
Pagi ini suasana di butik Asha cukup ramai, banyak orang berdatangan hanya untuk berbelanja di butik Asha, sementara Asha sendiri memilih untuk duduk diam di ruangannya, tidak memperdulikan segala hiruk pikuk yang terjadi, terlebih segala urusan sebetulnya sudah di handle oleh Sarah, orang yang sangat dipercaya Asha.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, namun Asha masih saja berkutat di depan buku sketsanya, mencoret-coret kertas dengan gambar design dengan bayangan yang ada di kepalanya, akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang harus Asha lewati, hingga Ia sempat kehilangan fokus, padahal pesanan lumayan banyak.
“Bu, mau makan siang apa?” Sarah membuka pintu ruangan Asha, gadis manis itu berjalan mendekati Asha.
“Emmmhh, aku belum lapar Sar” Asha tidak mendongak sama sekali, fokusnya masih tetap pada buku gambarnya.
“Ibu harus makan dulu, tadi juga belum sempat sarapan bukan?” Sarah mengingatkan, merasa khawatir dengan pola makan Asha yang berantakan.
“Ya, nanti aku akan makan, sebentar lagi, nanggung banget Sar” Asha masih asyik sendiri, membuat Sarah hanya bisa menghela napas berat, lantas beranjak meninggalkan Asha kembali, Asha jika sudah dalam mode serius dalam menggambar memang sulit sekali di ganggu. Sarah lebih baik menyerah dan membiarkan Asha begitu saja.
Satu jam berlalu, Asha meregangkan tubuhnya, menguap sebentar lalu beranjak dari kursinya, merasa sangat penat setelah berjam-jam berkutat dalam pekerjaannya.
Berjalan keluar ruangan berniat mendatangi cafe favorite nya untuk makan siang, juga Asha ingin sedikit menyegarkan pandangannya dengan keluar ruangan, mungkin saja dengan berjalan-jalan sebentar bisa membuat Asha menemukan inspirasi baru untuk desainnya.
“Wah ... Bu Asha baru keluar ruangan?” Taufik tersenyum pada Asha, laki-laki itu terlihat baru saja datang dari arah toilet.
“Oh, ya” Asha mengangguk, lalu segera mengedarkan pandangan kala melihat beberapa karyawan Briyan yang tengah berkumpul di pojok ruangan, mereka terlihat bercakap-cakap serius.
Ngomong-ngomong tentang Briyan, setelah pulang dari puncak Asha belum bertemu lagi dengan cowok satu itu, ketika di puncak Briyan sempat menyatakan kembali cintanya, dan meminta Asha untuk kembali rujuk dengannya, namun Asha menolak, terang saja Asha masih dengan keputusannya, Asha tidak ingin terikat sebuah hubungan apalagi jika itu dengan Briyan, Briyan sempat merenggut lesu, lantas sampai hari ini Briyan bagaikan menghilang dari pandangan Asha.
“Kami semua mau menjenguk Pak Briyan Bu, mungkin Bu Asha mau ikut?” Asha menghentikan niatnya yang ingin pergi meninggalkan Taufik.
“Memang Briyan kenapa?” tanya Asha mengerutkan keningnya, terakhir mereka bertemu Briyan terlihat segar bugar, tapi baru beberapa hari saja Briyan dikabarkan sakit?.
“Pak Briyan sakit Bu, setelah liburan bersama keluarganya Pak Briyan belum masuk ke kantornya lagi, memang Ibu tidak lihat?” Taufik mengerutkan keningnya, mereka itu satu atap, satu gedung, ruangan mereka berdempetan, hanya terpisahkan oleh dinding penghalang, tapi Asha tidak tahu? Sungguh! Asha terlihat seperti manusia antipati sekarang.
“Oh? Saya tidak terlalu memperhatikan” Asha mengelak, lantas menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
“Katanya Pak Briyan itu sakit parah lho Bu, hampir sekarat gitu, sebelum semuanya terlambat, mending Ibu ikut jenguk Pak Briyan sama kita sekarang, sebagai sesama penghuni gedung ini, memang Ibu tidak memiliki rasa simpati sedikit saja begitu?” Taufik malah mengompori, membuat Asha tercengang dan tak enak hati, akhirnya dengan kepala kaku, Asha terpaksa menunduk ragu.
“Nah! Gitu dong Bu, kan kalau Ibu ikut jadi enak”
Asha mengerjapkan mata cantiknya, maksudnya enak?
“Maksud kamu kalau saya ikut jadi enak bagaimana ya?” Asha memicing curiga.
“Kalau Ibu ikut, kami jadi bisa nebeng mobil Ibu, terus Ibu juga bisa nambahin patungan kita buat buah tangan, Ibu lihat mereka?” Taufik menunjuk pada teman-temannya yang terlihat masih sedang berembuk serius di pojokan. Asha mengangguk.
“Mereka lagi ngumpulin dana buat buah tangan buat jenguk Pak Briyan Bu, jadi kalau Ibu ikut setidaknya bakalan ada satu suara lagi yang menyumbang”
Loading ...
Asha masih berusaha mencerna, hingga akhirnya Asha mengerti dan seketika ...
“TAUFIK!!”
***
“Mamih ...”
