
“Aku pulang Sha.”
Briyan menggumamkan kata itu dengan tatapan penuh semangat kala kakinya telah menapaki lantai Bandara, sebentar lagi mobil jemputan keluarganya akan tiba, Mamih dan Papih masih berdiri di sampingnya.
Briyan menghirup udara dalam-dalam, satu tahun terakhir dia tidak pulang, ada rasa rindu menyelinap di dalam dada pada tanah kelahirannya, mungkinkah apa yang dikatakan kedua orangtuanya satu tahun terakhir adalah benar? Bahwasannya pilihan Briyan untuk meninggalkan negaranya terlebih meninggalkan Asha adalah kesalahan, penyesalan akan didapat Briyan jika tidak mengikuti perintah kedua orangtuanya.
Namun, siapa yang akan peduli kala itu? Hati Briyan terlalu menggebu untuk mewujudkan mimpinya, sesuai dengan fitrahnya, remaja dengan rasa penasaran yang tinggi, ingin mencoba dan mewujudkan banyak hal yang ada di benaknya, entah itu benar atau salah, yang penting mencoba saja dulu, selebihnya Briyan tidak peduli. Itu pemikiran Briyan satu tahun yang lalu, namun kini ... semuanya seolah menjadi karma bagi Briyan, dia kehilangan segalanya dalam bersamaan, menunda mimpinya untuk sementara waktu, juga harus kehilangan Asha untuk saat ini. Briyan menyesal, sangat menyesal, hanya saja mungkinkah penyesalan itu akan berguna untuk saat ini? Briyan menghirup napas berat, perjuangannya akan segera dimulai sekarang.
“Bry, ayo naik” suara Mamih menginterupsi, Briya segera mengangguk lalu menyimpan kopernya di bagasi, dan masuk kedalam mobil jemputannya.
Sepanjang jalan hanya keheningan yang tercipta, wajah Mamih dan Papih adalah wajah lelah dan tegang, mereka seperti menyimpan beban yang begitu berat.
“Mih, Asha ada menghubungi Mamih?” Briyan memecah keheningan, membuka percakapan dengan tatapan masih ke samping, melihat jalanan yang sudah mulai memadat.
“Tidak ada” Mamih menggeleng dengan napas tertahan, Briyan tersenyum miris, kisahnya bersama Asha akan rumit sekarang, seketika penyesalan karena sudah mengkhianatinya segera merajai sanubarinya.
‘Benar apa kata orang, seseorang akan terasa kehadirannya, jika dia sudah pergi dari hidup kita’
Briyan menjerit dalam batinnya,
Tiba di rumah, Briyan segera turun dari dalam mobil, berjalan menuju kamarnya yang sudah lama tidak Ia tempati, tangannya segera dengan lihai membuka lemarinya, menatap nanar pada beberapa potong baju yang menggantung di dalamnya, baju itu buatan tangan Asha, Asha yang merancang khusus untuknya, Briyan tersenyum miris kala mengingat perlakuannya terhadap Asha, pria itu segera meraih baju tersebut lalu menciumnya dengan dalam.
“Sha, kamu dimana?”
***
“Aku ingin pulang!” Asha membentak dokternya dengan kasar, gadis itu kembali pada mode awalnya, akan bersikap bar-bar jika keinginannya tidak terpenuhi.
“Sabar Sha, kondisi rumahmu tidak akan kondusif untuk situasimu sekarang” dokter dengan sabar menenangkan.
“Aku ingin bertemu Bi Inah” Asha masih beralasan, padahal semua orang tahu persis, jika ada satu hal rencana besar yang tengah Asha rancang, semua orang begitu takut jika Asha akan menyakiti dirinya sendiri.
“Bi Inah akan kesini buat kamu Sha” dokter kembali memberikan solusi terbaik, sungguh, membiarkan Asha kembali menempati rumah yang penuh dengan kenangan bersama kedua orangtuanya akan membuat Asha semakin larut dengan kebenciannya.
