
Matahari baru saja tenggelam di Negara yang ditempati oleh Briyan, hari ini dia begitu lelah, dia baru saja pulang jalan-jalan bersama kekasihnya Raisya, yang juga tinggal di sebuah flat di gedung yang sama dengannya, Briyan memilih untuk tinggal di flat dibanding harus tinggal di asrama atau di apartemen, flat untuk seorang pria single sepertinya cukup cocok. Ruangannya tidak luas, jadi tidak perlu menguras tenaga untuk membersihkan tempat tinggalnya.
Hari ini enam bulan sudah Briyan berada di tempat asing untuk menuntut ilmu, semua terasa baik-baik saja, semuanya terasa menyenangkan, menempuh ilmu, mengejar mimpi di dampingi perempuan yang dicintai, semuanya terasa indah bagi Briyan.
Hingga suara dering ponsel terdengar, gurat lelah masih ketara, namun Briyan tetap meraih ponselnya, melihat screen siapakah gerangan yang menghubunginya di jam seperti ini? Sungguh mengganggu. Rutuknya dalam hati.
“Ayang!”
Suara lengkingan dari seberang sana membuat Briyan menjauhkan ponselnya, pria itu menatap datar pada gadis yang kini wajahnya memenuhi layar ponselnya.
“Sha? Lo kenapa gak tidur? Di sana pasti jam dua belas malam kan?” Briyan menggerutu dengan kesal, namun gadis di seberang sana malah terkekeh lucu.
“Ayang pasti lupa” gumamnya menunduk sedih, bibirnya mengerucut.
“Lupa apa?” Briyan menatap pada gadis yang kini tengah terduduk di atas kasur besarnya.
“Ayang lupa ini hari apa?” Asha mencoba kembali mengingatkan.
“Hari rabu” jawab Briyan malas, ada saja tingkah gadis itu yang membuat Briyan kesal, sungguh Briyan malas mengangkat telpon dari Asha, namun Asha yang tidak pernah menyerah, akan terus menerornya dengan telpon hingga Briyan mengangkatnya.
“Tanggal berapa?” Asha kembali bertanya, memancing ingatan Briyan.
“Sha, udah deh jangan mulai, Gue capek, baru pulang, Gue mau mandi, lapar, mau istirahat” Briyan mengabsen sederet kegiatan yang akan dilaluinya.
“Kok Ayang lupa sih? Ini kan hari ulang tahunku” Asha terlihat berkaca-kaca, sementara Briyan hanya menarik napasnya berat, jelas saja Asha bukan orang spesial bagi Briyan, untuk apa Briyan susah-susah mengingat ulang tahun Asha?.
“Oke, selamat ulang tahun” ucap Briyan datar.
“Aku sekarang udah tujuh belas tahun” ucap Asha dengan mata yang berubah berbinar.
“Aku punya kejutan buat Ayang” Asha segera beranjak menuju nakasnya, layar menangkap apa saja di seberang sana, karena Asha bergerak lincah.
“Sha, Gue capek, nanti aja kejutannya, Gue mau mandi dulu” tanpa mendengarkan suara Asha selanjutnya, Briyan segera mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Asha menunduk lesu, padahal tangannya sudah memegang apa yang akan dia jadikan kejutan untuk Briyan, kue ulang tahun juga lilin yang sudah dinyalakan menjadi saksi kecewa gadis itu malam ini gadis itu menangis sesenggukan karena merasa kecewa. Asha berencana akan meniup lilin dari jarak jauh bersama Briyan.
“Kamu kok makin jauh sama aku sih Ayang, apakah mungkin kecurigaan aku benar? Kamu punya pacar disana?” Asha mengusap air matanya, tangannya kembali menyimpan benda yang tadi sudah digenggamnya, sempat mencium lama benda itu, seolah benda itu adalah benda yang sangat berarti bagi hidupnya.
Bukan tanpa alasan Asha memiliki persepsi bahwa Briyan berselingkuh, berulang kali Asha menangkap ada banyak keganjilan di tempat tinggal Briyan, syal yang menggantung di sofa, high heels perempuan yang ada di pojok ruangan, Asha juga pernah melihat ada lipstik di atas meja belajar Briyan kala mereka melakukan video call.
Asha sungguh menagih janji Briyan yang mengatakan akan melakukan video call setiap hari, meskipun pada kenyataannya Briyan seperti enggan, dan selalu Asha yang memulai semuanya.
***
Ceklek ...
Pintu dibuka, hingga menampilkan seorang perempuan bertubuh jenjang tengah tersenyum di hadapan Briyan, dia adalah Raisya, gadis itu langsung masuk ke dalam ruangan Briyan tanpa basa-basi, enam bulan terakhir hal seperti demikian adalah hal lumrah bagi keduanya, saling mengunjungi tempat masing-masing tanpa ragu.
