SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Pertemuan Dengan Mamih


Cinta bagi seorang Berliana Asha adalah sesuatu yang sempat Ia miliki, namun kini Ia memilih tidak lagi peduli, perjalanan biduk rumah tangga yang gagal, rasa sakit yang bertubi hingga meninggalkan trauma mendalam, jungkir balik Asha menata kembali dunianya yang sempat porak poranda, meninggalkan tanah air selama lima tahun, dan kembali dengan semangat dan harapan baru. Jelas saja Asha berharap tidak akan pernah bertemu siapapun yang berhubungan dengan masa lalunya.


Namun ... siapa yang mengira pada takdir Allah? Tidak ada yang tahu termasuk pertemuannya kembali dengan mantan mertuanya, kala Asha dan Gendis tengah makan siang bersama di sebuah Mall.


“Asha? Ini Asha putri Mamih kan?” perempuan paruh baya yang masih cantik di usianya ini menunjuk Asha tidak percaya, bahkan perempuan lembut itu menjatuhkan kantong belanjaannya hingga berserak di lantai, mengundang perhatian beberapa pengunjung lainnya.


“Ma Mamih?” Asha terbelalak, kenapa di hari pertamanya menginjakan kaki di tanah air, malah pertemuan pertamanya harus bersama dengan bagian dari masa lalunya? Melihat Mamih meneteskan air mata kerinduan untuknya, sama saja seperti menabur cuka pada luka yang sudah lama ingin di jahit rapat, sedikit kembali menganga, namun Asha mencoba kuat untuk tetap terlihat tegar seperti biasa.


“Sayang, Mamih rindu sekali dengan Asha, kenapa nomormu tidak aktif? Apa sekarang Asha membenci Mamih?” isaknya lirih, membuat hati Asha merasakan nyeri yang sama, namun juga tidak bisa berbuat banyak.


“Maaf, Asha tidak mengabari Mamih” Asha membalas pelukan hangat itu dengan lembut.


“Gak apa-apa sayang, Mamih mengerti” Mamih mengelus halus puncak kepala Asha yang tertutupi hijab, tersenyum lembut penuh kekaguman pada transformasi dari seorang Berliana Asha.


“Kamu cantik sekali Nak, seperti namamu, kamu seperti Berlian, kamu begitu bersinar” Mamih tersenyum, Asha mengusap pipi Mamih yang masih mengalirkan air matanya dengan sayang, bagaimanapun perempuan ini pernah menyayanginya dengan sangat tulus.


“Terimakasih, Mamih juga semakin cantik”


“Oh ya, kebetulan sekali, Bintang sebentar lagi akan menikah, dia memutuskan untuk menikah muda dengan kekasihnya, nanti kamu bisa datang kan di pernikahannya?”


Mata Mamih menyorot penuh harap, membuat Asha tergagap dan bingung.


“I iya Mih” tidak ada pilihan lain bagi Asha selain menganggukan kepalanya terpaksa.


“Terimakasih sayang, ingin rasanya Mamih mengundang kamu ke rumah untuk makan malam bersama, tapi mengingat kamu baru saja tiba, kamu pasti lelah kan?” Mamih bertanya dengan raut khawatir.


“I iya Mih, lain kali, Asha mampir dan makan malam di rumah Mamih” Asha kembali mengangguk dengan tergagap.


“Terimakasih sayang” Mamih tersenyum lembut, tangannya kembali merengkuh tubuh Asha, memeluknya penuh haru dan kasih sayang.


Sementara itu, dalam pelukan Mamih terlalu banyak hal yang bersarang dalam benak Asha. Bintang sudah memutuskan untuk menikah muda, lantas bagaimana dengan Briyan? Apa dia juga sudah menikah kembali selepas berpisah dengan Asha? Ah! Asha ingin mengutuki pikirannya sendiri, menggeleng perlahan, Asha menepis segala khayalnya. Asha sudah berubah, Asha sudah move on!.


***


“Pak, nanti berikan cat warna cream untuk ruangan ini, saya ingin ruangan ini tidak terlalu formal dan ingin ada sentuhan keluarganya, juga di ruangan ini, tolong sediakan tempat untuk bersantai, cukup lantai satu saja yang terlihat formal sebagai tempat bekerja, di lantai dua ini, tolong berikan sentuhan suasana yang santai dan juga hangat”


Beragam perintah Briyan ucapkan pada beberapa pegawai kepercayaannya, dua tahun sudah pria itu mencoba membangun sebuah gedung dua lantai yang akan dijadikan tempat usaha juga sebagai rumah pribadi bagi penghuninya nanti, hunian yang sangat nyaman juga strategis jika bangunan ini sudah rampung seratus persen nantinya.


