SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Bocah Gemblung


Mentari pagi mulai merangkak naik, memperlihatkan jati dirinya sebagai sang raja siang, terlihat agung nan perkasa, biasnya memenuhi penglihatan seorang pria yang kini tengah bersiul pelan dengan mengendarai mobil mewahnya, sesekali pandangan matanya tertuju pada sebuah bungkusan yang diletakkan di kursi disampingnya.


‘Kak Briyan! Mau?’ seorang anak kecil berlari menghampiri seorang anak laki-laki, lantas menyodorkan sebatang coklat padanya. Briyan kecil mendengus kesal, segera memalingkan wajahnya, namun sebelum itu sempat meliriknya sekilas, gadis kecil dengan wajah belepotan oleh coklat yang sebagian tengah dimakannya.


‘Ck! Tak bisakah kamu makan dengan benar? Kenapa bisa sampai belepotan begitu?’ Briyan memutar bola matanya malas.


‘Ini? Karena Asha suka memakan coklat, Asha suka makanan manis selain sosis, Asha tidak sabar untuk menghabiskannya dan memintanya lagi pada Mamah’ Gadis itu tersenyum manis.


‘Ck! Kalau Mamah sudah tidak memberikan coklatnya, memang kamu mau minta pada siapa lagi?’ Briyan mengedikkan bibirnya tidak suka.


‘Mamih akan memberikan apapun untuk Asha!’ gadis itu melonjak girang, lantas tertawa lebar.


‘Jangan harap!’ Briyan melangkahkan kakinya, meninggalkan Asha yang tengah mendengus kesal.


‘Yah ... Kak Briyan gak mau coklatnya, biar Asha aja yang makan lagi’ dalam sekejap waktu gadis itu melupakan rasa sakit hatinya karena di abaikan, segera kembali berlari menuju taman dimana sang Ibu dan sahabatnya tengah menunggunya.


Briyan menghela napas kesal mengingat kejadian tempo dulu, segera Ia memelankan laju kendaraan, lalu turun dari dalamnya, sebentar dia melirik keadaan sekitar, lantas segera menjalankan aksi yang yang sudah direncanakannya.


“Loh? Den Briyan?” seorang satpam di rumah Asha mendekati, waktu masih sangat terlalu pagi untuk jam orang berangkat ke kantor, namun kenapa juga Briyan sudah berpenampilan necis, dan seolah sengaja menghentikan mobilnya di depan rumah mewah Asha.


“Iya Mang! Saya lupa belum service mobilnya, makanya mogok” Briyan tersenyum, lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Oalaaaahhhh, begitu toh? Saya bisa bantu apa Den? Mau saya dorongin sampai bengkel?” satpam tersebut sama bingungnya, bingung dengan orang kaya, mobil semewah ini bisa mogok dan mengaku belum di service? Ada-ada saja.


“Oh! Tidak perlu Mang! Saya akan telpon bengkelnya saja, biar nanti mereka yang datang”


Ya! Namanya juga orang kaya, bebaslah!


Pak satpam masih berdiri di samping Briyan yang kini tengah menatap mobilnya dengan ekspresi kesal yang di buat-buat, sesekali mengumpat sembari matanya sesekali melirik ke dalam rumah.


“Non Asha masih mandi kata Bi Inah Den” sang satpam seolah faham, dia memberitahu apa yang ada dalam benak Briyan.


“Apaan sih Mang! Siapa juga yang nyari Asha? Mamang lihat sendiri kan? Mobil saya mogok” Briyan mendengus kesal kala maksud sebenarnya tertangkap oleh seorang satpam yang kini tengah terkekeh menutup mulutnya.


“Ya sudah, Mamang temani disini sembari menunggu tukang bengkelnya ya Den” tawar sang satpam pengertian.


“Terserahlah ...” Briyan mengibaskan tangannya kesal.


“Bi! Bekal Asha Bi!” teriakan seorang gadis yang tengah berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah membuyarkan lamunan Briyan yang tengah menyusun ide.


Matanya berbinar kala menatap sang gadis pujaan tengah berjalan dengan anggun mendekatinya, menggunakan gamis kekinian dengan warna peach kesukaan yang sesuai dengan tubuhnya, hijab senada bertengger cantik menutupi kepalanya, senyumannya pagi itu terkembang sempurna, terlebih kala sinar mentari menyoroti wajahnya, maka sempurnalah kecantikan gadis tersebut di mata Briyan.


