
“Mah! Asha mau sosis jumbo yang besar!” seorang gadis berlari memeluk paha atas Ibunya, karena tinggi badannya hanya sampai paha atas Ibunya saja.
“Baiklah, mari kita bakar sosis jumbo untuk Princess Asha” Mamah tergelak, lalu menyiapkan sebuah sosis ukuran jumbo kesukaan putrinya.
“Horeee” Asha berteriak girang, lalu melompat-lompat tanpa lelah.
“Mah! Sosisnya buatkan dua! Asha mau membaginya dengan Kak Briyan” Asha bersorak dengan mata berbinar, membuat Mamah kembali tersenyum senang, karena tahu jika putrinya begitu senang berbagi.
“Baiklah, Mamah akan buatkan dua untukmu dan untuk Briyan” Mamah tersenyum lembut, tangannya sudah asyik mengolesi sosis tersebut dengan mentega sebelum di letakkannya di atas panggangan.
“Bukankah kemarin Kak Briyan sudah membuat Asha terjatuh dari sepeda? Kenapa Asha masih mau memberikan Kak Briyan sosis?” Mamah berjongkok membelai rambut putrinya yang kini sudah duduk di atas meja keramik di sampingnya.
“Karena Asha suka Kak Briyan” dengan polos Asha tertawa.
“Ck! Putriku sudah mulai suka-sukaan dengan pria” Mamah menggelitik tubuh Asha, hingga Asha tertawa kegelian.
“Kak Briyan tampan, makanya Asha suka” Asha kembali menjawab dengan tawanya yang masih terberai.
“Oya? Lebih tampan mana? Kak Briyan atau Papah?” Mamah menatap Asha yang baru saja reda dari tawanya, sejenak Asha berpikir, kemudian langsung menjawab dengan yakin.
“Kak Briyan! Nanti Asha mau nikah sama Kak Briyan!” jawab Asha dengan mata berbinar, membuat Mamah menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan putrinya yang begitu menyukai putra dari sahabatnya tersebut.
“Sha!”
Sebuah tepukan halus dari seorang pria membuat Asha terjingkat kaget, seketika lamunannya buyar, Asha menoleh pada pria yang kini duduk disampingnya, meraih piring kemudian mengisinya dengan sarapan pagi yang sudah disiapkan Bi Inah sedari tadi.
“Ya Om?” Asha melirik sekilas pada pria adik dari sang Papah.
“Sha, pengajuan perceraianmu sudah diproses pengadilan, jika pihak Briyan tidak terus mempersulit, mungkin semuanya akan semakin cepat, Om harap setelah semuanya selesai kamu bisa ikut Om ke luar Negeri, Om tidak bisa meninggalkan kamu lagi disini sendirian”
Asha terdiam, fikirannya berkelana jauh, lalu tatapannya beralih pada Bi Inah yang tengah mencuci piring di dapur, haruskah Asha meninggalkan semuanya?.
“Apa tidak bisa jika Asha disini saja Om? Melanjutkan kuliah disini, tidak perlu ikut Om ke luar Negri” Asha mencoba melakukan penawaran.
“Tidak bisa Sha, Om akan sangat merasa bersalah, jika kamu tidak ikut Om” Om Hans menunduk.
“Sudah cukup sebelumnya Om melakukan kesalahan dengan meninggalkan kamu dan mempercayakan kamu dulu pada Briyan, sekarang biarkan Om menebus semua rasa bersalah itu, ikutlah bersama Om Nak” Om Hans menatap Asha dengan tatapan memohon.
“Kamu akan lebih mudah melupakan segalanya, kamu juga bisa memulai kehidupan baru yang kamu sukai di sana Sha” Om Hans kembali memberikan iming-iming pada Asha, membuat Asha terpaku, lalu mengangguk lemah.
“Baiklah Om”
***
“Saya tidak akan pernah menceraikan Asha! Apapun alasannya saya tidak akan pernah melakukannya!” Briyan memberontak kala Om Hans kembali menemuinya, meminta padanya untuk mempermudah segala proses perceraiannya dengan Asha.
“Om, Briyan mohon, berikan Briyan kesempatan”
Merendahkan harga dirinya, menekan egonya hingga ke dasar, Briyan berdiri, lantas duduk bersimpuh di hadapan Om Hans yang kini tengah menatapnya datar.
