
Sesuai dengan agenda yang sudah direncanakan, pada malam harinya kedua keluarga itu akhirnya melakukan kegiatan paling menyenangkan bagi mereka, yakni melakukan bakar-bakar, bukan bakar Villa apalagi bakar hutan, namun membakar ikan hasil tangkapan para bapak-bapak tadi, dan membakar daging juga sosis kesukaan Asha.
“Nes kecapnya tolong” Mamah memerintah dengan tangan masih mengipasi panggangan.
“Oke Sa” Mamih dengan gesit dan lincah membantu sahabatnya yang terlihat kerepotan.
“Jangan lupa sosis bakar jumbo kesukaan Asha harus di duluin, anak itu begitu menyukainya” Mamah berpesan dengan raut bahagianya.
“Ya, tentu. Asha itu putriku juga” Mamih ikut tersenyum menimpali.
“Rasanya aku tidak percaya, pada akhirnya aku memiliki Asha setelah sekian lama penantianku, memiliki Asha rasanya hidupku begitu sempurna” Mamah menerawang pada masa lalunya, masa tersulit dimana penantiannya untuk mendapatkan Asha begitu sulit.
“Sabarmu tidak sia-sia Nes” Mamih menepuk pundak sahabatnya, tahu persis jika perjuangannya tidaklah mudah, hingga Vanessa begitu takut kehilangan Asha dan memanjakannya dengan berlebihan.
“Aku harap, putriku selalu bahagia dengan ada atau tidak ada aku” Mamah Vanessa tersenyum.
“Hush! Kamu dan Asha akan terus bersama dan hidup bahagia” Mamih mengepukan tangannya di hadapan Mamah Vanessa yang sibuk melumuri ikan dengan bumbu bakarnya.
Mamih dan Mamah tertawa bahagia bersama.
“Harga saham terus merosot, aku sampai pusing melihatnya, jika semuanya tidak bisa tertolong, maka habislah usahaku” berbeda dengan para Ibu-Ibu, para Bapak-Bapak malah sibuk membicarakan bisnis dengan kopi hitam dihadapan masing-masing.
“Begitukah? Apa yang bisa aku bantu?” papah menatap Iba pada Papih yang tengah memijat keningnya.
“Tidak ada, untuk sementara aku akan melakukan usaha sebisaku dulu, aku masih memiliki beberapa tabungan dan aset lainnya, semoga bisa menutupi kerugianku yang lalu”
Menghela napas berat, membuat Papah semakin iba melihatnya.
“Dalam usaha, semua itu hal yang biasa, jika butuh bantuan jangan sungkan meminta padaku, aku akan selalu siap membantumu” Papah menepuk bahu Papih dengan senyuman tulusnya, Papih mengangguk haru, lalu mereka kembali terhanyut dalam obrolan lainnya.
“Kak Briyan! Ini untuk Kak Briyan” Asha menjulurkan sebuah kotak berisi makanan manis yang begitu disukainya.
Briyan hanya melengos tidak suka, tetap fokus pada buku yang digenggamnya.
“Kak Briyan!” Asha mengguncang lengan Briyan, hingga buku yang tengah Briyan pangku terjatuh ke tanah, membuat Briyan geram dan marah seketika.
“Sha!” bentak Briyan tidak suka.
“I ini coklat buat Kak Briyan” Asha masih menyodorkan sekotak coklat tersebut dengan takut-takut.
“Aku gak suka! Aku benci sama kamu!” Briyan berlari meninggalkan Asha juga kedua orangtuanya yang tengah asyik dengan kegiatan mereka masing-masing, tanpa menyadari kegiatan anak-anaknya. Juga kepergian Briyan yang berlari entah kemana.
“Kak Briyan ...” Asha menunduk sedih sembari meremas ujung bajunya, Asha memutuskan untuk masuk kedalam Villa, menemui sang Ibu yang berjanji akan membuatkan sosis besar jumbo kesukaannya.
