SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
TIDDDAAAAAKKKKK!!!


Asha mematut dirinya di cermin, sesekali memperhatikan penampilannya kembali, sebagai seorang pembuat fashion tentu saja penampilan Asha harus sempurna, karena rupanya pelanggan sebelum membeli barang produk Asha seringkali meneliti dulu penampilan sang designer.


Merasa sudah siap Asha segera meraih tas selempang yang berada di atas ranjangnya, bergegas keluar kamar lalu menuju dapur, sekedar menyuapkan sekerat roti yang sudah di siapkan Bi Inah, Asha segera beranjak pergi menuju kantor baru yang baru kali ini akan Ia tandangi.


Di dalam mobil menuju perjalanan, hati Asha sedikit berkecamuk, ada rasa tidak nyaman yang sulit dijabarkan, sesekali Asha melirik kaca spion depan untuk membenahi hijabnya, penampilannya cukup oke seperti biasa, lantas apa yang membuat hatinya jedag jedug tak karuan?.


Tiba di sebuah halaman tempat parkir Asha mengedarkan pandangannya, bangunan tinggi menjulang di hadapannya membuat Asha sedikit terperangah, jauh dari kata sederhana seperti ruko sebelumnya, gedung kali ini ternyata cukup mewah dan megah, suasana masih lumayan lenggang, pelanggan belum ada yang datang, mungkin mereka harus kembali menyesuaikan info kepindahan butik Asha ini, dan ini adalah hal yang membuat Asha sedikit geram karena pemutusan kontrak gedung yang tiba-tiba. Membuat pelanggan Asha kabur jika tidak cepat-cepat kembali dirangkul.


Berjalan menuju pintu utama butik barunya, Asha kembali mengedarkan pemandangan, gedung baru dengan design interior yang cukup megah, membuat Asha kembali melongo, apa sang pemilik gedung tidak salah memberikan harga sewa padanya?.


“Bu! Akhirnya Ibu datang juga” Sarah mendekat dengan beberapa pegawai lainnya, menyapa Asha bergantian setelah beberapa hari tidak bertemu.


“Hmh, Sar ... kamu gak salah gedung kan?” Asha bertanya ragu.


“Ya gak lah Bu, ini udah bener kok, kemarin aku sudah bertemu dengan pemilik gedungnya, masih muda Bu, ganteng lagi!” Sarah cekikikan sementara Asha hanya melengos tanpa rasa penasaran.


“Nanti Ibu juga bakalan ketemu di atas xixixi” Sarah kembali terkekeh.


“Hmh ... aku mau lihat dulu bagian produksi, kira-kira nyaman gak buat para pegawai lainnya?” Asha berjalan di ikuti Sarah di belakang, mengitari butik barunya, Asha sedikit terperangah melihat setiap detail bangunan ini, semuanya seperti sudah terkonsep khusus untuk butiknya, semua bangunan ini lengkap, sesuai selera Asha, ini begitu kebetulan, membuat Asha kembali bertanya-tanya dalam hatinya.


Fix! Asha harus menemui pemilik gedung hari ini juga.


“Dimana ruanganku Sar?” Asha memutar tubuhnya, lantas mengikuti gerakan Sarah yang akan menunjukkan ruangan kerja Asha.


Ruangan Asha terletak di lantai dua gedung, bersisian dengan ruangan lainnya yang katanya ruangan kerja milik pemilik gedung, usut punya usut sang pemilik gedung adalah seorang arsitek muda yang tengah naik daun. Ruangan ini cukup luas, terdapat benda-benda yang Asha kurang fahami, ruangan Asha menyelip di antara ruangan lainnya, membuat Asha sedikit mendesah, bagaimana mungkin Asha harus bekerja seorang diri di tengah orang-orang yang tidak Asha kenal?.


Mata Asha menangkap pada sebuah maket yang diletakkan di sebuah meja kaca, ingatan Asha kembali pada kejadian beberapa tahun silam. Ah! Bagaimana mungkin pemilik gedung harus memiliki pekerjaan yang sama dengan orang yang sangat Asha benci sekarang? Huhhh ...


Asha memasuki ruangannya, terbelalak kaget, ternyata ruangannya juga tak cukup mewah dan nyaman, satu set meja kerja lengkap dengan komputer juga beberapa buku sketsa milik Asha, kamar mandi, ruangan yang cukup luas, bahkan ada satu set sofa, televisi, rak kecil dan kala Asha membuka sebuah pintu ternyata itu adalah sebuah kamar yang lengkap dengan segala perabotannya.


