SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Bisakah seorang Asha pergi dari seorang Briyan?


Apa yang membuatmu bertahan dengan cinta sepihak?


Kenapa kamu harus selalu mengatas namakan cinta untuk sesuatu yang sangat ingin kamu miliki?


Hey! Bagi sebagian orang cinta tulus itu katanya asal melihat dia yang kamu cintai bahagia, maka kamupun akan bahagia, itu adalah definisi cinta tergila juga termunafik yang pernah Asha tahu.


Bagi Berliana Asha, cinta itu jelas harus saling memiliki dan harus saling membalas, apapun yang terjadi, selalu tinggal di samping orang yang kita cintai, dan selamanya saling menjaga satu sama lain. Kala bangun tidur harus ada dia disampingmu, kala beraktifitas harus ada kabar darinya, dan kala malam menjelang dan kamu akan pergi ke peraduan, maka dia yang kamu cintai dan dia yang mencintaimu juga harus ada disampingmu, tidak tahu apapun yang terjadi.


Egois? Bagi Asha semua bukanlah keegoisan, bagi Asha melindungi apa yang seharusnya menjadi miliknya adalah kewajiban, kehilangan menjadikan Asha berada pada sebuah ketakutan tak berujung, baginya orang yang pergi dari hidupnya sama saja seperti mengajaknya mati.


‘Sha?’ suara dari ujung sana menyapa, membuat Asha segera bangkit dari posisi tidurnya, menyingkirkan selang oksigen yang masih terpasang di hidungnya.


‘Ayang? Kamu nelpon aku duluan?’ mata gadis itu berbinar, sungguh kejadian yang sangat langka kala seorang Briyan bisa menghubunginya terlebih dahulu.


‘Hmh, Gue denger Lo sakit?’ mata Briyan menatap sendu pada gadis yang tengah mengulas senyum di bibir pucatnya, matanya begitu sendu juga sembab, terlihat betul jika gadis itu seperti gadis yang tengah patah hati.


‘Hmh, aku sakit’ Asha mengangguk dan menunjukkan beberapa selang infus yang menancap di tangannya.


‘Gimana sekarang? Sudah baikan?’ tanya Briyan dengan nada penuh perhatian.


‘Tadi belum, sekarang sudah’ Asha terkikik, tapi sejurus kemudian Asha kembali memperhatikan wajah Briyan yang terlihat pucat juga lemah.


‘Ayang sakit?’ lanjut Asha tanpa memberi kesempatan pada Briyan untuk bicara kembali.


‘Hmh, kemarin demam’ Briyan mengangguk berbohong.


‘Ayang jangan sakit! Sudah minum obat? Periksa ke dokter? Atau Ayang mau aku kesana sekarang?’ Asha nyerocos, dengan tubuh bergerak gelisah.


‘Gue gak apa-apa Sha, sekarang udah sembuh’ ucap Briyan sembari memaksakan senyumnya.


‘Sha?’


‘Iya Ayang?’


‘Gue mau minta maaf sama Lo’ ucap Briyan dengan tatapan bersalahnya.


‘Minta maaf buat apa?’ Asha mengerutkan keningnya, gadis itu sungguh lupa dengan segala kekacauan yang sudah dibuatnya kemarin, kelakuan Asha yang melakukan percobaan bunuh diri, membuat semua orang panik, terutama Bi Inah, perempuan tua itu bahkan langsung pingsan selepas menelpon mertua Asha, sampai saat ini Bi Inah masih syock melihat darah yang menggenang, juga pisau cutter yang saat itu di gunakan Asha untuk mengiris nadinya sendiri.


‘Kemarin Lo salah paham Sha’ Briyan mencoba menjelaskan.


‘Kemarin?’ hati Asha kembali sakit kala mengingat kemarin yang mengangkat telpon Briyan adalah seorang perempuan, hingga gadis itu berprasangka buruk, dan berlaku ingin mencelakai dirinya sendiri karena frustasi akan segala pemikirannya.


