SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Hai ... Ayang ...


“Briyan kembali datang di hidupku”


Gadis cantik itu menghela napas berat, lantas menghembuskannya perlahan, tangannya saling meremas menahan getaran, keringat dingin mulai mengucur, perutnya begitu terasa mual.


“Lantas apa yang dia lakukan terhadapmu?” perempuan paruh baya yang telah menangani kesehatan mentalnya sejak dulu mulai kembali bertanya dengan lembut.


“Tidak ada, dia datang hanya untuk menggangguku saja sepertinya.” Gadis itu kembali mengungkapkan perasaannya.


“Belum tentu, bukankah sekarang Asha sudah banyak belajar tentang agama? Di agama kita menyarankan agar kita selalu berprasangka baik terhadap orang lain, tidak bisakah Asha juga melakukannya? Berprasangka baik terhadap kedatangan Briyan kali ini” sang dokter tersenyum menenangkan.


“Aku takut, aku takut kala bayangan perlakuan buruk Briyan selalu menghantui hidupku” tangan Asha semakin bergetar.


“Baiklah, tidak perlu dipaksakan, lakukan apa yang membuat Asha nyaman” dokter kembali berucap lembut.


“Hanya saja, coba Asha sedikit demi sedikit untuk bisa melupakan masa lalu, yah ... aku tahu semuanya tidak akan mudah, namun tidak ada salahnya jika Asha mencoba” dokter tersenyum lembut, memberikan banyak kenyamanan bagi Asha.


“A aku akan mencobanya” Asha mendongak, lantas tersenyum tipis, bibir pucatnya terlihat sedikit bergetar.


“Masih sering mimpi buruk?” dokter perempuan itu kembali bertanya.


“Terkadang, dan itu sangat menyiksaku, aku tidak bisa tidur setelah mimpi buruk itu datang lagi” jelas Asha mengingat.


“Baiklah, obatnya masih diminum?” dokter kembali bertanya.


“Yah, masih” Asha mengangguk pelan.


“Boleh lihat tanganmu?” dokter menatap lembut, memperhatikan tangan Asha.


Asha menyodorkan tangannya, dokter mengangguk lalu tersenyum.


“Asha tidak melakukannya di tempat lain bukan?” dokter meneliti tubuh Asha yang sepenuhnya tertutup oleh pakaian yang Asha kenakan.


“Ti tidak” Asha menggeleng, kakinya merapat seperti menyembunyikan sesuatu.


“Tidak melakukannya di paha atau kaki?” tanya dokter kembali meyakinkan.


“Ti tidak” Asha kembali menggeleng ragu.


“Baiklah, aku percaya padamu” dokter mengangguk lantas memberikan beberapa obat yang harus Asha konsumsi.


“Akhir-akhir ini bagaimana caramu untuk menenangkan pikiranmu sendiri?” dokter kembali bertanya dengan senyuman tidak luntur dari bibirnya.


“Berdzikir, itu sangat menenangkan dan aku bisa melupakan segala bayangan buruk yang silih berganti di kepalaku” Asha menjelaskan.


“Anak baik, pintar” dokter mengelus bahu Asha lantas memeluknya lembut, mengusap kepala Asha dengan kasih sayang tulus, hingga Asha merasa dikasihi dengan layak.


Dokter memandang punggung Asha yang kini sudah menghilang di balik pintu, kepalanya menggeleng perlahan, merasa iba dengan gadis cantik nyaris sempurna pasiennya.


“Kedatangan Briyan kembali di hidup Asha tidak baik untuk mental illness Asha, Briyan bisa kembali men-trigger mental Asha menjadi buruk” sang dokter kembali menuliskan sesuatu di secarik kertas, lalu menyimpannya dalam sebuah map tebal, dari sampulnya ditulis dengan jelas jika map tersebut berisi tentang kesehatan mental Asha, dokter menutup map tersebut lantas menyimpannya di sebuah laci yang cukup aman.


***


Asha tertegun kala menatap sesosok makhluk yang tengah berbaring dengan mata terpejam, lantas kakinya membawanya untuk berjalan menghampiri, duduk di sebelahnya kemudian duduk di salah satu kursi dengan sorot mata iba.


“Papih ...”


Sapanya pada pria yang kini bola matanya mulai bergerak perlahan, kemudian bola matanya mulai terlihat, seketika raut sendunya tergantikan oleh raut berbinar meski wajahnya terlihat pucat.


