SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Aku Seorang Janda


Panorama indah di sebuah restoran mewah membuat Asha sedikit mengagumi segala ornamen yang tercipta karena tangan dingin sang designer, mengelilingkan pandangannya sesekali Asha berdecak saking kagumnya, lantunan music khas mengiringi pandangan Asha, sesekali tangannya mengetuk meja kaca di hadapannya dengan bentuk lingkaran, senyum kaku terukir dengan terpaksa, lantas untuk menghilangkan gugup juga raut kesalnya Asha sesekali menyeruput minuman dingin pesanannya beberapa saat lalu.


Sementara itu, di hadapannya kini telah duduk seorang pria tampan dengan wajah khas Eropa, tubuh kekar tinggi, juga mata dengan warna lensa yang khas membuat Asha sedikit kagum, namun ... hanya sebatas itu, tidak ada yang lain, kulit putih juga rambut yang di tata rapi, anggak-ungguk yang begitu sopan juga harusnya membuat banyak wanita terpesona. Belum lagi latar belakangnya yang berasal dari keluarga baik dan berada harusnya membuat Asha menjerit karena bangga telah diperkenalkan dengan pria smart dan nyaris sempurna itu.


“Kamu ternyata cantik, tepat seperti dugaanku”


Ucapannya membuat suasana hening dan dingin kini berubah, Asha menanggapi dengan senyuman, lantas mengangguk “Terimakasih” hanya itu yang mampu Asha katakan, ada yang mengganjal dalam hati Asha kala menatap pria di hadapannya.


“Namaku Robert” ucapnya sopan, mulai memperkenalkan diri.


“Aku Asha, Berliana Asha” ucap Asha sembari tersenyum tipis.


“Wow, nama yang Indah, seperti orangnya” ucap Robert dengan nada kagum yang tulus.


“Terimakasih”


Perkenalan singkat-pun terjadi, basa-basi penuh arti pun dimulai, dari obrolan singkat tersebut Asha mulai paham kemana arah bicara Robert.


Robert dijodohkan pada Asha oleh kedua orangtuanya karena terdesak usia, usia Robert yang sudah lebih dari kepala tiga membuat orang tuanya khawatir, dan berinisiatif menjodohkan Robert dengan Asha, yang notabenenya dikenal sebagai keponakan Om Hans, sang pengusaha ternama di negara ini sekarang.


Asha terkekeh geli mendengar alasan Robert dijodohkan, Asha pikir alasan dijodohkan karena usia yang sudah matang hanya terjadi di tanah airnya saja, tapi nyatanya di negara asing-pun ada saja orangtua yang berpikiran kolot seperti demikian.


“Setelah pertemuan singkat ini, aku bisa menyimpulkan satu hal” ucap Robert setelah lama mereka berbincang.


“Apa?” tanya Asha menatap Robert sekilas, lantas segera menundukkan pandangannya. Sebetulnya, jika tidak untuk menghargai Om Hans, Asha tidak ingin menemui Robert, apalagi di jodohkan, oh! Ayolah! Asha masih tidak ingin menjalin hubungan serius dengan pria manapun.


“Sepertinya aku menyukaimu”


Sesingkat itu? Kenapa ada orang yang mudah sekali menjatuhkan hati, dan mengatakan cinta?


Asha menggelengkan kepalanya, baginya butuh waktu yang cukup lama untuk memutuskan jatuh cinta kemudian patah hati, termasuk pada Briyan dulu, Asha butuh waktu sedari dia kecil untuk jatuh cinta, Asha juga butuh waktu bertahun-tahun di abaikan, baru memutuskan untuk berpisah dan siap patah hati. Ah ... memang perkara hati adalah perkara yang begitu rumit, Asha menyadari itu semua, tingkat peka manusia pasti berbeda.


“Terimakasih” Asha menganggukkan kepalanya menghargai keputusan Robert.


“Jadi, maukah Asha menikah denganku?”


Kaget? Tentu saja tidak, Asha tetap menampilkan wajah datar, dingin, namun memaksakan diri untuk tetap tersenyum.


“Terimakasih banyak untuk tawaranmu Robert, namun aku pikir untuk menjalin sebuah hubungan ada baiknya kita saling mengenal lebih jauh satu sama lain”


Robert terkekeh, pria itu semakin tampan jika tersenyum seperti itu, Asha mengakuinya.


“Asha, aku sudah tahu siapa dirimu, keluargamu, dan bagaimana dirimu, itu sebabnya kenapa aku memutuskan mengajakmu menjalin hubungan yang serius”


Oh! Tentu saja Robert akan berpikiran demikian, keluarga Robert adalah keluarga pebisnis, jelas segala untung rugi sudah mereka perhitungkan termasuk dari hubungan yang akan di jalin bersama Asha, namun Asha tidak yakin sudahkah Robert mengetahui statusnya?.


“Apa kamu tahu statusku sekarang?” Asha bertanya hati-hati, Robert terdiam mengerutkan keningnya.


“Status? Bukankah kamu adalah seorang gadis?” Robert kembali bertanya.


