
‘Apa yang sudah kalian lakukan terhadap keponakanku?’ suara murka dari ujung sana membuat Mamih dan Papih yang tengah mendengarkan, seketika menjauhkan ponselnya.
‘Maaf Hans kami lalai menjaga Asha’ suara Mamih terisak.
‘Apa susahnya menjaga gadis kecil dan penurut seperti Asha? Atau kalian sengaja? Kalian lupa siapa yang membuat Briyan masih bernyawa hingga sekarang?’ suara itu kian meledak-ledak.
‘Tidak! Bagaimana mungkin kami sengaja melakukan hal gila tersebut pada Asha, kami sayang sama Asha tulus’ Mamih masih menjelaskan dengan suara bergetar, sementara itu Papih hanya bisa menghela napasnya berat.
‘Kenapa kalian bisa segegabah itu? Keponakanku bisa mendapatkan suami yang jauh lebih baik daripada putra kalian! Tapi sayangnya gadis itu lebih memilih pria pengecut itu!’ suaranya kian meninggi.
‘Maaf Hans, maaf’ isak tangis Mamih kian meninggi.
‘Atau kalian mau bangkrut lagi?’ suara itu terdengar mengerikan, sudah barang tentu, pria yang menelponnya adalah pria yang sangat berkuasa, terlebih sumber kehidupannya selama ini adalah berasal dari pria yang sedang memakinya, Mamih dan Papih hanya bisa menangis dengan tubuh bergetar.
‘Kami menyayangi Asha dengan tulus Hans, ada atau tidak ada bantuan dari kamu, Asha tetap kuanggap sebagai putriku sendiri’ jelas Mamih kemudian.
‘Lantas, kenapa kalian bisa menyakiti keponakanku? Apa kalian tidak bisa mendidik putra kalian?’ suara itu bagaikan auman yang siap menerkam, terdengar dingin hingga mencekam.
‘Kami akan membuat Briyan bersikap baik terhadap Asha, kami janji’ Mamih membulatkan tekadnya, dalam cinta kadang harus ada yang berkorban, sejauh ini sudah terlalu banyak pengorbanan yang Asha berikan untuk meraih cinta Briyan. Sementara Briyan? Pria itu terlihat tidak peduli tentang Asha.
‘Jangan hanya janji! Buktikan!’
Tut!
Suara panggilan berakhir, Mamih dan Papih mengurut dadanya yang terasa sesak, satu sisi mereka tidak ingin memaksakan kehendak pada Briyan putra sulung mereka, namun disisi lain hutang budi mereka begitu bertumpuk, bukan hutang budi perkara harta, namun juga perkara nyawa, itu sebabnya Mamih dan Papih sangat melindungi dan menyayangi Asha, kadang mereka terlihat lebih menyayangi Asha dibanding anak kandungnya sendiri, dan hal tersebut juga yang membuat Briyan dan Bintang kian membenci Asha.
“Briyan ...” suara Asha menginterupsi, gadis itu terlihat begitu lemah, wajahnya pucat pasi, selang oksigen terpasang di hidungnya, dan beberapa selang lainnya terpasang di tangan. Sementara tangan kirinya masih berbalut perban, gadis itu meringis kala merasakan perih di area yang diperban tersebut.
Dengan sigap Mamih mendekat, mengusap kepala Asha dengan sayang, berusaha memberikan kenyamanan pada gadis itu.
“Sayang ...” Mamih menyapa dengan tersenyum.
“Briyan pergi Mih, Briyan mau ninggalin Asha sendiri” air mata gadis itu luruh, tubuhnya kembali bergetar, bahkan hampir mengejang, jiwanya tidak stabil, bahkan gadis itu menggigit bibirnya sendiri kala bayangan Briyan pergi menghantuinya.
“Briyan gak pergi Nak, Briyan hanya sedang mengejar mimpinya, dan Briyan akan kembali lagi padamu jika sudah saatnya” Mamih menenangkan, membisikan kata yang membuat rasa khawatir Asha berkurang.
“Tadi, ada perempuan yang mengangkat telpon Briyan, mungkin itu pacar Briyan disana Mih” Asha mengadu dengan bibir bergetar, keringat dingin mulai merenung di keningnya.
“Mungkin itu hanya orang iseng sayang” Mamih tersenyum, berusaha sekuat tenaga meyakinkan Asha.
“Papih janji, jika Briyan terbukti berselingkuh darimu, Papih yang akan pukul Briyan” kini Papih menghampiri, dengan lagak siap membela Asha.
