SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Tanpa di Sadari


Mentari sore ini terlihat begitu cantik, bertengger indah di langit negri asing yang kini tanahnya tengah Asha pijaki, banyak orang berlalu lalang menghalangi pandangan Asha yang kini tengah memperhatikan sepasang manusia yang tengah tertawa bahagia.


Air mata yang sedari tadi mengalir kini sudah surut, tangan yang awalnya bergetar hebat, kini sudah mulai terkulai lemah dengan sendirinya, namun ... dadanya masih saja bertalu hebat, jeritan hatinya masih saja terdengar, rasa sakit itu nyata, lukanya kian menganga.


Asha memutuskan untuk mengikuti kegiatan mereka hari ini, mengikuti mereka dan memperhatikan mereka dari jarak aman, Asha tersenyum miris kala melihat Briyan memperlakukan wanita di sampingnya dengan begitu manis.


Tangan itu seharusnya membelai pipinya, bukan membelai pipi Raisya, perempuan manja yang sedari dulu menjadi musuh bebuyutan Asha, wanita medusa itu yang sudah membuat hati Asha hancur berulangkali, tapi ... ini bukan sepenuhnya salah Raisya, bisa jadi Raisya tidak pernah tahu jika Briyan sudah menikah dengan Asha.


Senyuman lebar itu adalah senyuman yang selalu ingin Asha lihat kala Asha menemui Briyan, namun senyum itu ternyata kini dipersembahkan hanya kepada Raisya, batin Asha kembali menjerit, jadi selama ini Raisya mengikuti Briyan? Mereka tinggal bersama-sama? Hubungan mereka sudah sejauh mana? Apa Briyan dan Raisya sudah tidur bersama? Jika iya itu artinya sudah tidak ada lagi yang tersisa dari seorang Briyan untuk Asha.


‘Briyan ... kamu pernah menjadi bagian dari hidupku, aku sangat mencintaimu, setidaknya kenangan itulah yang tersisa di hatiku sekarang’ batin Asha nelangsa.


Tangan Asha kembali bergetar, dengan sekuat tenaga gadis itu meraih ponselnya, mendial nomor pria yang kini masih dalam pengawasannya, lalu menempelkan ponsel di telinganya. Panggilan terhubung, terlihat Briyan disana tengah meraba ponselnya dari dalam saku celananya, meliriknya sekilas, lalu terlihat menggeser tombol, hingga nada tolakan langsung didengar oleh Asha.


Pria itu jelas menolak Asha, dia lebih suka kembali tertawa dengan Raisya yang kini masih bergelayut manja di lengannya.


Satu tahun tidak bertemu, Briyan, pria itu terlihat makin tampan, Asha tidak bisa memungkiri semua itu, Briyan terlihat jauh lebih dewasa dari sebelumnya.


Ting!


Satu pesan Asha terima, gadis itu membacanya dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca.


‘Sorry Sha, Gue lagi belajar kelompok, gak enak ninggalin temen-temen yang lain’


Air mata Asha lolos begitu saja, sekian lama dia dibohongi, sekian lama ia hanya mencintai seorang diri, bahkan Asha sadar jika Briyan dengan jelas sudah menolaknya, lalu apakah salah Briyan juga jika pria itu membohonginya?


Kepala Asha menggeleng kuat, ini semua salahnya, ini semua karena perbuatannya, Asha yang memaksa untuk tetap tinggal disisi Briyan, Asha semakin frustasi dengan segala pemikirannya, hingga kepalanya terasa berdenyut nyeri.


Gadis dengan rok selutut itu menjatuhkan dirinya di tanah, air matanya berderai kala mengingat setiap rentetan kenangannya bersama Briyan.


‘Aku suka sama Kak Briyan’


‘Kak Briyan mau kan nikah sama Asha?’


‘Kata Mamah dan Papah aku harus nikah sama Kak Briyan’


‘Aku cinta sama Kak Briyan, sangat’


‘Kak Briyan harus nikahin aku! Kalau gak aku mau mati aja!’


‘Gak apa-apa Kak Briyan mau bersikap seperti apapun, asal Kak Briyan gak ninggalin Asha juga seperti Mamah dan Papah’


‘Ayang! Karena kita sudah menikah, aku mau manggil Ayang aja ya? Biar seperti Mamah dan Papah’


“AAARRRGGGHHH!!” Asha menjerit sembari menutupi kedua telinganya, dada gadis itu terasa begitu sesak, jeritannya membuat perhatian orang-orang yang berlalu lalang menoleh kepadanya, saling melirik dengan temannya lalu memilih kembali acuh, meninggalkan Asha seorang diri dalam keterpurukannya.


