SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Briyan Pembunuhnya


Suara derit resleting yang berasal dari koper besar di hadapan seorang pria seolah menjadi musik pengiring akan kepulangannya, matanya sibuk memindai detail setiap sudut ruangan, memastikan sekali lagi semua barang yang dibutuhkannya sudah masuk ke dalamnya, terkemas rapi tanpa ada yang ketinggalan.


“Yang teliti Bry, jangan sampai ada yang ketinggalan” Mamih kembali mengingatkan putra sulungnya.


Beberapa hari di rawat di rumah sakit, kini Briyan sudah berada di flatnya, memutuskan untuk berhenti kuliah di negara impiannya dan pulang ke tanah air, melanjutkan mimpinya yang tertunda disana.


Ada rasa kecewa dalam hati kala Ia memutuskan hal sebesar ini, namun ... kini rasa bersalah jauh lebih mendominasi, ingatannya sudah kembali, semua hal tentang Asha Briyan sudah mengingatnya, rasa penyesalan itu kian merambat di hatinya.


“Sha, tunggu aku”


Briyan menggumam dengan menyeret kopernya melewati lorong untuk menuju bandara, ini adalah keputusannya, memperjuangkan Asha yang sudah tidak ada kabarnya, Briyan tahu ini tidak akan mudah baginya, memulai semuanya dari awal, menjangkau hati yang pernah dilukainya, biasanya Asha akan mudah luluh jika itu mengenai Briyan, namun kini setelah semua perlakuannya, akankah Asha bersikap masih sama? Briyan dilema.


Beberapa waktu kemudian, Briyan, Mamih dan Papih sudah tiba di bandara, mereka tengah menunggu keberangkatan pesawat di sebuah kursi tunggu, masih ada waktu beberapa saat lagi, di waktu itu Briyan gunakan untuk membuka ponselnya, yang beberapa hari ini tidak dimainkannya, terlalu lelah hingga Briyan tidak sempat menyentuhnya, terlebih kini ponselnya terdengar senyap tanpa teror telepon dan pesan dari Asha.


Mata Briyan fokus menatap layar, sementara jarinya sibuk men scroll pesan demi pesan yang tertera, dan di detik berikutnya, tiba-tiba mata Briyan kini berair kala membaca sebuah pesan yang sedari lama selalu diabaikannya, Briyan menghela napas penuh dengan rasa sakit. Tidak pernah membalas pesannya sama sekali, membuat Asha menjadikan ruangan pesan itu sebagai buku hariannya, berharap suatu hari nanti Briyan akan membacanya dan memahami dirinya. Usaha Asha berhasil, kini Briyan tengah mengusap air matanya membaca pesan demi pesan yang ditulis Asha.


‘Ayang? Sudah makan?’


‘Ayang, hari ini aku di jahili Anton, dia bilang aku tidak punya Ayah dan Ibu, jadi mereka bebas mengerjaiku, aku marah dan aku berhasil membungkam seluruh mulut mereka, aku hebat bukan?’


‘Ayang, hari ini aku ada tugas, maukah kamu membantuku?’


‘Ayang, aku butuh kamu, aku kesepian di rumah ini’


‘Ayang, jalan-jalan yuk, membosankan tinggal sebatang kara di rumah ini, ups ... ada Bi Inah, tapi Bi Inah sudah tua, dia gak asyik, he’


‘Kapan-kapan, kamu balas pesanku Ayang, plisss’


‘Aku sakit, kamu gak mau jenguk aku?’


‘Aku memiliki suami, namun aku tidak bisa menyentuhnya. Aku memiliki suami, namun aku tidak bisa menggapai hatinya, dia lebih memilih perempuan lain dibanding aku, istrinya sendiri, tapi tak apa, aku mencintainya dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu, besok kamu akan mencintaiku, aku yakin itu’


‘Hari ini ada yang mengajakku berkenalan, dia pria tampan, tidakkah kamu merasa cemburu?’


‘Aiiihhh ... adakah seorang istri yang lebih menyedihkan selain aku?’


Briyan memejamkan matanya erat, segala bayangan Asha terus saling berkelebat.


“Maafin aku Sha”


***


“Asha, Mamah dan Papah hanya pergi sebentar, nanti kami akan kembali” suara itu terdengar terbata-bata, malah hampir tercekat, Asha hanya bisa menatap perempuan yang tergolek lemah dihadapannya dengan tatapan kosong.


