
Asha memandang kedua mempelai yang baru saja menyandang status suami istri tersebut, Raisya dan suaminya kini tengah berjalan bergandengan tangan menuju pelaminan, senyuman tersungging dari keduanya. Kini mereka tengah berjalan melewati red karpet dengan taburan bunga mawar, juga ada bunga lili di samping kanan kiri jalan yang mereka lewati, benar apa kata Gendis, Raisya menikah dengan begitu megah, setiap mata yang memandang meyakini, jika Raisya pasti mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk acara bahagianya tersebut.
Raisya terlihat begitu anggun dengan gaun pengantin, yang di taksir Asha harganya pasti selangit, begitupun dengan suaminya yang menggunakan tuxedo dengan warna senada dengan gaun yang digunakan Raisya, kini pengantin sudah duduk di kursi singgasana, mereka akan menjadi raja dan ratu sehari, senyum terus menghiasi wajah bahagianya.
Seketika pandangan mata Asha mengedar, seperti mencari sesuatu, namun dia tidak menemukannya.
“Kak Raisya cantik banget ya?”
Gendis menyenggol bahu Asha yang terlihat melamun.
“Tentu” Asha menganggukan kepalanya.
‘Tentu saja cantik, makanya dulu Briyan rela berselingkuh dariku pada Kak Raisya’ batin Asha sendu, menatap Raisya di kejauhan membuat Asha kembali mengingat segala perlakuan Raisya dulu, ini menyakitkan, namun Asha berusaha untuk mengikhlaskan takdirnya. Seperti yang pernah Bi Inah bilang, setiap kejadian pasti ada hikmahnya, tanpa terkecuali.
“Kamu juga secepatnya harus nikah Sha”
Pernyataan Gendis membuat Asha terdiam, ada sebersit kepahitan dari sudut mata Asha setiap kali membicarakan tentang pernikahan, dulu, waktu itu Asha masih menggunakan seragam putih biru, dengan semangat Asha memaksa Briyan menikahinya, meski jujurnya Asha kala itu belum tahu apa arti dari menikah yang sesungguhnya, pernikahannya hanya dihadiri keluarga, penghulu dan saksi nikah, tidak ada pernikahan mewah, karena itu permintaan Briyan, bahkan Briyan melarangnya untuk mengatakan pada siapapun. Seketika Asha membisu di tempatnya.
Gendis terdiam, dia sadar pernyataannya barusan bisa jadi menyakiti Asha, karena Gendis sudah mengungkit luka lama, yang susah payah Asha sembunyikan.
“Sha, duduk di sana yuk” Gendis menggandeng tangan Asha, hingga Asha mengikuti langkahnya.
Para tamu undangan kini duduk melingkari sebuah meja berbentuk bundar yang telah disediakan, bahkan masing-masing meja sudah tertera namanya, terlihat begitu cantik dan elegan untuk dekorasi pernikahan Raisya.
Asha meraih sebuah gelas berkaki, lalu menyesap minuman rasa lemon tersebut perlahan, Asha begitu menikmati lantunan lagu yang dinyanyikan oleh sebuah band terkenal di kalangan anak muda sekarang, sampai Asha memejamkan matanya.
“Sepertinya kamu begitu menikmati lagunya”
Asha membuka kedua matanya, menatap pada pria yang baru saja menyapanya, sementara itu tanpa Asha sadari Gendis sudah tidak ada di tempatnya, Asha celingukan, kenapa juga Gendis tidak memberitahunya jika ingin pergi? Ah! Dasar Gendis.
“Aku boleh duduk disini kan Sha?”
“Ya, boleh” tidak ada pilihan lain, Asha mengangguk, mempersilahkan pria itu duduk di sampingnya, menemaninya.
“Gendis tadi ke toilet, saking asyiknya kamu meresapi lagunya, kamu sampai tidak sadar” pria itu terkekeh.
“Hemh ... lagunya cukup enak di dengar Bim ...” Asha menatap pada minuman yang kini tengah dimiringkan oleh tangannya.
“Oh ya, aku sudah menemukan kontrakan ruko yang cukup strategis buat kamu Sha, semoga cocok dan kamu suka” Abimanyu dengan mata berbinarnya memberitahukan kabar bahagia ini pada Asha, membuat Asha sedikit menoleh dan tersenyum tipis, lanjut menganggukan kepalanya berulang kali.
