SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Sudah Cukup Kuat


Hening ...


Suasana itu tercipta kala Asha dan Abimanyu kini tengah duduk berdua di sebuah taman di seberang rumah sakit tempat Papih dirawat, terpaksa Asha harus menjelaskan semua keadaannya sekarang. Sedari awal Asha memang sudah berniat melakukannya, namun Asha merasa belum memiliki waktu yang tepat. 


Beberapa waktu Abimanyu tidak lelah menghubungi Asha, namun Asha yang sibuk hampir saja melupakan pria yang sempat memberinya semangat tersebut, membuat harinya sedikit berwarna, dan membuat dadanya sedikit lega karena setiap perlakuan manisnya, namun ... Asha tidak menyangka jika hari ini akan tiba, namun dengan cara yang tidak terduga. 


Awalnya, Abimanyu mendatangi rumah sakit karena mendapat kabar jika Ayah Briyan tengah sakit, sebagai seorang teman Abimanyu merasa bersimpati dan ingin menjenguknya, namun siapa sangka, jika Abimanyu kini mendapati kenyataan yang cukup menyakiti hatinya. 


Terlalu banyak berharap pada manusia memang hasilnya akan mengecewakan, Abimanyu tahu persis hal tersebut, sebagai pria yang hidup dengan Allah dalam hatinya, Abimanyu menyesali tindakannya yang terlalu terobsesi pada Asha, Abimanyu lupa, jika Asha adalah milik Allah, terang saja apapun reaksi hati Asha, iitu juga tergantung bagaimana cara Allah mengendalikannya. 


Sekuat apapun Abimanyu mencoba meraih Asha, namun jika Allah tidak menghendaki, maka Abimanyu bisa apa?.


Harusnya Abimanyu menyerahkan segala urusan hatinya tentang Asha pada Allah saja, namun ... jika Abimanyu tidak melakukan usaha apapun tidakkah itu malah akan membuat hatinya terasa berat?.


Sekarang, apa yang harus Abimanyu lakukan? 


Ikhlas?


Abimanyu menghela napas berat, sepertinya kembali butuh waktu yang sangat panjang untuk sampai di titik ikhlas. 


Abimanyu tahu persis jika sedari awal, Briyan adalah pemenang bagi hati Asha, tanpa diminta, hati Asha sudah tertaut pada Briyan sedari lama, setelah mengetahui faktanya bahwa Briyan dan Asha sempat menjalin hubungan serius, dan lagi sekarang mereka tengah kembali dekat, Abimanyu merasa hilang sudah semua harapannya, Abimanyu terasa dihempaskan setelah diangkat setinggi langit. Sekarang Abimanyu menyadari kenapa sikap Briyan selalu berlebihan pada Asha ketika di kantor, apalagi saat Abimanyu berusaha untuk mendekati Asha, Briyan seolah pasang badan dengan banyak senjata di tangannya untuk menyingkirkan Abimanyu.


Lantas kenapa Asha tidak jujur saja sedari awal? Agar hati Abimanyu tidak sekecewa dan tidak sesakit sekarang? Ah ... Abimanyu terlalu naif!.


“Maaf ... aku tidak jujur sedari awal kepadamu” 


Asha memulai kata di situasi yang sangat canggung ini, langit malam menemani mereka, seolah tengah mengolok sebongkah hati yang terlihat tak kalah kelam.


“Sejak kapan?” hanya kata itu yang mampu Abimanyu ucapkan, selebihnya semua tanya yang ingin Ia utarakan kembali tertelan dalam dadanya, Abimanyu memejamkan matanya erat. 


Akhirnya, tanpa ragu Asha menceritakan semua kisah masa lalunya pada Abimanyu tanpa ada yang tertinggal, semua cerita tentang mereka mengalir begitu saja dari mulut Asha, Abimanyu setia mendengarkan, tak ingin mencela apalagi menghakimi. Abimanyu juga tahu, jika ini bukan masalah mudah yang harus dilalui Asha, apalagi Asha menjalani semuanya sendirian. 


Abimanyu menganggukkan kepalanya, Ia sekarang mengerti posisi Asha, semuanya sungguh tidaklah mudah, hubungan antara Briyan dan Asha cukup rumit sehingga menimbulkan sengketa hati diantara mereka, bahkan sampai saat ini, meski status mereka sudah bukan siapa-siapa lagi, mereka sepertinya akan tetap terhubung karena hubungan orangtua mereka di masa lalu juga karena sebuah hutang budi yang akan dibawa sampai mati. 


“Jadi, sekarang bagaimana perasaanmu?” Abimanyu menoleh menatap perempuan yang tengah menengadahkan wajahnya ke langit selepas menceritakan semuanya, terlihat wajah Asha begitu lega. 


Tidak ada hal yang membuat hati Asha menjadi lega dan terasa bebas dari beban berat selain daripada setelah mengatakan sebuah kejujuran, kejujuran mungkin berat untuk dikatakan, namun akan terasa lega setelah diucapkan. 


