
Putaran waktu terus melaju, mengantarkan setiap makhluk untuk menyongsong hari baru. Enam bulan telah berlalu, Asha telah menyelesaikan ujian sekolahnya dengan baik, gadis itu mendapatkan nilai terbaik disekolahnya, kala perpisahan tiba, Mamih dan Papih datang ke sekolah Asha untuk mengambil raport gadis tersebut sebagai walinya.
Asha begitu bahagia, beberapa bulan terakhir semenjak kejadian Asha mencoba untuk melakukan bunuh diri, Briyan tak lagi secuek sebelumnya padanya, pria itu mulai rajin bertukar kabar dengan Asha meski hanya sehari satu kali, atau hanya sekedar menanggapi setiap ocehan Asha.
Kedekatan mulai terjalin lewat komunikasi, Asha begitu percaya pada Briyan, jika Briyan di luar negeri sana juga sama merindunya dengan dirinya, terpisah jarak, ruang dan waktu selama hampir satu tahun lamanya sungguh sangat menyiksa bagi Asha, meski beberapa bulan terakhir sikap Briyan sudah berubah meski tidak signifikan.
Sesuai janji Mamih tempo hari, Asha diperbolehkan untuk pergi keluar negeri menemui Briyan disana, dan kini, gadis itu tengah bersenandung riang, menyiapkan banyak hal untuk memberikan Briyan kejutan, tidak lupa kejutan utama yang akan diberikan Asha dari jauh-jauh hari segera dimasukkannya ke dalam tas branded pemberian Mamih, hadiah kelulusannya beberapa waktu lalu.
“Semuanya sudah siap” Asha bertepuk tangan lalu berjingkrak, kala dirasainya barang yang akan dibawanya sudah tertata rapi di dalam kopernya, gadis itu melompat ke atas kasurnya, lalu merebahkan tubuhnya, tatapannya berpusat pada langit-langit kamarnya, bibirnya menyungging senyuman kala dia sadar, bahwasannya besok adalah hari terbaiknya untuk bertemu kembali dengan suaminya, kejutan darinya semoga Briyan suka. Kini, pertemuan itu tinggal menunggu detik-detik waktu berlalu.
“Aku rindu banget sama Ayang, besok kita ketemu!” Asha menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, lalu memeluk gulingnya erat, tidak kuasa dia menahan segala euforia bahagianya, gegas mematikan ponselnya, tidak ingin menghubungi Briyan malam ini, biarlah dia bertemu secara langsung besok. Bahagia membuat Asha kini berada diambang kesadarannya, akhirnya gadis itu terlelap dengan senyuman masih tersungging di bibirnya.
***
Mobil mewah sudah meluncur dari halaman rumah megah yang ditinggali Asha selama ini, gadis itu bangun terlampau pagi karena sudah tidak sabar ingin berangkat keluar negeri untuk bertemu dengan suaminya, Asha berangkat dengan gemuruh dada yang tak karuan, tubuhnya bergetar karena rasa bahagia yang dialaminya.
“Mang cepetan dikit dong” Asha berbicara pada sopir pribadinya, sesekali gadis itu membenahi penampilannya, merapikan poninya, lalu mengulas lipgloss di bibir mungilnya.
“Aiiihhh, aku grogi” Asha mengibas-ngibaskan tangannya, lalu terkekeh geli sendiri.
“Mang, kalau Mamang pulang dan mau ketemu istri suka grogi juga?” tanya Asha, gadis itu mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dengan mengajak ngobrol pada sang sopir.
“Iya atuh Non” si Mamang terkekeh geli, diikuti tawa Asha.
***
Asha menatap pada gumpalan awan yang kini berada di sampingnya, gadis itu memejamkan mata menikmati perjalanan jauhnya, beberapa jam gadis itu akan berada di atas ketinggian, untuk pertama kalinya Asha bepergian ke luar negeri seorang diri. Sebelumnya Mamih dan Papih menawarkan untuk menemani Asha, namun gadis itu masih saja tetap ngeyel ingin pergi sendiri, dengan dalih akan memberikan kejutan pada suami tercinta. Mamih dan Papih hanya bisa menyerah dan mengalah atas keinginan Asha yang begitu keras kepala.