“Jaga diri kamu baik-baik, Mamah dan Papah sayang Asha, kami akan segera kembali” suara perempuan itu kian melemah, seiring dengan bunyi suara benda di sampingnya yang memekik, lalu tanda di layar yang awalnya jigjag kini menjadi lurus.


Asha terdiam disampingnya, masih teringat jelas dibenaknya, seorang pria yang telah menusuk perut Ibunya, hingga sang Ibu mengalami pendarahan hebat karena terlambatnya pertolongan. Lalu matanya melirik pada pria yang paling dicintainya, sang Ayah kini juga tengah tergolek lemah, tidak membuka matanya sama sekali, tusukan pisau belati itu bagaikan bayangan kelam yang akan selalu menghantuinya.


“Tidak! Mamah dan Papah jangan pergi! Jangan tinggalin Asha sendiri!” gadis itu berteriak histeris, lalu sang Om datang dengan tergesa, memeluk keponakan tersayangnya dengan air mata yang berderai, Ia tahu jika ini adalah akhir dari sang Kakak juga iparnya.


“Kalian tenang saja, aku akan menjaga Berliana” bisiknya pelan.


“Jangan sentuh!” gadis itu semakin histeris, kala tangan sang paman mulai menyentuhnya untuk memeluknya.


Asha mengalami gangguan psikis yang cukup hebat, dia mengalami trauma kala melihat kedua orang tuanya dibunuh di hadapannya, dia juga trauma dengan sentuhan pria dewasa, karena hampir saja gadis itu dilecehkan.


“Berliana, ini Om” Hans mendekat untuk menggapai keponakannya.


“Tidak! Kamu jahat!” Asha memejamkan matanya, tubuhnya bergetar hebat.


“Semua ini gara-gara Briyan! Dia yang udah buat Papah dan Mamah pergi! Dia juga yang buat pria itu membuka baju Asha! Asha gak suka!” lengkingan suaranya kian mmekikan telinga, tubuhnya terkulai dilantai, lalu kakinya mulai mengejang, gadis itu jiwanya mulai terguncang.


“Aku benci Briyan!”


“Dia pembunuh!”


“Saat kamu mendengar angka tiga, maka kamu akan terbangun” seorang perempuan hampir paruh baya tengah terduduk di depan seorang gadis muda, menatapnya dengan wajah penuh konsentrasi tinggi, mengamangkan sebuah benda di hadapan wajah gadis yang tengah tertidur.


Asha terlihat begitu gelisah dalam tidurnya, keringat sudah mulai mengalir di dahinya, dahinya mengernyit sarat akan ketakutan, entah apa yang dia lakukan di alam bawah sadarnya.


“Satu ...”


“Dua ...”


“Tiga ...”


Mata Asha terbuka, napasnya memburu, keringat dingin membanjiri tubuhnya kini, matanya memindai dengan bringas pada sekitarnya, matanya menangkap sosok perempuan yang tengah memindainya.


“Pembunuh!”


Gigi Asha gemeletuk, matanya menatap nyalang, air mata luruh di pipinya.


“Dia pembunuhnya!” Asha mencengkram kepalanya yang terasa begitu mencengkram.


“Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja” dokter mendekat menenangkan Asha.


“Dia membunuh Mamah dan Papah, dan ... dan dia ...” napas Asha tercekat, dia seolah tak mampu mengatakan kata selanjutnya.


“Dan apa? Apa yang kamu lihat?” dokter bertanya dengan raut penasaran.


“Dia yang membuat aku hampir dilecehkan” ucapnya yakin.


“Yakin dengan apa yang kamu lihat?” dokter bertanya dengan mengerutkan dahinya, ingatan Asha bisa jadi begitu random, Asha tidak akan langsung mengingat semuanya, dokter begitu khawatir akan mental Asha sekarang.


“Hmh, dia pembunuh kedua orang tuaku” Asha mengangguk yakin.


“Baiklah sekarang istirahat dulu, kamu butuh istirahat untuk kembali melakukan teraphy selanjutnya” dokter tersenyum, menenangkan Asha, lalu menyodorkan segelas air mineral padanya.


“Jangan terlalu dipikirkan, bisa saja semua hanya tipuan ingatanmu, kamu butuh menyalahkan seseorang untuk menghilangkan kecewa dan rasa sakitmu, jangan sampai kamu menyalahkan orang yang tidak tepat” dokter itu menasehati Asha yang kini tengah menatapnya kosong setelah beberapa saat tadi.


“Aku melihatnya, Briyan ... dia pembunuhnya!”


Seketika mata Asha menggelap oleh amarah.