Tepat! Seperti yang Asha duga, Om Hans tidak menjelaskan statusnya pada keluarga Robert. Om Hans menutupi kebenarannya, sementara Asha tidak ingin lagi ada kebohongan apapun kala dia harus menjalin suatu hubungan baru dengan siapapun itu.


“Aku seorang janda”


Pengakuan Asha membuat Robert terdiam, matanya menunduk, tangannya terkulai lemas, Asha masih memperhatikan situasi.


“Lumayan lama”


“Alasan bercerai?”


“Sudah bukan jodoh”


“Punya anak?”


“Tidak”


Robert terdiam sejenak, seperti menimbang sesuatu, hingga akhirnya Robert berkata.


“Oh ... status bukanlah suatu hal yang penting bagiku, semuanya sama saja, kita hidup di zaman modern, bukankah begitu Asha?” tanya Robert dengan senyuman mengembang.


“Harusnya begitu, namun alangkah lebih baiknya jika kamu mengatakan kabar ini pada keluargamu” ucap Asha kemudian, Robert mengangguk setuju. Satu hal yang kini Asha tahu, keluarga Robert bukanlah keluarga terbuka dan keluarga bebas layaknya keluarga yang hidup di negara barat lainnya. Asha paham. Semuanya bisa saja terjadi. Tidak semua keluarga hidup dalam sebuah kebebasan berpendapat dan bebas mengambil keputusan, beberapa keluarga memang masih ada yang berpikiran kuno, juga tertutup pada modernisasi.


Pertemuan hari ini berakhir, Asha pulang dan menolak kala Robert akan mengantarnya, mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.


Asha menghela napas berat kala tiba di kediaman Om Hans, langkahnya sedikit gontai, Om Hans adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa, bagaimana mungkin Asha akan menolak keinginan Om Hans? Yang terus menerus menjodohkan Asha?.


“Sudah pulang Nak?” sapaan lembut dari Tante Inggrid membuat Asha tersadar dari lamunannya, Tante Inggrid segera menuntun Asha memasuki rumahnya.


“Duduk Sha!” Om Hans yang baru saja menutup telponnya segera menghampiri Asha, Asha menurut, lantas segera duduk berhadapan dengan Om Hans, sementara Tante Inggrid segera pergi setelah memberikan segelas air untuk Asha.


“Kenapa kamu mengatakan kepada Robert jika kamu adalah seorang janda Sha?” Om Hans memijat keningnya kesal.


“Karena memang kenyataannya seperti itu Om” Asha mendongak, menatap Om Hans yang terlihat begitu frustasi.


“Sha, bukankah kamu belum tersentuh oleh Briyan? Kamu masih gadis Sha” Om Hans menatap Asha dalam dengan raut kecewa.


“Tapi kenyataannya begitu Om, Asha tidak bisa berbohong lagi, tersentuh atau tidak, tapi Asha sudah pernah menikah dengan Briyan, lalu kami bercerai, itu faktanya Om!” Asha mulai panik, nada suaranya meninggi.


“Sha, kamu tidak perlu memusingkan semua itu! Kamu cukup katakan jika kamu masih gadis, karena itu juga faktanya, pernikahanmu hanya sebatas di atas kertas, tidak akan mengubah apapun! Kamu tahu? Apa yang terjadi setelah apa yang kamu lakukan?” Om Hans menatap Asha tajam.


“Keluarga Robert membatalkan perjodohan ini, mereka tidak ingin memiliki menantu seorang janda” Om Hans menghela napas berat.


“Asha akan menikah kembali dengan pria dan keluarganya yang mau menerima Asha apa adanya Om, lihat! Baru mendengar status Asha saja keluarga Robert sudah menolak mentah-mentah, lantas bagaimana Asha bisa hidup dengan keluarga seperti itu kedepannya?” Asha mendongak, menatap sang Om yang terlihat pusing.


“Lupakan Briyan! Jangan sampai masa lalu mengungkungmu Sha! Itu sudah lama, tidak seharusnya kamu masih mengingatnya! Jangan kamu fikir Om tidak tahu apa yang ada dalam kepalamu!” Om Hans berdiri, lantas meninggalkan Asha seorang diri di ruang tengah.


Asha mengepalkan tangannya kuat, memang siapa yang bisa menahan perasaan? Bukankah cinta itu adalah fitrah?.


Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Asha, segera Asha meraih benda pipih tersebut dan menempelkan di telinganya.


‘Ya, Sarah?’


‘Bu, semua urusan disini sudah selesai Bu, sesuai perintah Ibu, saya sudah tanda tangan kontrak gedung baru yang tempo hari saya sarankan Bu, jadi kita tinggal pindahin barang-barang kita, lokasi dan tempatnya sudah saya kirimkan sama Ibu, bagaimana Ibu suka bukan?’


‘Hmh, saya suka, tempatnya bagus Sar, kamu atur saja, mulai pindahan besok, lusa saya pulang ke Indonesia Sar’


‘Oke Bu, sampai jumpa lusa di tempat baru Bu’


‘Hmh ...’