
‘Ya Om, Insya Allah, Asha datang Om, memang ada apa sih?’
‘..........’
‘Iya, Asha usahain buat datang Om, Iya’
‘.........’
‘Iya Om ... ya ...’
“Bu ... Bu ... gawat Bu!”
Asha mendongak, dan langsung mematikan sambungan telepon dengan sang Om tercinta kala salah seorang pegawainya datang menghampiri Asha dengan tergesa, di tangannya ada beberapa dokumen yang siap diperlihatkan pada Asha.
“Apanya yang gawat Sarah?” Asha menatap Sarah yang kini masih terlihat ngos-ngosan.
“Tadi, pemilik ruko ini menghubungi saya Bu, katanya mereka membatalkan kontrak kerjasama mereka dengan kita Bu, mereka tidak mau mengontrakkan lagi ruko ini pada kita, ruko ini mau digusur, mau di bangun rumah untuk tempat tinggal mereka katanya Bu” Sarah menjelaskan dengan napas tersenggal.
“Apa? Kok bisa? Gak bisa begitu dong, mereka sudah tanda tangan kontrak dengan kita untuk beberapa tahun ke depan, kalau begini caranya kita bisa rugi besar Sarah” Asha memijit keningnya yang terasa berdenyut, melempar sketsa yang tengah dibuatnya tadi dengan kesal.
“Mereka mau ganti rugi kok Bu, sesuai kontrak yang telah disepakati” Sarah kembali menjelaskan.
“Kenapa harus ruko ini? Harusnya dengan uang yang mereka miliki mereka bisa mencari rumah lain bukan? Tidakkah ini aneh Sarah? Apa ini tidak ada kaitannya dengan pesaing kita?” Asha memicingkan matanya, hidup di dunia bisnis memang tidak semudah yang dibayangkan, ada banyak hal yang harus dicurigai sebagai bentuk dari waspada kita, agar perusahaan tetap berjalan.
“Saya rasa bukan Bu, jadi ... pemilik ruko ini di kabarkan bankrupt Bu, dan yang tersisa hanya bangunan ruko ini satu-satunya, jadi mereka sudah tidak memiliki apapun untuk ditinggali Bu”
“Klise sekali, jika mereka memiliki uang untuk membayar penalti, kenapa mereka tidak mencari tempat lain, dan tetap ingin bangunan ini, tidakkah itu mengada-ada Sar?” Asha memejamkan matanya erat, Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana jadinya jika Asha harus diusir dari bangunan tersebut, dan kembali mencari tempat lain yang se strategis ini. Asha sungguh begitu pusing sekarang.
“Entahlah Bu, tapi pemiliknya tadi memohon, sekaligus mengancam, jika kita tidak segera pergi dalam waktu satu minggu, maka kemungkinan besar butik ini akan digusur Bu” Sarah kembali memberitahu dengan raut cemas.
“Apa!? Satu minggu? Gila!” Asha mengumpat kesal, lantas membenturkan kepalanya ke atas meja, bagaimana mungkin semuanya akan selesai dalam waktu sesingkat ini? Teringat kala di awal, Asha begitu kesulitan mencari ruko yang pas untuk butiknya.
Huuuhhhhh ...
Menarik napas panjang, yang harus dilakukan Asha sekarang bukanlah mengeluh tiada guna, namun segera mencari solusi untuk masalahnya.
“Tapi Bu, ada kabar baik juga”
Asha kembali mendongakan kepalanya menatap Sarah yang kembali bersiap memaparkan pendapatnya.
“Saya punya kenalan, katanya kebetulan ada yang mau menyewakan gedungnya, begitu strategis dan saya kira begitu cocok jika digunakan untuk butik kita Bu” papar Sarah kemudian, membuat raut Asha tidak setegang tadi.
“Tapi ...” Sarah menunduk ragu.
“Tapi?” dengan tidak sabar Asha menodong sarah dengan raut tidak sabar.
“Kantornya akan digunakan bersama Bu”
“Maksudnya?”