“Tidak! Aku ingin mendaftar kuliah, aku juga ingin menjadi manusia normal, aku sudah tidak punya siapa-siapa, jadi aku harus kuat sendiri” tatapan mata Asha kini sudah berubah, tidak seceria dulu, matanya nyalang penuh akan amarah yang terpendam.
“Sha ...”
“Aku tidak butuh izin dari siapapun, aku ingin pulang ke rumahku!” gadis keras kepala itu tetap memaksa, hingga akhirnya dokter hanya bisa menunduk mengizinkan, toh jika Asha dipaksa, maka tidak akan ada gunanya, gadis itu akan semakin trauma.
“Baiklah, pulanglah ke rumah, tapi janji, jangan membuat suatu hal yang bisa menyakiti dirimu sendiri Sha” dokter mengingatkan dan Asha mengangguk yakin.
***
“Bi, aku ingin bertemu dengan Asha”
“Non Asha tidak ada di sini Den” Bi Inah menggeleng, sesuai dengan interupsi Asha dan Om-nya, jika ada siapapun yang ingin menemui Asha, maka Bi Inah harus mengatakan tidak tahu apapun.
“Loh? Asha kemana?” Briyan mengerutkan keningnya, seketika wajah paniknya begitu ketara.
“Emh, Non Asha ... dia ... dia tidak ada di rumah” Bi Inah yang tidak pandai berbohong itu menjadi gelagapan.
“Bi, bilang sama aku, di mana Asha?” Briyan mencengkram kedua tangan Bi Inah, menatap matanya mengintimidasi, Bi Inah semakin dilema.
“Bibi gak tahu Den, sungguh, yang Bibi tahu, Non Asha tidak pulang ke rumah ini setelah kepulangannya dari luar negeri untuk menemui Aden” Bi Inah menjelaskan dengan mata tertahan pada tanah.
“Bi! Aku tahu, Bibi tahu sesuatu, ayo bilang sama aku Bi, dimana Asha” Briyan dengan frustasi mengacak rambutnya.
“Bibi sungguh tidak tahu Den” Bi Inah kembali menggeleng, seketika tubuh Briyan menjadi lemah, dia bingung, harus kemana lagi mencari Asha? Seketika ingatannya tertuju pada tempat dimana Asha selalu ingin pergi kesana kala Asha tengah merindukan kedua orangtuanya, ya! Briyan harus mencarinya kesana, begitu pikirnya.
Dengan segera, Briyan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menuju tempat yang dikiranya Asha berada disana, Briyan yakin dia akan menemukan Asha.
“Siapa yang datang Bi?” seorang gadis cantik turun dari mobil mewahnya, berjalan melenggang mendekati Bi Inah yang masih terpaku menatap kepergian mobil Briyan.
“D Den Briyan Non” Bi Inah berkata dengan gagap.
“Cih! Baru ingat aku rupanya” Asha berdecih, mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, lalu masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu, Bi Inah tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini. Tangannya mengelus dada kala mendengar suara teriakan juga beberapa barang pecah lainnya.
“Pembunuh!” kata itu begitu melengking di pendengaran Bi Inah, perempuan tua itu segera menyeka air matanya yang hampir tumpah.
“Non, eling Non” Bi Inah mengetuki pintu majikan kecilnya untuk menenangkan, sementara itu, Asha masih terdengar histeris, meraung pilu menangisi hidupnya yang tragis.
“Non, Bibi mohon, buka pintunya cah ayu” Bibi masih belum menyerah, terus mengetuki pintu kamar Asha dengan tangan bergetar.
Bunyi ponsel segera mengalihkan perhatian Bi Inah, perempuan itu segera mengangkat teleponnya.
“Ya Tuan?”
“ ... “
“Seperti biasa Tuan, keadaan Non Asha tidak baik-baik saja”
“....”
“Maaf, Bibi juga tidak tahu jika Den Briyan akan kesini”
“...”
“Maaf Tuan”