SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Sama Menyakitkannya


“A Abim ...” Asha terbelalak, baru menyadari jika sedari kemarin dia sama sekali belum mengabari atau bahkan membalas semua pesan Abim yang terlihat begitu khawatir.


“Jika kamu sangat sibuk, setidaknya bisakah kamu membalas pesanku Sha? Aku khawatir dan juga aku merindukanmu”


Asha mematung, sungguh bukan maksud hatinya mengabaikan pesan-pesan chat dan panggilan telepon dari Abimanyu, hanya saja Asha sungguh sibuk, bukan hanya pesan dari Abim yang diabaikannya hri ini, namun banyak pesan dari consument juga sudah Asha abaikan.


“Maaf Bim, Aku ...”


Abim membuka matanya, lantas tersenyum sendu, pria itu menatap Asha dalam lalu berjalan mendekat mengikis jarak.


“Aku membawakan sarapan untukmu” Abim menyodorkan sebuah bungkusan pada Asha, Asha hanya mematung tak lantas segera menerimanya.


“Terimakasih” akhirnya Asha menerima bungkusan tersebut, Asha lupa akan satu hal, Asha membuatkan sarapan untuk Mamih dan Briyan tapi Ia melupakan sarapannya sendiri.


“Meskipun kamu sibuk, jangan lupa sarapan Sha” Abim kembali tersenyum, tatapan pria itu sungguh tak biasa, membuat Asha merasakan rasa bersalah yang teramat.


“Terimakasih banyak Bim” Asha hanya bisa menghela napas dengan tubuh melemas.


“Sama-sama, jangan lupa dimakan, kalau begitu aku pergi dulu Sha” Abim berpamitan, lantas segera beranjak pergi setelah Asha menganggukan kepala tanda mengizinkannya pergi.


“Abim ... maaf”


Pelan, Asha mengatakan maaf meski Ia tahu, Abim tidak akan pernah mendengarnya.


***


Waktu berlalu, namun keadaan Papih masih belum juga membaik, Papih masih terbaring koma, dan belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman, seringkali Asha mencoba mendatangi Papih untuk menjenguknya, juga untuk sekedar menguatkan Mamih yang pastinya tengah sangat bersedih.


“Sha? Kamu datang lagi?” Mamih menyeka air matanya, kali ini Mamih tengah sendirian menunggui Papih, yang Asha tahu Briyan tengah mengerjakan sebuah proyek hingga membuatnya begitu sibuk, dan waktunya untuk bersama Mamih otomatis berkurang, begitupun dengan Bintang, karena acara pernikahannya diundur akibat sakitnya Papih, Bintang menjadi memiliki kesibukan lainnya yang entah apa, Asha tidak peduli dan tidak ingin tahu.


“Ya, Asha bawakan kue ini buat Mamih, kemarin Asha membuatnya bersama Bi Inah” Asha menyodorkan kue brownies lumer pada Mamih, membuat Mamih sedikit tersenyum lantas segera mencobanya, sebagai bentuk penghargaan dan penerimaan atas pemberian Asha.


“Kamu semakin pintar memasak sayang” Mamih memuji setelah satu gigitan tertelan secara sempurna.


“Asha masih belajar Mamih” Asha menggeleng sembari tersenyum lembut.


“Mamih dengar kamu satu kantor dengan Briyan Sha?” Mamih tiba-tiba bertanya, sebetulnya Mamih sudah tahu bagaimana Briyan menjerat Asha agar selalu berada di dekatnya, namun selama ini Mamih pura-pura tidak tahu saja.


“Ya Mamih” Asha mengangguk, jujurnya akhir-akhir ini Asha jarang sekali bertemu dengan Briyan.


“Bagaimana Briyan? Apa Briyan mengalami banyak perubahan setelah waktu itu?” pertanyaan ambigu Mamih membuat Asha meraba-raba akan apa arti dari sesungguhnya ucapan Mamih.


“Ya, tentu saja Mih” Asha kembali mengangguk.


“Apa Mih?”


“Apa sekarang Asha sudah dekat kembali dengan seorang pria? Maksud Mamih apa Asha sudah memiliki keinginan untuk kembali membina rumah tangga?”