“Aku bawain makanan buat kamu Bry ...” Raisya meletakkan makanan kesukaan Briyan di atas meja kecil yang biasa mereka gunakan untuk makan bersama.
“Makasih Sya ...” Briyan menghampiri, tubuhnya terlihat segar, rupanya pria itu baru saja mandi, membersihkan dirinya.
“Aku gak akan pulang sebelum lulus, kalau kamu mau pulang, pulang aja Sya” Briyan menjawab dengan yakin, baginya pantang pulang sebelum berhasil, pria itu sungguh akan membuktikan ucapannya, jika dia akan sukses tanpa banyak campur tangan dari kedua orangtuanya, terlebih karena uang Asha.
“Kalau kamu gak pulang, aku juga gak akan pulang” Raisya tersenyum, membuat hati Briyan menjadi teduh, pria itu membalas senyuman Raisya, lalu mereka terhanyut dalam obrolan ringan dan canda tawa selepas makan malam mereka, tanpa Briyan sadari sedari tadi ponselnya yang berada di dalam kamar terus berdering.
***
“Non kenapa Non?” Bi Inah dengan panik meraba tubuh Asha, waktu baru menunjukkan pukul tiga pagi, namun Bi Inah sudah heboh sendiri, mondar-mandir berusaha memberikan pertolongan pertama pada Asha yang kali ini badannya terasa begitu panas. Beruntung Bi Inah sempat mengecek kondisi Asha selepas perempuan tua itu menunaikan shalat malam-nya.
“Bi ... aku mau Briyan” gumam Asha di antara demam tingginya.
“Ya Allah non ... kenapa harus Den Briyan terus sih?” gumam Bi Inah yang hanya mengucapnya dalam hati.
“Briyan gak selingkuhkan Bi?” tanya Asha dengan mata sayunya.
“Nggak Non, Den Briyan setia sama Non” Bi Inah menenangkan.
“Briyan lupa sama ulang tahunku Bi, padahal aku mau buat kejutan buat dia” Asha meracau.
‘Harusnya Non yang di beri kejutan’ Bi Inah mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
“Sabar ya Non, Bibi telpon Mamih Non dulu” setelah menghubungi Briyan berpuluh kali, namun tidak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya Bi Inah memutuskan untuk menelpon mertua Asha.
Beberapa saat kemudian, selepas adzan subuh berkumandang, Mamih dan Papih datang, mereka bergegas mengecek kondisi menantunya, dokter keluarga sudah dihubungi, namun gadis itu masih memejamkan mata, demamnya masih tinggi, membuat orang-orang panik.
“Mih, Briyan gak inget sama ulang tahun Asha, mungkin Briyan punya selingkuhan disana” Asha tergugu, bukan tanpa alasan, Asha tadi melihat Briyan menggunakan kaos couple yang lucu, dengan lambang huruf R. Asha terus menduga-duga, namun Asha tak ingin menyimpulkan sendiri, cintanya yang begitu besar membuat dia mampu menutupi segala curiganya.
“Enggak mungkin sayang, nanti Mamih hubungi Briyan ya? Biar Briyan ngasih hadiah sama kamu” mamih mengusap kepala Asha dengan sayang.
Beberapa saat lalu dokter yang memeriksa Asha sudah pergi berlalu, dokter memberikan beberapa obat yang harus Asha konsumsi karena demamnya.
“Asha gak butuh hadiah dari Briyan Mih, Asha cuman mau Briyan setia sama Asha” gadis itu menunduk dalam.
“Briyan pasti setia sayang, Briyan sudah janji kan sama kamu?” Mamih menatap Asha dengan senyuman lembutnya.
“Kalau kamu rindu Briyan, nanti setelah kelulusan kamu, kamu boleh pergi ke sana, sekalian liburan, gimana?” Mamih menawarkan dengan antusias.
“Hah? Serius Mih? Asha boleh kesana?” Asha melompat kegirangan, sejenak gadis itu lupa jika dirinya tengah sakit demam.
“Tentu sayang, tinggal beberapa bulan lagi, kamu boleh kesana, menemui Briyan, kalian bisa liburan dan menikmati waktu berdua”
“Oh yyeeaaahhhhh ... aku mau Mih” Asha mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi janji sama Mamih”
Asha menghentikan aksinya, menatap mamih lekat.
“Janji, Asha harus tetap sehat untuk Mamih, Papih dan Briyan” Mamih memeluk Asha dengan sayang.
“Asha janji, gak akan sakit lagi”