Briyan tersenyum melihat bangunan ini, ada banyak perjuangan dan pengorbanan yang dia lakukan untuk bangunan ini, tangannya sendiri yang merancang dan bahkan sesekali mengerjakan bangunan impiannya ini.


“Pak, sudah pukul enam, sebentar lagi adzan maghrib berkumandang, apa tidak sebaiknya Bapak pulang?” Roy yang sedari tadi mengekori Briyan memberitahunya, Briyan menghela napas, terlalu semangat berada di tempat ini, membuatnya lupa waktu.


Briyan berjalan gontai menuju mobilnya, Roy masih mengikutinya dari belakang, dalam hati Roy menyimpan sedikit rasa iba untuk sang majikan.


“Sampai kapan anda terus seperti ini Pak?”.


***


“Bry? Sudah pulang?” sapaan lembut itu langsung terdengar kala Briyan membuka pintu utama rumahnya.


“Mih, apa Asha pulang? Aku melihat mobilnya tadi kala melewati rumahnya, apa itu sungguh Asha?” tidak mengindahkan pertanyaan sang Mamih, Briyan langsung menodong mamih dengan pertanyaannya, hatinya begitu berbunga kala melihat gerbang rumah itu sedikit terbuka, menandakan jika rumah itu kini kembali berpenghuni setelah sekian lama hanya ditempati Bi Inah, sang asisten rumah tangga.


“Kenapa raut wajah Kakak harus sebahagia itu? Kakak tidak lupa bukan? Jika Asha itu sudah menjadi mantan istri? Apa Kakak masih mengharapkannya untuk rujuk kembali?” itu suara Bintang yang kebetulan melewati Briyan dan Mamih kala gadis itu menuju dapur.


“Bin ...” Mamih segera mencela ucapan pedas sang anak bungsu.


Briyan menundukkan kepalanya, sadar diri terlalu mengharapkan kehadiran Asha, membuatnya lupa diri, terlalu semangat, terlalu berharap, membuatnya melupakan ucapannya sendiri, untuk tidak mengganggu Asha lagi.


Briyan berjalan melewati Mamih, lalu bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai dua, tangannya menyentuh baju yang dulu pernah diberikan Asha, kini baju itu sudah kekecilan, namun Briyan masih menggantungnya, bahkan menyimpannya di samping ranjangnya, hanya kenangan itu yang tersisa dari Asha.


Briyan meneteskan air matanya sembari memeluk baju tersebut “Maafin aku Sha” gumamnya lirih. Langkahnya kembali bergerak menuju balkon kamarnya, menatap langit malam yang kian kelam, meski ada kerlip bintang di ujung cakrawala sana.


“Aku seneng, ternyata kamu baik-baik saja Sha”


***


Di sebuah kamar di lantai dua sebuah rumah, Asha tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang baru saja di tidurinya lagi setelah lima tahun berlalu, rumah ini ... rumah dengan segala kenangan pahit dan manis yang sudah Ia lalui, matanya kembali terpejam kala bayangan-bayangan masa lalunya bersama seseorang yang dulu pernah dicintainya saling berkelebat.


Tubuhnya kembali menggigil, keringat dingin mulai berjatuhan, Asha menggigit bibir bagian bawahnya, memejamkan matanya erat. Tangannya menggenggam obat yang sedari tadi sudah ada dalam cekalannya.


“Sampai kapan aku harus begini?” gumamnya pelan.


“Non Asha?”


Asha kembali membuka matanya dengan sayu, menatap Bi Inah yang kini tengah tersenyum menatapnya.


“Mau shalat isya berjamaah bersama Bibi dan Mang Diman?” tawar Bi Inah lembut.


“Hmh ... Asha mau” Asha mengangguk, lalu beranjak dengan tubuh sempoyongan bergetar hebat, sementara Bi Inah segera mengamankan obat penenang yang hampir Asha konsumsi. Bi Inah tahu, Asha melewati harinya dengan sangat tidak mudah.