Beberapa jam perjalanan sesungguhnya membuat Asha begitu lelah, tidak ada yang menjemputnya di bandara kala Ia turun dari pesawat, tidak ada yang melambaikan tangan lalu menggandengnya menuju mobil jemputan, namun Asha tetap tersenyum, mengingat kedatangannya kali ini adalah untuk kejutan.
Bulan ini Briyan baru saja menyelesaikan ujian semesternya, harusnya pria itu memiliki waktu luang yang cukup banyak, liburannya harusnya Briyan bisa pulang ke tanah air, namun pria itu menolak pulang, lagi-lagi kesuksesan menjadi tolak ukur bagi Briyan untuk bisa menemui keluarganya.
Asha harap, waktu liburan Briyan dan kedatangannya sekarang bisa membuat hubungan mereka kian dekat, mereka bisa saja melakukan banyak hal berdua, atau mungkin bulan madu? Asah menoyor kepalanya sendiri mengingat pikiran liarnya. Tentu saja Asha adalah perempuan normal, meski usianya masih terbilang masih remaja, namun pikiran Asha tidak jauh dari sosok Briyan sang suami, liburan romantis, juga bulan madu dan memiliki anak dari Briyan di usia belia juga sudah termasuk dalam list hidupnya.
Gadis itu sempat berhenti sejenak, menetralisir degup dadanya, dengan mengusap-usapnya perlahan, bibirnya terus tersungging hatinya begitu tak karuan.
Kamar Briyan terletak di lantai dua, kamar nomor lima puluh tiga. Asha terus menghitung langkahnya, sebentar lagi dia akan bertemu dengan pujaan hatinya, belahan jiwanya.
Tangan kanan Asha masih menyeret kopernya, dan tangan kirinya sudah memegang erat sebuah dokumen yang akan dijadikan kejutan untuk Briyan.
Senyuman Asha kian melebar, kala pintu lift terbuka tepat di lantai dua, kini gadis itu tinggal mencari kamar nomor lima puluh tiga, dahinya mengerut melewati lorong demi lorong untuk mencari kamar tersebut.
Langkah Asha terhenti, kala salah satu pintu dari deretan kamar tersebut terbuka, Asha tersenyum riang, tangannya sudah merentang, mulutnya terbuka siap meneriakan nama pria yang dirindukannya.
Kamar itu tepat nomor lima puluh tiga, pria yang keluar dari dalamnya juga adalah pria yang sangat di rinduinya, namun ...
Tangan yang tadinya merentang segera turun kembali, bibir yang tadinya melengkung kini tertutup rapat, tubuh yang tadinya hendak maju untuk berlari, kini mundur ke belakang beberapa langkah, tangan yang tadinya memegang dokumen kejutan itu pun terkulai, hingga dokumen tersebut jatuh berantakan di lantai.
Asha menutup mulutnya sendiri, buliran bening itu meluncur begitu saja, Asha memutar tubuhnya perlahan, membelakangi dua makhluk yang kini tengah tertawa bersama, sembari saling merangkul tubuh masing-masing.
Tidak! Asha tidak boleh berprasangka buruk, dia harus bertanya dulu pada Briyan tentang kebenarannya, Asha tidak boleh gegabah lagi.
“Bry ... hari ini kamu akan membawaku kemana?” dari balik punggungnya Asha begitu mengenali suara manja yang kini sosoknya tengah bergelayut manja di lengan kekar Briyan.
“Ke tempat paling indah yang pasti akan kamu suka” suara itu ... suara yang setahun terakhir selalu dirindukan Asha, tubuh yang baru saja melewati tubuh Asha adalah tubuh yang selalu ingin dipeluknya, namun tidak pernah diberi kesempatan bahkan untuk menyentuhnya.
“Briyan ... kamu membohongiku?”
Melihat tindak tanduk mereka jelas saja Asha tahu, jika sudah terjadi pengkhianatan di antara hubungannya, dan Briyan adalah pelakunya.
“Kamu mengkhianatiku Briyan ...”
Tangan Asha terkepal kuat.