SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Lo Itu Hebat!


Siang ini matahari tengah berada di puncak, suasana kota metropolitan tidak luput dari cuaca panas yang membuat siapapun merasa kulitnya terbakar, debu polusi dan macetnya jalanan di waktu jam istirahat makan siang membuat sebagian besar orang berdecak kesal, kesal karena tak ingin kepanasan, namun di lain sisi perut mereka juga sudah berdemo minta jatah, bagaikan Emak-Emak yang berdemo antri sembako. Harus ditenangkan agar tidak terjadi kekacauan.


Asha keluar dari dalam mobil mewahnya, berjalan anggun dengan sangat sopan, pakaian yang digunakannya begitu cantik serupa dengan hijab yang menghiasi kepalanya, menyempurnakan kecantikan Asha yang memang sudah paripurna sedari lama.


Matanya mengedar mencari sosok yang tadi mengajaknya makan siang bersama, menemui Abimanyu sebetulnya bukan suatu agenda penting baginya, namun ... lagi-lagi Asha merasa tidak enak pada pria tampan itu, karena sudah terlalu banyak membantunya dalam urusan mendirikan bisnisnya, anggap saja ini sebagai bentuk balas budi Asha untuk Abimanyu.


“Sha!”


Asha menoleh pada sumber suara, terlihat Abimanyu sudah duduk di salah satu kursi di restoran tersebut, Asha mendekat, melirik pada pria yang tengah mengembangkan senyumnya tersebut.


“Harusnya aku jemput kamu Sha” ucapnya mengawali kata.


“Tak apa, aku lebih suka mengendarai mobil sendiri, jika kita terlalu sering berdua bersama, takutnya banyak fitnah” Asha tersenyum tipis sembari membalik buku menu.


Abimanyu memanggutkan kepalanya, sekarang Asha adalah perempuan berhijab, tentu saja akan lebih sulit mendekatinya, Asha sangat jaga jarak dan berusaha menjaga dirinya dengan sangat ketat, suatu tantangan baru bagi Abimanyu untuk meluluhkan kerasnya hati Asha.


“Kamu mau makan apa Sha?” Abimanyu mengalihkan obrolan.


“Apa saja, aku suka semua makanan” Asha kembali tersenyum, mengedarkan pandangan pada sekeliling restoran yang ternyata begitu ramai.


“Ramai Sha, soalnya ini jam makan siang” Abimanyu seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Asha, Asha hanya mengangguk ringan, lantas suasana kembali hening, Asha tidak memiliki bahan obrolan untuk sekedar membuka ucapan dengan Abimanyu, namun berbeda dengan Abimanyu, pria dengan sosok lembut juga lucu itu kembali membuka obrolan ringan, Asha menanggapi dengan tenang, sesekali tersenyum, sesekali menjawab, dan sesekali Asha menanggapi setiap ucapan Abimanyu.


“Sha, ada yang mau aku omongin sama kamu”


Asha sudah menduga, jika ada hal lain yang ingin dibicarakan Abimanyu kala pria itu mengajaknya makan siang bersama. Asha mengangguk ringan.


“Iya, boleh”


“Nanti setelah kita selesai makan Sha”


Asha kembali mengangguk setuju, melanjutkan makan siangnya dengan tenang.


Mata Asha kembali mengedar kala mereka telah menyelesaikan makan siangnya, seketika tubuh Asha mematung kala pandangan matanya bertemu pandang dengan bola mata yang dulu pernah Ia kagumi, disalah satu kursi yang berada di pojok sana, Briyan tengah menatap Asha dan Abimanyu dengan tatapan kesal juga kecewa. Asha memalingkan wajahnya, segera berpamitan pada Abimanyu untuk pulang lebih dulu, berjalan tergesa Asha tidak memperdulikan panggilan Abimanyu padanya.


***


‘Siapa senang hati tepuk tangan?’


Prok ... prok ... prok!


Duk ... duk ... duk!


‘Siapa senang hati peluk Kakak Asha??’


‘AKKUUUUU!!!’


Asha terkekeh geli kala lebih dari sepuluh orang anak memeluknya dengan sayang, mereka berebutan memeluk Kakak cantik yang sering mengunjungi mereka akhir-akhir ini.


“Ayo jangan rebutan peluk Kak Asha-nya, nanti Kak Asha sesak!”


Asha melirik tajam pada perempuan dan seorang pria yang tengah menatapnya jahil, namun tak bisa berbuat apa-apa di depan anak-anak, Asha hanya bisa menikmati momen tersebut dengan suka hati.


Merasa pusing dengan segala kemelut yang dia rasakan, Asha lebih memilih pergi ke salah satu panti asuhan yang satu tahun terakhir sering Ia kunjungi bersama Gendis juga Vidi, pasangan suami istri itu begitu kompak menemani Asha untuk menemui anak asuhnya, Gendis dan Vidi juga merupakan donatur di panti asuhan tersebut.