“Jadi, pemilik bangunan ini juga akan menggunakan gedungnya sebagai kantor pribadinya Bu, kebetulan gedungnya luas, jadi, lantai dua untuk perkantorannya akan digunakan oleh pemiliknya, termasuk ruangan Ibu nanti juga akan ada di lantai dua tersebut, dan lantai bawahnya bisa di gunakan untuk butik, dan di belakangnya bisa digunakan untuk produksi Bu”
Asha menatap kosong ke depan, satu kantor dengan pemilik gedung? Mungkinkah? Berhubung Asha bukanlah orang yang mudah bergaul dengan orang baru, Asha jadi ragu untuk mengambil kesempatan kali ini.
“Harganya lumayan murah di banding gedung ini Bu, lagipula kapan lagi kita bisa dapat gedung murah, mewah, luas dan yang paling penting Bu, kita bisa satu kantor dengan para arsitek tampan Bu, hihi ...” Sarah terkikik geli menutup mulutnya.
“Kamu atur saja Sar, nanti kamu datangi tempat itu, terus kamu harus teliti juga, beberapa hari kedepan saya tidak bisa memantau semuanya, saya ada perlu dulu”
“Hah? Ibu mau kemana?”
“Ke luar negeri, Om Hans ingin bertemu denganku”
Sarah mengangguk paham, gadis manis itu tidak lagi banyak bertanya, tugasnya sekarang adalah memastikan gedung barunya sudah layak huni atau belum, sesuai dengan standar perfeksionis sang Ibu Boss, Asha.
***
Perjalanan jauh membuat Asha begitu lelah kala kakinya tiba di sebuah bandara, terlihat di kejauhan sang paman sudah melambaikan tangannya antusias untuk menyambut kedatangan sang keponakan tersayang.
“Berliana!”
Asha menoleh, lantas segera menghampiri sang Om, menciumnya lalu memeluknya singkat.
“Beberapa waktu tidak bertemu, kamu makin cantik Sha” Om Hans mengagumi Asha, lantas menggandengnya untuk berjalan memasuki mobil yang akan membawanya ke kediamannya.
“Om juga tambah gagah aja” Asha terkekeh geli, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Of course, karena Om rajin berolahraga” Om Hans menunjukkan otot-otot tangannya yang menonjol dengan tawa di bibirnya, membuat Asha ikut tertawa juga.
“Om, ada apa sih? Kok tiba-tiba manggil Asha buat datang ke sini?” Asha mulai bertanya karena terdorong rasa penasarannya.
“Emmmhhh ... nanti Om ceritain ya Sha” Om Hans mengelus puncak kepala Asha sembari tersenyum lembut, Asha hanya bisa mengangguk. Lelah membuat Asha tertidur kembali di dalam mobilnya.
***
“Sha, kita sudah sampai” Asha terbangun kala sebuah tangan menyentuh pundaknya, Asha mengerjap lantas sedikit menggeser tubuhnya, rupanya Asha masih belum bisa mendapatkan sentuhan asing karena traumanya.
“Om!” Asha mengucek matanya, lantas segera mengedarkan pandangan.
“Sudah sampai Sha, ayo turun” Om Hans mengerti, segera pria yang beranjak tua itu berjalan mendahului Asha, sementara Asha berjalan sedikit sempoyongan karena pusing.
Tiba di depan rumah Asha disambut oleh istri juga dua anak Om Hans yang kini sudah memasuki usia SMP, Asha menyapa mereka dengan sopan, memberikan beberapa oleh-oleh yang tadi sempat di belinya.
“Tan, ada apa sih Om manggil Asha kesini?” dengan kepo maksimal Asha kembali bertanya pada Tante, saat Om Hans tengah pergi ke kamar.
“Hehe ... tidak ada apa-apa Sha, maklum sudah mau tua, mungkin Om-mu terlalu khawatir padamu” Tante tersenyum lembut mengelus tangan Asha.
“Maksudnya?” Asha mengernyit tidak mengerti.
“Tidak baik seorang gadis lama-lama sendiri Sha”
Oh ... ini jawaban ambigu, namun Asha sudah mampu menebak kemana arah pembicaraan Tante, jangan bilang Om Hans jauh-jauh memanggilnya hanya karena ...
“Kak Asha mau di jodohin xixixixi ...”
Tiba-tiba celetukan dari Riko sang keponakan Asha membuat Asha menghela napas lesu.
Tepat sekali dugaan Asha! Huuuhhhh ...