Asha semakin penasaran, kira-kira siapakah gerangan pemilik gedung ini?.


“Ibu kayaknya bakalan betah banget tinggal di ruangan ini, udah kayak rumah sendiri, kalau lelah Ibu bisa bobok siang disini, kalau lapar Ibu bisa masak juga disini” Sarah berkeliling, menatap detail setiap ruangan dengan tatapan kagum.


“Sar, kamu gak merasa curiga dengan pemilik gedung ini? Kenapa mereka memberikan harga yang begitu murah ya?” Asha bukanlah manusia yang bisa menerima kebaikan orang dengan instan, kerja keras telah membuat dirinya menjadi perempuan mandiri yang tidak ingin membuat repot orang lain.


“Entahlah Bu, nanti Ibu bisa ngobrol langsung sama orangnya, kayaknya orangnya sudah datang Bu waktu Ibu tadi lihat-lihat kamar mandi, Ibu tinggal langsung datang saja ke ruangannya” saran Sarah membuat Asha mengangguk setuju, bagaimanapun ini terasa begitu janggal.


Sebuah pintu terketuk dengan lembut, membuat seorang pria muda yang tengah memperhatikan layar komputernya mendongak, seulas senyuman tersungging di bibirnya, membenahi sedikit penampilannya yang memang sudah keren sedari tadi, “Masuk!” ucapnya. Wajahnya kembali terlihat cuek, menatap layar komputer di hadapannya dengan serius.


“Selamat pagi Bu Asha, silahkan masuk” perintahnya dengan kalem.


“Briyan!” Asha mengepalkan tangannya kuat, lantas segera menghampiri pria yang kini tengah tersenyum itu dengan napas memburu menahan kesal.


“Kamu!” geraman Asha tertahan, matanya membeliak penuh dengan amarah, bagaimana mungkin si pemilik gedung ternyata adalah sang mantan suami? Mimpi apa Asha semalam?.


“Hay ... perkenalkan! Aku pemilik gedung yang sudah kamu sewa” Briyan tersenyum menyeringai.


“Aku membatalkan sewanya!” geram Asha tertahan.


Briyan mengusap dagunya perlahan seperti tengah berfikir keras.


“Oke, jadi ini sambutan pertama dari sang penyewa gedung? Mengecewakan, padahal kita sudah terikat kontrak sekitar dua puluh tahun ke depan” ucapnya sembari manggut-manggut.


“WHAT??? B ba bagaiman mu mungkin?” Asha tergagap, wajahnya sudah memerah menahan amarah.


“Mungkin saja, coba tanyakan pada asistenmu, jika kamu mau membatalkan kontrak gedung ini, maka mudah saja, kamu harus membayar ganti rugi, tentunya kamu sudah tahu dengan jelas berapa banyak ganti rugi yang harus kamu bayarkan?” Briyan tersenyum menyebalkan, membuat Asha kembali menelan ludah susah payah.


“Tidak! Ini pasti ada kesalahan, bagaimana mungkin aku tidak tahu apapun?”


“Bukankah kamu sudah mewakilkannya pada Sarah? Sarah sudah menandatanganinya, menyetujui semua kontrak sewa gedung ini, jika masih ragu bacalah”


Briyan mengangsurkan sebuah dokumen ke hadapan Asha yang masih mematung, berdiri dengan ling lung.


“Hah? A apa ini? Ba bagaimana mungkin Sarah melakukan ini? Ini pasti penipuan kan? Kamu pasti memanipulasinya kan?” Asha menuduh Briyan setelah selesai membaca perjanjian tersebut.


“Ke kenapa aku harus???” Asha membulatkan matanya kala netranya kembali membaca poin demi poin perjanjian.


“Hah! Sudah kuduga! Kamu pasti akan mengingkari ini! Makanya sudah ku persiapkan juga, sebuah video kala kita menandatangani surat-surat itu kemarin, tidak ada paksaan, malah dari pihakmu yang memaksaku untuk menandatangani semuanya”


Briyan kembali mengangsurkan sebuah tablet ke hadapan Asha, mata Asha memicing melihat semua adegan demi adegan yang berada di video tersebut, mata Asha membulat sempurna, seketika tubuhnya melemah tak bertenaga, bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi???.


“TIDDDAAAAAKKKKK!!!”


Sebuah jeritan memekikan telinga, membuat Briyan terjingkat lantas menutup kedua telinganya, namun tak ayal pria tampan itu tersenyum puas menyadari usahanya berhasil.


Sekarang sudah bisa ditebak! Hati siapa yang sedang berbunga?