SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Tidak Harus Selalu


Dari kejauhan Briyan menatap punggung Asha yang kini tengah asyik menengadahkan kepala menatap langit, udara dingin puncak semakin malam semakin menggigit, membuat Asha semakin merapatkan kain tebal berbahan bulu-bulu lembut pada tubuhnya. 


Malam ini, setelah selesai bakar-bakar dan makan bersama semua orang memutuskan untuk pergi tidur di kamar masing-masing, namun Asha masih saja betah menatap langit malam yang kian kelam. 


Briyan hanya bisa menatap Asha dari jarak yang lumayan jauh, tak bisa mendekat karena rasa takut yang mendominasinya, takut jika Asha akan menjauhinya atau semakin membencinya jika Briyan nekat kembali mendekati Asha. 


“Sha ... seberapa banyak waktu yang kamu habiskan dalam kesendirian?” Briyan menatap sendu pada punggung Asha, matanya nyaris berkaca-kaca jika mengingat masa dimana Ia membuang Asha dengan tega. 


“Seberapa banyak air mata yang kamu habiskan karena meratapi takdir kita Sha?” Briyan mengeraskan rahangnya, menahan segala kemelut di hatinya. 


“Aku orang paling berdosa di muka bumi ini atas hidup kamu Sha, aku yang udah buat Papah dan Mamah mengalami hal buruk hingga berakhir mengenaskan, aku juga yang udah buat hidup kamu menjadi seperti ini Sha” Briyan memejamkan matanya, tangannya meraba matanya sendiri, mata ini adalah mata Papah, Briyan tahu itu.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang Sha? Apa yang harus aku perbuat agar aku bisa menebus semua dosa-dosaku padamu?” 


Tes!


Akhirnya air mata Briyan jatuh juga, hatinya tidak sekuat itu untuk menahan ribuan rasa sakit dan jutaan rasa bersalah yang selalu menggelayuti hatinya. 


“Aku salah Sha, aku janji, aku bakalan selalu jaga kamu sampai akhir waktuku, tak peduli bagaimana sikapmu padaku, tak peduli rintangan apa yang akan terjadi di depan sana” Briyan mengusap air matanya, hatinya kembali perih dengan tubuh yang kembali bergetar hebat kala pikirannya selalu mengingat masa-masa kelam itu, Briyan memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, mengunci dirinya sendiri dengan getaran tubuh yang semakin menggila. 


Sementara itu, Asha di luaran sana masih saja menatap bintang yang berkerlip di atas cakrawala, tangannya semakin mengeratkan kain tebal yang menutupi tubuhnya, awalnya Asha ingin pulang saja ke Villa-nya yang tidak jauh dari Villa keluarga Briyan, namun Mamih meminta Asha agar menginap saja, Mamih tidak sampai hati membiarkan Asha tinggal sendirian di Villanya. 


“Mamah, Papah ... Asha rindu” gadis itu menyusut sudut matanya, berulang kali matanya mengedip dengan cairan bening yang mulai mengalir. 


Asha begitu rindu akan sosok Mamah dan Papah yang akhir-akhir ini seringkali muncul dalam mimpinya, tersenyum lembut pada Asha lalu memeluk Asha penuh kerinduan dalam balutan kehangatan yang tak pernah Asha rasakan kembali. 


“Asha mau dipeluk Mamah dan Papah” 


Sekuat apapun Asha menjalani hidupnya, pada kenyataannya Asha adalah perempuan rapuh, hatinya begitu lemah, kelihatannya saja Asha mampu tersenyum saat bertemu dengan banyak orang, tertawa ceria dan bersikap manja saat ngobrol bersama Mamih, namun sesungguhnya Asha seringkali menangis pilu seorang diri kala malam menyambutnya. 


“Asha mau ikut Mamah dan Papah” gumamnya lagi pilu. 


*** 


“Woooaaahhh ... selamat pagiiiii” Asha menghampiri Papih yang kini tengah menjemur tubuhnya di bawah cahaya mentari pagi, katanya mentari pagi mengandung vitamin D, dan bagus untuk tulang, Papih yang baru sakit parah tentu saja memilih untuk menjemur dirinya dengan hembusan angin yang begitu sejuk menenangkan. 


“Selamat pagi sayang, bagaimana tidurmu?” Papih tersenyum pada Asha yang pagi ini menyapanya dengan begitu ceria. 


