
Kehilangan akan selalu menghadirkan trauma, terutama untuk mereka para pemuja. Tidak akan ada kata baik-baik saja bagi mereka yang pernah merasakan kehilangan, terlebih kala kita kehilangan orang yang paling kita cintai dan paling kita sayangi. Jangankan ketika kamu mengingat setiap kejadian yang pernah dilalui bersama, bahkan hanya melirik baju atau mencium aroma yang sama saja, rasa itu kembali menguar sama.
Mental setiap orang itu berbeda, ada banyak pelampiasan yang mereka lakukan untuk melupakan traumanya, ada yang memilih untuk menyakiti orang lain, ada yang memilih untuk menyakiti diri sendiri, banyak juga orang yang memilih untuk menyembunyikannya, dan tetap tersenyum penuh kepalsuan.
Tolong, jangan katakan mereka orang yang melakukan hal-hal yang dianggap tidak wajar adalah orang yang kurang iman, orang yang tidak memiliki dasar agama, orang yang jauh dari Tuhan, selamanya tidak seperti demikian, karena sekali lagi mental tiap orang berbeda-beda. Kamu merasa kuat melewati ujian ini, belum tentu dengan oranglain, oranglain mampu melewati ujiannya, kita belum tentu.
Dimuka bumi ini, ada orang yang tengah mengalami traumanya, mungkin mereka sedang berusaha untuk sembuh dan terus berjuang untuk semua itu. Kita hanyalah manusia biasa, sebiasa-biasanya manusia, bisa salah, bisa lupa, bisa khilaf, selamanya tidak akan bisa sempurna. Menghilangkan trauma tidak akan bisa sekejap mata, butuh waktu yang teramat lama untuk mengembalikan mentalnya.
“Aku baik-baik saja”
“Aku kuat, aku tidak apa-apa”
Mantra tersebut terus diulang-ulang oleh Asha sepanjang perjalanan pulangnya, kata-kata itu akan men-sugesti dirinya sendiri untuk kembali menjadi kuat. Meski pada kenyataannya hati Asha tetap rapuh, air mata terus mengalir di pipi mulusnya, matanya terpejam kuat menghindari bayangan buruk yang sedari tadi melintas di benaknya. Tubuhnya bergetar tak karuan.
Berjam-jam melewati perjalanan menyakitkan baginya, akhirnya Asha tiba di sebuah tempat yang sebelumnya tidak pernah terpikir akan Ia pijaki kembali, namun langkah kaki menuntunnya kesana, Asha menghentikan langkahnya, menatap bangunan menjulang di hadapannya, Asha sempat membatu sejenak, pandangannya menelisik pada sekeliling, dahinya mengkerut, kenapa rasanya hatinya menjadi lebih tidak tenang?
Berjalan perlahan membuka pintu pagar, Asha memicingkan matanya, dadanya kian berdebar, perlahan tangannya terangkat mengelus dadanya.
“Kamu sudah pergi Briyan, sekarang aku sendiri”
“Aku akan melepaskanmu”
“Tidak! Ini hanya ilusiku saja”
Bibir Asha kian bergetar, seiring dengan kepalanya yang kian berdenyut ngilu, lalu kesadarannya menjadi mengambang. Pada akhirnya Asha ambruk!.
***
Briyan mengacak kepalanya dengan frustasi, segala bayangan masa lalunya bersama Asha terus saling berkelebat seolah mengolok dirinya yang tengah dilanda panik, kini tubuhnya sudah luruh dilantai, tangannya menekuk lututnya sendiri, sesekali kepalanya Ia benturkan di tembok samping tubuhnya.
Sementara Raisya, gadis yang tengah dilanda kecewa itu sudah pergi meninggalkan Briyan beberapa saat lalu setelah mengetahui segala rahasia Briyan selama ini, memang gadis mana yang rela dibohongi? Gadis mana yang mau dikhianati? Mungkin jawabannya tidak ada! Raisya memilih pergi, memberikan waktu pada Briyan untuk memilih dan menentukan sikap.
“Sha ...” Briyan menggumam, penyesalan menghinggapi hatinya, benaknya bertanya-tanya, dimana Asha sekarang? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa Asha baik-baik saja? Ditengah kegamangan hatinya, tidakkah Asha akan melakukan hal-hal buruk kembali? Bagaimana jika Asha kembali melakukan percobaan bunuh diri?
“Sha, maafin aku” Briyan bergumam tidak jelas, kepalanya masih menyangkal, jika dia tidak mencintai Asha dan justru berbahagia jika Asha memutuskan untuk pergi dari sisinya, namun sisi hatinya mengatakan jika Briyan, pria itu tidak rela kehilangan perhatian juga cinta dan kasih sayang tulus Asha selama ini.
‘Aku pegang janji Ayang, kalau Ayang coba selingkuh atau pergi dari aku, aku bakalan langsung pergi dan mati, kita gak akan pernah ketemu lagi’
Bayangan suara Asha kembali terdengar, Briyan menggelengkan kepalanya berulang kali. Berharap semua ancaman Asha dimasa lalu tidak akan pernah terjadi.
“Gue harus apa Sha?” mata Briyan kian memerah dan sedikit membengkak, pria itu sungguh merasa kalut sendiri.
Dering panggilan ponsel terus berbunyi, sedari tadi kedua orang tuanya bergantian memanggilnya, namun tidak satupun Briyan tanggapi, tubuhnya masih saja membeku, jiwanya berada dalam kegamangan.
Hingga akhirnya, perhatian Briyan harus teralihkan pada nada panggilan yang tak kunjung berhenti, Briyan melirik sekilas, ternyata dari nomor baru, Briyan ragu kala mau mengangkat panggilan tersebut, namun dia memantapkan hatinya, menekan tombol hijau untuk tahu siapa yang menelponnya. Diam-diam dalam hatinya berharap, jika Asha yang menghubunginya.
“Hallo ...” suara serak Briyan menyahuti.
“Hmh ...” suara diujung sana terdengar datar juga dingin,
Dahi Briyan mengernyit bingung, lalu sekali lagi dipandanginya nomor baru tersebut, mengingat-ingat mungkinkah Briyan mengenal orang yang kini tengah menghubunginya?.
“Siapa?” suara sengau Briyan terdengar, membuat orang di sebrang sana yang kini tengah menahan amarah mati-matian hanya bisa mendengus kesal.
“Briyan, bisa kita bertemu?” suara itu kian berat.
“Ya?” merasa bingung dan linglung, Briyan tidak bisa mencerna kata-kata yang dilontarkan si penelpon.
“Aku akan menemuimu besok di restoran dekat tempat tinggalmu sekarang, aku harap kamu datang tepat waktu” suara lugas itu terdengar mendominasi, membuat Briyan bingung, masih belum mengenali suara orang yang menelponnya.
“Tunggu! Ini sia ...”
Tut ... tut ... tut ...
Panggilan terputus sepihak, Briyan bingung setengah mati, disaat kondisinya sedang tidak baik-baik saja, kenapa juga ada orang yang membuatnya menjadi semakin pusing.
Briyan memilih untuk abai, tangannya kembali membuka tulisan Asha, membacanya berulang kali, hingga air matanya kembali luruh di pipi.
“Sha ... dimana kamu sekarang?”