
“Aaaaahhhkkk!”
Asha terbangun dari mimpi buruknya, napasnya terengah, dadanya naik turun, tangannya seketika menutupi kedua telinganya.
“Mamah, Papah ...” mata Asha berkaca-kaca kala mimpi buruk itu kembali datang menghampiri.
“Aku rindu Mamah dan Papah” air bening itu meluncur tanpa aba-aba.
“Bawa aku bersama kalian” pengkhianatan Briyan kembali membayangi wajahnya, Asha kian putus asa, hingga Ia hanya bisa kembali berteriak pilu, kakinya terus meronta seolah ingin dilepaskan meski tidak ada seorangpun yang menahannya, beban di pundaknya terasa begitu berat, meski tidak ada seorangpun yang menekannya.
“Asha?” perempuan hampir paruh baya itu datang, melihat kondisi Asha yang kembali memburuk, mental Asha terganggu! Perempuan itu duduk disamping Asha lalu memeluknya dengan sayang.
“Asha kuat, Asha bisa! Ikhlas ya, sabar” perempuan itu berulangkali mensugesti Asha dengan kata-kata penyemangat.
“Aku menemukan buku harian Mamah, tadi aku sempat membacanya” Asha menatap lekat dokter yang menanganinya.
“O ya?” dokter menatap Asha sembari tersenyum lembut.
“Hmh, Mamah sangat menyayangiku” air mata Asha kembali menetes.
“Tentu, seluruh Ibu di dunia ini sangat menyayangi anaknya” dokter tersenyum.
“Tapi, aku menemukan satu hal ...” ucapan Asha terjeda, gadis itu menatap hamparan perkebunan teh yang terlihat dari jendela kaca berukuran besar dari tempat tidurnya.
“Apa?” dokter itu kembali bertanya dengan tenang dan sabar.
“Briyan ...” gumam Asha pelan, namun geraman tertahan, seolah menahan suatu gejolak yang susah diungkapkan.
“Kenapa dengan Briyan?”
***
“M maksud Om apa?” air mata Briyan hampir mengalir, tangannya mencengkram erat kepalanya yang terasa kian sakit.
“Maksudku adalah ...” pria yang disapa Om Hans itu melirik Briyan dengan lirikan elangnya, merasa geram dengan pemuda yang telah berani menyakiti keponakan tersayangnya.
“Apa kamu tidak mengingat kebaikan Asha dan keluargaku?” kata-kata Om Hans semakin membuat teka-teki bagi Briyan, hingga pemuda itu semakin kebingungan dibuatnya.
“Kebaikan?” tentu saja pikiran Briyan segera berkelana pada segala pengorbanan juga perjuangan Asha, Briyan tahu jika keluarga Asha telah menggelontorkan banyak dana untuk membantu bisnis perusahaan keluarganya, Briyan juga bisa merasakan bagaimana seorang Berliana Asha berjuang untuk mengambil hatinya.
Tidak! Bukan Briyan tidak paham, hanya saja hati siapa yang tahu? Dalam hati yang paling dalam, Briyan juga ingin membalas perasaan dan segala ketulusan Asha, namun apa daya, cinta tidak bisa dipaksakan bukan?.
“Hmh, kebaikan Asha dan keluargaku, mereka rela mengorbankan banyak hal untukmu” Om Hans masih menatap tajam Briyan.
“Uang? Aku akan menggantinya, berapa banyak uang yang telah keluarga Asha berikan untuk keluargaku?” dengan berani Briyan tersenyum meremehkan pria baya di hadapannya. Mimpinya masih sangat panjang, ada banyak waktu bagi pria semuda Briyan untuk mengumpulkan uang dan mengganti seluruh hutang keluarganya kepada keluarga Asha, agar hidupnya di masa depan tidak terbebani lagi oleh sebuah hutang budi.
“Uang? Hey anak muda! kamu pikir uang itu begitu berarti bagiku?” Om Hans tertawa sinis, menyepelekan sejumlah uang dengan total tidak sedikit yang digunakan oleh keluarga Briyan.
Gejolak jiwa muda Briyan bergolak, harga dirinya terluka, egonya tersakiti, ingin rasanya Briyan mengaum hebat dan menerkam pria sombong di hadapannya.
