
Suatu ketika, aku pernah membiarkan jiwaku tenggelam dalam cinta, kuharap malam-malam kelam ku bisa berganti dengan cahaya mentari pagi, hingga sirnalah segala sepi.
Sesaat kamu pernah menawarkanku sedikit keindahan, hingga membuatku terlena dan lupa diri, hingga aku semakin menyandarkan tubuhku di bahumu, segenap resah, gelisah, penuh akan pasrah, hingga hanya satu namamu saja yang terus terpatri dalam hati.
Namun, ternyata harapanku tidak sesuai dengan kenyataan, kamu melambungkan anganku hingga ke angkasa, namun menghempaskannya hingga ke dasar jurang paling sendu, harapku kamu ganti dengan nestapa.
Kenapa, rasanya terlalu mudah bagimu untuk menggugurkan segala asa yang pernah tercipta? Kamu mengganti harapku dengan luka dan kecewa. Semuanya sirna! Tidak ada yang tersisa, kini hanya tinggallah jiwa kosongku dengan segala kenangan pahit kita.
Asha berjalan gontai dengan masih menarik kopernya, menuju kembali pada flat tempat tinggal Briyan, gadis itu menghapus buliran bening yang tidak bisa ditahannya, menatap pintu yang tadi pernah disentuh Briyan, perlahan tangannya terjulur.
Asha, bahkan untuk menyentuh pria yang halal baginya saja hanya akan menjadi mimpi selamanya, pria itu mungkin sudah berijab untuk menjaganya, namun pada kenyataannya Briyan bukan untuknya, hati pria itu tidak sedikitpun pernah tertaut untuknya, perih kembali merajai hati, tangis Asha pecah kala tangannya mengelus lembut handle pintu yang tadi sempat disentuh Briyan, membayangkan andai saja sekali saja tangan Briyan mau bertaut dengan tangannya secara ikhlas. Sakit! Tentu saja, adakah yang lebih menyakitkan dari ini? Halal dimata agama dan hukum, namun haram dimata Briyan, pria yang begitu dicintainya.
“Aku sayang sama kamu Briyan” air mata Asha terjatuh lagi, tangannya bergetar hebat.
“Aku gak bisa hidup tanpa kamu, kamu adalah nyawaku, tidak bisakah kamu membalas cintaku saja?” pandangan Asha kosong pada pintu dihadapannya.
Tangan Asha kembali meraih sebuah dokumen yang tadinya akan dijadikan kejutan olehnya, namun melihat kejadian sebelumnya malah Asha yang terkejut. Hidup memang sebercanda itu memperdayai seorang Berliana Asha.
Perlahan Asha berjongkok, menyimpan dokumen tersebut beserta surat di dalam sebuah amplop coklat.
“Tak apa, kamu kuat Asha” Asha menggelengkan kepalanya, dadanya masih terasa sesak, dia marah namun juga rindu, dia kecewa, namun juga sayang, dia benci, namun tidak berdaya dengan hatinya sendiri.
Asha melangkahkan kakinya lesu, masih dengan menyeret kopernya, gadis itu menuju bandara, suasana sudah gelap, dingin menyerang, namun Asha tidak tahu tujuan hidupnya selain kepada Briyan, Asha tidak tahu harus pergi kemana, hingga pada akhirnya Asha memilih untuk kembali pulang. Kali ini, Asha memilih untuk menyerah.
***
Briyan tergesa, segera berlari sekuat tenaga setelah menutup teleponnya bersama sang Ibu, meninggalkan Raisya yang terus meneriakkan namanya.
‘Kamu tidak berbuat macam-macam padanya kan?’
Pertanyaan Mamih membuat pikiran Briyan kacau balau, Briyan tidak memperhatikan langkahnya, hingga dia menabrak siapa saja yang melintas di hadapannya, ketika terjatuh tersungkur Briyan tidak merasai sakit sama sekali, Briyan hanya berdiri kembali lalu langsung kembali berlari, sembari meneriakan kata maaf menggunakan bahasa Inggris, membuat orang-orang yang tertabrak olehnya hanya bisa memaki dengan menggunakan bahasa mereka.
Briyan tiba di tempat tinggalnya dengan napas terengah-engah, segera dia berlari menuju pintu, namun ... perempuan yang sebelumnya memenuhi bayangannya tidak ada disana, Briyan menghela napas, entah harus lega atau harus khawatir kala melihat Asha tidak ada di hadapannya sekarang, dada Briyan berdegup cepat, segala perhatian Asha selama ini berkelebat dalam ingatannya, lalu rasa bersalah atas kebohongannya pun ikut saling mendominasi akalnya, hingga Briyan merabai dadanya, mengusapnya berulang kali agar lebih tenang.
Briyan meraih handle pintu untuk membuka kunci, namun atensinya teralihkan kala netranya menangkap sebuah amplop berukuran sedang berwarna coklat, Briyan berjongkok untuk meraih benda tersebut. Kini tubuhnya sudah menghilang dibalik pintu, tangannya masih menggenggam amplop coklat yang masih belum diketahui isinya.
Briyan mendaratkan bokongnya di sebuah sofa kecil di tengah ruangan, lalu tangannya perlahan mulai mengeluarkan isi dari amplop tersebut.
Deg!
Jantung Briyan hampir melompat dari tempatnya, nyatanya dokumen yang berada di dalam genggamannya adalah sepasang surat nikah berwarna merah dan hijau tua.
Mata Briyan meneliti surat tersebut, inikah alasan Asha kenapa dia begitu bahagia saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas? Asha sudah memiliki KTP dan gadis itu langsung mengurut surat nikah mereka? Apa Asha sebegitu mencintai Briyan? Hingga gadis itu tanpa berpikir panjang langsung memutuskan hal besar dalam hidupnya.
Asha belum tersentuh, mereka hanya menikah siri beberapa tahun yang lalu, jika Asha tidak mengurus surat nikah mereka, maka secara negara Asha tidak akan menyandang status janda jika mereka berpisah, tapi ... sebegitu yakinkah Asha pada Briyan? Sebegitu tidak inginkah Asha berpisah dari Briyan? Sebegitu besarkah cinta Asha untuk Briyan?.
Tes ...
Setetes air bening jatuh di pangkuan Briyan, tepat mengenai pas photo yang berada di surat nikah tersebut.
Asha memang selalu naif jika itu mengenai Briyan. Membuat Briyan merasa bingung juga serba salah, dia tidak ingin bersama Asha, tapi mengingat perjuangan gadis itu membuat hati Briyan hancur, Briyan tidak mencintai Asha, tapi membayangkan Asha mengurus surat nikah dan menjadikan kejutan untuknya, membuat hati Briyan mencelos, Briyan tidak pernah berharap lebih dari pernikahan ini, rencananya Briyan akan menceraikan Asha dan jujur pada Asha setelah Briyan sukses nanti, namun apa daya? Asha tahu kenyataan pahit ini justru sekarang, disaat Briyan belum siap untuk mengatakan segalanya.
.