“Den!”


Briyan mengerjap kesal kala lamunannya disadarkan oleh satpam, mendengus kesal Briyan segera menyadari posisinya.


“Non Asha mau lewat Den, Aden minggir dulu” satpam memberikan instruksi.


“Susah Mang, itu mobilnya kan mogok pas depan gerbang” Briyan gelagapan, seperti pencuri daleman yang ketahuan.


“Halahhh, gimana ini?” satpam menepuk jidatnya, sementara itu Asha sudah membunyikan klakson dengan kesal karena jalannya dihalangi oleh Briyan dan mobilnya.


“Bisa singkirkan mobil Anda Pak Briyan?” dengan gigi gemelatuk Asha menahan rasa kesalnya.


“Tidak bisa, kebetulan, mobilku mogok tepat disini” Briyan menggaruk tengkuknya.


“Kenapa tidak coba di geser?” Asha memberikan solusi dengan melipat kedua tangan di dada.


“Yah, mana bisa? Kita butuh banyak orang untuk mendorong, lagipula disini tidak ada siapapun selain kita” Briyan tersenyum menyeringai.


“Begitukah?” Asha tersenyum sinis, lantas tangannya segera memijat ponsel yang tengah di genggamnya, mengatakan sesuatu pada orang disebrang sana, hingga beberapa orang datang tergopoh dalam waktu bersamaan.


“Bi Inah, tolong pimpin pasukan untuk mendorong mobil Briyan!” Asha memerintah dengan senyuman sinis, membuat Briyan seketika melongo tidak percaya, kala melihat Bi Inah dengan tubuh montoknya kini tengah mengajak tukang kebun, satu ART lain, juga dua satpam termasuk yang tadi mengobrol dengan Briyan tengah berusaha mendorong mobil Briyan.


“Siap Non!” dengan segera Bi Inah dan pasukan melaksanakan tugasnya.


“Sepertinya mobil akan bergeser jika yang mendorongnya sebanyak ini, jika butuh tenaga bantuan aku akan membantu, bahkan jika perlu kita lempar saja mobil mogok ini” Asha menajamkan tatapannya pada mobil cantik yang kini mulai bergoyang karena dorongan kuat pasukan Bi Inah.


“Sha! Jangan begitulah” Briyan menggeleng tak terima.


“Jangan sakiti si Ganteng!”


Mata Asha membeliak kesal, apa katanya? Mobil mogok ini diberi nama si Ganteng? Sungguh ...!!!.


“Jangan kencang-kencang!” Briyan memerintah, namun Bi Inah and the gang masih berusaha sekuat tenaga, hingga akhirnya mobil bergeser dengan sempurna, memberikan akses pada mobil Asha agar mudah lewat.


“Permisi Pak Briyan, permisi Ganteng!” seru Asha sembari menendang mobil Briyan dengan cukup kencang, hingga Briyan memekik kesal.


“Sha! Jangan tendang si Ganteng!”


“Dasar!” Asha berdecak kesal, segera memasuki mobilnya bersiap pergi, sungguh Asha begitu kesal dengan kejadian pagi ini.


“Sha! Tunggu! Aku punya sesuatu buat kamu” Briyan kembali menahan Asha.


“Apa lagi sih?” dengan kesal Asha terpaksa menunggu.


“Buat kamu” Briyan menyodorkan bungkusan yang sedari tadi ikut bersama Briyan menaiki si Ganteng.


“Makasih”


Asha melempar pemberian Briyan ke jok belakang mobilnya, lantas segera tancap gas meninggalkan Briyan dan si Ganteng yang kini tengah melongo berjamaah.


“Ashaaaa, haissshhh!!” Briyan meninju udara, lantas segera kembali menaiki mobilnya kembali, tancap gas lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.


“Loh? Loh? Loh? Bukannya mobilnya mogok?” Bi Inah and the gank melongo tak percaya, baru mereka sadari ternyata mereka tengah di kibuli oleh seorang Briyan Alexander.


“Kalau tahu begitu, aku gak mau dorongin mobilnya” seorang Art lain mendengus kesal meninggalkan kerumunan,


Satu orang tukang kebun menggelengkan kepala sembari mengusap keningnya yang meneteskan keringat.


“Ooooo, bocah gemblung” satpam berdecak kesal, karena dia telah dibohongi secara maksimal.