SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Pembukaan Butik


Pagi itu gedung bangunan dengan luas yang tidak begitu luas, namun memiliki tempat parkir yang nyaman terlihat begitu ramai, memang tidak seperti biasanya, ada beberapa tenda biru yang di pasang di halaman gedung tersebut, beberapa baju telah dipajang di sana. Pengunjung mulai berdatangan, mereka begitu antusias melihat-lihat barang-barang yang dipajang.


Hari ini adalah hari pembukaan secara resmi untuk butik Asha. Menggunakan kekuatan sosial media, promo Asha yang dilakukannya satu bulan yang lalu membuahkan hasil, ada banyak pengunjung hari ini, hingga membuat pegawai yang baru direkrut Asha sedikit kewalahan.


Brand Asha sebelumnya memang pernah berada dalam fashion show di luar negri kala Asha masih mengenyam pendidikannya. Selain itu, untuk harga promo di awal Asha memberikan potongan harga yang lumayan tinggi. Pengunjung di dominasi oleh kaum hawa, tentu saja kaum hawa selalu paling semangat jika berkaitan dengan belanja.


Selain itu, pembukaan butik Asha juga mendatangkan beberapa artis ibu kota sebagai penghibur mereka, Asha juga menyiapkan beberapa stand makanan ringan sebagai penarik tambahan, acaranya memang tidak semegah itu, namun Asha bangga akan pencapaiannya, tangannya bergetar kala dia harus menggunting pita sebagai tanda bahwa ASHA BOUTIQUE telah di buka secara resmi.


“Selamat bestie” Gendis memeluk Asha erat, air mata Asha mengalir begitu saja, memiliki butik adalah mimpinya sedari dulu.


“Makasih, selalu ada untukku, tidak pernah lelah menemaniku” Asha terisak kala pelukan Gendis kian erat.


“Hmh, sebagai balasannya bolehkah aku membawa beberapa baju dengan potongan harga sembilan puluh sembilan persen?” Gendis terkekeh, melepaskan pelukannya.


“Ambil sesukamu” Asha melengos dengan senyuman tertahan.


“Senyum! Ayo senyum! Jangan di tahan senyumnya, nanti pelanggan kabur kalau melihatmu judes begitu” Gendis mengapit kedua pipi Asha, membuat Asha memonyongkan bibirnya, lalu mereka tertawa bersama di tengah puluhan orang yang masih lalu lalang memilih beberapa pakaian yang mereka suka.


“Mbak? Ini baju apa kalau boleh tahu? Bukankah kain silk seperti ini cocoknya digunakan untuk baju tidur? Tapi kenapa hiasannya seperti baju pengantin?” seorang perempuan muda mendekati Asha dan menunjuk baju yang dimaksudnya, yang kini dipajang di manekin di depan kaca yang tembus keluar, sehingga siapapun bisa melihat baju tersebut.


Asha terdiam, baju itu adalah baju dengan sejuta kenangan luka, namun untuk mengapresiasi diri sendiri, Asha memilih untuk memajangnya di butiknya, menjadikan baju tersebut sebagai primadona dari semua baju desainnya, karena baju tersebut juga merupakan baju pertama hasil rancangan Asha.


“Yah ... baju ini adalah baju pengantin, saat itu saya berfikir untuk membuat baju pengantin yang lain daripada yang lain, baju pengantin tidak hanya digunakan saat acara, namun juga bisa digunakan saat tidur, akan sia-sia bukan? Jika seumur hidupnya baju pengantin hanya digunakan sekali seumur hidup, lalu setelahnya hanya akan menjadi penghuni lemari” Asha tersenyum menjelaskan.


“Waaahhh menarik sekali Mbak, berapa kira-kira harganya?” wanita itu tersenyum kagum dengan rancangan Asha.


“Baju itu adalah baju pertama rancangan saya, saya menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikannya, saya masih mengingatnya saat itu tengah malam di hari kedua saya membuat gaun itu, dan jari saya sudah memiliki lebih dari dua puluh tusukan jarum, bukan harganya, tapi lebih kepada momentnya. Baju itu tidak dijual, hanya untuk pajangan saja, maaf” Asha berusaha memoles senyuman tipis, lalu berjalan tergesa, meninggalkan pelanggannya yang masih kebingungan, Gendis mengekorinya dari belakang.