‘Kemarin yang ngangkat telpon Gue itu temen Gue Sha, namanya Angel, kebetulan kita lagi ngerjain tugas yang harus dikumpulkan besok, kita ngerjain tugasnya rame-rame kok Sha, dan kebetulan Gue lagi ke kamar mandi waktu Angle angkat telpon Gue’ jelas Briyan panjang lebar, tentu saja penjelasan pria itu seratus persen adalah kebohongan.


‘O ya? Maaf ya, Aku sempet gak percaya sama Ayang’ Asha menunduk, wajahnya penuh dengan gurat penyesalan.


‘Lain kali jangan ambil keputusan sendiri Sha, tanya Gue dulu’ Briyan menatap Asha dari layar, gadis itu terlihat menundukkan kepalanya, kebiasaannya jika dia merasa bersalah atau merasa takut.


‘Aku janji akan selalu percaya sama Ayang’ Asha mengacungkan jari kelingkingnya.


‘Kemarin aku cemburu, aku takut Ayang selingkuh dan pergi ninggalin aku’ Asha mengerucutkan bibirnya.


Briyan masih menatap Asha yang kini sudah menatapnya.


‘Ayang gak selingkuhkan? Ayang gak akan ninggalin aku kan?’ Asha membrondong pertanyaan pada Briyan yang langsung menghela napas berat.


Briyan hanya mengangguk ragu tanpa meng-iya-kan pertanyaan Asha, namun anggukan dari Briyan sudah jelas membuat Asha puas, seperti itu saja sudah cukup bagi Asha.


‘Aku pegang janji Ayang, kalau Ayang coba selingkuh atau pergi dari aku, aku bakalan langsung pergi dan mati, kita gak akan pernah ketemu lagi’ ancam Asha dengan serius.


Briyan tersenyum, dalam hati bergumam ‘Bisakah seorang Asha pergi dari seorang Briyan?’


‘Lo istirahat ya Sha, Gue ada tugas, nanti Gue telpon lagi’


Asha mengangguk patuh.


‘Aku sayang sama Ayang’


Briyan hanya mengangguk lesu tanpa ingin membalas ungkapan dari Asha.


Briyan memutuskan untuk mengakhiri obrolannya dengan Asha kala pria itu mendengar suara bel yang berbunyi, gegas pria itu menghampiri daun pintu dan membukanya.


Seorang gadis tengah berdiri disana dengan kantong kresek di tangannya.


“Bry? Kamu sudah mendingan? Ini aku buatin bubur buat kamu”


Raisya. Gadis itu masuk kedalam ruangan Briyan tanpa menunggu jawaban dari Briyan, meletakkan bubur di atas meja kecil lalu berlalu ke dapur untuk mengambil mangkuk beserta sendoknya.


Menyiapkan makanan untuk Briyan yang kini sudah duduk bersila di hadapan meja kecilnya.


“Makan dulu Bry, kamu kelihatan pucat dan lemes gituh” Raisya menyodorkan mangkuk yang sudah berisi bubur tersebut.


“Aku gak laper Sya” Briyan menggeleng.


“Ayo makan Bry, habis itu minum obat, atau mau aku suapin?”


Raisya menawarkan, tangannya dengan lincah langsung meraih sendok bubur dan menyodorkannya ke mulut Briyan, laki-laki itu sempat menolak, namun Raisya memaksa, hingga akhirnya Briyan makan disuapi oleh Raisya.


“Setelah ini kamu langsung minum obat dan istirahat ya Bry”


Layaknya Ibu pada anaknya, Raisya mengurus Briyan yang tengah sakit, Briyan suka dengan kelembutan Raisya, Briyan suka dengan perhatian Raisya, Briyan juga suka dengan Raisya yang terlihat dewasa dan lebih mengerti dirinya.


Namun, kini rasa bersalah Briyan terhadap Asha juga saling berkelebat, sampai kapan Briyan harus terus membohongi Asha dan Raisya secara bersamaan?.


Briyan tidak tahu.