SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Dear my husband ...


Dear my husband ...


Saat aku menatap langit yang sama denganmu, aku fikir rasa kita juga akan sama, namun ternyata aku salah, rasamu dan rasaku berbeda.


Sedari kecil, kamu adalah manusia yang selalu aku dewa-kan, aku mencintaimu dan dunia tahu itu, mengikuti setiap aturanmu, memenuhi setiap permintaanmu, meski kadang aku lelah, kadang aku tidak mampu, tapi demi kamu aku berjuang.


Kamu adalah langitku, bagiku kamu akan selalu seperti itu, ku posisikan kamu berada di atasku, agar aku tidak lupa diri, aku akan selalu mendongakkan kepala untuk melihatmu, menghormatimu, menjunjung tinggi dirimu.


Aku tahu, cinta ini hanya milikku seorang tapi tidak untukmu. Tapi tak apa, selama kamu tidak berpaling pada wanita lain, itu artinya aku masih punya harapan jika suatu hari nanti kamu akan melihatku, menghargai setiap usahaku, menghadirkan aku dalam hidupmu.


Namun ... aku salah, kamu mengkhianatiku Briyan, langitku berpaling, duniaku runtuh, aku kehilangan kendaliku. Aku pikir, aku akan mati jika kamu melakukan semua ini padaku.


Langitku lebih tertarik pada bintang lain dibanding aku, bintangmu yang selalu menemanimu.


Perih, rasa ini sudah bersahabat lama denganku, namun melihat pengkhianatanmu, rasanya perih ini semakin menyiksaku. Kamu jahat Briyan.


Selama ini, aku selalu mewujudkan semua inginmu, mendukungmu, lalu aku adalah orang pertama yang menyemangati mimpimu, dan kali ini pun sama ...


Jika kepergianku adalah bagian dari kebahagiaanmu, maka aku akan pergi Briyan, karena aku mau kamu bahagia.


Rasanya begitu aneh, setelah kemarin aku mengurusi surat pernikahan kita, sekarang aku harus mengurusi surat perceraian kita, tidakkah itu sangat menyakitkan untukku Briyan?


Setelah beberapa hari aku resmi secara dokumen menjadi seorang istri, dan kini aku harus menyandang status janda, bahkan usiaku baru saja tujuh belas tahun.


Aku janda, tapi suamiku tidak pernah menyentuhku, aku masih suci, adakah yang lebih menyakitkan dari ini?.


Hujan telah usai, tugasku untuk memayungimu telah selesai, sekarang nikmati pelangimu bersama dia orang yang kamu pilih.


Selamat tinggal Briyan ...


Semoga kamu bahagia bersama gadis pilihanmu.


***Calon mantan istrimu***,


***Berliana Asha***


Briyan meremas surat yang baru saja dibacanya, pria itu meneteskan air mata kala membaca kata demi kata yang Asha tulis, pikirannya berkelana, pergi kemana Asha? Bahkan waktu sudah malam, apa gadis itu kedinginan? Apa dia sudah makan? Asha tidur dimana? Bagaimana jika Asha melakukan hal nekat seperti sebelumnya?.


Segera Briyan bangkit berdiri, melempar surat nikahnya asal, lalu kembali berlari menuju pintu, membukanya dengan sekali hentakan, tubuhnya sempat mematung kala melihat seorang gadis cantik yang tengah mengambangkan tangannya hendak membuka pintu, Briyan tidak peduli untuk kali ini. Pria itu memilih untuk terus berlari meninggalkan Raisya yang kini tengah memekikkan namanya.


Briyan menaiki taksi, tujuan utamanya saat ini adalah bandara, dia yakin jika gadis itu akan memilih untuk pulang, di tempat ini adalah tempat asing baginya, dia tidak memiliki siapapun disini selain dirinya, jadi pasti Asha akan pulang ke tanah air.


Setibanya di bandara, Briyan mengedarkan pandangannya kesana kemari, lalu kembali berlari setelah dirasanya Asha tidak ada di tempat, Briyan bertanya mengenai keberangkatan pesawat yang menuju tanah air malam ini, mereka mengatakan jika pesawat terakhir sudah lepas landas sekitar setengah jam yang lalu.


Briyan tertunduk lesu, dia yakin jika Asha pasti sudah pergi meninggalkannya, Briyan terduduk lemah di sebuah kursi tunggu, lalu tangannya meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Asha, namun nihil ponsel Asha sudah tidak aktif, dengan putus asa, Briyan terus mencoba menelpon Asha, sementara itu kakinya kembali melangkah menuju sebuah taksi, Briyan memutuskan untuk kembali pulang ke tempat tinggalnya.


