
Sebuah ruangan dengan cat berwarna cream baby membuat orang yang berada di dalamnya merasa adem, di tambah dengan udara sejuk juga segala wewangian yang membuat tubuh menjadi terasa segar, apalagi sebuah sentuhan lembut dan pijatan menenangkan tengah dirasakan dua insan yang kini tengah tertelungkup sembari memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan gemulai yang diberikan oleh masing-masing terapis.
“Mamih nyaman kan?” Asha bertanya masih dengan memejamkan matanya, rasanya Ia hampir lupa, kapan terakhir kali Asha melakukan perawatan pada tubuhnya sedemikian rupa, atau malah mungkin tidak pernah? Padahal uang Asha banyak, jangankan untuk melakukan perawatan di salon, mungkin mendirikan salon pun Asha kelewat mampu.
“Sangat nyaman sayang, Mamih sudah lupa, entah kapan Mamih bisa menikmati hidup seperti ini” Mamih terkekeh, semenjak perpisahan Briyan dengan Asha, tiada hari Mamih melewatinya dengan perasaan bahagia, seluruh waktunya dihabiskan untuk menemani Briyan yang mengalami depresi karena kehilangan Asha, juga menemani Papih yang tiba-tiba saja menderita sebuah penyakit yang cukup parah.
“Mulai sekarang, Asha akan menemani Mamih untuk melakukan hal-hal menyenangkan seperti ini” Asha kembali memejamkan matanya, pijatan lembut dari sang terapis membuatnya tidak berdaya.
“Ah ... menyenangkan, terimakasih sayang, Mamih sangat bahagia memiliki teman yang bisa diajak melakukan hal seperti ini, selama ini Briyan mana mau menemani Mamih ke salon, Bintang juga selalu sibuk dengan urusannya sendiri” Mamih setengah menggerutu kala mengingat anak-anaknya yang kelewat acuh.
“Kalau Mamih butuh teman, Mamih bisa telpon Asha, Asha janji akan meluangkan banyak waktu untuk Mamih” Asha tersenyum melirik Mamih.
Beberapa jam berlalu, Asha dan Mamih menghabiskan banyak waktu untuk memanjakan tubuh mereka, bahkan tadi Mamih sempat ketiduran kala tengah menikmati pijatan sang terapis.
“Ah ... menyenangkan, salon memang syurganya para wanita” Mamih menyeka wajahnya yang terlihat segar juga terasa begitu kencang.
“Tentu saja” Asha mengangguk setuju.
“Setelah ini, Mamih ikut Asha lagi ya” Asha menarik lengan Mamih, lantas menariknya begitu saja, membuat Mamih mau tidak mau mengikuti langkah Asha.
“Kita mau kemana sayang?”
“Ke Butik Asha”
***
“Wooaahhhh ... Sha, gaun ini terlalu indah untuk Mamih sayang, gaun ini cantik sekali” Mamih memutar-mutar tubuhnya setelah menggunakan gaun cantik yang diberikan Asha.
“Asha sengaja merancang gaun ini khusus Mamih” Asha tersenyum kala melihat binar bahagia dari wajah Mamih.
“Sayang, tidakkah ini berlebihan?” Mamih menatap Asha dengan raut haru.
“Tentu tidak, kebaikan Mamih selama ini pada Asha melebihi apapun” Asha menggeleng cepat.
“Terimakasih sayang, Mamih sangat bahagia hari ini berkat Asha” Mamih memeluk tubuh Asha erat, mengelus puncak kepalanya dengan sayang.
“Terimakasih karena selama ini Mamih sudah menjadi Ibu yang sangat baik untuk Asha”
Mamih kian mengeratkan pelukannya.
“Semalam, Asha bermimpi bertemu dengan Mamah dan Papah, Mamah dan Papah bilang, mereka sudah bahagia di tempat yang paling indah, Mamah dan Papah juga meminta Asha untuk melanjutkan hidup dengan bahagia, terimakasih banyak karena berkat Mamih dan Papih Asha tidak pernah merasa sendiri, terimakasih banyak karena berkat Mamih dan Papih Asha tidak pernah merasa kehilangan kasih sayang Mamah dan Papah” Asha meneteskan air matanya, benaknya kembali mengingat kebersamaan singkat bersama kedua orangtuanya, hatinya berdenyut sakit, namun kali ini Asha jauh lebih ikhlas menerima takdirnya.