Pertanyaan Mamih sungguh satu hal yang sangat ingin Asha hindari, terasa tidak nyaman juga memalukan, bagaimana mungkin mantan mertuanya bertanya hal seperti demikian, sungguh Asha merasakan tidak enak pada hatinya. Terlebih sebelumnya Asha sudah memberikan lampu hijau untuk Abimanyu, sungguh Asha merasakan sesak, bingung harus menjawab apa.


“Sha, sebelum jatuh koma Papih sempat mengutarakan keinginan terbesarnya pada Mamih” sebelum Asha menjawab, Mamih sudah kembali bersuara.


“Apa Mih?” tanya Asha ragu.


“Besar keinginan Papih dan Mamih untuk bisa kembali melihat Briyan menikah kembali Sha”


Ada rasa tidak nyaman di hati Asha, ayolah! Bagaimana perasaanmu kala orangtua mantan mengatakan akan kembali menikahkan anaknya?


“Ya, mungkin itu lebih baik Mih” Asha menjawab dengan nada ragu.


Mamih mendesah pelan, mengambil napas lantas kembali melanjutkan ucapannya.


“Mamih harap, Asha mau kembali bisa menerima Briyan untuk menjadi suami Asha”


Deg!


“Mamih mengerti, saat itu kalian belum cukup dewasa untuk bisa menjalani rumah tangga dengan baik, namun kali ini coba pertimbangkan kembali, Mamih selalu merasa jika kalian adalah pasangan paling serasi di dunia ini, terlebih amanah dari mendiang orangtuamu harus tetap dijalankan Sha. Hari itu, mungkin Mamih terpaksa harus melepaskan kamu, tapi kali ini, Mamih mohon pertimbangkan keinginan Mamih dan Papih Sha, Mamih yakin kali ini Briyan sudah banyak berubah Nak”


Ucapan Mamih serupa bunga berduri, indah dipandang namun menyakitkan bila di genggam, Asha termangu setelah Mamih menyelesaikan kata terakhirnya, tidak tahu kata mana yang akan digunakan Asha sebagai jawaban.


“Mamih tahu kamu butuh waktu untuk mempertimbangkannya, tak apa jangan di jawab sekarang, namun besar harapan Mamih terutama Papih untuk bisa melihat kalian bersatu kembali.” Mata Mamih melirik pada Papih yang masih setia terpejam.


Asha masih terdiam, dalam benak Asha masih merangkai kata untuk melontarkan kata bijak yang tidak akan menyakiti siapapun.


“Asha tidak tahu Mih, Asha bingung, tidak mudah bagi Asha untuk melewati hari setelah perpisahan itu” Asha mencoba jujur, ingatannya kembali pada lima tahun silam, dimana dia menjalani hari bagaikan orang gila di luar negeri sana, banyak hal yang telah Asha lewati seorang diri pasca perceraiannya dengan Briyan, jika sekarang Asha kembali pada lelaki yang pernah menorehkan luka padanya, tidakkah itu sama saja dengan mengguar luka lama?.


“Kamu tidak tahu satu hal Sha” Mamih menjeda ucapannya, menatap Asha dalam lantas bernapas berat, menghembuskannya perlahan seolah ingin membuang segala beban yang bersarang di dadanya.


“Briyan juga melewati semuanya dengan tidak mudah, Briyan juga hampir gila karena kehilanganmu, kalian sama-sama terluka karena masa lalu. Sekarang kalian sudah sembuh, sudah cukup banyak waktu yang kalian habiskan untuk menutup luka, Mamih harap kalian bisa saling mengikhlaskan dan kembali membuka lembaran baru” harapan Mamih masih tetap sama, menjadikan seorang Berliana Asha sebagai bagian dari kehidupan putranya, tidak perduli dengan apa yang telah terjadi di masa lalu, hanya saja satu hal yang pasti Mamih tidak ingin kehilangan anak seorang Asha.


Asha terdiam, dia tidak pernah tahu seperti apa perjuangan Briyan melewati masa tersulitnya setelah perceraian dengannya, yang Asha pikirkan mungkin saja Briyan bahagia, lantas menemukan perempuan baru yang lebih baik dari Asha, Briyan kembali menikah dan memiliki keluarga baru, itu yang selalu dipikirkan Asha selama jauh dari Briyan. Tapi, mendengar cerita Mamih barusan membuat Asha tersadar akan satu hal, baik kebersamaan dan perpisahan yang terjadi di antara mereka sama menyakitkannya.


“Bagaimana Sha? Apa Asha mau mempertimbangkan keinginan Mamih dan Papih?”