SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Mantan Istri Briyan


Ceklek ... 


Briyan menoleh pada pintu, disana seorang gadis cantik bersama sang adik tengah berdiri menatap Briyan, lantas mereka segera menghampiri dua laki-laki yang masih terlihat lemah tersebut. 


“Kak Briyan” Isabella mengulurkan tangannya dengan senyuman sumringah, Briyan menerimanya dengan enggan. Sementara Bintang segera mendekat pada Papih dan mencium pipinya lembut. 


“Kalian dari mana?” tanya Briyan setelah mereka duduk di sebuah sofa yang berada di pojokan ruangan, sengaja menjauhi Papih karena tak ingin suara mereka mengganggu istirahatnya. 


“Habis nyari gaun pengantin Kak, kebetulan belum nemu yang cocok” Bintang mengerucutkan bibirnya. 


Briyan hanya bisa menghela napas berat, sungguh ironi disaat papih terbaring lemah, namun Bintang masih bisa kesana kemari mencari gaun pengantinnya, pernikahan Bintang akan dilangsungkan beberapa bulan lagi, ini karena permintaan dari pihak pria yang tidak mau lagi menunda pernikahan mereka. 


“Kak Briyan sudah makan?” Isabella mendekat, wajahnya tersenyum ceria menatap Briyan yang bermuka layu. 


“Sudah” jawab Briyan singkat. 


Ceklek


Pintu terbuka, nampaklah Mamih juga Asha yang terlihat segar dan mereka jauh lebih cantik dari sebelumnya, wangi aroma yang khas membuat Briyan sempat terpaku menatap Asha lupa berkedip. 


“Sha” Briyan berdiri menyambut kedatangan Asha, sudah lama mereka tidak bertemu, membuat Briyan merasakan rindu, proyek yang sedang ditangani juga kesibukannya ikut merawat Papih membuat Briyan tidak memiliki banyak waktu untuk menggoda Asha seperti biasanya. 


“Hay Bry” Asha tersenyum manis, bahkan kelewat manis hingga Briyan merasa kesulitan untuk menelan salivanya. 


Sungguhkah ini Asha? Kenapa hari ini dia tersenyum begitu tulus pada Briyan? Berulang kali Briyan mengerjapkan matanya, lantas menggelengkan kepalanya tidak percaya. 


“Ha ha hayyyy ...” Briyan gelagapan, Mamih hanya bisa tersenyum lalu segera menjauh dari dua insan yang tengah gugup tersebut, dan segera mendekati brankar suaminya, memeluk Papih sejenak sebelum Mamih mendaratkan kecupan ringan di kening Papih. 


“Sha? Su sudah makan?” Briyan masih berusaha mendekati Asha, padahal sebelumnya ketika Asha berwajah ketus dan judes pada Briyan, Briyan masih lancar mengatakan hal apapun pada Asha, namun kala melihat senyuman manis Asha, Briyan seperti terlena. Oh! Ayolah dari mana saja Briyan selama ini? Mengapa dia baru menyadari jika senyuman Asha memang semanis itu. 


“Sudah, tadi sama Mamih” Asha kembali tersenyum lembut, membuat Briyan kian tersihir oleh pesona Asha. 


“Ekhem” Briyan mengerjap kala Isabella dan Bintang berdehem bersamaan. 


“Hay Bintang, hay Isabella” Asha melambaikan tangannya, berusaha menyapa dua gadis yang tengah menekuk wajahnya. 


“Bintang, besok kamu ada waktu?” tanya Asha setelah duduk di seberang Briyan. 


“Gue gak punya waktu buat Lo!” jawab Bintang dengan ketus. Gadis itu ternyata masih sama saja, Bintang tidak berubah sama sekali, perangainya masih seburuk dulu. 


“Kalau kamu ada waktu, aku tunggu kamu di butikku, ada hal yang ingin aku bicarakan” ucap Asha kemudian. 


Bintang terdiam sejenak, ada apa? Bukankah sedari awal Bintang sudah mengibarkan bendera perang? Meskipun Asha sedari dulu bersikap tak acuh padanya, namun Bintang tetap konsisten dengan kebenciannya pada Asha, kali ini Bintang sedikit tersentuh dengan senyuman juga ketulusan Asha kala memintanya untuk mendatangi butiknya, Bintang tahu betul jika butik Asha bukan butik kaleng-kaleng, butik Asha kini tengah meroket, banyak customer yang menginginkan baju Asha, namun harus mengantri karena terlalu banyaknya pesanan. Dan Bintang akui, baju rancangan Asha memang bagus-bagus. Bintang pernah mengintipnya di media sosial Asha. 


