
Dalam hidup, orang-orang datang dan pergi silih berganti, tidak akan ada yang tersisa selain kenangan dengan rasa manis dan pahit yang berbeda.
Briyan pernah berada di posisi itu, membenci Asha hingga ke nadi, berusaha menyingkirkannya tanpa hati, namun ... di muka bumi ini, siapa yang bisa menentang takdir Rabb-mu? Perkara mudah bagi Allah untuk membolak-balikan hati manusia.
Mereka bilang, jangan terlalu mencintai, atau kamu akan membenci, jangan terlalu membenci, atau kamu akan mencintai.
Hari ini adalah hari ketiga Briyan dirawat di rumah sakit yang sama, kondisinya masih belum stabil, Mamih dan Papih masih setia menungguinya, meninggalkan sang adik Bintang dan segudang pekerjaan lainnya di tanah air hanya untuk menemani sang putra sulung tercinta.
“Bry ... Mamih dan Papih mau makan sebentar di kantin rumah sakit, kamu tak apa jika kami tinggal?” Mamih mendekati putranya, meminta izin untuk sejenak mengisi perutnya yang kosong.
“Mamih sama Papih pergi aja, Briyan gak apa-apa kok” Briyan menggeleng lalu tersenyum dipaksakan, sesungguhnya hatinya masih dipenuhi tentang Asha. Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Hati Briyan kini tidak bisa seacuh sebelumnya.
“Oke, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi kami, Mamih dan Papih gak akan lama Bry” Mamih mengecup dahi putranya, lalu melenggang pergi bersama sang suami menuju kantin rumah sakit.
Tinggallah Briyan dengan kenangannya bersama Asha, netranya menatap langit kamar rumah sakit yang kini terasa menyeramkan baginya.
“Sha? Sekarang udah gak ada lagi yang neror Gue lewat telpon, Gue rasa hidup Gue sepi tanpa Lo yang berisik Sha” Briyan terkekeh, sementara sudut matanya melelehkan air mata.
Krriieettt ...
Pintu kamar dibuka, Briyan melirik orang yang sudah membuyarkan lamunannya, seketika Briyan terpaku kala menatap sosok yang kini tengah menatapnya sendu.
Sosok itu berjalan dengan anggun mendekati Briyan yang tergolek lemah, “Bry? Kamu udah baikan? Maaf aku baru sempat mengunjungimu” suara lembut itu kini terdengar di indra pendengaran Briyan, suara itu adalah suara yang paling disukainya beberapa tahun terakhir, namun kini rasanya suara itu seperti hambar di pendengaran, rasanya suara Asha yang sering memekik dan berisik terdengar lebih merdu bagi Briyan sekarang.
“Gak apa-apa Sya, aku sudah lebih baik” Briyan membenahi posisi duduknya, menatap lekat pada sosok Raisya yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Raisya, kini gadis itu terlihat tidak secantik sebelumnya, terasa ada yang kurang bagi Briyan kala dia terus membandingkan paras Raisya dan Asha, kini wajah Raisya terlihat sembab matanya membengkak, lingkaran hitam dibawah mata jelas terlihat.
“Syukurlah ...” Raisya duduk di kursi yang berada di samping brankar.
“Maafin aku Sya” Briyan membuka percakapan setelah beberapa saat hening.
“Maaf untuk apa Bry?” Raisya menatap Briyan lekat, netranya kembali berair, rasa-rasanya gadis itu sudah mendapatkan firasat yang buruk mengenai ucapan Briyan selanjutnya.
“Maaf, karena aku udah gak bisa lanjutin hubungan ini lagi” Briyan mengusap air matanya yang mengalir.
Putus dengan Raisya? Ini adalah keputusan berat bagi Briyan, bagaimanapun sosok Raisya pernah menempati hatinya, pernah menemaninya hingga beberapa tahun terakhir, kini Briyan terlihat seperti lelaki brengsek yang mempermainkan dua hati wanita sekaligus.
“Aku akan menerima hukuman apapun yang akan kamu berikan padaku Sya, aku tahu kamu kecewa atas keputusanku setelah semua yang kita lalui bersama” Briyan melanjutkan ucapannya dengan nada sengau nya.
Diam ...
Hening ...
