SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Sengketa Hati


“Apa yang kamu lakukan Sarah?” Asha menatap pada sosok perempuan yang kini tengah menunduk takut di hadapannya.


“Ma maaf Bu, saya tidak tahu kalau sebelumnya Ibu dan pemilik gedung memiliki sengketa hati” Sarah semakin menenggelamkan wajahnya.


Asha menatap kian tajam. Apa maksud dari sengketa hati yang di maksud Sarah?.


“Apa maksudmu?” mata Asha memicing.


“Bukankah sebelumnya Ibu memiliki hubungan khusus dengan pemilik gedung? Beliau bilang, jika antara hatinya dan hati Ibu masih saling bertaut, hanya saja Ibu masih gengsi untuk mengakui, makanya saya diminta untuk mempermudah semuanya Bu, maaf kalau saya lancang, saya hanya kasihan sama Ibu, mau bantuin Ibu” suara Sarah terdengar agak sengau, mungkin gadis itu sudah ingin menangis karena rasa bersalahnya.


“Hah! Bagus kamu Briyan! Menjual masa lalu kita untuk membuat hidupku lebih sulit lagi!”


Aaaaaarrrggghhhhh!!!


“Bu, sabar Bu ...” Sarah segera menenangkan Asha yang tengah kalap mencak-mencak.


“Bagaimana ini? Dalam waktu dua puluh tahun kedepan, setiap hari aku harus melihat wajahnya? Tidak mungkin!” Asha memukulkan kepalanya pada meja di hadapannya.


“Bagaimana jika kita pindah lagi saja dari tempat ini?”


“Biaya penalti nya tinggi Bu, lebih tinggi daripada kontrak dua puluh tahun yang telah kita sepakati”


“Bagaimana jika kita tinggalkan saja tempat ini? Kita buka lagi tempat baru”


“Tidak mudah mencari tempat baru Bu, terlebih keuangan kita sudah menipis karena baru saja pindahan”


“Bagaimana jika aku tidak datang saja ke kantor, dan mengerjakan semuanya dari rumah?”


“Bisa saja Bu, tapi apa Ibu tidak sayang dengan pelanggan? Yang kebanyakan ingin dilayani langsung oleh pemilik butik?”


“Lalu aku harus bagaimana jika sudah begini?”


“Saya tidak tahu Bu”


“Aiiiihhhhhh!!!!!”


***


“Kenapa wajahnya di tekuk begitu?” Gendis bertanya pada sahabatnya yang tengah cemberut mengabaikan makanan yang ada di hadapannya.


“Gue lagi dapet musibah Dis” Asha kembali menyembunyikan wajahnya di balik meja, sungguh merasa frustasi dengan semua yang terjadi, bagaimana mungkin Asha harus bertemu setiap hari dengan orang yang paling ingin dihindarinya?.


“Innalillahi ... Lo kenapa Sha?” Gendis bertanya dengan raut panik.


“Gue sekarang sekantor sama si ... Aaaaaaahhh!! Males nyebut namanya!” Asha menggelengkan kepalanya kesal.


“Siapa? Si mantan?” Gendis menebak dengan asal, namun tak bisa diduga, ternyata Asha mengangguk dengan lesu, membuat Gendis terbelalak kaget.


“Serius? Kok bisa?” Gendis dengan kepo langsung bertanya.


Dengan singkat Asha kembali menceritakan kejadian yang menimpanya dengan detail, tentu saja ekspresi kesal dan marah mewarnai penjelasan Asha.


“Ya ampun, kok bisa sih? Briyan kayak gitu?” Gendis geleng-geleng kepala, dalam hati bertanya-tanya, mungkinkah ini ada unsur kesengajaan yang diciptakan Briyan? Jika iya, maka Gendis harus memberikan sepuluh jempol untuk usaha Briyan.


“Itu dia masalahnya Dis, Gue udah gak bisa ngelak lagi buat gak ketemu dia, Lo tahu kan Dis? Dia adalah satu-satunya manusia yang paling ingin Gue hindari” Asha mendesah kecewa.


“Sekarang Gue harus gimana Dis?” Asha menatap sahabatnya dengan raut sayu.


“Hadapi! Apapun yang akan terjadi kedepannya, hadapi!” Gendis membulatkan kepalan tangannya, layaknya orang berdemo.


