
Tetes air mata mengiringi hari yang dilalui Asha, kini gadis itu tengah menatap langit yang meneteskan air dari atas sana, berjatuhan serupa dengan air matanya saat ini, gadis itu begitu merindu, merindui kekasih hati yang tak kunjung menerima panggilannya. Berbagai prasangka merajai hatinya, mungkinkah semuanya benar adanya? Segera gadis itu menggeleng menepis setiap pemikirannya.
“Briyan ... disetiap detik yang berlalu telah aku lewati dengan tertatih dan meragu, sebetulnya adakah setitik rasamu untukku?”
Asha menggumam dengan tatapan menerawang pada cakrawala, sungguh kehilangan adalah sebuah trauma besar dalam hidupnya, gadis itu benci kehilangan, gadis itu juga benci kesepian dan sendirian.
“Mamah dan Papah pergi, mereka bilang hanya pergi sebentar, namun nyatanya mereka berbohong, mereka tidak kunjung kembali” buliran bening itu kembali luruh di pipi mulus sang gadis.
“Aku harap, kamu juga tidak pergi, berbohong, lalu tidak kembali padaku Bry ... jika semuanya terjadi, maka mungkin mati akan lebih baik bagiku”
Asha menutup daun jendela, meninggalkan pemandangan riak air hujan yang masih melebat, gadis itu memilih menyambar ponselnya, mencoba menghubungi Briyan sekali lagi, setelah tadi panggilannya sempat diangkat namun Briyan segera menyentaknya, mengatakan jika pria itu tengah sibuk belajar.
Tut ... tut ... tut ...
Panggilan tak kunjung diangkat, Asha tidak menyerah, seperti biasa gadis itu akan terus meneror Briyan dengan teleponnya.
‘Hallo ...'
Panggilan diangkat, namun bukan suara Briyan yang terdengar, melainkan suara seksi seorang perempuan.
Asha kembali meneliti ponselnya, memastikan jika yang dia telepon adalah nomor Briyan, nomornya sudah benar, bahkan id nya terpampang jelas ‘My Hubby’ itu nama id Briyan di ponsel Asha.
‘Hallo ...’ lagi suara seksi itu menyapa, Asha mengingat-ingat, rasanya gadis itu pernah mendengar suara itu, rasanya tidak asing, tapi siapa?.
‘Ini salah sambung atau gimana sih? Hallloooo ... Lo niat nelpon gak? Atau jangan-jangan Lo ...’
Tut ... tut ... tut ...
Sambungan telepon tiba-tiba mati, Asha masih mematung disana, dadanya berdegup kencang, jantungnya memompa lebih cepat, tangannya bergetar hebat, hingga ponsel yang ada digenggamannya terjatuh dan hancur.
Yang mengangkat telpon Briyan seorang perempuan? Mungkinkah Briyan sungguh berselingkuh disana? Apa Briyan sungguh telah meninggalkannya? Air mata Asha kembali luruh.
***
Briyan tengah pergi ke kamar mandi kala telepon terus berdering, sementara itu di dapur Raisya tengah membuatkan makanan untuk makan malam mereka, dengan kesal Raisya mendekati ponsel Briyan, terlihat di sana ada nomor baru yang menghubungi, terlihat dari nomor yang tidak diberi nama.
“Siapa sih?” kesal, Raisya terus menatap penelpon hingga ponselnya mati sendiri, matanya melirik pada kamar mandi, dimana disana Briyan masih belum keluar juga.
Telpon kembali berdering, dengan kesal dan tanpa pertimbangan, Raisya dengan berani mengangkat telpon Briyan, berniat memaki si penelpon jika saja si penelepon adalah perempuan ganjen yang berniat ingin merebut Briyan darinya.
‘Hallo?’ suara Raisya dibuat seseksi mungkin, agar si penelpon diujung sana merasa minder mendengar suaranya.
Hening, tidak ada jawaban, Raisya semakin kesal dibuatnya.
‘Ini salah sambung atau gimana sih? Hallloooo ... Lo niat nelpon gak? Atau jangan-jangan Lo ...’
Tut ... tut ... tut ...
Sambungan telepon terputus kala tangan kekar Briyan merebut ponsel tersebut, Briyan menatap kesal pada Raisya yang sudah berani mengangkat teleponnya, diliriknya sekilas, itu nomor telpon Asha yang tidak pernah disimpannya, gadis itu yang selalu menghubungi Briyan duluan, tidak peduli apapun yang terjadi.
