah, Asha merangkak dengan air mata yang mengalir, gadis itu terisak kuat sesekali histeris memanggil kedua orangtuanya.
“Pergi! Pergi!” tiba-tiba Briyan memukul membabi buta pada keempat preman itu, membuat keempat preman itu tertawa terbahak, dua preman lainnya merampas perhiasan yang digunakan Mamah juga Asha, dan juga dompet dan ponsel Papah yang terdapat di saku celananya.
Briyan meraih sebuah balok kayu yang terletak tidak jauh dari mereka, lalu mencoba memukulkannya, namun gerakan tersebut tentu tidak berguna bagi keempat preman tersebut, dengan tawanya salah satu dari preman tersebut meraih balok kayu tersebut, lalu memukulkannya pada belakang kepala Briyan, hingga Briyan jatuh tersungkur dan kehilangan kesadarannya.
“Briyaaaannn!” Asha kembali histeris, jiwanya begitu terguncang kala melihat orang-orang yang dicintainya tergeletak tak berdaya di hadapannya.
“Haha ... tinggal gadis berisik ini yang tersisa, dia masih kecil, tapi cantik, bagaimana jika kita menikmatinya juga?” pria bertato menatap Asha dengan tatapan lapar, hingga tangannya bersiap untuk meraih tubuh Asha yang tengah bergetar hebat.
Tawa terbahak terdengar dari keempat pria tidak berperasaan tersebut, membuat tubuh Asha semakin bergetar hebat.
“Tidak! Pergi! Tolooonnngg!”