Asha menghampiri perempuan yang sangat Ia sayangi itu, Mamih kini tengah duduk di salah satu kursi sofa sembari merangkai bunga yang akan diletakkan di vas bunga. Mamih mendongak menatap Asha, lantas perempuan tua itu menghambur menyambut kedatangan gadis yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri tersebut.
Pada akhirnya, Asha memutuskan untuk menjenguk Briyan seorang diri, Asha sadar jika Asha datang beramai-ramai, maka Asha akan merasa tidak nyaman.
“Sayang, kamu datang Nak” Mamih menciumi pipi Asha dengan sayang.
“Ya Mamih, katanya Briyan sakit? Beberapa hari ini Briyan tidak masuk kantor” ucap Asha sendu, bagaimanapun Briyan pernah ada di hati Asha sedemikian dalamnya, sampai hari ini sulit bagi Asha untuk mengenyahkan segala bayangan tentang Briyan.
“Ya, Briyan sakit” Mamih menuntun tangan Asha, untuk menuju ke lantai dua, dimana kamar Briyan berada, Asha memejamkan matanya kala bayangan itu kembali menyapa, dulu Asha pernah menyambangi kamar ini, namun perlakuan Briyan yang tidak baik, membuat Asha merasa trauma untuk kembali menginjakkan kakinya di tempat ini.
“Itu Briyan” Mamih menunjuk Briyan dengan wajahnya, Asha membuka kembali kedua matanya, menatap sesosok makhluk yang kini tengah meringkuk dan di tutupi oleh selimut tebal, tubuhnya terlihat begitu menggigil, apa Briyan tengah demam? Batin Asha menerka-nerka.
“Temui Briyan, bicarakan apa yang belum kalian bicarakan, Mamih harap kalian menemukan titik akhir dari setiap sengketa hati yang telah kalian ciptakan” Mamih memundurkan langkahnya, lalu pergi meninggalkan Asha yang tengah mematung bingung.
Langkah Asha demikian pelan, rasa ragu tiba-tiba menghampiri kala melihat tubuh Briyan kian menggigil, perlahan tangan Asha terangkat, rasa penasaran membuatnya ingin tahu bagaimana keadaan Briyan saat ini.
“Bry ...” suara Asha pelan, namun mampu menghentikan gerakan pelan dari menggigilnya tubuh Briyan.
“S Shhaaa ...” suara parau dan serak itu terdengar begitu lemah, membuat Asha memutuskan untuk duduk di tepi ranjangnya.
“Bry ...” kembali Asha menyapa dengan suara tercekat, Asha menatap Briyan dari samping, tubuhnya bergetar hebat, keringat membasahi tubuhnya, sesekali pria itu meracau tidak jelas, memeluk dirinya sendiri seperti tengah ketakutan.
Asha melirik pada nakas di samping ranjang, matanya membulat kala menatap satu toples obat, obat ini Asha mengenalinya, Asha juga pernah ketergantungan pada obat tersebut.
“Bry ...” Asha membalik tubuh Briyan, Briyan masih menggigil dengan keringat memenuhi keningnya.
“Sha ...” tangan Briyan mencoba menggapai tangan Asha.
“Aku gak salah kan Sha? Aku gak bunuh Mamah dan Papah, aku juga gak berniat buat kamu terluka, andai aku tahu dulu apa yang aku lakukan akan menyakitimu sedemikian rupa” suara Briyan begitu terbata-bata, bahkan nyaris tidak jelas di pendengaran Asha.
Asha terdiam kaku, sebetulnya sejak kapan Briyan juga memiliki penyakit seperti ini? Tidak! Selama ini Asha pikir hanya dirinya saja yang terluka lantas harus menghadapi masa sulit sendirian, tapi sekarang ... Asha tahu, bukan hanya Asha, tapi Briyan juga.
“Sha ...”
“Hmh?”
“Aku minta maaf untuk semua yang telah terjadi, kamu terluka karena aku, kamu sudah menghabiskan banyak waktu dan air mata hanya karena kesalahanku,” wajah Briyan terlihat mengiba.
“Aku sudah memaafkan semuanya, sudah sedari lama, aku sudah mengikhlaskan semuanya” Asha tersenyum lembut.
“Sungguh?” Briyan menatap sangsri.
“Ya” Asha mengangguk yakin.
“Kalau kamu sudah memaafkanku, maka kembalilah bersamaku Sha, aku janji aku bakalan menebus semua kesalahan aku, aku bakal bahagiain kamu sekarang Sha” mata Briyan terbuka, tatapannya begitu sendu. Terdapat rasa penuh akan putus asa dari tatapannya.
Menghela napas berat, Asha tetap pada pendiriannya, Asha menggeleng pelan.
“Sha, kenapa kamu terus menolakku Sha? Bukankah kamu bilang sudah memaafkan aku?” tanya Briyan parau, pria itu menatap Asha intens.
“Memaafkan bukan berarti harus kembali Bry, aku sudah memutuskan satu hal, aku hanya akan hidup sendirian” ucap Asha tegas dan yakin.
“Oke, baiklah ...”
Briyan mencoba untuk bangkit, lantas duduk dengan mata memejam.
“Jika itu keputusanmu, maka akan aku ikuti”
Asha mengerutkan keningnya bingung.
“Apa maksudmu?”
“Selamanya, aku juga akan hidup sendirian ...”
END