“Aku tahu, kadang ada kalanya anak muda masih memiliki sikap yang begitu labil, aku juga tahu, kadang anak muda bisa melakukan hal-hal tanpa berpikir lebih panjang lagi, tapi ... aku melakukan semua ini adalah untuk kebaikan Asha, juga kebaikanmu”
Briyan mengangkat kepalanya, bingung dengan semua yang diucapkan Om Hans.
“Coba lihat ini”
Om Hans memberikan sebuah ponsel pada Briyan, Briyan menerimanya dengan dahi mengkerut.
“Itu adalah beragam ekspresi Asha kala dia menerima setiap rasa sakit yang kamu torehkan Briyan, Asha memiliki gangguan psikologis, Berliana-ku tidak sekuat yang kita lihat selama ini, Asha bisa mati jika dia terus bersamamu, maka dengan ini aku memohon padamu Briyan, anggap saja ini adalah permohonan dari seorang Ayah untuk putrinya, atau ... anggap saja ini adalah permohonan dari sesama pria, aku mohon ... ceraikan Asha dengan baik-baik”
Bruk!
Tubuh Briyan kian terperosok pada lantai, pria itu semakin tak karuan, hatinya kacau, Briyan tidak tahu apalagi yang harus dilakukannya sekarang.
“Aku tahu, aku mungkin egois, tapi ... bagi seorang Ayah, tidak akan ada kata egois jika itu untuk melindungi putrinya. Silahkan tonton video itu lalu kamu putuskan sendiri nanti kesimpulannya, aku harap kamu bisa memutuskan masalah ini dengan benar, sebagai seorang suami, sebagai seorang lelaki”
“Jangan lupa, Berliana selalu menderita kala dia bersamamu, kamu adalah luka terbesar baginya, terus memaksanya bertahan disisimu, sama saja seperti memberikan luka mendalam bagi Berliana”
Om Hans menepuk pundak Briyan, lantas berjalan menjauhi tubuh Briyan yang masih bersimpuh dengan tangan menggenggam erat ponsel yang diberikan Om Hans.
“Sha ... aku tidak ingin menyerah Sha”
***
Briyan menghela napasnya berulang kali, sudut matanya kini sudah basah, rahangnya mengetat, lalu giginya gemelatuk menahan amarah.
Matanya terus menatap sebuah gambar bergerak yang menunjukkan dimana Asha tengah mengamuk karena dirinya.
Briyan tidak pernah tahu, jika pertemuannya dengan Raisya di sekolah bisa membuat Asha menjadi sekacau ini, Briyan tidak tahu bagaimana perjuangan Asha memasak untuk dirinya dan berakhir kembali menghancurkan banyak barang dan menyakiti dirinya sendiri, kala Asha tahu Briyan membuang makanan yang diberikan Asha.
Briyan juga baru tahu seberapa banyak luka di tangan Asha, kala gadis itu berjuang keras untuk membuat baju pertamanya untuk Briyan.
Briyan tidak tahu, jika Asha akan mengiris nadinya sendiri, kala Briyan tidak mengabarinya sama sekali, lalu mata Briyan menangkap betapa kecewanya Asha atas setiap perlakuan Briyan, namun gadis itu selalu menyembunyikan kesedihannya di hadapan Briyan. Di hadapan suaminya gadis itu selalu merajuk dan bersikap manja, meski berujung diabaikan.
Hati Briyan begitu ngilu kala melihat setiap video yang terekam di ponsel tersebut, semua video itu berasal dari CCTV di rumah Asha, Briyan menghela napas berat, bayangan segala tindakan jahatnya pada Asha kembali berputar, lantas selanjutnya bayangan pembunuhan kedua orangtua Asha yang disebabkan oleh dirinya juga ikut terulang, Briyan memukuli kepalanya dengan brutal, air mata sudah menggenangi pipinya sedari tadi.
Perlahan tangan gemetarnya meraih sebuah obat yang berada di atas nakas, dengan tangan yang hampir menumpahkan toples kecil tersebut, Briyan menenggak dua butir obat tersebut. Matanya mulai terpejam kala reaksi obat tersebut mulai terasa.
“Sha ... selama ini aku sudah begitu egois mengikatmu dalam penjara kesedihan, sekarang ... haruskah aku membebaskanmu?”