‘Gue gak suka sama Lo!’


‘Gue gak peduli sama Nyokap Bokap Lo! Gue benci sama Lo!’


‘Gue nikahin Lo terpaksa, karena keluarga Gue mau bangkrut!’


‘Jangan panggil Gue Ayang! Gue gak suka! Gue risih!’


“Semuanya salahku! Asha yang bodoh!!!” Asha memukuli kepalanya sendiri, gadis itu terus menyalahkan dirinya sendiri selama beberapa saat, lalu tiba-tiba tubuhnya yang hampir terhuyung itu bangkit, lalu berjalan menuju tempat Briyan, ada hal yang harus dia selesaikan, sebelum Ia memutuskan hal besar untuk hidupnya.


“Pada akhirnya, kamu juga akan pergi dari hidupku Briyan ...” Asha tertawa perih.


***


Briyan yang tengah menikmati acara liburannya bersama Raisya harus terganggu perhatiannya pada ponsel yang baru saja dia masukan kedalam saku bajunya selepas membalas chat pada Asha, pria itu kembali menikmati waktunya berdua bersama Raisya.


Terlihat disana sang Mamih yang menghubungi, dengan dahi mengerut Briyan merasa bingung, kenapa juga sang Mamih menelponnya diwaktu seperti ini? Tidak biasanya.


“Hallo ...” Briyan mengangkat telpon dari sang Mamih.


“Briyan, apa Asha sudah tiba disana?” terdengar suara Mamih to the point, nada suaranya terdengar begitu khawatir.


“Asha?” Briyan mengerutkan keningnya dalam.


“Ya, Asha datang menemuimu seorang diri, harusnya sekarang dia sudah tiba disana, tapi sampai sekarang ponselnya tidak bisa dihubungi” jelas Mamih panjang lebar.


“Apa?” mata Briyan terbelalak kaget, hingga membuat Raisya yang tengah asyik berfoto menoleh pada Briyan, dengan kaku Briyan segera menjauh dari Raisya, memberi kode jika dia akan mengangkat telepon, Raisya mengangguk sembari tersenyum, lalu asyik kembali dengan kegiatannya.


“Memang Asha tidak mengatakan padamu akan pergi kesana? Ini pertama kalinya Asha pergi kesana seorang diri Briyan, apa mungkin Asha nyasar? Bagaimana ini?” suara Mamih kian panik.


“Kenapa Asha kesini? Bukankah dia sekolah?” Briyan menggaruk keningnya semakin bingung,


“Loh? Kamu ini bagaimana Briyan? Memangnya Asha tidak cerita padamu? Asha sudah lulus sekolah beberapa hari yang lalu, bukankah hubungan kalian akhir-akhir ini menjadi dekat? Asha tahu segala jadwal dan aktivitasmu, tapi kamu tidak tahu bahkan istrimu sudah lulus sekolah?”


Oh tidak! Briyan sungguh lupa, sebelumnya Asha pernah mengatakan jika Asha sedang sibuk belajar untuk ujian, tapi kenapa Briyan tidak ingat sama sekali, Asha selalu memberinya semangat ketika dia melakukan aktivitas apapun, tapi kenapa Briyan tidak ingat sesuatu apapun tentang Asha?


Briyan mengacak rambutnya frustasi, lalu dimana Asha sekarang?


Sudah lewat beberapa jam, harusnya gadis itu sudah tiba di tempat Briyan.


Tapi, tunggu! Briyan sempat membaca kembali pesan dari Asha beberapa waktu yang lalu, Asha berusaha menelponnya, tapi Briyan mengabaikannya, dan bahkan membohonginya, bagaimana ini? Apa Asha sudah melihatnya bersama Raisya?


Seketika Briyan dilanda panik, dengan segera pria itu berlari sekuat tenaga menuju tempat tinggalnya, berharap jika Asha sudah berada disana menunggunya.


Tanpa Briyan sadari, ada satu lagi hati wanita yang telah disakitinya. Raisya, gadis itu mendengar seluruh percakapan Briyan dan sang Mamih.