SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Telah Memutuskan


Suasana cukup tenang dan hening kala empat pasang netra masih saling memandang dengan tatapan ragu, sesekali dua diantara mereka memperbaiki duduknya, memantapkan hati untuk sebuah kepastian. 


“Om fikir Nak Asha sudah tahu pasti mengenai kedatangan kami menemui Nak Asha” suara seorang pria tua itu mulai memecah keheningan yang sedari tadi hanya berdiam diri dalam ketegangan. 


“Ya Om, Asha faham” Asha mengangguk mantap. 


Abimanyu dan Ibunya hanya diam termenung, mereka diam membisu menanti ucapan Asha selanjutnya. 


Sesungguhnya, Abimanyu sudah sedikit memahami apa keputusan Asha lewat ucapannya tempo hari, namun karena hubungan mereka sudah melibatkan kedua orangtuanya, maka Abimanyu merasa harus kembali membawa orangtuanya untuk memastikan, bagaimanapun Abimanyu ingin bersikap dewasa dan profesional. 


Sejauh ini Abimanyu sudah banyak berjuang untuk mendapatkan Asha, bekerja keras dengan niat Asha dalam hatinya, separuh hatinya sudah terpaut sejak lama pada gadis manis di depannya, bagaimana mungkin perjuangan Abimanyu akan berhenti begitu saja?.


“Om rasa Om sudah memberikan banyak waktu pada Nak Asha untuk berpikir dan memutuskan hubungan Nak Asha dengan Abi, jadi Om harap sekarang Nak Asha sudah menemukan jawaban tersebut, segala hal baik tidak baik jika harus terus di tunda-tunda, begitu kan Nak Asha?” Ayah Abimanyu menatap Asha penuh harap, ini adalah ungkapan hati dari seorang Ayah yang berharap yang terbaik bagi putranya, Asha sedikit iri dengan kehangatan keluarga Abim, saling mendukung, saling menyemangati. Ah ... Asha sungguh tak bisa mengerti hatinya sendiri, kenapa harus se-iri ini?. 


“Terimakasih banyak untuk banyak waktu yang sudah Om dan Abim berikan pada Asha, jujurnya Asha sangat terharu, Asha sangat bahagia ketika ada orang yang mau dengan tulus menerima Asha dengan segala kekurangan Asha, Asha yang jauh dari kata baik ini, tiba-tiba saja mendapat pinangan dari keluarga Om yang begitu baik, hangat, dan bijak, Asha sungguh bahagia Om, tapi ...”


Ketegangan kembali terjadi, kata-kata Asha selanjutnya adalah penentuan bagi hubungan mereka, Abim hanya mampu menahan napasnya sedemikian rupa. 


“Asha yakin, Abim bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari Asha”


Seketika tubuh Abim sungguh-sungguh melemah, sekian panjang perjuangan yang dia lakukan, namun harus berakhir sia-sia, kini Abim menyesali kenapa dulu dia meniatkan segala perubahan yang terjadi pada hidupnya harus demi Asha? Kini Abim mengerti jika berharap pada manusia hanya akan mendatangkan kekecewaan, Abim menyesal karena tidak meniatkan perubahan hidupnya demi Tuhannya, agar Abim tidak sekecewa ini, bukankah Allah maha baik? Abim terus meracau dalam hatinya. Tidak sanggup lagi menerima penolakan yang begitu menyakitkan dari Asha. Hatinya begitu kecewa berat. 


“Kami mengerti ucapan Nak Asha” Ayah memanggutkan kepalanya berulang kali, wajahnya tersirat kekecewaan yang sangat ketara, begitupun dengan Ibu, wajahnya terlihat sendu, bagaimanapun penolakan Asha adalah hal yang membuatnya terluka. 


“Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?” itu adalah permintaan dari suara Ibu, bagaimanapun perempuan tua itu sudah menyayangi Asha dan mau menerima Asha dengan segala kekurangannya. 


“Maaf, tapi Asha merasa tidak layak untuk pria sebaik Abim” Asha menggeleng, hatinya tercekat, Abim adalah orang baik, Ia berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik. 


“Aku akan menerima kamu apa adanya Sha” nada putus asa itu berasal dari mulut Abimanyu yang sedari tadi hanya terdiam. 