***


Briyan baru saja tiba di flatnya, namun pertanyaan itu langsung terlontar, Briyan menatap nanar pada perempuan yang kini tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tangannya mengacungkan sebuah dokumen yang tadi telah dilemparnya.


“Sya, aku bisa jelasin” Briyan sungguh bingung, ibarat makan buah simalakama, maju kena, mundur juga kena.


“Aku dengerin kamu buat jelasin semua ini” Raisya melempar surat nikah Briyan dengan isakan yang sudah terdengar jelas. Beberapa jam gadis itu hanya mematung memandangi surat nikah milik Briyan dan Asha, merasa syok, tidak menyangka, bagaimana mungkin Briyan selama ini ternyata sudah menikah? Sejak mendengarkan percakapan telepon antara Briyan dan Ibunya tadi, Raisya merasa ada yang janggal dengan tingkah Briyan, Raisya tidak pernah menyangka jika kenyataan ini akan menghantam dirinya.


Raisya sekarang mengerti, kenapa Asha terlihat marah padanya ketika Briyan selalu berdekatan dengannya, namun, Raisya berpikir kembali seperti apa hubungan antara Briyan dan Asha selama ini? Kenapa hampir satu tahun Briyan di luar negeri, namun dia terlihat tenang, tanpa gangguan, bahkan Briyan tidak pernah pulang, Briyan masih sangat muda, dan sikapnya jelas menunjukkan jika dia seorang pria single yang bebas.


Raisya merasa telah dibohongi habis-habisan, gadis itu rela kuliah di tempat Briyan berada, meninggalkan mimpi lamanya, hanya agar bisa berdekatan dengan Briyan.


“Aku sama Asha sudah menikah”


Briyan mulai membuka suara, napasnya terdengar berat dan panjang, segera Ia hembuskan dengan kasar, mengusap wajahnya, lalu menjambak rambutnya dengan frustasi. Ini adalah pengakuan pertama Briyan tentang pernikahannya pada orang lain, terlebih ini kepada Raisya, perempuan yang sudah mendampinginya satu tahun terakhir.


“Sejak kapan?” Raisya menatap Briyan dengan tajam, gadis itu sungguh merasa kecewa.


“Lima tahun yang lalu”


Jawaban Briyan membuat Raisya membulatkan matanya, tiga tahun yang lalu, itu artinya saat Briyan masih duduk di bangku SMP? Itu artinya Briyan sudah menikahi Asha sejak saat mereka masih menggunakan seragam putih biru? Bukankah saat itu umur mereka baru belasan tahun? Dan Asha? Gadis itu hanya selisih usia satu tahun dengan Briyan, bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Batin Raisya tidak habis pikir, apa Briyan tengah mengerjainya? Sekali lagi di tatapnya wajah Briyan, ada keseriusan disana.


“Bagaimana bisa?”


“Kami sudah di jodohkan sedari kecil, Mamih aku dan Mamah Asha bersahabat, hingga suatu hari kedua orangtua Asha meninggal dunia, dan mereka menitipkan Asha pada kami, karena tidak ingin terjadi fitnah, akhirnya Mamih dan Papih sepakat untuk menikahkan Asha denganku sesuai keinginan Mamah Vanessa,”


Cerita Briyan panjang lebar, membuat Raisya menganga lalu menutup mulutnya karena terlalu syok.


“Bagaimana mungkin kalian menikah di usia semuda itu?” Raisya kembali bertanya wajahnya masih terlihat tegang.


“Kami hanya menikah secara agama, lagipula selama ini tidak ada yang terjadi pada kami, seperti yang kamu tahu, aku tidak menyukai Asha” Briyan menjawab dengan sendu, Raisya tahu pasti ada gurat penyesalan di wajah Briyan.


“Kalian kawin gantung?” tanya Raisya, urat tegangnya kini mulai melemah, Raisya menatap wajah Briyan yang sudah basah oleh air mata dengan iba.


“Hmh” Briyan mengangguk.


“Bahkan selama menikah kami tinggal terpisah, tak pernah sekalipun aku melakukan apapun bersamanya, kecuali bertengkar”


Tes


Tes


Tes


Bulir bening terus berjatuhan dari pelupuk mata Briyan, kala ingatannya terus melayang pada semua hal yang telah Asha lakukan untuknya.