SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Salah Faham


“Kalau gitu aku mau ketemu istriku” dengan wajah PD tingkat dewa, Briyan masuk kedalam rumah mengabaikan Bi Inah yang gelagapan.


“Tapi Den ...”


“Siapa yang nyuruh kamu masuk rumah??!!!”


Briyan sedikit mengerjap kaget kala mendengar suara yang agak familiar di pendengarannya, memutar tubuh menilik sumber suara, Briyan sedikit terkejut dengan kehadiran sesosok pria yang diperkirakan beberapa tahun lebih muda dari Ayahnya.


“Om?” Briyan membungkukkan tubuhnya penuh dengan rasa hormat, tubuhnya sedikit bergetar mengingat pertemuannya beberapa waktu lalu dengan pria yang dipanggilnya Om Hans tersebut.


“Ada perlu apa kamu mendatangi rumah keponakanku?” tatapan tajam itu dilayangkan pada Briyan yang masih berdebar takut menghadapi kenyataan yang akan dihadapinya.


“Asha masih istriku Om, tentu saja aku ingin menemuinya” Briyan berucap dengan yakin.


“O ya? Yakin kamu? Kalau Asha adalah istrimu?” Om Hans bertanya dengan sinis.


“Ya, pernikahan kami sudah diresmikan, tentu saja aku yakin jika Asha adalah istri sahku” Briyan dengan kepedean tingkat tinggi meyakini ucapannya.


“Yah ... mungkin secara hukum dan agama Asha memang istrimu, tapi lupakah kamu dengan segala tindakanmu selama ini? Sudahkah kamu memperlakukan Asha layaknya istrimu?”


Diam ...


Pertanyaan itu cukup menampar Briyan dengan sangat keras, dia menyadari sepenuhnya, jika perlakuannya terhadap Asha selama ini tidak selayaknya suami terhadap istrinya.


“Izinkan aku memperbaiki semuanya Om, aku janji, aku tidak akan mengulangi lagi semua perbuatanku, aku janji, ini yang terakhir, izinkan aku kembali merajut kisahku bersama Asha Om” pinta Briyan dengan wajah memelas.


“Kenapa? Apa karena kamu sudah menyadari pengorbanan Asha dan kedua orangtuanya hingga kamu merasa bersalah?”


Deg!


Pertanyaan Om Hans sekali lagi menampar Briyan, hingga saat ini semenjak dia tahu jika Asha dan keluarganya sudah sangat banyak berkorban untuknya, Briyan merasa bersalah dan merasa harus bersikap baik pada Asha, tanpa Briyan tahu arti dari isi hatinya yang sesungguhnya, Briyan merasa bimbang juga gamang. Sesungguhnya rasa apa yang dia miliki untuk Asha? Rasa bersalah? Atau rasa cinta? Briyan tidak bisa menyimpulkan sekarang.


“Kamu tidak bisa menjawab?” Om Hans kembali bertanya dengan tangan terlipat di dada, netranya menelisik gestur tubuh Briyan, meneliti perubahan ekspresinya, ada raut bimbang disana.


“A aku ...” Briyan menundukkan pandangannya, hatinya berkecamuk, antara rindu pada Asha namun juga bingung dengan perasaannya.


“Pulanglah ... sidang perceraian kalian akan segera diproses, tunggu saja pemberitahuan selanjutnya” Om Hans menatap tajam pada pria di hadapannya yang tengah menundukkan kepala.


“Om ... aku mohon, jangan pisahkan aku dengan Asha” ucap Briyan memohon dengan wajah memelas.


“Pulanglah, jangan ganggu Asha lagi, Asha akan memulai hidup barunya tanpa kamu, jangan buat Asha jauh lebih menderita lagi” Om Hans berkata dengan penuh penekanan, membuat Briyan menghela napas berulang kali, menahan gejolak sesak di dadanya.


“Om ... izinkan Briyan untuk bertemu Asha lagi, ada banyak hal yang ingin Briyan sampaikan” Briyan masih meminta.


“Tidak! Pulanglah! Selama aku masih memintamu dengan baik-baik” tegas Om Hans, kemudian berlalu meninggalkan Briyan yang masih mematung bingung.


Sementara itu, di sebuah kamar di lantai dua, seorang gadis tengah membekap mulutnya menahan tangis, hatinya berkecamuk, antara kesal, marah, dan kecewa memenuhi relung hatinya, pendengarannya masih tertuju pada lantai dasar rumahnya, dimana sang Om dan calon mantan suaminya tengah bersitegang.


“Aku membencimu Bry ...” isaknya dengan dada bertalu hebat.


“Hati Gue sakit banget Dis” Asha terisak di hadapan sahabatnya Gendis, kala mereka bertemu di salah satu cafe langganan Gendis.


