SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Mengganjal


Dentingan bunyi piano terdengar begitu merdu, sang penyanyi masih setia melantunkan lagu-lagu syahdu nan romantis sebagai pengiring rasa bahagia mempelai. Sementara itu di sebuah sudut ruangan tersebut seorang pria dengan segelas minuman di tangan tengah memperhatikan seorang gadis yang tengah duduk di salah satu meja bersama seorang pria, tidak bisa dipungkiri hatinya terasa panas kala melihat pemandangan tersebut, tangannya mengepal, rahangnya mengeras, namun sebisa mungkin pria itu menyembunyikan ekspresi kesalnya.


Terlanjur kesal, pria itu berniat untuk pergi meninggalkan tempat kejadian, ah! Bayang-bayang gadis cantik itu tak bisa hilang dari benaknya, gadis yang lima tahun lalu Ia lepaskan ikatan sucinya, gadis yang di masa lalu sempat Ia abaikan dan Ia sakiti habis-habisan, sekarang kenapa juga gadis itu terlihat begitu cantik, anggun, juga berwibawa? Terlebih gadis itu mengubah penampilannya, bagaimana mungkin seorang gadis bisa berubah menjadi secantik itu kala sudah menjadi mantan? Pikiran Briyan malah jauh dari kata tenang.


“Pak Briyan!”


Pria itu menghentikan langkahnya, gagal sudah rencananya untuk melarikan diri, menghentikan langkahnya lalu menarik napas sejenak, bagaimana mungkin malam ini Ia dilimpahi kesialan bertubi-tubi, bertemu dengan dua mantan sekaligus? Rencana Allah sungguh suatu hal di luar nalar manusia. Tadinya, Briyan berpikir Asha tidak akan datang ke pernikahan mantan rivalnya, mengingat dulu Asha begitu membenci Raisya.


Tapi ternyata, kini Asha sedang duduk manis di samping seorang pria yang akhir-akhir ini Briyan kenal, mereka menjalin kerjasama, dan ternyata seperti sebuah kebetulan, Abimanyu adalah adik kelasnya dulu, waktu mereka masih mengenyam pendidikan di SMA.


Rindu itu ... begitu sulit untuk Briyan jabarkan, ada rasa pahit, sesal, kecewa hingga menyebabkan sesak di dadanya.


Tangan Briyan terulur pada wanita cantik yang kini masih menundukkan kepalanya, tangannya saling meremas, entah karena kesal, atau karena gugup, Briyan tidak tahu, yang jelas menatap tubuhnya saja membuat dada Briyan berdesir hebat, rasa rindunya sedikit terobati.


“Kamu sudah melupakan aku? Berliana Asha?” Briyan menyapa dengan suara bergetar, tangan kirinya mengepal kuat menahan debaran yang bertalu hebat.


“Hah? Hay ... maaf” Asha terlihat begitu kikuk, tangannya berusaha menggapai tangan Briyan yang sedari tadi terulur, dan segera melepaskannya kembali.


“Aku ... Ayang ...” ucapan Briyan menggantung, matanya memindai ekspresi raut wajah Asha, yang terlihat datar, dingin, namun juga tengah menahan gugup.


“Haha ... Briyan bisa saja” tiba-tiba terdengar suara Abimanyu, kekehannya membuyarkan nostalgia yang tengah dilakukan sepasang insan di hadapannya.


“Ayang, dulu seseorang selalu memanggilku begitu” Briyan tersenyum tipis, memutus pandangan pada Asha, lantas menatap Abimanyu lekat.


“Siapa? Pacar kamu?” Abimanyu bertanya dengan nada meledek.


“Lebih dari itu” Briyan kembali menjawab dengan bangga.


“Hah? Lebih dari pacar, maksudnya ...”


“Saya mau ke toilet dulu” suara Asha menginterupsi, gadis itu menatap tajam pada Briyan yang kini terlihat santai.


“Oh, ya ... mau aku antar Sha?” Abimanyu menawarkan.


“Tidak perlu” Asha menggeleng, tanpa aba-aba langsung pergi meninggalkan Briyan dan Abimanyu yang kini terlibat obrolan mengenai bisnis mereka.


“Ya Allah ... kenapa kau pertemukan kembali aku dan dia?” batin Asha menjerit, ingin menghindari namun kenapa malah bertemu kembali?


“Sha!” Asha menoleh, ternyata Gendis melambaikan tangannya padanya.