Asha menggeleng, Asha mungkin bisa saja menerima Abim, namun jauh di lubuk hatinya, Asha tidak yakin jika Abimanyu akan menerima sisi lain dari hidup Asha, Asha yang punya kelainan mental, apakah Abim akan bisa menerima Asha yang jika sewaktu-waktu Asha kambuh Ia akan mengamuk dan bahkan hampir melenyapkan jiwanya sendiri? Asha tidak yakin akan ada pria yang mau menerima kekurangannya hingga sampai disana. 


“Kamu pria baik, pria paling tulus yang pernah aku kenal Bim, hiduplah bahagia dengan pendamping yang bisa membuatmu bahagia, perempuan yang bisa mencintai kamu apa adanya kamu, perempuan yang bisa menerima kamu, karena kamu adalah Abimanyu si baik hati” Asha tersenyum sendu. 


Abim menahan segala kesedihan hatinya, pria itu tak mampu lagi berkata-kata, hanya bisa mengangguk sembari menahan air mata.


“Aku harap kamu bahagia Bim” Asha kembali berucap. 


Abim tahu, Abim mengerti, Asha adalah milik Allah, sekuat apapun Abim meminta Asha untuk tinggal di sisinya, namun jika Allah tidak menghendaki, lantas Abim bisa apa?. 


Malam itu adalah malam terakhir pertemuan Asha dan keluarga Abim secara resmi, sejatinya tidak ada yang mendendam di hati mereka, semua tulus dan mau berusaha menerima kenyataan yang ada, meski sejujurnya sulit, namun mereka semua berusaha ikhlas. Ikhlas kala hati tak lagi mampu saling berbagi, ikhlas kala hati tak lagi dibalas hati, ikhlas karena itu adalah satu-satunya cara yang bisa membuat hati mereka menjadi sedemikian lega. 


*** 


Asha memasuki rumah megahnya yang selama Ia pulang ke Indonesia kembali ditinggalinya, Asha berkeliling, lantas menatap setiap sudut ruangan yang terasa hampa dan sunyi, tidak ada tawa, canda, atau bahkan hanya sekedar suara. 


Bi Inah sudah di ganti dengan ART lain, ART baru yang mungkin tidak semengerti Bi Inah, namun perempuan baya pengganti Bi Inah itu tetap saja sama baiknya, Asha bersyukur untuk hal yang satu itu, Asha selalu ditemukan dengan orang-orang yang sangat baik. 


Tangan Asha menyentuh setiap barang yang dilaluinya, memejamkan mata, pikiran Asha melayang pada hal-hal indah yang menjadi impiannya, namun pikirannya bertabrakan dengan masa lalu yang begitu sulit Asha lupakan, bayangan buruk itu selalu datang apalagi dikala Asha sendirian. Tubuh Asha sedikit bergetar, berusaha mengendalikan dirinya sendiri, ketegangan sebelumnya karena menolak lamaran Abimanyu membuat tubuh Asha menggigil.


Netranya kembali terbuka, sudut bibirnya sedikit terangkat kala menatap sebuah bingkai foto yang tercetak besar di dinding ruang keluarga, mata Asha berkaca-kaca, Asha tahu rindu ini hanya akan menjadi miliknya sendiri. 


“Mamah, Papah ... keputusan Asha hari ini sudah benar bukan?”


“Asha tidak ingin membuat Abim ketakutan karena sikap Asha yang bisa saja berubah-ubah”


“Asha juga tidak ingin membebani siapapun lagi”


“Asha ingin sembuh total Mah, Pah”


“Sejujurnya, Asha takut sendirian, tapi Asha juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Asha takut ...”


Tubuh Asha luruh di lantai, tangisnya pecah seketika, jeritan Asha terdengar memecah sunyinya malam di sebuah rumah megah tersebut. Tangannya memukul dadanya yang terasa sesak, Asha tahu kini hidupnya sungguh-sungguh akan sendirian, menghabiskan waktu seorang diri sungguh bukan hal yang mudah, tapi inilah Asha dengan segala keputusannya. 


Asha telah memutuskan, akan meluruskan sengketa dalam hatinya dengan memutuskan jika Ia akan melanjutkan hidupnya sendirian.