“Aku mengerti, memilih yang halal bagimu adalah keharusan bagimu Briyan, aku bukan siapa-siapa” Raisya menggeleng, hatinya hancur kala harus melepas pria yang begitu dicintainya dari semasa mereka sekolah SMA.
“Kamu berharga Sya, kamu memiliki tempat sendiri di hatiku, terimakasih banyak karena sudah banyak berjuang untukku, kamu meninggalkan mimpimu hanya untuk mengikutiku, mulai sekarang kejarlah mimpimu itu Sya, bertemu dengan pria baik, aku harap kamu bahagia” Briyan terisak kala mengatakan semuanya, segala bayangan kenangannya bersama Raisya bagaikan foto slide di kepalanya.
“Hmh, aku tidak bisa pergi darimu Bry, melepaskanmu sama saja seperti melepaskan separuh nyawaku, namun aku sadar, ada yang lebih berhak untuk memilikimu dibanding aku” Raisya menahan isaknya sekuat tenaga, air mata sudah meleleh sedari tadi.
“Maaf Sya ...” Briyan tergugu pilu.
“Cinta itu unik ya, dia tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan jika hanya ada keterpaksaan di dalamnya, sekarang aku yakin, cintamu pada Asha sudah ada, aku harap kamu juga bahagia, karena kamu sudah ikhlas mencintai Asha” Raisya berusaha tersenyum, berdiri dari posisi duduknya, menatap Briyan dengan dalam untuk terakhir kalinya.
“Aku mau kamu bahagia” Raisya terisak, tak kuat menahan diri, akhirnya Raisya menghambur pada tubuh Briyan, Briyan menerimanya, lalu mereka berpelukan untuk terakhir kalinya, menangis terisak, saling berbagi rasa sakit, perpisahan ini tidak mudah bagi keduanya.
“Aku akan pulang ke tanah air, pindah kuliah di jurusan designer, seperti mimpiku” bisik Raisya pelan, Briyan mengangguk lemah, lalu melepaskan pelukan mereka, Briyan dan Raisya sama-sama tersenyum, berusaha saling melepaskan dengan hati yang lapang dan ikhlas, meski sungguh semuanya terasa sulit!.
***
“Kamu akan mendapati luka yang lebih sakit lagi jika kamu mencoba membuka kunci ingatanmu, semuanya akan terasa lebih menyakitkan, apa kamu yakin akan kuat menahannya?” dokter bertanya dengan ragu.
“Aku ingin melakukannya” Asha tetap kukuh pada pendiriannya.
“Saya tidak yakin, kamu bisa Asha” dokter menghela napas, lalu menggeleng perlahan.
“Aku ingin mengingat semuanya, aku tidak ingin terus menjadi orang bodoh! Aku muak dengan diriku sendiri” Asha berteriak, tangannya sudah bergetar hebat, emosinya tidak bisa dikendalikan.
“Tenang, sabar Sha, kamu pasti bisa melewati rasa sakit ini, yakin! Allah akan membantumu keluar dari setiap masalahmu” dokter menenangkan, kembali membisikan kata yang membuat Asha bisa mengatur emosinya.
“Tarik napas Sha, pelan-pelan” dokter menginterupsi.
“Keluarkan perlahan, maka masalahmu akan hilang seiring dengan napas yang kamu hembuskan” dokter tersenyum lembut menatap Asha.
“Aku ingin memiliki kenangan bersama Mamah dan Papah dalam benakku” Asha meloloskan air matanya, sungguh bukan hal mudah menjadi Asha.
Dianugerahi paras yang sangat cantik, otak cerdas, harta berlimpah, suami tampan dan kaya, mertua baik bak keluarga kandung sendiri, nyatanya tidak membuat Berliana Asha merasa bahagia, hatinya hampa tanpa kehadiran kedua orangtuanya, jiwanya kosong tanpa satu-pun kenangan dari dua manusia yang paling berharga dalam hidupnya, jiwanya lemah dengan segala kesakitannya.
“Aku rindu Mamah dan Papah, maka izinkan aku untuk mengenal mereka, meski hanya lewat kenangan saja”
Asha tergugu, tangisnya pecah dengan pilu.
Kita semua tahu, jika kedua orangtua kita adalah segalanya, tak ada kata yang pas untuk menjabarkan segala kebaikan dan ketulusannya yang tidak berhingga, maka masihkah kita sudi untuk mengabaikannya?.