SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Aku Mencintai Kamu Asha


‘Ceraikan Asha atau foto-foto ini akan aku beritahukan pada Asha, dan Asha akan semakin membencimu!’


Chat berisi ancaman itu berasal dari nomor Om Hans, rupanya pria paruh baya itu tidak main-main dengan ucapannya.


‘Kamu sudah terlalu banyak menyakiti Berliana, aku fikir rupanya nyalimu cukup besar juga, untuk tetap mempertahankan Asha! Tidak tahu diri!’


Kembali Briyan menghela napas berat kala membaca pesan demi pesan yang sudah enggan untuk Briyan balas, Briyan hanya membacanya, lantas melempar ponselnya ke hadapannya.


Beberapa gelas minuman beralkohol sudah berhasil di tenggaknya, hingga membuat kepalanya pengar, dan pusing melanda. Beberapa perempuan penggoda mulai menghampiri pria muda tersebut, Briyan hanya bisa mengerang lalu meracau tidak jelas. Setelahnya tangan Briyan aktif menyingkirkan segala godaan yang kini sudah berani menyentuh tubuhnya. Di antara kesadaran yang masih tersisa, Briyan segera keluar dari dalam tempat haram tersebut, berjalan sempoyongan meninggalkan mobilnya di tempat parkir, lalu berjalan kaki dengan tubuh limbung, kini tujuannya hanya satu yaitu rumah Asha.


“Sha, kamu bilang kamu cinta aku, tapi kok kamu ninggalin aku?”


“Harusnya, kamu bisa lebih sabar ... sedikiiitttt lagi” tangan Briyan memperagakan ukuran jari sedikit. Sesekali pria itu tertawa terbahak, lalu menangis meraung.


“Aku gak pernah bermaksud buat membunuh Papah kamu Sha, sungguh! Hal itu adalah hal yang paling menakutkan bagiku sekarang kala aku harus mengingatnya, maafin aku Sha, maaf!”


Bruk!


Briyan terjatuh tersungkur, lututnya berdarah, namun karena sedang berada di bawah sadar, Briyan tidak merasakan sakit apapun, dia kembali bangun lalu melanjutkan langkahnya.


“Ini! Mata ini! Aku lebih baik buta Sha, daripada harus menanggung semua beban ini sekarang sendirian” Briyan kembali menangis sembari memukuli matanya dengan kesal.


Banyak orang yang berjalan melewati Briyan malam ini, pandangan mereka menyiratkan tatapan aneh dan iba pada Briyan yang kini tengah meracau tidak jelas sendirian, dengan keadaan kacau balau tidak karuan.


Briyan terus berjalan sembari meracau, hingga tiba di sebuah rumah dengan ukuran yang cukup mewah dan megah, Briyan mengerutkan keningnya kala bayangan rumah itu menjadi banyak dalam penglihatannya, jarinya aktif berhitung, sesekali dia tertawa terbahak.


“Sha! Keluar kamu Sha! Kita perlu bicara!” teriak Briyan sekuat tenaga, suaranya yang menggelegar memecah keheningan di malam yang sunyi, membuat penghuni yang berada di rumah tersebut terbangun, lalu mengintip keadaan keluar rumah.


“Aku gak pernah berniat bunuh orangtua kamu Sha! Aku juga takuutt Sha! Aku juga trauma dengan semua bayangan itu!”


“Aku mau minta maaf kalau aku pernah selingkuh dari kamu Sha! Tapi aku sudah menyadarinya! Maaf Sha! Maaf! Aku gak akan ulangi lagi!” Briyan kembali meneteskan air matanya, namun seketika matanya berbinar kala melihat ada bayangan buram yang tengah menatapnya dari balkon lantai dua yang diyakini kamar Asha berada.


“Aku cinta kamu Sha! Aku sayang kamu! Aku cemburu kala melihatmu tengah bersama lelaki sialan itu Sha! Please! Buka pintunya Sha!” Briyan memukuli pagar besi yang menjulang tinggi di hadapannya, sesekali Briyan kembali terbahak seolah ada hal lucu di hadapannya.


“Sha! Buka Sha!” Briyan terus menggedor gerbang tinggi tersebut, sementara seorang gadis yang tengah melihatnya di atas sana hanya bisa menatapnya dengan linangan air mata yang tak tertahankan. Antara amarah, kecewa, juga cinta masih membaur menjadi satu di hatinya.


***


Kicauan burung di pagi hari menyadarkan seorang pria muda yang masih terbaring lemah di ranjangnya, matanya perlahan mulai terbuka seiring dengan cahaya masuk yang menusuk retinanya, perlahan kesadarannya pulih kala matanya mengedar menatapi seisi ruangan yang sangat dikenalnya. Kepalanya terasa berat, pusing melanda, pandangannya masih agak sedikit kabur.


