SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Lebih Suka Duda


“Sayang, kenapa tidak jadi datang untuk makan malam bersama Mamih?” dari sebrang sana seorang perempuan paruh baya tengah menahan rasa kecewanya.


‘Maaf Mih, Asha sangat sibuk hari ini, ada pelanggan yang meminta untuk dibuatkan baju untuk acara pentingnya lusa, jadi Asha harus mendesign-nya sekarang, sekali lagi tolong maafkan Asha ya Mih’ dengan raut tidak enak dipandang Asha memelas meski Mamih tidak dapat melihatnya.


‘Ah, baiklah. Tak apa Sha, Mamih mengerti, tapi lain kali harus jadi ya Sha’ Mamih perempuan bijak dan lembut itu tersenyum tipis diujung sana, meskipun hatinya masih harus memendam kecewa.


‘Ya Mamih’


Telepon ditutup setelah mereka sempat mengobrol sedikit, Asha menghela napas berat, lalu tersenyum pada seseorang yang kini sudah berada di hadapannya, tersenyum tulus mendukung sepenuhnya keputusan Asha, di hadapan mereka sudah tertata banyak makanan enak, Asha tersenyum memandangnya.


“Selamat makan Bi, makan malam bersama Bi Inah rasanya jauh lebih enak dan berkesan” Asha terkekeh, sementara Bi Inah yang kini sudah duduk di hadapannya hanya tertawa lebar.


“Non Asha ini, sudah mulai bisa nakal” Bi Inah menyodorkan makanan kesukaan Asha yang sudah memenuhi piring.


“Non Asha juga membatalkan makan malam bersama Den Abimanyu?” Bi Inah menatap Asha lekat.


“Ya, bagaimana lagi Bi, aku tidak ingin tertekan lagi, lain kali akan ku tepati janjiku pada Abim, mungkin besok, lusa, aku tidak tahu Bi” Asha mengedikkan kedua bahunya.


“Yang penting, janji harus ditepati Non” Bi Inah tersenyum.


“Tentu saja Bi” Asha mengangguk.


Sejurus kemudian kedua perempuan berbeda generasi itu larut dalam makan malam juga obrolan ringan mereka, sesekali mereka tertawa, menertawakan sesuatu yang ringan dan lucu, hingga bunyi bel dari pintu utama terdengar, Asha menahan Bi Inah yang hendak beranjak, gadis itu memilih untuk membuka pintu sendiri.


“Hay!”


Asha terbelalak kala seorang pria tengah tersenyum mengembang menatap dirinya, sementara di kedua tangannya penuh oleh beberapa kantongan yang entah berisi apa.


“Kamu?”


Asha menatap nyalang pada sesosok makhluk yang telah mengganggu dinner romantisnya bersama Bi Inah.


“Tadi, kata Mamih kamu gak jadi makan malam di rumah, jadinya aku yang kesini bawain makanan kesukaan kamu” Briyan menyodorkan kantongan tersebut pada Asha, membuat Asha terbelalak tak percaya.


“Ngapain sih kamu bawain makanan ini segala?” Asha dengan wajah juteknya langsung nge-gas.


“Ya daripada mubazir kan? Makanan ini gak akan ada yang makan” Briyan mengedikkan kedua bahunya acuh.


“Loh? Den Briyan?” Bi Inah datang, lalu tersenyum ramah menyapa Briyan.


“Hay Bi! Long time no see” Briyan melambaikan tangannya pada Bi Inah.


“Hah? Yes! Yes!” Bi Inah mengangguk dengan tangan menggaruk keningnya, sementara Asha hanya memutar kedua bola matanya kesal.


“Bi ini udah malem, dingin juga, apa aku gak disuruh masuk?” Briyan memeluk tubuhnya sendiri, dengan bibir yang sengaja di buat segemelatuk mungkin.


“Hah? Ya ... ya silahkan ma ...” ucapan Bi Inah menggantung kala Asha tiba-tiba membentak.


“Pulang!” suara Asha membuat Briyan dan Bi Inah mengurut dada masing-masing.


“Yaelah, galak banget sih?” Briyan memasang wajah cemberut.


“Pintu rumahku tertutup untuk manusia aneh seperti kamu!”


Brak!


Asha menutup pintunya dengan sekali hentakan, membuat Briyan hampir saja terpental.


“Aiiiisshhh! Gadis itu benar-benar!” Briyan merutuk, namun tak urung kakinya tetap melangkah pergi meninggalkan rumah mewah Asha dengan berjalan kaki.


***


Siang ini udara cukup panas, Briyan tengah berjalan menuju sebuah kafe, hari ini ada jadwal bertemu dengan seorang gadis, ah! Sesungguhnya Briyan mengutuki dirinya sendiri, kenapa juga Briyan harus patuh pada keinginan sang adik yang merengek, ini adalah pertemuannya yang kesekian dengan beberapa gadis.


