SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Lamaran?


Acara makan malam kali ini terasa sedikit menegangkan bagi Asha, masalahnya kini Asha tengah berhadapan dengan keluarga inti dari Abimanyu, ada Ayah juga Ibu Abimanyu. Secara khusus Asha di undang makan malam di kediaman Abimanyu tanpa Asha duga.


Ayah dan Ibu Abimanyu kini tengah duduk di seberang Asha dengan senyuman lembut terpatri dari masing-masing bibir mereka, Asha tak dapat mengartikan senyuman apa yang tengah mereka pamerkan.


“Kami begitu bahagia karena Nak Asha bersedia menyambangi rumah kami yang sederhana ini” Ibu memulai kata dengan senyuman yang tak surut menghiasi bibirnya.


“Ah, saya yang merasa senang karena sudah diajak untuk makan malam bersama Om juga Tante” Asha membalas senyuman itu dengan tak kalah lembutnya.


Suasana keluarga yang terkesan begitu intim ini membuat Asha juga merindukan suasana keluarga yang hangat seperti kala Ia kecil dulu, semenjak kedua orangtuanya meninggal, suasana makan seperti ini sudah tidak pernah lagi ada, kala menikah dengan Briyan, mungkin Asha bisa merasakan hangatnya dekapan dan hangatnya sikap orangtua dari Mamih dan Papih, namun tetap saja, meja makan tak sehangat sekarang karena dulu kehadiran Briyan yang membuat suasana menjadi mencekam.


Asha tampak cantik dalam balutan gaun juga hijab senada, membuat kedua orangtua Abimanyu tak henti memujinya.


“Nak Asha cantik sekali, mirip Ibu waktu muda dulu” Ayah mengerling melirik Ibu yang kini tengah melambaikan tangannya di udara, tersenyum malu-malu lantas segera merendah.


“Ayah, apa sih? Tentu saja Nak Asha yang lebih cantik” Ibu kembali terkekeh geli.


“Haha, maaf Sha, Ayah dan Ibu memang sering bercanda” kini Abimanyu menimpali, pria yang kini berpenampilan begitu mempesona itu tengah duduk di samping Asha, menghadap meja makan yang kini sudah penuh dengan menu makan malam yang walau sederhana namun begitu menggugah selera.


“Ayo di cicipi Nak Asha, kebetulan ini semua Ibu yang masak, semoga Nak Asha suka” Ayah mempersilahkan, hingga Asha mengangguk menerima jamuan dari sang empunya rumah.


Makan malam terjadi dalam ketenangan, sesekali ada nada gurauan yang dilontarkan Ayah atau Ibu, kemudian ditanggapi Asha atau Abimanyu dengan senyuman, sungguh makan malam keluarga hangat impian Asha.


Selesai makan malam, mereka berpindah ke ruang tamu, dengan minuman dan makanan ringan yang kini kembali di suguhkan di hadapan Asha, membuat Asha merasa sungkan juga tidak enakan.


“Nak Asha, silahkan di cicipi, keripik kentang ini buatan Ibu lho” Ibu Abim kembali memamerkan kemampuannya dalam memasak, membuat Asha tersenyum.


“Terimakasih Tante” Asha menganggukan kepalanya.


Obrolan ringan kembali terjadi diantara mereka, hingga Ayah Abim kembali angkat suara, bertanya pada Asha tentang sesuatu yang membuat Asha dilema.


“Sebelumnya Om minta maaf, jika pertanyaan Om membuat Nak Asha menjadi tidak nyaman” ada nada menekan disana, hingga membuat Asha menjadi sedikit tegang setelah tadi agak sedikit lengang. Abim yang kini duduk di hadapan Asha memperhatikan wajah Asha dengan seulas senyuman manis khasnya.


“I iya Om, ada apa ya?” Asha menilik raut wajah tua dihadapannya, mengira-ngira bahasa yang akan di lontarkan oleh pria Ayah dari Abimanyu tersebut.


“Apakah saat ini Nak Asha sedang berada dalam hubungan serius dengan seseorang?”


Sudah Asha duga, kata-kata itu yang akan dilontarkan, bingung ... tentu saja Asha kelabakan akan menjawab apa, mengingat Asha paham akan berakhir dimana obrolan kali ini.


“Untuk saat ini Asha tidak terikat hubungan serius dengan pria manapun Om” jawab Asha jujur setelah menimbang banyak pemikiran sebelumnya.