“Asha? Ini Asha? Putri Papih?” pria itu berusaha mengangkat tubuhnya, membenahi posisi duduknya dengan dibantu Asha.


“Asha disini buat jenguk Papih, maaf Asha baru bisa datang sekarang” gadis itu memasang wajah menyesal yang terlihat tulus.


“Tidak apa-apa, mengetahui jika Asha terlihat sehat seperti ini, Papih senang Nak, kamu semakin cantik sayang” Papih tersenyum, mengagumi perubahan Asha yang begitu signifikan, untuk pertama kalinya pria menuju tua itu mengulas senyumannya setelah sekian lama sering terbaring dan bolak-balik periksa dokter.


“Papih harus sehat lagi, Papih masih muda, tapi kenapa sakit-sakitan begini?” Asha tersenyum, lalu menyodorkan makanan yang berada di atas nakas.


“Makan dulu, Asha suapin” lanjutnya kemudian.


“Papih akan sehat lagi, jika yang merawat Papih adalah Asha” permintaan tersebut membuat Asha mematung, sendok yang tengah di pegangnya menggantung di udara.


“Jangan terlalu dipikirkan, itu hanya harapan Papih, namun jika Asha merasa tidak nyaman, tidak apa-apa, Papih masih ada Mamih yang mengurus” pria itu mengulas senyum dipaksakan.


“Papih makan dulu, lalu minum obat” Asha kembali menyodorkan makanan pada mulut Papih, hingga pria tua itu membuka mulutnya kemudian mengunyah makanan yang di sodorkan Asha hingga tandas.


“Terimakasih banyak sudah mau datang untuk menjenguk Papih” Papih kembali berucap setelah Asha berhasil memberikannya obat.


“Sama-sama, Asha juga bahagia bisa kembali bersama Papih, Asha harap Papih bisa kembali sehat dan bisa kembali menggendong Asha” Asha tersenyum pahit mengingat segala kenangan kebersamaannya bersama keluarga mantan suaminya tersebut, Mamih dan Papih adalah orang yang sangat baik dan ikut berjasa dalam membesarkan Asha semenjak kedua orangtua Asha meninggal dunia.


“Papih akan sehat kembali” gumamnya lirih, detik selanjutnya obat yang diminum oleh Papih mulai bereaksi, Papih mulai mengantuk dan tertidur setelahnya.


Asha keluar dari kamar, menutup pintunya dengan perlahan, menghela napas berat lantas mengeluarkannya perlahan.


“Papih sakit komplikasi Sha” suara Mamih membuyarkan lamunan Asha.


“Tadi Papih sempat bercerita banyak pada Asha Mih” Asha melirik Mamih yang kini sudah berdiri di sebelahnya.


“Maaf merepotkanmu Sha, tapi Papih terus meminta ingin bertemu kamu, setelah tahu jika kamu sudah pulang ke tanah air” Mamih menjelaskan.


“Asha seneng bisa kembali ke sini lagi Mih” Asha mengedarkan pandangannya, tiba-tiba saja hatinya merasa tidak nyaman saat matanya mengedar menatap detail ruangan rumah mantan suaminya, di rumah ini terlalu banyak kenangan menyakitkan bagi Asha, terlampau banyak penolakan kasar dari Briyan untuknya.


“Mamih sudah menyiapkan makan malam untukmu sayang, makan malam dulu disini ya” Mamih menuntun tangan Asha menuju ruang makan, lalu membimbingnya untuk duduk.


“Mamih masakin makanan kesukaan kamu lho, Mamih tahu, waktu tinggal di luar negri pasti susah kan buat makan soto” Mamih menyodorkan semangkuk soto yang masih mengepul, dulu Asha begitu menyukai soto buatan Mamih, Asha menerimanya dengan senang hati, sejenak Asha melupakan segala rasa tak karuannya yang terus menggerogoti hati. Asha dan Mamih terlibat obrolan ringan kala mereka masih menikmati makan malamnya, Mamih menceritakan jika pernikahan Bintang terpaksa di undur beberapa bulan karena kesehatan Papih yang masih belum membaik.


“Assalamualaikum ...”


Asha dan Mamih mendongak, menatap sumber suara, Asha mengenal suara itu, seketika Asha menyimpan sendoknya, memutuskan untuk mengakhiri sesi makannya, dan berniat meninggalkan rumah tersebut, kala Briyan melangkah dan mencoba mendekati Asha.


“Hai ... Ayang ...”