“Nyawa! Ganti nyawa Kakakku dengan nyawamu! Kembalikan Kakakku yang telah kamu bunuh!” Om Hans seketika menggeram hebat, rahangnya mengerat, giginya gemelatuk, wajahnya memerah, suaranya terdengar menggeram. Matanya menyoroti Briyan dengan sangat tajam.
Deg!
Briyan membulatkan matanya, apa-apaan ini? Apakah Om Hans sudah gila? Bagaimana mungkin dia meminta nyawanya untuk menggantikan almarhum Kakaknya? Yakni kedua orangtua Asha.
“Bunuh? Haha ... Om Hans bercanda? Bagaimana mungkin saya bisa membunuh Mamah dan Papah Asha?” Briyan terkekeh geli, namun seketika kepalanya terasa berdenyut nyeri kala bayangan buram itu kembali datang.
“Kamu sungguh tidak mengingatnya? Kamu pembunuh Briyan!” Om Hans menggebrak meja, hingga minuman dingin yang berada di hadapannya menumpahkan air utuh di dalam gelas yang belum diminumnya.
“Pembunuh?” Briyan mencengkram kepalanya yang semakin mencengkram, penglihatannya sudah berkunang-kunang, tangannya gemetar hebat.
‘Kak Briyan pembunuh!’ itu suara anak kecil yang amat dikenalinya.
“Jika saja waktu itu kamu tidak pergi! Jika saja waktu itu kamu tidak meminta tolong pada adikku, maka hari ini Asha keponakanku adalah anak yang paling bahagia di dunia ini! Dia tidak akan semenderita sekarang! Dia juga tidak akan mengemis cintamu hanya karena dirinya begitu kesepian!” suara Om Hans kian menggeram kala ingatan dimana Kakak kesayangannya meregang nyawa, dengan terbata sang Kakak menitipkan sang anak agar dia jaga. Suara teriakan Asha karena trauma juga semakin lekat di pendengarannya.
Tes!
Setetes air mata mengalir di pipinya, pria dewasa itu segera menyekanya.
“Kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya Briyan! Kamu penyebab semua ini terjadi! Keegoisanmu yang membuat keponakanku menderita di sepanjang hidupnya” suara Om Hans melemah karena tangisannya.
Briyan masih terdiam membisu, bayangan itu masih saling berkelebat.
‘Kamu pembunuh!’
‘Jangan sentuh! Aku takut!’
‘Kamu yang buat Papah dan Mamah meninggal!’
“Sekarang, kamu pulang dan bercermin! Perhatikan matamu! Menurutmu siapa yang sudah membuatmu tetap hidup dengan penglihatan senormal sekarang?”
Om Hans segera berdiri, pria itu segera beranjak pergi tanpa basa-basi lagi, meninggalkan Briyan seorang diri yang masih merenungi hidupnya sendiri, bayangan-bayangan buram itu kian jelas, Briyan menutup telinganya kala suara anak kecil mulai kembali terdengar.
“Asha, maafin aku Sha” air mata Briyan kembali luruh, berusaha berdiri meski dirinya masih limbung, berniat ingin meninggalkan tempat tersebut dalam keadaan pandangan yang berkunang-kunang, sakit dikepalanya kian tak tertahan, hingga akhirnya kesadarannya mengambang, tangannya menggapai apa saja, hingga semua gelas yang berada di meja tumpah ruah hingga menimbulkan bunyi gaduh, sebagian pelayan segera menghampiri, dan sebagian pengunjung hanya menatap Briyan dengan raut penasaran.
“Asha ...” kata itu adalah kata terakhir dari mulut Briyan sebelum Ia kehilangan kesadarannya.
***
‘Hari ini, adalah hari paling berbahagia bagiku, aku dinyatakan positif hamil setelah bertahun-tahun menunggu kabar baik ini, ah ... rasanya tidak sabar untuk segera bertemu dengan putriku, ya! Dokter bilang anak yang ku kandung ini berjenis kelamin perempuan, dia begitu berharga, kehadirannya bagaikan permata di hidupku, putriku ... akan ku namai dirimu ‘Berliana Asha’ dalam bahasa sansekerta dan bahasa Hindi, Asha artinya adalah harapan, kamu adalah permata harapan bagi Mamah dan Papah’
Air mata Asha jatuh kembali saat membuka lembar demi lembar tulisan tangan sang Ibunda tercinta, disana dilampirkan sebuah foto USG Asha saat berusia lima bulan dalam kandungan.
“Mamah ... Asha rindu Mamah ...”