
“Roy ... sudah sejauh mana proyek rahasiaku?” Briyan bertanya dengan tangan menutupi wajahnya, sementara itu tubuhnya tengah lunglai di atas kursi kerjanya, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, senja sudah mulai menunjukkan warna keemasannya, namun Briyan masih enggan untuk pulang ke rumahnya. Matanya terpejam rapat, sementara itu pikirannya masih melayang jauh entah kemana.
Roy berdehem pelan, beberapa hari terakhir tugasnya menjadi sangat banyak, karena beberapa proyek berdatangan pada perusahaan mereka, terlebih kini Briyan juga tengah mengerjakan proyek pemerintah berupa perumahan yang di peruntukan untuk keluarga kurang mampu.
“Maaf Pak, saya belum sempat meninjaunya kembali, terakhir sudah tujuh puluh persen, hampir mendekati finishing” Roy menjelaskan dengan kaki gemelatuk, tak kuasa Ia ingin segera duduk, setelah di rasainya, ternyata pegal juga berdiri tegak, dan berjalan kesana-kemari mengikuti sang Boss.
“Hmh, baiklah, kita segera kesana sekarang Roy” Briyan membuka mata, lantas bersiap berdiri, membenahi penampilan lalu beranjak pergi meninggalkan ruangannya, tidak lupa di belakangnya ada Roya yang setia mengekor meski di hati penuh dengan rutukan.
***
“Menurutmu, berapa bulan lagi bangunan ini akan selesai Roy?” Briyan bertanya dengan pandangan mengedar.
“Mungkin, kurang dari enam bulan lagi Pak, jika Bapak menginginkan hasil yang sempurna” Roy memberikan pendapat setelah berpikir cukup lama.
“Hmh, baiklah, enam bulan lagi” Briyan mengangguk lalu tersenyum tipis, tidak lama langkahnya kembali berjalan meninggalkan bangunan yang sudah sepi dari pegawai, tidak lupa kembali Roy-pun kembali mengikutinya.
***
“Bry ... sudah pulang?” Mamih menyapa dengan senyuman terpatri di bibirnya, perempuan paruh baya itu menyambut kedatangan sang putra dengan hangat, sama seperti sebelumnya, saat Briyan jatuh, terluka tanpa berdarah, hanya perempuan itu yang selalu setia disamping putranya.
“Ya, Mih” Briyan mengangguk lesu.
“Capek? Di ruang tamu ada tamu yang menunggumu Bry” Mamih memberi tahu, raut wajahnya cukup dingin tidak bersahabat kala memberitahu Briyan.
“Tamu? Siapa?” Briyan mengerutkan keningnya dalam.
“Perempuan” Mamih berucap lesu.
“Perempuan? Cantik Mih?” Briyan terkekeh pelan, membayangkan perempuan cantik itu adalah Asha, tapi bagaimana mungkin Asha mau menemuinya? Halah! Mustahil! Briyan menggeleng kesal.
“Cantik” Mamih mengangguk, lantas kembali memutar tubuh berniat meninggalkan sang anak.
“O ya, Papih sakit lagi, tadi Papih pulang cepat dari kantornya” Mamih kembali memberi tahu sang putra yang kini tengah mematung dengan raut khawatir.
“Papih sekarang gimana Mih? Sudah panggil dokter?”
“Sudah, ya sudah temui dulu temanmu itu, nanti lihat kondisi Papihmu” Mamih meninggalkan Briyan, langkah kakinya menuju ke arah dapur, mungkin Mamih akan melanjutkan kegiatan memasaknya, karena belakangan Mamih menjadi senang memasak dan mengirimkan makanan buatannya itu pada Asha.
“Kak Briyan!”
Briyan memundurkan langkahnya kala melihat ada sesosok perempuan cantik di hadapannya, perempuan dengan baju seksi dan wajah manis itu tersenyum sumringah pada Briyan, di sampingnya ada Bintang yang menemani tengah tersenyum menatap Briyan, beberapa minuman juga camilan terlihat berantakan, menandakan jika gadis itu sudah cukup lama berada di rumahnya, Briyan menghela napas kesal, namun berusaha menyembunyikannya.
“Hay, Isabel” Briyan mengangkat sebelah tangannya.