Asha segera berjalan tergesa menuju sahabatnya, tubuhnya menubruk tubuh Gendis dalam sekali hentakan, matanya berair, tubuhnya bergetar, Gendis yang kebingungan hanya bisa memeluk tubuh Asha, lalu mengelus punggungnya perlahan.


“Lo kenapa Asha?” Gendis bertanya dengan bingung.


“Hati Gue sakit Dis”


***


Di depan sana Abimanyu sudah menunggu di teras rumah dengan secangkir teh buatan Bi Inah, sesekali menyesapinya sembari matanya melirik ke belakang, berharap Asha keluar dari kamar secepatnya, hatinya terkekeh menyadari hatinya yang sudah terpaut sejak lama pada Asha, dan siapa yang sangka? Allah mengabulkan keinginannya untuk dekat dengan gadis cantik itu. Rencana Allah selalu diluar nalarnya, mereka yang dipisahkan jarak, ruang, dan waktu, terpisah ribuan mil dari tempat mereka tinggal, namun kini mereka kembali dipertemukan dengan cara yang di luar dugaan.


“Maaf lama” suara lembut itu menyadarkan Abimanyu dari lamunannya, segera pria dengan kemeja kotak-kotak itu menoleh dan mengulas senyum saat melihat Asha telah siap dengan pakaian gamis dan hijab pashmina senada, penampilannya membuat Asha jauh berkali lipat lebih cantik dari dulu.


“Gak apa-apa” Abimanyu menggeleng, lantas berjalan mendahului Asha, membukakan pintu mobilnya, membuat Asha mengernyitkan dahinya heran.


“Terimakasih” Asha masih datar, enggan tersenyum. Abimanyu mengangguk, lantas mereka melanjutkan perjalanan menuju ruko yang Abimanyu maksud.


***


“Ini dia ruko-nya, aku pikir kamu akan suka Sha, tempat ini lumayan luas, juga strategis menurutku” Abimanyu menjelaskan sembari berkeliling, sesekali wajahnya melongo kala tangannya membuka setiap ruangan yang dibukanya.


“Aku pikir juga begitu, tempatnya nyaman dan cocok untuk butikku” Asha mengangguk setuju.


“Jika kamu sudah setuju, kamu bisa langsung tanda tangani kontrak kerjasamanya”


j


“Oke” Asha mengangguk setuju.


“Katanya, sebentar lagi asisten dari pemilik ruko ini akan datang untuk membawa dokumen yang harus kamu tandatangani” Abimanyu kembali menjelaskan.


“Asisten? Kenapa tidak pemiliknya langsung?” tanya Asha bingung.


“Mungkin pemiliknya orang sibuk Sha, sudah jangan dipermasalahkan, mencari tempat se-strategis ini begitu sulit, lebih baik kita jangan banyak bertanya hal yang tidak penting” Abimanyu mengingatkan, betul juga ucapannya, selama perjanjiannya tidak melanggar, Asha akan setuju saja. Lagipula mencari kontrakan ruko memang betul-betul sulit, apalagi yang strategis seperti ini.


Asha memilih kembali mengelilingi ruko tersebut, hingga seorang pria datang dengan beberapa dokumen di tangannya.


Kesepakatan telah menghasilkan kata mufakat dari kedua belah pihak, selesai menandatangani beberapa dokumen mereka segera berjabat tangan, dan saling berpamitan.


Sementara Asha segera sibuk menelpon orang yang bisa mendekorasi ruko tersebut agar dijadikan sebuah butik yang elegan juga nyaman saat pembeli berbelanja di tokonya nanti.


“Kalau aku boleh usul lagi Sha, aku punya kenalan yang bisa mendekor calon butikmu ini, pekerjaannya sangat bagus dan memuaskan” Abimanyu kembali angkat suara, memberikan ide-nya.


Asha mengerutkan keningnya, dalam hatinya merasa begitu tidak enak karena terus merepotkan Abimanyu.


“Jangan merasa tidak enak begitu, bayarannya selain makan malam, aku juga minta kamu anterin aku ke mall, aku mau beliin baju untuk Ibu, tapi aku tidak tahu baju seperti apa yang cocok untuk Ibuku, mau kan Sha?” Abimanyu menatap Asha dengan tatapan memohon.


Asha terdiam, jelas saja setiap perlakuan Abimanyu yang menurutnya terlalu baik itu terasa mengganjal dalam hatinya.