“Sha, Lo kenapa lagi sih?” Gendis merasa heran dengan tingkah sahabatnya, Gendis bukan tipikal perempuan menye-menye yang akan mendalami perasaannya sendiri, bagi Gendis hidup itu terlalu mudah, jika dia suka maka dia akan melanjutkan semua hal yang disukainya, dan jika Gendis tidak suka, maka gadis itu akan berhenti, hidup sesimple itu bagi gadis bermata bening tersebut. Jadi, jelas saja melihat Asha berlarut dalam kesedihannya membuat Gendis merasa heran sendiri.


“Sekarang, Gue tanya mau Lo apa?” Gendis menatap Asha dengan mengerutkan keningnya.


“Gue gak tahu Dis, Gue bingung, Gue ngerasa sakit banget waktu lihat Briyan memohon, tapi sakit hati dan amarah Gue juga gak bisa hilang gitu aja dengan semua yang udah Briyan lakuin ke Gue” Asha kian sesenggukan.


“Sha, sekarang Lo tenang dulu, Lo butuh waktu buat membenahi diri dan hati Lo, biar Lo tahu sebenernya perasaan Lo terhadap Briyan itu gimana?” Gendis menatap sahabatnya dengan iba, Asha masih sesenggukan asyik dengan isakannya.


“Sekarang daripada Lo bingung dan sedih terus, mendingan Lo Gue kenalin deh sama pacar baru Gue” Gendis tersenyum lebar.


Seketika Asha menghentikan tangisnya,menatap Gendis tidak percaya, sahabatnya punya pacar? Kapan? Asha tidak tahu apapun untuk hal satu ini.


“Kapan Lo punya pacar? Kok gak cerita?” Asha memberengut kesal, terlalu lama patah hati dan merenungi diri, membuat Asha ketinggalan banyak cerita.


“Makanya, jangan galau melulu, tuh cowok Gue!” Gendis berbinar kala melihat seorang pria yang berjalan mendekati meja mereka, Asha segera menyeka air matanya, menelisik pria tampan yang kini sudah berdiri di hadapannya.


“Haiiii ...” Asha menyodorkan tangannya untuk saling berjabat, begitupun dengan pria yang kini sudah mendaratkan bokongnya di samping Gendis.


“Aku Vidi, pacarnya Gendis” pria itu menyapa Asha dengan sopan.


“Aku Asha, sahabat Gendis” Asha ikut tersenyum.


Lalu mereka larut dalam sebuah obrolan ringan, Vidi dan Asha saling bercerita tentang Gendis, dan Gendis hanya bisa memberengut kesal mendengar segala aibnya di ceritakan oleh Asha.


Hanya dalam waktu beberapa saat, Asha sudah bisa tertawa lagi berkat tingkah dan cerita lucu dari Vidi, mereka menghabiskan waktu cukup lama di kafe tersebut.


“Sha, Gue kebelet, Gue ke toilet dulu ya” Gendis tiba-tiba berdiri, lalu ngacir begitu saja menuju toilet, membuat Asha yang sudah tahu kebiasaan sahabatnya yang tidak bisa menahan pipis langsung tertawa, begitupun dengan Vidi.


Asha dan Vidi terlibat sebuah obrolan ringan sembari menunggu Gendis, kini Asha baru mengetahui satu hal, jika dunia ini begitu luas, lepas dari Briyan dia bisa menemukan teman baru yang bisa diajak ngobrol seperti Vidi, dulu dunia Asha terus berputar pada Briyan, hingga Ia tidak meyakini persahabatan lain selain dengan Gendis.


“Oh ... bagus Lo ya! Belum resmi cerai dari Kak Briyan, Lo udah bisa jalan sama cowok lain!”


Asha terbelalak menatap gadis yang sudah berdiri dihadapannya, gadis dengan seragam putih abu-abu itu tengah menatapnya tajam bersama tiga orang perempuan lainnya.


“Cerai?” Vidi mengulang kata-kata gadis itu.


“Ya! Dia istri Kakak Gue! Belum resmi cerai! Dan dia udah pacaran sama Lo!” Bintang berteriak marah, membuat perhatian sebagian pengunjung kafe tertuju padanya.


“Kamu salah paham!” Asha mencoba menjelaskan.


“Cukup! Gue udah punya semua bukti kalau Lo selingkuh dari Kak Briyan, Gue bakalan tunjukin bukti-bukti ini!” Bintang memperlihatkan ponselnya yang menangkap gambar Asha yang tengah tertawa bersama Vidi. Oh! Asha sungguh mengutuki keadaan ini.


“Silahkan! Aku tidak peduli!”