“Kamu cepat sekali menemukan kontrakannya Bim, padahal aku sudah mati-matian mencarinya, tapi masih belum menemukan, terimakasih ya, nanti aku cek dulu, kalau aku cocok, fee nya aku langsung transfer sama kamu” ucapan Asha barusan membuat Abimanyu mendesah kecewa.
“Apa ah Sha, pakai fee fee segala, kayak sama siapa aja, aku ikhlas nolongin kamu, lagian aku juga dapet kontrakan ini di bantu sama temenku, lebih tepatnya partner kerjaku yang baru, beliau ini yang desain kantor aku sebelumnya” Abimanyu kembali menjelaskan tanpa diminta, membuat Asha manggut-manggut sebagai tanggapan.
“Aku gak enak kalau gak bayar fee buat kamu, kamu sudah kerja keras buat nolongin aku” Asha masih kukuh dengan pendiriannya, kini Asha sudah tidak ingin lagi memiliki hutang budi pada siapapun, Asha memilih untuk hidup tenang dan damai, tanpa terusik siapapun.
“Apaan sih Sha, kalau kamu mau bayar aku, aku mau bayaran yang lain aja boleh ya?” Abimanyu tersenyum sembari menaik turunkan alisnya.
“Makan malam, gimana?” tawar Abimanyu penuh harap.
“Ah ... aku ...” Asha ragu, bagaimana mungkin dia bisa meluangkan waktunya untuk makan malam bersama Abimanyu?.
“Ayolah Sha, hanya makan malam” tandas Abim tak ingin dibantah.
“Baiklah” Asha mengangguk, membuat Abim ber-yes ria saking senangnya.
“Oh! Pak Briyan!”
Seketika Asha mematung mendengar Abim memanggil satu nama yang sangat ingin di hindarinya, tubuh Asha tiba-tiba saja bergetar hebat, keringat dingin mulai menjalar, jari jemarinya saling meremas, trauma itu ... nama itu yang membuatnya menyimpan luka dalam, semoga saja orang yang di panggil Abim bukan orang yang sama.
“Di sini Pak!” Abim kembali melambaikan tangannya, sementara Asha segera menundukan pandangannya.
“Hai ... Pak Abim”
Suara pria itu ... Asha kian bergetar hebat. Oh! Tidak! Kenapa takdir kembali mempertemukan mereka? Setadinya Asha berpikir, karena Raisya adalah mantan dari Briyan, bagaimana mungkin mantan bisa tahan menghadiri acara pernikahan mantannya? Sulit dipercaya!.
“Jangan panggil Pak jika dalam acara seperti ini, panggil Briyan saja, lagi pula usia kita hampir seumur bukan?”
Suara itu ... Asha kian menundukkan pandangannya, bagaimanapun pertemuan dengan mantan adalah hal yang paling ingin dihindarinya.
“Haha ... ya maaf Bry” Abim terdengar tergelak.
“Lagipula, perusahaan kita sudah resmi kerja sama, harusnya kita bisa menjadi sahabat dan kian dekat” Abim melanjutkan, Asha memejamkan matanya erat.
“Oh ya Sha, ini Briyan, masih ingat kan Sha? Dia ini Kakak kelas kita” Abim menoleh pada Asha yang masih menunduk, meremas jemarinya sendiri, tangannya sudah dingin dan terus bergetar.
“Briyan juga yang sudah membantuku untuk mencarikan ruko kamu itu, gak nyangka ya kita bisa dipertemukan dengan cara seperti ini, padahal dulu kita satu sekolah lho” Abim terdengar terus mengoceh sembari terkekeh.
“Hai ...” Asha mengangkat kepalanya, lalu menatap pada tangan yang menjulur di hadapannya.
Briyan ... dia sungguh Briyan mantan suaminya, bagaimana mungkin takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara seperti ini?. Asha mengerutkan keningnya.
“Kamu sudah melupakan aku? Berliana Asha?”
***
Jadi, bagaimana pertemuan selanjutnya antara Asha dan Briyan? Akankah Asha mau menerima jabatan tangan Briyan?
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gengs, berikan aku komentar terbaik kalian dan ulasan untuk karya ini.
Terimakasih banyak ...