SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Seandainya, Akankah???


Malam kian larut, di atas tempat tidur Briyan masih menatap langit-langit kamarnya, tubuhnya sedikit menggigil, Briyan menepati ucapannya, dia berdiri sekian lama di depan rumah Asha, namun yang ditunggu tidak kunjung datang, hingga malam menyerang dan hujan mulai turun, namun Briyan tidak bergeming. Ia masih tetap berdiri kokoh, berharap Asha akan memberikan sedikit rasa iba padanya.


Beberapa saat Mamih dan Papih datang untuk menjemput Briyan setelah Bi Inah menghubungi mereka, Papih dengan terpaksa menyeret Briyan untuk pulang. Dan kini disinilah Briyan sekarang, di atas tempat tidurnya dengan rasa gelisah yang tak tentu arah.


“Kamu di mana Sha? Aku tahu kamu semarah itu sama aku, tapi ... tidak adakah kata maaf untukku?” Briyan menggumam pelan, ujung matanya kini sudah berair kembali, Briyan sungguh tenggelam dalam sebuah penyesalan atas sikapnya pada Asha.


“Bry ... di minum dulu wedang jahe-nya” Mamih datang dengan minuman yang bisa menghangatkan tubuh tersebut, namun Briyan masih tak acuh, masih senang berada dalam lamunannya.


“Bry?” Mamih menyimpan gelas tersebut di atas nakas, lalu duduk di samping putranya.


“Selama ini, Briyan sudah sangat jahat pada Asha bukan Mih?” Briyan masih menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, membuat Mamih mendesah pelan, lalu berusaha sabar untuk mendampingi putranya yang tengah patah hati.


“Bry, setiap manusia sudah Allah gariskan takdirnya masing-masing, dan ini mungkin adalah takdir kalian, kalian harus melewati jalan ini agar kalian menjadi kuat. Pun dengan kamu Nak, kamu harus kuat melewati semua ini” Mamih mengelus kepala Briyan dengan sayang, mencoba mentransfer ketenangan lewat sentuhannya.


“Briyan sudah jahat pada Asha Mih” Briyan kembali tergugu.


“Berusaha untuk meminta maaf padanya Nak, Mamih yakin Asha adalah gadis yang sangat baik, dia pasti maafin kamu Bry” Mamih tersenyum lembut meyakinkan putranya.


“Orangtuanya meninggal karena Briyan, selama menjadi istri Briyan tidak pernah sekalipun dia diperlakukan dengan baik, bagaimana mungkin Asha mau maafin Briyan Mih? Hidupnya hancur karena Briyan, harusnya dari awal Briyan mengingat semuanya dan memperlakukan dia dengan baik Mih” Briyan menangis terisak, Mamih mendekapnya erat.


“Bry ... Allah tidak menyukai hambanya yang berputus asa, semangat Bry, kejar Asha, perjuangkan dia, minta maaflah dengan benar, Mamih fikir setiap perempuan suka diperlakukan demikian, diberi perhatian, diperlakukan dengan lembut, lalu diperjuangkan setengah mati, percayalah ... jika kalian berjodoh maka sejauh apapun Asha pergi maka dia akan kembali, asalkan kamu tetap berjuang” Mamih memberikan nasihat terbaiknya pada Briyan, membuat Briyan menatap Mamih dengan ragu.


“Lalu bagaimana jika Asha ternyata bukan jodoh yang diberikan Allah untuk Briyan?”


***


“Sha! Mau sampai kapan Lo numpang disini?” Gendis menatap nyalang pada Asha yang masih berpenampilan berantakan, sementara itu apartemennya kini sudah dibersihkan oleh seseorang yang tadi sempat Asha telpon, Asha bilang orang itu datang dari aplikasi yang Asha pesan, Gendis tidak peduli, yang dia inginkan adalah apartemennya kembali bersih seperti sedia kala.


“Dis, jangan rese lah ...” Asha menutup kepalanya dengan bantal, kembali memejamkan matanya berusaha untuk melepaskan segala amarahnya dengan tidur. Semalaman gadis itu tidak tidur sama sekali.