“Kenapa kamu angkat telpon Aku Sya?” Briyan menatap Raisya yang tengah menunduk karena kaget.
“Maaf Bry ... aku pikir siapa, soalnya nomor baru” Raisya merasa bersalah, tentu saja mereka sudah berkomitmen agar tidak mencampuri urusan privasi masing-masing, termasuk menggeledah ponsel pasangan. Namun, terdorong rasa penasaran dan rasa takut, membuat Raisya melanggar komitmen mereka.
“Emang kamu pikir siapa yang mau hubungin aku?” Briyan mengusap wajahnya kasar, sedikit rasa penasaran terselip di sana, bagaimana reaksi Asha saat dia mendengar yang mengangkat teleponnya seorang perempuan.
“Aku pikir fans kamu yang mau rebut kamu dari aku Bry ...” Raisya memilin ujung bajunya merasa menyesal karena sudah membuat Briyan kecewa, takut jika tiba-tiba Briyan membencinya dan meninggalkannya.
“Gak mungkinlah ...” Briyan melenggang meninggalkan Raisya yang mematung menuju kamarnya setelah meninggalkan jawaban ambigunya untuk Raisya.
***
‘Apa yang kamu lakukan Briyan!?’ lengkingan suara perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini terdengar, Briyan sempat menjauhkan ponselnya karena kaget, mendapat telpon di malam sunyi, lalu tiba-tiba mendengar jeritan dari sang Ibu yang terdengar frustasi.
‘Apa maksud Mamih?’ Briyan mengerutkan keningnya dalam.
‘Apa yang sudah kamu katakan pada Asha? Kamu selingkuh?’ tuding Mamih tanpa cela.
Briyan menghela napasnya berat, mengusap wajahnya dengan kasar, lagi-lagi Asha yang membuatnya mendapatkan amukan disaat seperti ini.
‘Aku tidak mengatakan apapun pada Asha Mih, bahkan seharian ini kami hanya bertelepon satu kali, itupun tidak lama karena aku sibuk’ Briyan menjelaskan, pikirannya sudah menduga pada kejadian tadi, dimana Raisya mengangkat telpon dari Asha, gadis itu pasti sudah mengadu pada sang Mamih.
‘Bagaimana mungkin? Sekarang Asha tengah kritis!’ terdengar isakan Mamih yang kini tengah ditenangkan oleh Papih.
‘Kritis? Kenapa harus kritis? Memang dia sakit apa?’ Briyan tidak mengerti.
‘Asha mencoba untuk bunuh diri! Dia mengiris nadinya sendiri, beruntung ada Bi Inah yang segera menolongnya, jika tidak kamu yang akan menyesal Briyan!’ suara Mamih kian meninggi, dan suara ******* Papih yang menenangkan terdengar di ujung sana.
Briyan mematung bingung, bunuh diri? Kenapa Asha bisa senekat itu hanya karena dirinya? Mungkinkah cinta sudah membuat Asha buta? Hingga membuatnya ingin mengakhiri hidup hanya karena prasangkanya?.
Briyan mulai tak tenang, batinnya gelisah tak karuan, merasa bersalah hingga membuat Asha seperti ini.
‘Se sekarang, bagaimana keadaannya?’
Briyan bertanya dengan bibir bergetar, tiba-tiba saja segala tingkah Asha berkelebat dalam benaknya.
‘Asha masih ditangani dokter, lain kali tolong Briyan, jaga perasaan Asha, jangan sampai hal seperti ini terulang kembali’ kini Papih mengambil alih telpon, suara isakan Mamih masih terdengar di seberang sana, bisa Briyan bayangkan, jika sang Ibu kini sedang bersedih setengah mati.
‘Iya Pih’ Briyan mengangguk lemas, bagaimana mungkin semua hal yang menimpa Asha menjadi kesalahannya?
Hey! Memang apa salah Briyan? Sedari awal Briyan sudah jujur, jika dia tidak bisa menikahi Asha, dan dia tidak bisa mencintai gadis itu.
‘Nanti Papih telepon kamu lagi, ada yang ingin Papih bicarakan’ suara Papih terdengar datar, Briyan hanya bisa mengangguk sambil memijit keningnya yang terasa sakit.
‘Iya Pih’ Briyan berucap dengan lesu.