
“G Gu-e ju juga mi minta maaf Sha” Bintang tergagap setelah mendengar segala penyesalan dan pengakuan Asha, diam-diam, dalam hati paling kecilnya Bintang juga menyadari jika sikapnya mungkin sudah berlebihan pada Asha selama ini, namun rasa cemburu di hati selalu mendominasi, hingga membuat sikapnya semakin menjadi.
“Kamu gak salah Bin, mungkin jika aku di posisi kamu aku akan melakukan hal yang sama, aku yang salah karena sudah datang dan masuk di keluarga kalian, maaf ... aku tidak akan mengemis kasih sayang lagi pada keluarga kalian” Asha kembali tersenyum lembut, menatap Bintang yang tengah menundukkan kepalanya dengan lemah.
“Lo gak usah jadi pengemis lagi Sha, Gue bakal bagi kasih sayang keluarga Gue dengan ikhlas mulai sekarang”
Asha tersenyum mendengar ucapan Bintang, hatinya menghangat, sekarang Ia mengerti, ternyata Asha hanya perlu bicara dari hati ke hati bersama Bintang untuk memenangkan hatinya, pada dasarnya Bintang memiliki hati yang sangat lembut.
“Terimakasih Bin, aku sudah berjalan sendirian melawan kerasnya dunia, sekarang melihat kamu mau mengikhlaskan semuanya, aku bahagia, duniaku tidak akan sepi lagi”
“Mulai sekarang, Lo punya Gue Sha, punya kita semua” Bintang berdiri lantas merangkul tubuh Asha, Asha membalas pelukan Bintang dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya, Asha bahagia, Asha tahu hal ini adalah hal yang membuat hatinya begitu bahagia, ternyata berdamai dengan takdir bisa menyebabkan hatinya menjadi sedamai sekarang.
“Aku punya sesuatu buat kamu”
Asha melepaskan pelukan mereka, lalu menuntun Bintang ke sebuah ruangan yang berada di dalam ruangan Asha, ruangan kecil dimana disana terdapat beberapa manekin dengan beberapa baju yang sudah terpajang.
“Astaga! Sha!” Bintang terperanjat kaget, lantas menutup mulutnya penuh takjub.
“Sha ini ...”
“Ini gaun pengantin, sengaja aku rancang dari jauh-jauh hari buat kamu, aku tahu dari Mamih kalau kamu masih kesulitan mencari gaun pengantin, kamu boleh coba dan pilih sesuai yang kamu mau” Asha tersenyum menatap Bintang yang masih menatap baju pengantin indah tersebut dengan mata berkaca-kaca.
“Gue gak tahu harus bilang apalagi Sha, ini bagus banget!” Bintang kembali memeluk Asha, namun kini dengan isakan lembut yang terdengar begitu lirih di pendengaran Asha.
“Thanks Sha”
“Ya, sama-sama Bintang”
***
Dalam hidupmu, pernahkah kamu merasa terpuruk? Merasa jatuh sejatuh-jatuhnya, merasa ujian bertubi-tubi hingga kadang kamu merasa bahwa kamu sedang di azab karena sebuah kesalahan yang tidak kamu perbuat?.
Pernahkah kamu merasa bahwa Tuhan tidak sayang pada kita, merasa Tuhan berperan tidak adil pada kita, lantas kamu sering menyalahkan Tuhan?.
Pernahkah kamu merasa sudah melakukan semua perbuatan baik, namun kamu selalu salah dimata orang lain? Hingga kamu merasa ditinggalkan dan dikucilkan hingga kamu merasa hanya hidup sendiri?.
Pernahkah kamu merasa iri kepada oranglain yang terlihat selalu bahagia, sedangkan kita selalu merana?.
Pernah berusaha bangkit namun selalu berakhir dengan jatuh kembali? Semakin terpuruk, hingga semua usaha terasa percuma.
Lelah, putus asa juga sering dirasa.
Namun ... seringkali kita lupa, bahwasannya kasih sayang Tuhan itu tidak selamanya berbentuk materi, tidak selamanya berbentuk kasih sayang sesama manusia, tidak selamanya berbentuk kesehatan dan kebahagiaan, kita lupa jika kemiskinan, sakit, dan semua hal yang kamu anggap kejam juga bentuk kasih sayang dari Tuhan, Tuhan ingin kita belajar tentang banyak rasa agar kita semakin luar biasa.
Ikhlas, satu kata yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan, tidak mudah untuk ikhlas, namun jika ujian itu terasa begitu nyata, maka ikhlas bisa menjadi pilihan agar kamu tidak cepat binasa.