“Bry ... sudah sadar kamu nak?” seorang perempuan cantik dengan usianya yang sudah matang tersenyum lembut ke arahnya, tangannya mengusap kepala Briyan dengan sayang.


“Mamih?” Briyan mengerutkan keningnya, kala kesadarannya kembali berkelana pada tadi malam, terakhir dia ingat, jika dia pergi ke sebuah klub malam, lalu minum banyak minuman beralkohol.


“Hmh ... ini Mamih, kamu semalaman mabuk Bry” Mamih menatap Briyan dengan tatapan kecewa, namun tak kuasa mengatakannya karena tahu persis beban apa yang ditanggung oleh putranya.


“Semalam Briyan ...”


Briyan mengerutkan keningnya, kepalanya berusaha mengingat kembali sentuhan jemari lentik yang sangat di rinduinya, apa dia terlalu mabuk? Hingga merasakan sentuhan lembut dari Asha? Hah ... rupanya Briyan menjadi sedikit gila karena mabuk.


“Satpam di rumah Asha?” beo Briyan masih berusaha mengingat, sentuhan semalam Briyan begitu merasakannya, sentuhan lembut tangan seorang perempuan, bukan sentuhan kasar dari tangan seorang laki-laki.


“Iya” Mamih mengangguk menatap putranya yang terlihat linglung.


“Duh ...” Briyan meringis kala kakinya melakukan pergerakan, matanya menatap lututnya yang sudah di perban, pertanda Briyan memiliki luka.


“Kamu semalam terluka, Mang Diman yang sudah mengobati lukamu” seolah mengetahui apa yang Briyan fikirkan Mamih menjelaskan tanpa diminta.


Lagi-lagi Briyan mengerutkan keningnya, sentuhan itu ... ah! Briyan pasti sudah gila! Ini pertama kalinya dia minum minuman beralkohol, apa Briyan bisa setidak sadar itu? Hingga tidak bisa membedakan mana tangan Asha dan mana tangan Mang Diman? Lagi pula, kenapa Asha menjadi setidak peduli itu, kenapa bukan Asha saja yang mengobati semua lukanya?.


***


Sementara itu, di sebuah kamar yang berbeda, Asha tengah duduk di depan meja riasnya, ingatannya kembali pada kejadian semalam, dimana dia memutuskan untuk menghampiri Briyan, memastikan jika hatinya sudah tidak merasakan perasaan apapun lagi pada suami yang sudah hampir jadi mantan tersebut.


“Briyan! Bangun! Jangan membuat keributan di depan rumahku!” suara Asha terdengar dingin di malam sunyi semalam.


“Sha? Ini kamu Sha? Aku minta maaf Sha” Briyan kembali meneteskan air matanya, tangannya berusaha menggapai tubuh Asha, namun selalu gagal, karena pandangan Briyan yang kabur, dan Asha yang terus menghindar.


“Sha, aku mencintai kamu”


Pengakuan ini, adalah pengakuan yang Asha tunggu sedari dulu, namun kini ... hati Asha tidak lagi seberdebar dulu, rasanya hambar dan hampa, Asha menatap pria yang tengah limbung di hadapannya dengan tatapan bingung.


“Boleh katakan sekali lagi?” Asha menyentuh bahu Briyan, menatapnya dengan derai air mata tak tertahankan. Meraih ponselnya lalu menekan tombol ‘merekam’.


“Dengarkan ini dengan baik! Hey! Aku mencintai kamu, Berliana Asha, istriku”


Bruk!


Briyan terjatuh setelah mengatakan kata itu, Briyan kehilangan kesadarannya.


“Aku akan menjadi pengkhianat jika aku masih mencintaimu, kedua orang tuaku meninggal dunia karena perantaramu, dan aku tidak akan pernah mungkin mengkhianati Papah dan Mamah, membencimu adalah keputusan yang benar” Asha membulatkan tekadnya kuat.


“Mang Diman! Bawa Briyan ke teras, kita obati dulu lukanya!”


Mang Diman menghampiri Asha dengan tergopoh, menyeret tubuh Briyan, menempatkannya di teras rumah, Asha sigap mengobati luka di kaki Briyan hingga selesai.


“Mang, anterin Briyan ke rumahnya” perintah Asha pada Mang Diman, kemudian Asha beranjak kembali menuju rumahnya, menutup pintu lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu, mengusap dadanya perlahan, merasai betapa hatinya begitu pilu.


“Aku membencimu Briyan!”


“Aku mencintai kamu, Berliana Asha, istriku”


Suara rekaman itu kembali terdengar, Asha tergugu dalam pilu. Tanpa mereka sadari keduanya sama-sama terluka karena satu rasa yang sama.