Asha terkekeh, sedikit rasa cemasnya berkurang.
“Jangan sakiti Briyan Pih, kalau Briyan sakit, Asha juga sakit” gadis itu masih saja membela Briyan.
“Hmh, kamu memang istri yang baik sayang” Mamih memeluk Asha dengan sayang.
‘Asha baru saja siuman, telpon dia, katakan hal yang manis, buat dia tenang dan percaya kembali padamu’ suara datar Papih membuat Briyan kembali mendesah frustasi.
‘Kenapa harus kayak gitu sih Pih?’ Briyan mengacak rambutnya dengan kesal.
‘Asha sakit’ Papih masih berucap dengan datar.
‘Memang Asha sakit apa sampai harus seperti itu?’ Briyan sungguh kecewa dengan sikap kedua orangtuanya, yang dianggap tidak mengerti dirinya, dan lebih memprioritaskan Asha.
‘Asha tidak sakit fisiknya, namun secara mental Asha terganggu’ jelas Papih kemudian, membuat Briyan terdiam.
‘Sebagai sesama laki-laki, Papih minta sama kamu, buat istrimu bahagia, jika bukan dengan harta dan kasih sayang yang nyata, beri dia sedikit kata-kata manis yang menenangkan, jangan jadi pengecut kamu Briyan! Kamu laki-laki, tanggung jawabmu besar di hadapan Tuhan!’ Papih mulai geram.
‘Asha memiliki trauma hebat yang membuatnya menjadi depresi, dia trauma akan sebuah kehilangan, dia harus terus mengkonsumsi obat penenang jika dia merasa kamu akan pergi dari hidupnya, dan itu tidak baik untuk kesehatan fisiknya’ Papih menjelaskan dengan napas yang tersengal, tak kuasa mengatakan hal tersebut, karena secara tidak langsung, bisa jadi kenyataan terbongkarnya sakit Asha justru malah akan membuat Briyan mengalami sakit yang sama.
‘A apa?’ Briyan mematung, tangannya membekap mulutnya sendiri, dia tidak pernah tahu akan hal tersebut, yang dia tahu hanyalah Asha yang menyebalkan dan keras kepala, dia tidak pernah tahu sisi lemah sang gadis.
‘Kenapa Asha bisa trauma sehebat itu tentang kehilangan?’ Briyan kembali bertanya di sela rasa shocknya.
‘Papih tahu, semuanya begitu rumit, akan lebih rumit jika kamu juga mengingatnya’
Briyan terdiam, memutuskan untuk menutup teleponnya secara sepihak, karena kepalanya terasa begitu sakit kala dia dipaksa untuk terus berfikir, sekelebat bayangan masa lalu menghampiri, jeritan suara anak perempuan, rintihan seorang Ibu, dan auman suara pria yang tengah marah, namun berakhir dengan suara rintihan penyesalan.
Kepala Briyan sungguh terasa berat, berulang kali Briyan memukuli kepalanya dengan berteriak sekuat yang Ia bisa, rasa ini sungguh menyiksa.
“AAARRRGGHHH!!” Briyan mengacak apa saja yang ada di dekatnya. Hingga kamar yang dia tempati berubah menjadi kapal pecah, termasuk maket tugas yang akan diserahkannya pada profesor Rainhard besok pagi tidak luput dari amukannya.
Briyan masih memukuli kepalanya yang terasa mau pecah.
‘Briyan berlindung di balik Papah!’
‘Jangan sakiti putraku!’
‘Kak Briyan! Asha pegangin Kak Briyan!’
‘Mamah! Papah! Kak Briyan!’
“Huh ... huh ... huh ...”
Napas Briyan kian tersenggal, dadanya terasa sesak kala potongan ingatannya mulai kembali sedikit demi sedikit, semuanya terasa begitu mengerikan, bahkan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, tubuh Briyan bergetar hebat. Sekali lagi pria itu memukuli kepalanya yang terasa semakin nyeri.
“Ashhaaaa!!!”
Briyan berteriak kala bayangan betapa banyak darah yang bersimbah dihadapannya, rentetan ingatan kejadian itu membuat tubuh Briyan kian bergetar hebat, bagai kaset rusak semuanya memenuhi kepala Briyan, hingga Briyan tidak sanggup menahan dirinya dan lambat laun Briyan kehilangan kesadarannya, pria itu tergeletak seorang diri, menikmati rasa nyeri tak bertepi.
Pada kenyataannya, baik Briyan maupun Asha, mereka sama-sama terluka.