“Sha! Bi Inah udah hubungin Gue berkali-kali, dia khawatir sama Lo, Lo balik gih” Gendis kembali mengusir Asha dengan sadis, kakinya menoel-noel kaki Asha agar gadis itu bangun, namun Asha tidak bergeming, bahkan kakinya yang setengah ditendang oleh Gendis dengan kesal itu tidak Ia rasakan.


“Sha!” Gendis kembali berteriak, membuat Asha bangun, mau tidak mau dia segera bangkit dan menuju kamar mandi dengan kaki terhentak marah, lantas gadis itu membersihkan diri alakadarnya.


“Sha, sampai kapan Lo kayak gini?” Gendis menghela napas berat, dia tidak bisa melihat sahabatnya seperti ini, Gendis hanya bisa pasrah dan berdoa semoga sahabatnya itu di beri segala yang terbaik oleh yang maha kuasa.


“Dis, Lo mulai masuk kuliah?” Asha menatap Gendis yang tengah membereskan buku-bukunya ke dalam tas, sudah satu bulan ini Gendis masuk kuliah, harusnya Asha juga begitu, namun berkat segala kekacauan yang terjadi, Asha menunda kuliahnya satu semester dan akan mengikuti kelas di semester berikutnya.


“Hmh, udah dari satu bulan yang lalu kali” Gendis mencebik, melirik Asha yang kini sedang menggigit roti panggang buatannya tadi.


“Jangan lupa, Lo pernah bucin sama pria yang Lo anggap pengecut itu” Gendis mengedikan matanya meledek.


“Karena Gue gak inget, kalau dia adalah pembunuh!” Asha kembali ke mode awal, membuat Gendis bergidik.


“Sha Lo ...” belum Gendis selesai memberikan wejangan pagi ini, namun Asha sudah segera berdiri melempar roti yang baru di gigitnya sembarangan.


“Gue pulang dulu” tanpa basa-basi, Asha segera beranjak pergi meninggalkan Gendis yang kini tengah mendesah frustasi.


***


Dari kejauhan, dari dalam mobilnya Asha menatap pada pria tinggi yang kini tengah berdiri menantang di depan rumahnya, sesekali pria itu berteriak tidak jelas meneriakan namanya.


Asha memutar kedua bola matanya kesal, kenapa juga pria yang ingin dihindarinya malah muncul? Asha sungguh tidak sanggup jika harus bertemu dengannya.


“Sha! Keluar Sha! Aku tahu kamu di dalam!” teriakan itu terdengar ke telinga Asha yang kini masih duduk dibalik kemudinya, Asha mencebik sinis.


“Gue disini kali!” Asha membuang pandangan, seketika rasa itu kembali menggelitiki hatinya, andai saja dulu Briyan bersikap seperti itu padanya, mau memanggil namanya, mau memperjuangkannya, tidak membodohi dan membohonginya, juga tidak mengkhianatinya, mencuranginya dengan sedemikian rupa, pasti sikap Asha tidak akan sekeras sekarang.


Air mata Asha kembali menetes, terjatuh begitu saja kala mengingat bagaimana Briyan menghabiskan banyak waktunya bersama Raisya, Asha yakin sekarang Briyan hanya sedang merasa bersalah padanya, atau bisa jadi Briyan di perintah oleh kedua orangtuanya untuk meluluhkan hatinya, bukankah hal seperti itu yang selama ini terjadi? Asha tersenyum miris, menertawakan nasibnya yang kacau balau.


“Hatiku sakiiiittt ... AARRRGGHHH!!”


Asha memukul setir mobilnya dengan cukup kencang, hingga membuat buku tangannya memerah, Asha kembali menangis, matanya masih menatap Briyan yang masih tegap berdiri, dengan seikat bunga mawar merah di tangannya.


Asha kembali tertawa, menatap lekat bunga tersebut “Aku tidak pernah menyukai mawar, aku membenci durinya, dan aku sudah mengatakan itu berulang kali padamu Briyan, aku menyukai lili putih, tapi rupanya kamu tidak mengingatnya?”


“Seandainya, aku bukan anak dari orangtua yang sudah kamu bunuh, seandainya aku bukan anak dari seorang pria yang sudah memberimu mata untuk kembali bisa melihat dunia, akankah kamu tetap berdiri disana Briyan?”


.


.


.


.


Selamat menunaikan ibadah shalat tarawih bagi yang menjalankan, semoga puasanya tetap lancar ya gengs ...