SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Kedatangan


Pagi hari cuaca masih mendung, angin dingin semilir menerpa dedaunan, kabut menggumpal menghalangi pandangan. Di dalam sebuah kamar di sebuah Villa yang cukup mewah, Asha masih bergelung di dalam selimutnya, hatinya masih kelabu, matanya masih di halangi oleh kabut kebencian, tak ada selera dalam hidupnya, yang Ia tahu kini hanya satu hal, membenci suaminya sendiri, Briyan.


Semalam, Ia sama sekali tidak bisa tidur, air mata menemaninya sepanjang malam, hingga kini wajahnya membengkak, Asha tidak tahu apa yang harus Ia lakukan selain menangis sebagai wujud dari rasa kecewanya sendiri.


Krriieettt ...


Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka, padahal Asha merasa tidak membuka kuncinya, sejak semalam dia kedatangan Briyan, Asha tidak lagi keluar dari kamarnya, bahkan untuk sekedar minum sekalipun, Asha begitu takut, jika hatinya bisa saja berbelok mengasihani Briyan yang semalam Asha tahu Briyan begitu kedinginan melihat dari tubuh Briyan yang gemetar.


Asha menajamkan pendengarannya, jangan sampai orang yang tidak dia inginkan yang memasuki kamar Villanya.


“Berliana ...”


Suara itu, suara yang sudah sangat lama tidak Asha dengar, Asha segera bangkit lalu menatap pada sumber suara, matanya segera membulat sempurna kala melihat sosok tegap yang kini sudah berdiri dihadapannya.


“OM!” pekiknya girang, segera berdiri lalu melompat memeluk sang Om tercinta, yang sudah meninggalkannya cukup lama, memutuskan untuk tinggal di luar negeri karena bisnisnya, meninggalkan Asha dan mempercayakan keponakannya itu pada suaminya.


“Berliana? Kamu sehat bukan?” Om Hans, begitulah dia dipanggil, kini tengah mengusap lembut punggung Asha yang tengah memeluknya erat.


“Asha baik-baik saja” suara Asha bergetar hebat, selama ini tidak ada sosok laki-laki yang mau memeluknya erat, menenangkannya dengan lembut dan mendengarkan keluh kesahnya layaknya seorang Ayah, Asha rindu kasih sayang dari seorang Ayah.


“Maaf Om baru bisa menemuimu” ucap Om Hans pelan, tangannya masih mengelus punggung Asha dengan lembut, bisa dirasainya, kini tubuh Asha bergetar, Asha tengah menangis dalam pelukannya.


“Om tahu Asha disini?” tanyanya melepaskan pelukan, lalu menatap pria itu dengan raut penasaran.


“Hmh, tentu saja Om tahu, tempat ini adalah tempat persembunyianmu” ucap Om Hans lalu tersenyum.


“Sudah makan? Om bawakan makanan kesukaanmu” Om Hans menuntun tangan Asha, lalu mengajaknya untuk duduk di mini bar yang terdapat di Villa tersebut.


Seketika wangi kuah dari sup kesukaan Asha yang dibuat oleh Bi Inah menguar di udara, seketika perut Asha langsung berdemo, memberontak protes pada Asha, karena sedari kemarin gadis itu memilih untuk tidak memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya, gadis itu tengah sibuk patah hati, jadi tidak sempat mengontrol pola makannya, apalagi penampilannya.


“Soup buatan Bi Inah memang yang terbaik, apalagi kalau di makan di cuaca dingin begini” Asha berceloteh, lalu menyendokkan soup tersebut ke mulutnya. Om Hans hanya bisa tersenyum melihat keponakannya tersebut.


“Om kapan tiba?” tanya Asha kemudian.


“Semalam Om tiba disini, dan menemukan kamu tidak berada di rumahmu, Bi Inah juga tidak tahu keberadaanmu, Bi Inah bilang kamu tidak pulang ke rumah, dan Om yakin jika kamu ada disini” Om Hans menjelaskan.


“Hmh ... Asha hanya ingin menenangkan diri disini” ucap Asha, seketika tangannya meletakkan sendok yang berada di tangannya.


“Menenangkan diri boleh saja, tapi jangan sampai lupa diri, lihat penampilanmu Berliana, kamu gadis cantik, kamu masih sangat muda, tapi lihat dirimu, penampilanmu begitu kacau” Om Hans berdecak meneliti penampilan keponakannya.