“Sha ...” Gendis memanggil Asha dengan nada khawatir.


“Lo gak usah khawatir, Gue baik-baik saja Dis”


Asha kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan tempatnya bekerja mulai sekarang, menutup pintu dengan rapat, meninggalkan Gendis yang masih mematung dengan tatapan iba-nya.


“Sha, Gue tahu, Lo kuat”


***


“Hay! Bagaimana acara pembukaan butiknya? Lancar? Maaf tadi tidak bisa datang, aku ada pekerjaan mendesak” Abimanyu menerobos masuk ke dalam ruangan Asha kala sore telah tiba.


“Hmh, sangat lancar, tak apa.” Asha mengangguk pasti, matanya masih terfokus pada gambar di hadapannya.


“Sha, boleh aku menagih janjimu sekarang?” Abimanyu menatap Asha lekat setelah duduk dengan tenang.


“Janji?” Asha mendongakkan kepalanya, wajah cantiknya terlihat sedikit lelah sekarang, pembukaan butik begitu ramai, dan kejadian itu berlangsung hingga pukul tiga sore tadi. Pantas jika Asha merasa begitu lelah.


“Oke, besok malam pukul tujuh” Asha mengangguk, lantas matanya kembali fokus pada gambar yang tengah di lukisnya.


“Yes! Oke Sha! Besok aku pastikan aku tidak akan terlambat” layaknya anak kecil yang dibelikan permen, Abimanyu begitu sumringah bahagia, membuat Asha hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Bu, ada tamu yang ingin bertemu di depan” kedatangan salah satu pegawai Asha, membuat Asha dan Abimanyu menoleh.


“Siapa?” tanya Asha tanpa berpaling dari pekerjaannya, oh! Jika Asha sudah fokus begini memang sulit di ganggu.


“Seorang wanita, dia tidak mau dilayani oleh pegawai yang lain, katanya mau langsung di layani oleh pemilik butik ini” sang pegawai kembali menjelaskan.


“Oke” Asha mengangguk, meninggalkan pekerjaannya, tanpa menghiraukan Abimanyu yang tengah menatapnya kagum.


“Sayang!” sebuah pelukan hangat kembali Asha rasakan, kala perempuan paruh baya itu memeluknya erat dengan tubuh bergetar.


“Mamih?” Asha menggumam membalas pelukan tersebut.


“Mamih rindu putri Mamih yang satu ini, kenapa tidak memberitahu Mamih jika kamu buka butik disini?” Mamih bertanya sembari mengusap air matanya.


“Maaf Mih, Asha lupa” Asha tersenyum, menggandeng tangan Mamih menuju sebuah kursi dengan meja bulat di depannya.


“Selamat ya sayang, kamu sudah berhasil membuka butikmu sendiri, Mamih kagum sama kamu, Mamih juga suka dengan semua rancangan kamu, terlebih sekarang kamu mengedepankan pakaian muslim untuk digunakan remaja, Mamih bangga sama Asha” Mamih mengusap kepala Asha dengan lembut.


“Terimakasih banyak Mamih, Mamih boleh ambil baju yang Mamih suka dari sini” Asha tersenyum, sementara itu tangannya memberi kode pada salah satu pegawainya untuk mengambilkan minuman untuk Mamih, agar mereka enak kala berbincang.


“Jangan repot-repot sayang” Mamih menggeleng.


“Enggak repot kok Mih, Mamih sama Papih apa kabar? Papih sehat kan Mih?” Asha membuka suara setelah beberapa saat hening.


“Papih sekarang sudah sakit-sakitan Sha” Mamih menunduk lesu.


“Papih sakit apa?” Asha bertanya dengan alis mengerut.


“Yah, biasa Sha, Papih sudah tua” Mamih tersenyum miris.


“Papih belum tua Mih, Papih masih muda” Asha menggeleng.


“Kapan-kapan sempatkan waktumu untuk berkunjung ke rumah Sha, rumah kami akan selalu terbuka untuk kamu sayang”


“Insya Allah Mih”


“Atau bagaimana jika besok malam kamu datang ke rumah Mamih, kita makan malam bersama di rumah, Mamih sangat rindu dengan kebersamaan kita dulu Sha”


“Besok malam?”