Bersama anak-anak membuat beban Asha sedikit berkurang, melihat tawa tulusnya membuat Asha paham, jika di muka bumi ini, tidak hanya diisi oleh manusia palsu saja, melihat keluguannya membuat Asha mengerti, jika selama ini masih ada orang yang mencintainya dan mendoakannya sepenuh hati, melihat tangis kesepiannya karena tidak memiliki orangtua, membuat Asha sadar, jika di muka bumi ini, ada manusia yang lebih menderita dan sakit daripada dirinya, kadang, ada kalanya kita bisa menyadari banyak hal dari sosok makhluk kecil yang mereka panggil dengan sebutan anak-anak.


“Gimana sekarang hati Lo? Udah aman?” Gendis menyodorkan minuman dingin pada Asha, mereka kini tengah duduk di sebuah bangku memanjang, melihat anak-anak di kejauhan yang tengah tertawa riang yang tengah di asuh oleh Vidi.


Asha menoleh pada sahabat yang kini juga tengah menatap pemandangan yang sama dengannya.


“Seneng ya kalau punya suami yang se-frekuensi sama kita, apapun yang kita lakukan selalu di dukung sepenuh hati” Asha bergumam, namun gumaman tersebut di dengar jelas oleh Gendis.


“Sha ... kalau Lo pikir antara Gue dan Vidi selama menikah gak pernah punya masalah, maka Lo salah besar Sha, Gue sama Vidi meskipun kita punya hobi dan kesukaan yang sama tetap saja banyak masalah Sha, hanya saja Gue gak pernah sharing urusan rumah tangga Gue sama khalayak umum” Gendis memaparkan, sesekali Gendis meminum minumannya.


“Bukankah kalian saling mencintai?” Asha mengerutkan keningnya dalam, setahunya, sepasang insan yang saling mencintai tidak akan menyakiti.


“Itu cuman prasangka Lo aja Sha, sama aja kok, namanya juga manusia, pasti selaluuuu aja punya masalah, punya beban, sering berantem, sama Nyokap aja yang jelas-jelas udah ngelahirin Gue, memberikan kasih sayang dari Gue orok sampe segede ini, Gue sering berantem kok, apalagi sama Vidi, dia awalnya orang asing, Gue gak tahu dia siapa, hanya saja kebetulan Allah mentakdirkan kita berjodoh, sama aja Sha kita juga sering banget berantem” Gendis melirik Asha yang kini tengah memejamkan matanya.


“Kadang seringkali Gue iri sama Lo Dis, Lo punya segalanya, punya orangtua yang lengkap yang sayang sama Lo, punya suami yang cinta sama Lo, mengikuti semua keinginan Lo, kadang Gue berpikir, kenapa sih Gue harus nikah sama Briyan di usia yang sangat belia, jadi janda di usia remaja, punya trauma berat, orangtua Gue pergi dari hidup Gue untuk selamanya, kenapa Gue gak ketemu jodoh seperti orang-orang Dis?” Asha semakin memejamkan matanya, membayangkan semua kemelut yang ada di hatinya.


“Sha, setiap orang itu diuji dengan cara yang berbeda, apa yang Lo miliki sekarang bisa jadi adalah impian orang lain, Lo cantik, pinter, kaya raya sejak dalam kandungan, Lo imut, lucu, Lo kurang apalagi sebagai perempuan Sha?”


“Tapi ... Gue ...”


“Sha! Satu hal yang harus Lo lakuin sekarang agar hidup Lo tenang, coba berdamai dengan diri Lo sendiri Sha, banyakin bersyukur, Lo gak lihat mereka? Mereka kedinginan, kelaparan, gak punya siapapun, gak punya apapun di dunia ini Sha,” Gendis menunjuk pada anak-anak yang kini tengah tertawa terbahak, saling berkejaran lalu saling menangkap satu sama lain, mereka terlihat begitu bahagia. Gendis meraih tangan Asha, lalu menggenggamnya kuat, seolah ingin memberikan kekuatan penuh pada sahabatnya yang rapuh tersebut.


“Jangan terus menerus menyiksa diri Lo dengan masa lalu yang ngebuat hidup Lo jadi susah, percaya deh sama Gue, Lo itu hebat! Hidup tanpa orangtua, tanpa suami aja Lo bisa sekeren sekarang, Lo bisa mandiri Sha, Lo kan sering bilang sama Gue, selalu ada hikmah disetiap musibah, sekarang Lo cuman butuh berdamai dengan diri Lo sendiri, dan semuanya bakal baik-baik saja Sha”