“Baiklah, sekarang bagaimana kalau kita jalan-jalan berdua?” Asha bersiap mendorong kursi roda Papih, Papih yang masih sering merasakan kelelahan bahkan hanya sekedar untuk berjalan memilih menggunakan kursi rodanya untuk membantunya berjalan. 


“Baiklah, kita berkencan” Papih terkekeh lalu mengangguk setuju, akhirnya mereka berjalan-jalan pagi ini, mengitari jalanan rata yang kini sudah diperbaiki, banyak yang sudah berubah dari tempat ini, bahkan perkebunan teh yang tak jauh dari Villa tersebut sudah di bangun beberapa Villa yang tak kalah megahnya. 


“Banyak yang sudah berubah dari tempat ini” Papih membuka suara saat mereka sudah duduk di pinggir jalan dengan bakar jagung di tangan masing-masing, udara begitu dingin menggigit, membuat gigi Asha sedikit gemeletuk namun segera gadis itu mengalihkan gigitannya pada jagung bakarnya. Pemandangan begitu indah seluas mata memandang, membuat Papih menerawang pada hamparan hijau nan jauh disana. 


“Hmh ...” Asha mengangguk setuju, dengan mulut penuh oleh jagung bakarnya. 


“Papih sudah tua, dan sakit-sakitan, Papih harap antara hubungan kamu dan Briyan juga kembali berubah, uhuk ... berubah menjadi lebih baik lagi” Papih sempat terbatuk dan memegang dadanya pelan. 


“Pih ...” Asha menyimpan jagung bakarnya, lalu mendekati Papih, melirik pada pria tua di sampingnya, Asha sudah bisa menebak dengan pasti, kata-kata apa yang akan diucapkan Papih selanjutnya. 


“Papih harap, Asha mau memaafkan semua kesalahan Briyan di masa lalu” lanjut Papih penuh harap. 


“Asha sudah memaafkan Briyan Pih, dari dulu” jawab Asha, pandangannya turut pada pemandangan yang menghampar nan jauh disana. 


“Sungguh?” Papih mendongak dengan wajah berbinar. 


“Tentu saja, Papih adalah orangtua Asha, Asha sudah memaafkan semua kesalahan keluarga Asha” Asha tersenyum tulus.


“Terimakasih banyak sayang” Papih berkata dengan raut penuh haru. 


“Sama-sama Pih” Asha mengangguk. 


“Papih harap, antara hubungan kamu dan Briyan mengalami peningkatan, kalian sudah sama-sama dewasa, Papih harap kamu bisa menjadi pendamping untuk Briyan, Papih sudah tua, sudah sakit-sakitan, tidak ada yang tahu usia Papih akan sampai dimana, Papih harap kamu mengerti maksud Papih Nak” Papih kembali terbatuk dengan mengusap dadanya, ucapannya kembali terjeda. 


Asha menjongkokkan tubuhnya, lantas memegang pegangan kursi roda Papih, menatap Papih dengan begitu lembut. 


“Papih akan panjang umur, Asha selalu berdoa untuk itu, selama Asha bisa, Asha akan selalu berada di sisi Briyan untuk memberikan dukungan dan semangat untuk apapun yang Briyan lakukan, Papih tahu bukan? Jika Papih dan Mamih juga Briyan dan Bintang adalah keluarga Asha, sebagai sesama keluarga, sudah seharusnya kita saling mendampingi bukan?”


Papih memejamkan matanya erat, Papih tahu persis maksud dari ucapan Asha.  Pria tua itu sudah kehilangan semangat hidupnya semenjak divonis sakit parah, impiannya menjadi begitu sederhana, sudah tidak ada lagi ambisi mengenai dunia, keinginannya sekarang hanya melihat anak-anaknya bahagia, lalu di masa tuanya dia akan menghabiskan waktunya dengan mengasuh cucunya saja, hanya sesederhana itu sesungguhnya keinginan Papih, namun lagi-lagi kenyataan tak lagi sejalan dengan keinginan, Papih sudah berusaha banyak dan kini Papih sudah kehilangan cara. 


“Papih harap, Asha bisa menerima Briyan kembali sebagai pendamping hidup Asha, sebagai suami Asha” Papih masih berharap, netranya penuh akan permohonan. 


“Mendampingi dan mendukung tak harus selalu menjadi suami istri kan Pih?”