“Sa, kok Briyan gak kelihatan dari tadi” Mamah mulai menyadari keberadaan Briyan yang tidak terlihat, biasanya anak laki-laki itu sedang asik membaca buku sendirian di bangku di bawah pohon rindang yang berada di depan Villa yang kebetulan menghadap danau indah disana.
“Loh? Bukannya main sama Asha?” Mamih baru menyadari.
“Loh? Briyan kemana?” seketika Mamih panik! Meneriakan nama putranya, memberitahu suaminya jika Briyan tidak ada ditempat, bahkan sebelumnya Mamih sudah mencari Briyan ke kamar, kamar mandi, juga halaman belakang dan halaman depan Villa tidak luput dari pencariannya.
“Terakhir Briyan pergi kemana?” tanya Papih dengan raut cemas.
“Tadi Kak Briyan lari kesana” Asha menunjukkan arah dimana Briyan tadi melarikan dirinya.
“Asha tahu Nak?” Mamah berjongkok mengelus rambut panjang Asha.
“Ya, tadi Kak Briyan gak mau nerima coklat dari Asha, terus Kak Briyan lari kesana” Asha menjelaskan dengan raut sedih.
“Anak itu, pergi kemana dia? Bukankah itu arah perkebunan teh?” Papih menebak-nebak, seketika jiwanya merasa takut jika terjadi sesuatu pada putranya.
Malam semakin kelam, pencarian dilakukan, dua keluarga itu memutuskan untuk berpencar mencari keberadaan Briyan.
Sementara itu ...
Briyan terus berlari tak tentu arah, hingga kakinya membawanya pada perkebunan teh yang membentang luas, napasnya terengah, dahinya mengeluarkan keringat, dadanya masih dipenuhi kekesalan yang mendalam, Briyan tidak suka jika Mamih dan Papih menyalahkan dirinya jika Asha terluka, Briyan juga tidak suka jika Mamah dan Papah menitipkan Asha padanya, terlebih Briyan tidak suka pada Asha yang terus menempel dan mengatakan menyukainya, Briyan merasa kesal pada mereka semua.
“Huh! Aku benci Asha!” teriaknya di malam pekat, tanpa Briyan sadari teriakannya yang menggema memancing empat orang rampok yang tengah mencari mangsa, melihat Briyan seorang diri, tentu saja mereka merasa mendapatkan sasaran empuk.
“Mangsa!” bisik si pria bertubuh tinggi dengan kupluk di kepalanya.
“Kayaknya orang kaya, jadi kita bisa culik dia” si pria berperut buncit menimpali dengan seringai di wajahnya.
“Terus kita minta tebusan dari keluarganya, minta tebusan yang gede!” si pria bertato tidak mau kalah menimpali.
“Kayaknya dia tinggal tidak jauh dari sini” pria bertubuh kurus ikut mengamati.
“Ayo, serang!” pria bertato menginterupsi, lalu mereka melangkah maju menghampiri Briyan yang masih meluapkan kekesalannya.
“Hay Adek! Lagi apa?” si perut gendut menyapa dengan senyuman menyeramkan bagi Briyan, membuat Briyan memundurkan langkah, langsung bersikap awas.
“Ka kalian siapa?” Briyan mengernyitkan dahinya bingung, datang dari mana orang-orang ini? Siapa mereka? Apa mereka orang-orang jahat?.
“Kami adalah penguasa daerah ini, ayo ikut kami!” pria bertubuh tinggi itu sudah tidak sabaran rupanya, dia langsung membentak dan memelototkan matanya meski terlihat samar karena penerangan yang seadanya.
“Kalian siapa? Kalian orang jahat?” Briyan bertanya dengan raut cemas, tentu saja Briyan merasa curiga mengingat penampilan keempat orang itu terlihat menyeramkan khas preman.
“Tidak, kami orang baik, hahaha” si pria bertato yang kini mengeluarkan suara paling banyak, pria itu paling berambisi mengenai uang dan kesenangan, meski ketiga rekannya juga begitu.
“Tidak! Jangan!” Briyan terus memundurkan langkahnya, berancang-ancang untuk melarikan diri.
“Heeyyy ... tunggu!”