“Hmh, Asha masih muda, bahkan baru delapan belas tahun, tapi Asha sudah mau jadi janda, hehe” Asha terkekeh, namun tak ayal air matanya kembali menetes.


“Kedatangan Om kesini untuk menjemputmu Berliana, kamu ikut Om ke luar negri ya, jalani hidup barumu disana, kamu bisa kuliah disana, mewujudkan mimpimu menjadi seorang designer ternama seperti Mamamu” Om Hans tiba-tiba saja memaparkan maksud kedatangannya, membuat Asha seketika disini mematung.


“Selesaikan urusanmu dengan Briyan, setelah ini, ikutlah dengan Om”


“Sha, kadang ada kalanya kamu perlu hijrah untuk menata hidupmu yang lebih baik, tinggal disini sama saja dengan mengorek luka lama, lukamu tidak akan sembuh jika kamu terus mengingat kenangan buruk itu, selesaikan perceraianmu dengan Briyan, lalu ikutlah Om ke luar negri, mulailah hidup barumu disana” keputusan Om Hans begitu final, Asha terdiam, dalam benaknya dia terus menimbang, benarkah keputusannya sekarang?.


***


“Briyan mohon Mih, katakan pada Asha, jangan ceraikan Briyan”


Sementara itu, dalam kondisinya yang masih demam, Briyan terus mengiba pada sang Ibu agar mengabulkan keinginannya.


“Bry ... Mamih tidak bisa berbuat banyak Nak, itu sudah menjadi keputusan Asha, dan didukung oleh keluarganya” Mamih menyeka air matanya pelan.


“Keluarganya? Keluarga Asha Briyan Mih, bagaimana mungkin Briyan mendukung keputusan Asha?” bak orang linglung, Briyan berkata dengan bingung.


“Om Hans adalah keluarga Asha Bry ... Om Hans sudah menyetujui keputusan Asha untuk berpisah denganmu, sebelumnya Asha pernah meminta Mamih untuk bertemu, Mamih sudah memintanya untuk mempertimbangkan keputusannya, dan Asha tidak mau menggubris itu Bry ...”


“Mamih sudah bertemu dengan Asha?” seketika tubuh Briyan semakin melemah.


“Hmh, Mamih sudah memintanya untuk tidak pergi, jauh sebelum kamu memintanya Bry”


“Hhhh ...” Briyan menghela napas berat, sepertinya perjuangannya akan lebih berat sekarang.


***


Pagi yang begitu cerah, hari ini Briyan sudah mandi dengan bersih, dandanannya cukup necis, ada sedikit semangat dan harapan baru dari tatapannya, Briyan berjalan menuju mobilnya, tangannya masih memegang sebuah kotak makanan.


Harapannya begitu tinggi pagi ini, Briyan menjalankan mobilnya, lalu berhenti di sebuah rumah mewah, yang dulu begitu jarang Ia sambangi.


“Pagi Mang ...” Briyan menyapa salah seorang satpam rumah Asha, yang membukakan pintu gerbang untuknya, pria paruh baya itu sempat tercengang, melihat Briyan pagi-pagi buta sudah berada di rumah Asha, sungguh kejadian yang begitu langka.


“Pagi Den” tak ingin berkata banyak, pria itu memilih untuk membiarkan Briyan masuk ke dalam rumahnya.


“Pagi Bi ...” sapa Briyan pada perempuan tua bertubuh montok yang tengah membukakan pintu untuknya, sama seperti yang lain, Bi Inah sedikit mengernyitkan dahinya, kenapa juga Briyan sudah klimis sepagi ini, dan berdiri penuh senyuman di hadapannya.


“Pagi Den” Bi Inah mengangguk kepala, meski masih bingung.


“Asha udah bangun Bi?” kepala Briyan celingukan mengintip ke dalam rumah.


“Su sudah Den” Bi Inah kembali mengangguk.


“Kalau gitu aku mau ketemu istriku” dengan wajah PD tingkat dewa, Briyan masuk kedalam rumah mengabaikan Bi Inah yang gelagapan.


“Tapi Den ...”


“Siapa yang nyuruh kamu masuk rumah??!!!”