Sejatinya hidup adalah sebuah proses untuk belajar, sakit, sedih, luka akan menjadikan kita menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi.
“Sha ...”
Panggilan itu membuat lamunan Asha tentang masa lalunya menjadi buyar seketika, Asha menatap Papih yang kini tengah menatapnya dengan mata sayu.
“Iya Pih?”
Asha tersenyum lembut pada pria yang sudah memberinya banyak kasih sayang tersebut, beberapa hari lalu Papih sudah dipersilahkan untuk pulang ke rumahnya, kini Asha menjenguk Papih disaat Briyan tidak ada di rumah, hanya ada Mamih yang menemani.
“Papih mau jalan-jalan sebentar bersamamu” ucap Papih dengan pandangan mata memohon.
“Jalan-jalan? Ke mana?” tanya Asha bingung sendiri.
“Boleh Pih, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke puncak aja? Sudah sangat lama kita tidak jalan-jalan ke Villa yang di puncak, kebetulan besok weekend, bagaimana?” tawar Asha dengan antusias.
“Boleh, Papih setuju” Papih mengangguk dengan tak kalah antusias.
“Oke, mari kita berkencan Papih” Asha tersenyum manis menatap Papih yang kini masih terbaring lemah dalam masa pemulihannya.
“Siapa yang mau berkencan?” Mamih datang dengan satu nampan makanan untuk cemilan mereka.
“Kami berdua, Papih dan Asha akan berkencan” ucap Papih lemah, namun dengan senyuman terukir di wajahnya, binar bahagia begitu ketara.
“Mamih tidak diajak?” tanya Mamih cemberut.
“Tidak” Papih menggelengkan kepalanya dengan jahil.
“Mamih tentu saja harus ikut, Asha tidak ingin membakar sosis sendirian” Asha tersenyum, gadis itu membayangkan akan membakar sosis jumbo kesukaannya di puncak nanti.
“Baiklah, bagaimana jika kita ajak Briyan dan Bintang juga? Agar semakin seru!” Mamih berucap dengan semangat menggebu, namun Asha tiba-tiba saja terdiam, pergi bersama Briyan? Rasanya masih terlalu tabu bagi Asha, mereka akan terlihat seperti keluarga sungguhan, dan Asha sudah tidak ingin lagi berharap terlalu banyak ataupun terlalu merepotkan keluarga Briyan.
“Kenapa tidak? Silahkan Mamih nanti bersama anak-anak, tapi Papih akan tetap berkencan dengan Asha saja” Papih berkata setelah melihat raut Asha.
“Oh, begitu yaaaa! Mentang-mentang ada Asha” Mamih semakin mengerucutkan bibirnya, membuat Asha dan papih tergelak.
“Baiklah, Asha ikut saja gimana Mamih Dan Papih, lagi pula Asha juga sudah terlalu lama tidak berkunjung ke Villa Mamah dan Papah, nanti Asha bisa menginap disana” Asha mengangguk setuju, membuat Papih dan Mamih tertawa bahagia.
***
“Bry! Ada kabar bahagia!” Mamih datang dengan wajah bahagia, mendaratkan bokongnya di tepi ranjang di samping sang putra.
“Kabar apa Mih?” Briyan masih tak acuh, pandangannya tetap tertuju pada sebuah buku yang berada di genggamannya.
“Besok kita semua akan ke puncak!” Mamih berkata dengan heboh.
“Oh, mau ke puncak Mamih sampe segitunya, biasa aja kali Mih, lagian Briyan gak ikut ah, banyak kerjaan” Briyan menolak dengan ogah-ogahan.
“Ck! Kita semua kesana bersama Asha!” Mamih kian heboh, sementara Briyan masih acuh melanjutkan membacanya.
“Oh” Briyan menanggapi seolah tak peduli, membuat Mamih mendelik heran.
Hingga selang beberapa detik kemudian...
“Hah? Bersama Asha? Kenapa Mamih tidak bilang dari tadi?!” Briyan melompat setelah otaknya yang loading baru berhasil memproses ucapan Mamih. Mamih hanya melongo heran melihat tingkah putra sulungnya.
“Mau ngapain kamu Nak?” tanya Mamih saat Briyan bersiap meraih koper dan membereskan pakaiannya.
“Beres-beres Mih, Kan kita mau ke puncak”
“Oh, cuman ke puncak kok sampe heboh begitu” Mamih melipat tangan di dada, menatap geli pada Briyan.
“Ini gak heboh Mih, biasa aja”
“Bukannya besok kamu sibuk ya? Banyak kerjaan?”
“Oooohhh, besok ya? Mamih tenang saja! Besok, Briyan free!”
Astaga!