Semenjak perceraiannya dengan Asha, Briyan selalu di paksa untuk di jodohkan dengan beberapa gadis oleh Bintang, tentu saja hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan Mamih dan Papih, masih jelas terlihat jika pilihan Mamih dan Papih untuk menjadi menantunya tetaplah Asha, apapun yang terjadi, Asha masih memenuhi standar menantu keluarga Alexander, namun tidak dengan Bintang, gadis itu masih saja tidak menyukai Asha.


“Plis kak, kali ini aja, dia temen Gue waktu kuliah, dia anak pengusaha kaya juga lho, punya beberapa bisnis pribadi, dan akan jadi kandidat penerus tahta keluarga” cara promosi Bintang sudah mirip dengan cara promosi Mbak-Mbak SPG di Mall.


“Dahlah, Gue udah bosen sama permintaan Lo yang aneh itu” Briyan merasa berang dengan permintaan sang adik.


“Plis Kak, Gue udah nerima sogokan tas mewah dari dia, cuman karena dia mau deket sama Lo doang, kalo Lo gak mau, itu artinya tas itu bakal balik lagi ke pemilik semulanya Kak, dan Lo tahukan Kak? Gue suka banget sama tas itu” Bintang mulai mengeluarkan jurus mengibanya. Oke! Tidak ada pilihan lain, Briyan terpaksa harus menemui perempuan itu demi tas mahal yang Bintang inginkan.


Dan disinilah Briyan sekarang, tengah menunggu seseorang di sebuah kafe yang baru saja dibuka, penampilannya yang cuek namun tetap saja tidak mengurangi pesonanya, sembari menunggu Briyan mencoba memesan minuman dan makanan favoritnya.


“Hay ... Kak Briyan?” suara lembut nan merdu dari hadapannya membuat Briyan mendongak, untuk sesaat matanya terpana melihat gadis cantik yang kini tengah tersenyum padanya.


“Ya, kamu ...” Briyan mencoba mengingat nama perempuan ini, sebelumnya Bintang sudah memberitahunya, namun Briyan lupa, karena dalam kepalanya hanya ada Asha.


“Aku Isabel” perempuan itu tersenyum lalu menjulurkan tangannya pada Briyan, Briyan menyambutnya sekilas, lantas segera kembali duduk.


Briyan kembali tersenyum, dalam hati menghitung, Isabel ini entah perempuan yang ke berapa yang sudah ditemuinya, dan dari pertemuannya ini membuat Bintang menjadi kaya karena barang-barang yang diterimanya sebagai sogokan, perempuan sebelumnya selalu ngacir kala mendengar pengakuan Briyan, entahlah dengan perempuan di hadapannya sekarang.


“Sudah pesan makanan?” Isabel memecah keheningan.


“Sudah, sebentar lagi datang” Briyan mengangguk, memasangkan earphone di telinganya membuat Isabel mengernyit namun lantas tersenyum imut.


“Oke” Isabel mengangguk.


“Silahkan makan” Briyan mempersilahkan Isabel makan, dan Briyan sendiri langsung menyantap makanannya dengan lahap, seperti belum makan selama dua hari saja, fikir Isabel. Isabel hanya bisa geleng-geleng kepala, sesekali melempar senyuman manisnya.


“Kak Briyan sudah punya pacar?”


Pertanyaan Isabel membuat Briyan tersedak, lantas segera meminum minumannya.


“Tentu saja belum” Briyan menggeleng yakin.


“Syukurlah” Isabel semakin mengulas senyumannya.


“Kenapa?” Briyan bertanya dengan raut penasaran.


“Kak Briyan mau jadi pacarku?”


Uhuk!


Sekali lagi Briyan tersedak mengingat betapa beraninya gadis di hadapannya ini, sepertinya Briyan terlalu menganggap remeh pada gadis di hadapannya.


“Apa kamu sudah mengenalku sebelumnya?” Briyan kembali bertanya dengan tegas.


“Tentu saja, Kak Briyan adalah Kakak dari Bintang, sahabatku” Isabel tersenyum manis.


“Baiklah, sepertinya kamu masih belum mengenalku dengan baik, akan aku jelaskan” Briyan mengusap sudut bibirnya dengan tissue, sementara Isabel bersiap menyimak.


“Aku seorang duda”


Uhuk!


Kali ini Isabel yang tersedak, namun tetap semangat menyimak ucapan Briyan selanjutnya.


“Sudah lama?”


“Sekitar lima tahun yang lalu” Briyan berkata dengan raut bangga yang di buat-buat. Isabel sempat terperangah, di usia semuda itu sudah menjadi duda? Apakah Briyan adalah salah satu pelaku MBA?


“Punya anak?”


“Tidak”


“Oke, tak apa, aku lebih suka duda dibanding perjaka, bukankah duda lebih berpengalaman?”


“What?????”