“Ah, kebetulan sekali. Om tidak bermaksud membuat Nak Asha tidak nyaman, hanya saja Om ingin memastikan hubungan antara Abimanyu putra Om juga Nak Asha, bagaimana sekiranya menurut Nak Asha, jika hubungan persahabatan kalian di ikat saja menjadi hubungan sah, bagaimana jika Abimanyu memiliki niatan baik untuk meminang Nak Asha?”


“Ah, seharusnya Om langsung mendatangi keluarga Nak Asha untuk membicarakan masalah seserius ini, tapi ... Om tidak tahu harus mendatangi orangtua Nak Asha kemana, mengingat katanya Om Nak Asha berada di luar negri?” kembali Ayah Abim bersuara, membuat Asha yang masih termangu, kini mendongakkan kepalanya.


“Ya, Om saya masih berada di luar negri” Asha mengangguk membenarkan.


“Tidak perlu di jadikan beban Nak Asha, Om sebagai orangtua dari Abimanyu tentu saja merasa jika Abimanyu memang menyukai Nak Asha sejak lama, itu sebabnya Om merasa memiliki kewajiban untuk mengutarakan niat baik ini, agar tidak ada kesalahpahaman juga fitnah kedepannya”


“Sebetulnya, ada satu hal yang Om, Tante, juga Abim belum kalian ketahui” Asha kembali membuka suara setelah sebelumnya sempat berperang batin untuk mengatakan kejujuran menyakitkan dalam hidupnya.


“Ya, jika boleh tahu, apakah itu Nak Asha?” Ayah kembali bertanya dengan lembut, sementara Ibu dan Abim hanya menyimak.


“Sebetulnya, saya pernah menikah”


Hening


Tidak ada suara, Abim terlihat yang paling shock diantara semuanya, sementara Ayah dan Ibu hanya bisa saling pandang tak percaya.


“Sha?” Abim mengangkat wajahnya mencoba menatap Asha, meneliti kebenaran dari manik mata Asha.


“Ya, aku pernah menikah, dulu” Asha menundukkan kepalanya.


“Kapan Sha? Bukankah lulus sekolah kamu langsung berangkat keluar negeri untuk pendidikanmu?”


Ah ... tidak akan ada habisnya jika harus menceritakan kembali cerita hidup Asha, dan Asha benci jika masa lalu buruknya harus diungkit kembali, mengguar luka lama yang belum sepenuhnya kering, memang manusia mana yang kuat melakukannya?.


“Beberapa tahun yang lalu”


Asha menunduk, meremat gaun yang kini tengah digunakannya.


“Tapi Sha ...”


“Ah, baiklah ... tidak penting dengan masa lalumu Nak Asha, yang terpenting sekarang adalah masa depan, jika Abim memang tulus mencintaimu, maka Abim akan menerimamu, silahkan bicarakan kembali tentang masalah ini oleh kalian berdua, kami sepakat akan mendukung apapun keputusan kalian” Ayah kembali bersuara setelah beberapa saat termangu, tak ingin terlalu banyak menyinggung Asha, Ayah segera mencela ucapan Abim.


“Terimakasih banyak Om untuk segala kebaikan dan kebijaksanaannya” Asha merasa lega dengan segala ucapan Ayah Abim hari ini.


“Sama-sama Nak Asha, jangan terlalu dijadikan beban, Om tahu, semuanya tidak mudah bagi Nak Asha”


Akhirnya! Setelah sekian lama, ada juga yang mengerti Asha dan mau mengatakan jika semua jalan yang Asha lewati tidaklah mudah.


“Tante sangat mengerti, maafkan Tante dan Om yang tidak memahami Nak Asha” kini perempuan paruh baya itu bersuara.


“Tidak Tante, terimakasih banyak untuk segala pengertiannya” Asha menggeleng, tenggorokannya terasa tercekat, rasanya Asha ingin menangis karena terharu juga karena merasa sakit atas semua hal yang pernah Ia lewati, bagaimanapun juga trauma itu masih ada.


Asha melirik pada pria yang sedari hanya mematung, menatapnya tidak percaya, seolah apa yang dikatakan Asha hanyalah lelucon belaka.


‘Abim? Apa kamu akan menerimaku apa adanya, atau akan pergi meninggalkan aku seperti pria lain yang pernah melamarku dulu?’



Selamat lebaran bagi seluruh readers yang merayakan, mohon maaf lahir dan batin.


Selamat berbahagia 🥰🥰🥰