“Kenapa nasib Gue gini banget Dis?” Asha mengeluh dengan sesekali menjedotkan kepalanya ke meja.


“Kadang Gue juga heran Sha, kenapa ya? Ujian orang cantik, pintar, dan kaya itu selalu di jodoh”


Asha menggeleng masih dengan wajah ditekuk, sementara Gendis kembali mengetuk-ngetuk dahinya dengan raut kebingungan.


***


Sore menyapa namun Asha masih betah duduk di kursi kebesarannya, merasa memiliki waktu luang karena sedikitnya pengunjung yang datang, Asha memutuskan untuk membuat desain baju baru, akhir-akhir ini karyanya ada yang memplagiat, hingga baju rancangan Asha lebih laku di pasar kaki lima dibanding di butiknya sendiri, Asha merasa kesal namun juga tidak berdaya, Asha yang susah payah merancang, namun kenapa malah para penjual di pasar yang mendapatkan keuntungan.


Sepertinya Asha harus kembali merancang baju yang sedikit unik agar tidak mudah dijiplak oleh para penjahit lokal.


Asyik dengan kegiatannya, Asha sampai lupa jika waktu terus beranjak, hingga seruan sang pencipta terdengar, Asha menengadah melihat jam dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan waktu Ashar, segera Asha beranjak untuk mengunjungi mushola yang terdapat di gedung tersebut, ada banyak karyawan Briyan juga karyawan Asha yang tengah mengantri berwudhu, Asha menunggu dengan sabar, beberapa menyapa Asha dengan penuh hormat, meski setelahnya mereka berbisik-bisik lirih membicarakan Asha, entah apa yang mereka bicarakan Asha memutuskan untuk tidak peduli.


“Hay ... mau shalat juga ya?” sapaan tersebut jelas Asha tahu siapa pelakunya, memutuskan untuk menjauh tanpa mau meliriknya Asha bergegas segera memasuki mushola berukuran kecil tersebut.


“Ayo Pak Briyan saja yang mengimami”


Salah seorang karyawan memutuskan, hingga Briyan mengangguk dan maju ke depan. Asha sempat tercengan, beberapa tahun menjalani biduk rumah tangga bersama Briyan, tidak pernah sekalipun Asha di imami shalat oleh Briyan, tapi kini? Oh! Ini tidak sengaja, kejadian ini sungguh diluar dugaan Asha, Asha hanya bisa pasrah lantas merapikan shaf dan mengikuti imam untuk menunaikan empat rakaatnya.


Briyan terlihat begitu tampan dan segar setelah melakukan wudhu dan juga shalat, semua mata karyawati menatap dengan kagum, tidak jarang mereka berbisik tentang segala kelebihan Briyan.


‘Kalian tidak tahu saja jika pria itu adalah pria menyebalkan!’ umpat Asha dalam hati, Asha segera menggunakan kembali sepatunya, dan berjalan tergesa menuju ruangannya.


“Ekhem, gimana rasanya di imami shalat oleh calon imam?”


Asha memutar bola matanya malas, lantas segera mempercepat langkahnya berjalan dengan tergesa.


“Hey ...” Briyan hampir saja memegang tangan Asha, namun segera Asha menepisnya dengan kesal.


“Bukan muhrim! Gak usah pegang-pegang!” Asha semakin ketus.


“Tapi kita pernah jadi muhrim kan?” Briyan menaik turunkan alisnya, Asha mendelik sebal.


“Aku tanya, gimana perasaan kamu setelah aku imami?” Briyan kembali mensejajari langkah Asha.


“Gak ada perasaan!!!” ucap Asha ketus.


“Ayang! Kenapa sih kok Ayang ketus banget??!!”


Asha menghentikan langkahnya, Asha sadar betul jika Briyan sedang meledeknya, kata-kata Briyan adalah kata-katanya dulu. Menatap Briyan dengan tajam Asha menghentakkan kakinya penuh amarah.


“Ayang! Kok Ayang gitu sih??” Briyan ikut menghentakan kakinya, menggoda Asha rupanya sudah menjadi kegiatan favorit Briyan saat ini.


“Gak tahu! Gak denger! Aku gak pake beha!!!!”


BRRRUUUKKK!!!


Briyan tercekat dan mengerjap kaget kala Asha membanting pintu ruangan kerjanya.