“Hai Kak! Aku sengaja ke sini, aku mau ...” suara Isabel tertahan di udara kala Briyan kembali mencela ucapannya.
“Hah ... aku pikir itu kamu Sha” Briyan mendesah kesal, lantas membaringkan tubuh jangkungnya di atas kasur besarnya, tidak lama Briyan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri, tidak sabar dia ingin segera melihat sang Papih yang tengah terbaring lemah.
***
“Hay Sha!”
Seorang pria melambaikan tangannya pada seorang gadis cantik yang tengah mematung bingung menatapnya.
“Hay” gadis itu mendekat, lantas menyalami dua orang paruh baya lainnya yang kini tengah duduk mengapit pria tersebut.
“Om, Tante” gadis manis dengan hijab yang membalut kepalanya itu berusaha tersenyum manis, dalam hati Dia tidak berhenti mengutuk, merasa terjebak dengan apa yang di lakukan pria di hadapannya sekarang.
“Waaahhh, ternyata sesuai dengan apa yang diucapkan Abim, Asha ternyata sungguh cantik, lebih cantik dari yang pernah Ibu lihat di foto” perempuan paruh baya yang mengaku sebagai Ibu dari Abimanyu tersebut tersenyum lembut, menatap Asha lekat, mengagumi kecantikan Asha.
Asha menunduk dalam, ada sebersit rasa tidak nyaman, dalam hati bertanya-tanya akan apa dari pada maksud Abim, kenapa membawa kedua orangtuanya untuk bertemu dengannya, bukankah Abim hanya meminta untuk menepati janji Asha untuk makan malam dengan Abim saja? Lantas apa maksud dengan kedua orangtua Abim ikut menemani makan malam? Bukankah itu terasa janggal?.
Asha menatap Abim dengan tatapan bingung, namun yang di tatap hanya tersenyum lembut.
“Tante pernah melihat foto saya?” Asha bertanya dengan senyuman manisnya, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya.
“Ya, Abim yang memperlihatkannya, katanya Abim sekarang memiliki teman dekat perempuan, hehe” Ibu Abim terkekeh, di ikuti oleh suaminya.
“Maafkan kehadiran kami jika itu membuat Nak Asha tidak nyaman, sesungguhnya kami yang memaksa Abim untuk ikut kala tahu Abim akan pergi menemui perempuan cantik yang selalu Abim bicarakan” Ibu mulai menjelaskan apa yang membuat Asha tidak nyaman sedari tadi.
“Ah, ya ... tidak apa-apa Tante” Asha menggeleng.
“Terimakasih banyak karena sudah mau menemani Abim” Ibu Abim memegang tangan Asha lembut, lantas tersenyum ringan, membuat hati Asha berdesir, ada sedikit rasa nyaman disana.
“Sama-sama, justru Abim yang selama ini sudah banyak membantu Asha” Asha membalas usapan lembut tangan Ibunya Abim, mereka tersenyum bersama, lantas selanjutnya mereka melanjutkan dengan makan bersama, obrolan ringan terjadi pada mereka, sesekali Abim menyela, kadang juga Ayah Abim mengatakan hal lucu membuat mereka tertawa jenaka, rasanya sudah lama Asha tidak berada dalam suasana seperti ini, hanyut dalam hangatnya sebuah keluarga. Asha mensyukuri pertemuan malam ini antara dirinya dan keluarga Abim. Awalnya Asha merasa kesal dan tidak nyaman, namun lambat laun berkat pembawaan santai dan ramah dari keluarga Abim, Asha seperti menemukan keluarganya yang hilang.
Hingga bunyi getaran ponsel Asha terdengar, terpaksa Asha harus menjauh untuk mengangkat teleponnya, lalu menggeser tombol hijau pada ponselnya.
“Ya, Assalamualaikum ...’ Asha menyapa dengan lembut setelah tahu siapa yang menghubunginya.
‘Waalaikumsalam Sha, ini Papih ...’
Suara di seberang sana terdengar begitu sendu dan serak khas orang sakit, Asha sejenak menahan napasnya.
‘Papih? Apa kabar?’ Asha bertanya dengan hati tak karuan, rasanya aneh jika Papih sampai menelponnya seperti ini, sejauh ini yang paling sering menghubungi Asha tentulah Mamih.
‘Asha bisa datang ke rumah Papih sebentar Nak?’