SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Do'a dan Pelukan


Dimalam yang pekat, hawa dingin menyeruak masuk pada salah satu bilik kamar yang jendelanya sedikit terbuka, membiarkan udara dingin menusuk kulit seorang perempuan yang tengah bergelut dengan pekerjaannya. Waktu sudah hampir sepertiga malam, namun gadis itu masih saja tidak ingin beranjak dari sebuah meja yang berisi penuh dengan kain-kain mahal yang tengah di jahitnya.


Berusaha menyibukkan diri adalah jalan ninjanya agar bisa sedikit melupakan kemelut di hidupnya. Berulang Kali helaan napas beratnya terdengar, lalu dihembuskan dengan kasar, berulang kali juga bibirnya meringis dan dahinya mengernyit kala jarum yang tengah di pegangnya menusuk kulitnya tanpa sengaja. Jarinya sudah terdapat banyak sekali plester, namun dia seolah belum ingin menyerah!.


“Udara dingin, tapi aku merasa haus” gumamnya pelan, langkahnya gontai menuju daun pintu melewati nakas yang sedikit terbuka pada bagian laci kecilnya, langkahnya sempat terhenti dan meliriknya perlahan, terdapat sebuah bingkai foto disana, foto masa kecilnya bersama seseorang yang pernah dan mungkin masih dicintainya. Namun ... rasa bencinya melebihi rasa cintanya kini, hingga dia memutuskan untuk melempar foto tersebut, lalu menutup lacinya rapat, segera bergegas berjalan menuju lantai dasar rumahnya, sekedar untuk minum agar bisa menghilangkan rasa panas di dadanya.


Langkahnya terhenti kala mendengar suara isakan yang berasal dari sebuah kamar, urung meminum minuman yang sudah di tangan, Asha memilih untuk berjalan mendekati kamar yang diduga adalah sumber dari adanya suara isakan tersebut.


“Ya Allah ... lindungilah Non Asha, hamba sangat menyayanginya, maka biarkanlah dia bahagia, hiks ...”


Asha tertegun di ambang pintu yang sedikit terbuka itu, telinganya kembali menajam, menangkap suara lirih yang dibaluti isakan.


“Non Asha anak yang baik, maka biarkan Non Asha terbebas dari segala deritanya ya Allah ...” isakan kecil itu kembali terdengar, Asha masih mematung, tidak pernah menyangka jika wanita tua bertubuh montok itu bisa dengan ikhlas mendoakannya, selama ini Asha sudah sangat abai dengan keadaan di sekelilingnya, Asha hanya sibuk mengejar Briyan, membenci Briyan, dan kini Asha sibuk ingin melepaskan diri dari jeratan tak kasat mata Briyan, juga ikatan nyata dari pria yang sudah tega menyakitinya berulang kali tersebut.


“Bi ...” Asha mendekat kala perempuan tua itu tengah melipat kain mukena nya.


Bi Inah menoleh lalu tersenyum menatap Asha dengan tatapan sayunya.


“Non Asha butuh sesuatu? Kenapa malam-malam begini Non Asha ada disini?” Bi Inah mengerutkan keningnya.


“Bibi sayang Asha?” tanya Asha lirih, air mata sudah mengembang di matanya,


“Tentu saja, Non Asha kesayangan Bibi” Bi Inah tersenyum tulus, lantas menarik lengan Asha dan mendudukkannya di pinggir ranjang kecilnya.


Asha terdiam, selama ini dia tidak pernah merasakan kasih sayang tulus dari siapapun semenjak kedua orangtuanya pergi, tapi Asha tidak pernah menyadari jika ada doa-doa yang terpanjat dengan begitu tulus dari seorang Bi Inah, asisten rumah tangga yang selama ini tak pernah dilihatnya walau hanya sebelah mata.


“Tapi, aku selalu jahat sama Bibi, aku selalu nyusahin Bibi, kenapa Bibi sayang sama Asha?” Asha menatap Bi Inah lekat, perempuan tua yang tengah menggunakan daster longgar itu kembali tersenyum.


“Siapa bilang Non Asha jahat? Non Asha gadis yang sangat baik, Non Asha selalu memberikan uang jajan yang banyak untuk pekerja di rumah ini, memberikan uang THR setiap tahun dengan nominal yang banyak, hingga keluarga kami semua kebutuhannya terpenuhi, Non Asha juga sering membagikan makanan pada orang-orang yang membutuhkan, pada pengemis di pinggir jalan, pada pemulung sampah, Non Asha juga ...”


“Bi, dari mana Bibi tahu semua itu?” Asha menghentikan ucapan Bi Inah, jelas saja Asha merasa heran dengan semua yang Bi Inah tahu mengenai dirinya.


“Terimakasih sudah menyayangi Asha” gadis itu tergugu pilu dalam pelukan Bi Inah.


“Asha jahat karena sering susahin Bibi, padahal Bibi baik banget mau doain Asha di shalat tahajud Bibi” Asha kembali terisak, teringat bayangannya yang sering menyiksa tubuh Bi Inah tanpa sadar, mengejar Briyan membuat Asha melupakan banyak hal baik di sekitarnya.


“Non ... setiap orang memiliki masa sulitnya masing-masing, dan mereka juga akan diberikan solusi dari setiap masalahnya oleh Gusti Allah, percaya saja, Gusti Allah akan selalu menyayangi Non dan melindungi Non dari segala hal buruk yang menimpa Non” Bi Inah tersenyum, tangannya mengelus bahu Asha.


“Benarkah?” Asha mengerjapkan matanya berulang kali, selama ini dia sedikit abai dengan Tuhannya, dunianya jungkir balik, Asha kehilangan pegangan, Ia hanya diberikan limpahan materi, tanpa diberikan kasih sayang dan arahan yang seharusnya.


“Allah itu maha baik, ujian apapun yang Allah berikan pada hambanya semata-mata hanya karena ingin hambanya menjadi hamba yang lebih baik lagi, Allah percaya kita mampu menjalankan ujian ini dengan baik, makanya Allah percayakan ujian itu kepada kita, karena kita mampu”


“Jika Allah baik, lantas kenapa Allah ambil Mamah, Papah, juga ... Briyan” Asha menundukkan kepalanya lesu, air matanya menetes sedemikian rupa.


“Karena Allah tahu ini yang terbaik buat Non Asha, karena Allah tahu Non Asha mampu melewati semua ujian ini”


“Meski aku melewatinya dengan hati yang berdarah?” Asha mendongakan kepalanya.


“Ya, Non Asha kalau mau ujian naik kelas juga mengalami kesulitan kan? Harus belajar keras, harus begadang, harus rela melewatkan makan, tapi setelah ujian Non Asha lulus, Non Asha merasa lega dan senang bukan?” Bi Inah bertanya dengan senyuman lembut khasnya.


“Ya” Asha mengangguk mengerti.


“Begitu juga dengan ujian hidup ini Non”


“Bi Inah mau ajarin Asha buat lebih deket lagi sama Allah? Agar Allah lebih sayang Asha, aku mau berdoa dan meminta sama Allah, supaya nanti aku bisa berkumpul lagi dengan Mamah dan Papah” binar mata Asha begitu semangat.


“Tentu saja Non, akan Bibi ajarkan, Non Asha putri yang shalehah, mau mendoakan Mamah dan Papahnya”


Asha masuk dalam pelukan Bi Inah, pelukan lembut hingga terasa nyaman, Asha sadar pelukan ini adalah pelukan yang selalu membuatnya nyaman kala Ia kehilangan arah.