“Akan ku usahakan” Bintang melengos kan wajahnya, membuat Isabella menoleh tak percaya pada Bintang, bukankah Bintang sangat anti pada Asha? Lantas kenapa Bintang tiba-tiba saja berkata demikian? Ah ... bagaimana mungkin? Apakah kini kesempatan Isabella untuk mendapatkan duda tampan dan masih muda ini menjadi berkurang? Ini tidak bisa dibiarkan! Batin Isabella berkoar. 


“Kalau gitu aku pamit dulu” Asha berpamitan pada semua orang yang berada dalam ruangan tersebut, Mamih sempat kembali memeluk Asha, dan Asha sempat mencium tangan Papih yang masih tertidur pulas. 


“Aku antar ya Sha?” Briyan sudah berdiri, menawarkan diri pada Asha dengan begitu antusias. 


“Tidak perlu Bry, aku bawa mobil sendiri” Asha menggeleng, menolak Briyan dengan sopan. 


“Tak apa, nanti akuu bisa naik taksi ke sini” Briyan masih ngotot, ini adalah kesempatan langka baginya bisa mengantarkan Asha pulang. 


“Aku pikir tidak akan baik jika laki-laki dan perempuan bukan muhrim berduaan” 


Briyan terdiam, itu adalah kata sindirannya kala melihat Asha dan Abimanyu berduaan, tak menyangka, kini kata-kata itu harus menghampiri telinganya kembali, Briyan mendesah pelan, kesal! Sungguh sangat kesal!. Hingga pada akhirnya Briyan mengalah dan mempersilahkan Asha pulang.


Asha kini sudah berada di parkiran hendak membuka pintu mobilnya, sebelum ada suara menggema yang meneriakkan namanya, Asha segera menoleh pada sumber suara, Asha tersenyum kala melihat Isabella tengah terengah karena berlari mengejarnya. 


“Asha!” bentaknya dengan nada meninggi, namun Asha hanya menatapnya dengan tatapan datar, melipat tangan di dada, menunggu ucapan Isabella selanjutnya. 


“Sudah kuperingatkan! Jangan dekati Briyan! Briyan itu calon suamiku!” jeritnya tak tertahankan, napasnya memburu menahan emosi.


Asha tersenyum, sekelebat bayangan masa lalu datang silih berganti, dulu Asha juga pernah meminta Briyan untuk tetap disisinya, mengekangnya dengan berbagai cara, melakukan apa saja asal Briyan ada disisinya, namun nyatanya semua yang Asha lakukan bukannya menjadikan Briyan sebagai miliknya, tapi malah membuat Briyan pergi jauh dan semakin menyakitinya, dan waktu-waktu itu adalah waktu yang menyakitkan bagi Asha, sampai Asha melepaskan Briyan dan berusaha ikhlas menerima takdirnya, barulah hati itu menjadi sedikit damai. 


“Kamu tahu apa status Briyan?” tanya Asha dingin, membuat Isabella membeku, lantas menatap Asha kemudian. 


“Ya, aku tahu, aku tahu semua tentang Briyan termasuk statusnya” ucap Isabella ketus. 


“Termasuk kenyataan bahwa dia seorang duda”


“Ya! Aku tahu! Dan aku menerima semua kekurangannya!” ucap Isabella berapi-api. 


“Kalau begitu, apa kamu tahu siapa mantan istri Briyan?” pertanyaan Asha membuat Isabella terdiam mematung, Isabella tidak pernah tahu siapa masa lalu Briyan. 


“Mantan istri Briyan itu ... aku” beritahu Asha dengan lugas, seketika hatinya terasa begitu plong, sekian lama dia menyembunyikan fakta ini dari siapapun selain orang-orang terdekatnya, jujurnya semua itu menjadi sebuah beban tak berdasar bagi Asha, dan setelah mengatakan pengakuan tersebut, Asha merasa hatinya jauh lebih plong dari sebelumnya, ternyata Asha hanya butuh sebuah pengakuan untuk membuat hidupnya lebih baik lagi. 


“A apa?” Isabella memundurkan langkahnya, lantas menutup mulutnya dengan kedua tangannya, gadis seksi itu terlalu shock. 


“Jadi, kamu dan Briyan itu adalah mantan suami istri?” 


Asha mengerjap kaget kala mendengar suara bariton seorang laki-laki tepat di belakang tubuhnya.



Sudah baca karya yang satu ini belum? Kalau belum yuk baca, mampir disana yaaaa, aku menunggu kedatangan kalian, love.