Asha menoleh, lantas tersenyum. 


“Apa kamu masih mencintai mantan suamimu Briyan? Apa kamu masih akan tetap bersamanya?” ada rasa sesak yang tak terlihat di dalam hati seorang Abimanyu. 


“Tidak baik memutus tali silaturahmi bukan?” Asha tersenyum, lantas berdiri berniat untuk pergi. 


“Sha! Kita belum selesai bicara, jangan mengatakan hal yang ambigu Sha! Katakan sesuatu untuk membuat perasaanku lebih baik” Abimanyu terlihat frustasi. Jawaban Asha sungguh membuatnya hampir gila! Apa maksudnya? Apa itu artinya Asha akan kembali pada Briyan?.


Namun lagi-lagi Asha tersenyum lembut, Asha menatap Abimanyu yang tengah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, andai suasana malam tidak menutupi wajah mereka, mungkin saja kini Asha bisa melihat betapa merahnya wajah Abimanyu karena menahan luapan emosinya. 


“Bim, akan kuserahkan perkara hidupku pada rabbku, apapun keputusan Allah akan aku jalani dengan sebaik-baiknya, siapapun nanti jodohku aku akan menerimanya dengan lapang dan ikhlas, termasuk jika jodohku itu adalah kamu, aku harap kamu-pun melakukan hal yang sama” 


Asha memutar tubuhnya, bergegas meninggalkan Abimanyu yang tengah mengacak wajahnya frustasi, Asha tahu mungkin jawabannya akan membuat Abimanyu sedikit bingung dan tidak jelas, namun Asha juga tidak bisa memutuskan semuanya dalam kondisi seperti ini, hati Asha masih gamang pada dua pria tersebut, dan untuk memantapkan hatinya, Asha lebih memilih akan mendiskusikannya dengan sang pencipta saja. 


*** 


“Lo bilang Lo nyuruh Gue buat dateng kesini, ada apa?” dengan judes seorang gadis mendaratkan bokongnya di kursi tepat dihadapan Asha, membuat Asha mendongak lantas segera menghentikan sketsa gambarnya. 


“Ya, aku ingin memberikan sesuatu buat kamu Bin” Asha menanggapinya dengan tersenyum, gadis itu tidak ingin lagi memendam dendam untuk siapapun, Ia ingin berdamai dengan hatinya sendiri, berharap semuanya akan lebih baik jika Ia berusaha untuk ikhlas menerima setiap takdir yang telah Allah sematkan padanya. 


“Apa?” masih dengan nada jutek Bintang adik dari Briyan menatap sinis pada Asha. 


“Santai dong Bin, sebelum itu aku mau ngomong dulu sesuatu sama kamu, boleh?” tanya Asha lembut. 


“Jangan lama-lama! Gue lagi sibuk mau cari gaun pengantin” ucapnya sarkas. 


“Oke, maaf sudah banyak ganggu waktu kamu Bin, yang pertama aku cuman mau bilang maaf sama kamu” Asha memulai kata dengan begitu lembut dan anggun. 


“Maaf buat apa? Lebaran masih lama!” cetusnya dengan wajah kesal. 


“Maaf karena sudah membuat kasih sayang Mamih dan Papih untuk kamu menjadi terbagi denganku, maaf aku tidak peka akan hati kamu dan segala kekhawatiran kamu, harusnya aku tahu diri untuk hal satu itu” Asha menjeda ucapannya, menilik wajah Bintang yang berubah melemah, sedari awal Asha tahu persis jika Bintang membencinya karena tidak suka dengan kasih sayang Mamih dan Papih yang harus dibagi pada Asha, Bintang terlalu takut kehilangan, tumbuh dengan segala kemudahan membuat Bintang menjadi gadis manja dan tidak bijak menyikapi keadaan. 


“G gak gitu kok” Bintang menggeleng cemberut. 


“Maaf, karena aku menjadi manusia yang tidak tahu diri, setelah kedua orangtuaku meninggal, aku sungguh haus akan kasih sayang semua orang, aku merasa hampa dan merasa hanya hidup sendirian di dunia ini, hingga dulu aku harus mengemis kasih sayang Mamih, Papih juga ... Briyan, saat itu aku tidak peduli dengan hati kamu, yang aku mau hanya mendapatkan perhatian dan kasih sayang keluarga, hanya itu” Asha tersenyum sembari menyeka air matanya.


“Sekali lagi, tolong maafkan aku, aku janji tidak akan mengemis kasih sayang lagi pada keluargamu, sekarang aku sudah cukup kuat untuk hidup sendiri” Asha kembali tersenyum, sementara Bintang hanya tertegun, hatinya merasa tercubit dengan setiap ucapan Asha, Bintang tidak pernah tahu hari buruk apa yang sudah dilalui Asha.