“Kamu putri Mamih, apapun yang terjadi, kamu tetaplah putriku” Mamih berulangkali menciumi kening Asha dengan tulus.
“Terimakasih sudah hadir untuk Mamih, memberikan banyak pelajaran penting untuk Mamih, tentang arti kehangatan keluarga, tentang arti kehilangan, tentang arti menghargai, dan tentang arti menyayangi dan mencintai sesama, Asha juga putri Mamih yang Mamih sayang” Mamih terisak, mengingat betapa banyak pengorbanan keluarga Asha dan Asha untuk Mamih juga untuk keluarganya, Mamih tidak pernah tahu, jika saja keluarga Asha tidak menolong keluarganya yang hampir bankrupt bisa jadi sekarang keluarga Mamih tengah berada dalam kemiskinan, jika saja Papah Asha tidak mendonorkan matanya untuk Briyan, bisa jadi kini Briyan ada dalam kegelapan dunia.
“Asha sayang Mamih”
Sore itu di ruangan fitting butik Asha, Mamih dan Asha berpelukan sekian lama, merasai arti dari kasih sayang antara seorang anak dan seorang Ibu.
***
“Papih sudah sadar?” Briyan menggenggam tangan Papih lembut, netranya menatap Papih dengan sendu.
“Hmh, Papih sudah sadar Bry” Papih mengangguk lemah.
“Papih harus lebih banyak istirahat lagi” Briyan menyarankan sembari membenahi posisi selimut Papih.
“Tentu” Papih mengangguk dengan gerakan yang amat kaku.
“Bry ...”
“Iya Pih?” Briyan mendongakkan kepalanya menatap Papih.
“Papih mau kamu terus menjaga Asha” ucap Papih dengan lemah.
Briyan terdiam sejenak, bagaimanapun Briyan sudah mengendus kedekatan antara Asha juga Abimanyu, membuat Briyan mengeluh resah, karena kesempatannya untuk kembali rujuk dengan Asha menjadi berkurang, Briyan memiliki saingan yang nyata.
“Tentu” Briyan mengangguk mengiyakan keinginan Papih.
“Papih mau kalian akur, dari dulu selalu ada saja sekat yang memisahkan kebersamaan kalian, sekarang kalian sudah dewasa, dan mengerti lebih banyak tentang arti dari sebuah hubungan, tidak bisakah kalian berbaikan saja?” Papih kembali berucap dengan amat lemah.
“Hmh, akan Briyan usahakan Pih” Briyan kembali mengangguk.
“Kamu itu laki-laki, kodratnya lelaki itu adalah memimpin, berusahalah untuk menjadi pemimpin yang baik, baik itu untuk perusahaan kamu, maupun untuk keluarga kamu suatu hari nanti” Papih memegang dadanya yang terasa sesak, membuat Briyan mengelus tangan Papih dengan lembut.
“Papih akan melakukan apapun yang Papih inginkan” ucap Briyan dengan nada sedikit panik.
“Tidak” Papih menggeleng pelan.
“Kamu hanya perlu melakukan apa yang kamu mau, apa yang kamu suka, dan apa yang membuatmu nyaman, jangan paksakan tentang apapun jika itu membuatmu sakit, ucapan Papih hanya sebagai pengingat saja, karena kewajiban orangtua adalah mengingatkan anaknya dikala salah bukan?” kali ini Papih terbatuk memegang dadanya yang terasa kian sesak.
“Briyan akan melakukan hal-hal yang membuat Briyan bahagia Pih, janji” Briyan menjentikan jari kelingkingnya, lantas disambut oleh jari kelingking Papih, sembari tersenyum lemah Papih mengangguk.
“Papih ingin istirahat lagi” Papih memejamkan matanya kembali, tidak selang lama, Papih tertidur kembali terdengar dari napasnya yang terlihat teratur meski ritmenya begitu lemah. Briyan mengusap wajahnya kasar, bagaimanapun bayangan kehilangan Papih adalah hal paling mengerikan dalam hidupnya.
Teringat waktu lalu, kala Asha menjerit menangis memeluk Papah yang tengah sekarat, kini Briyan tahu rasa sakit yang dirasakan Asha kala itu, pantas saja Asha lebih memilih mengunci ingatannya agar bisa melupakan hal buruk tersebut.
Ceklek ...
Briyan menoleh pada pintu, disana seorang gadis cantik bersama sang adik tengah berdiri menatap Briyan, lantas mereka segera menghampiri dua laki-laki yang masih terlihat lemah tersebut.