SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Ingatan Buruk


Harum aroma pagi dengan udara yang begitu segar menguar dari indra penciuman, Asha memejamkan matanya sambil menghirup udara pagi yang terasa menyejukkan, sedikit ketenangan menelusup dalam rongga dadanya, jauh dari hingar bingar membuatnya lebih bisa santai.


Disinilah Asha sekarang, menikmati segala keindahan alam yang Tuhan suguhkan, melarikan diri dari kenyataan yang membuat hatinya sedemikian letih, kini Ia tak sanggup lagi bertemu dengan pria yang sebelumnya pernah dicintainya, bahkan untuk menatap matanya, rasanya dada Asha begitu perih.


Sejenak, gadis itu butuh menepi, menenangkan hati, menyadarkan pikiran, agar ketika Ia memutuskan untuk kembali, Asha sudah siap dengan pribadi baru juga lembaran hidup yang baru.


“Aku mengingat sesuatu, tapi entah apa, bayangan itu terasa buram bahkan aku sulit mengingatnya kembali, tapi kepalaku terasa diremas kuat saat aku berusaha untuk terus mengingatnya”


Asha mengungkapkan apa yang dia rasa pada perempuan paruh baya seusia Mamih mertuanya.


Perempuan itu tengah duduk di sisi ranjang, sementara Asha kini sudah duduk di sebuah kursi sofa, menyelonjorkan kakinya hingga terasa nyaman.


“Apa yang Nona ingat?” tanyanya sambil tersenyum lembut.


“Aku mendengar ada teriakan Mamah, geraman Papah, juga ada ...” Asha menghentikan ucapannya, lalu matanya terpejam mengingat lebih jauh lagi.


“Jangan dipaksakan jika tidak ingat, dan akan lebih baik jika Nona tidak mengingatnya” ucapnya kemudian, membuat Asha menatapnya bingung.


Seketika mata Asha membola, kala bayangan buram itu sempat terlihat nyata “Darah! Aku melihat genangan darah yang membasahi bajuku, dan ... awwwhhh ...” Asha kembali memegang kepalanya erat, matanya sudah berair menahan sakit.


“Jangan dipaksakan! Itu akan lebih menyakitimu Nona” dokter mendekat, memegang kedua bahu Asha untuk menenangkan.


“Tidak! Semenjak kemarin, bayangan itu semakin kuat, aku seolah sedang berada di situasi yang begitu buruk, tapi aku tidak ingat apapun” Asha meringis.


“Bisa jadi itu karena rasa simpati, mungkin Nona terlalu peduli pada orang lain yang mengalami hal buruk, lalu Nona merasakan sepertinya Nona juga pernah melalui peristiwa yang sama” dokter mensugesti Asha kembali.


“Tidak! Aku yakin itu aku, tapi kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali?” Asha bertanya dengan raut penasaran yang begitu ketara.


“Tenang Nona, santai, semua akan baik-baik saja, Nona adalah perempuan yang sangat kuat” dokter tersenyum menatap Asha yang masih dengan raut kebingungan.


“Benarkah? Semua baik-baik saja?” Asha menatap perempuan di hadapannya dengan raut gelisah.


“Semua baik-baik saja, Nona lebih kuat dari apapun, semua bisa dilewati dengan mudah” ucapnya lagi tenang dan yakin.


“Yaaaa, aku mulai melihat bayangan buruk itu semenjak aku datang ketempat ini, dan melewati jalanan sunyi sebelum aku menuju kesini, aku rasa tempat ini menyimpan sesuatu? Apa itu alasan kenapa Mamih melarangku untuk mendatangi tempat ini?”


“Tidak Nona, mungkin Nona hanya kelelahan saja, Nona baru saja patah hati, dan hal itu membuat Nona memikirkan hal yang tidak-tidak” dokter kembali meyakinkan, mencoba menaikan selimut tipis yang kini sudah menutupi sebagian tubuh Asha, agar gadis itu tidak terlalu menggigil dengan cuaca yang cukup dingin.


“Patah hati? Hhhh ... aku jadi kembali mengingat laki-laki pengkhianat itu” Asha kembali mengepalkan tangannya kuat.


“Tapi, tunggu! Memang apa yang harus ku kenang dari hubunganku bersama suami yang tidak setia itu? Tidak ada, selain kebodohanku yang berlarut-larut. Membiarkan hatiku jatuh terlalu dalam, hingga aku terluka berdarah-darah.”


“Aku membencinya! Membencinya setengah mati!”


Seketika fikiran Asha kembali teralihkan pada pengkhianatan Briyan, tangan Asha mengepal, giginya gemelatuk menahan amarah.


“Nona, minum ini, ini adalah multivitamin yang bisa membuat istirahatmu menjadi tenang” dokter menyerahkan beberapa kaplet obat, hingga Asha menenggaknya, dalam hitungan beberapa menit, Asha kembali tenang dalam tidurnya.


“Ya, Tuan?” dokter tersebut mengangkat sebuah panggilan masuk pada ponselnya.


“Bagaimana keadaan keponakanku?” tanya pria di seberang sana dengan nada cemas.


“Sekarang lebih baik dari sebelumnya, hanya saja ...” dokter tersebut menggantung ucapannya.


“Kenapa? Ada apa dengan Berliana?” tanya-nya dengan nada panik.


“Ingatan Nona Asha sekarang sedikit demi sedikit sudah kembali, Nona Asha sudah mengingat bayangan buram mengenai kenangan pahitnya bersama kedua orangtuanya” jelas perempuan berambut panjang tersebut sembari menghela napas panjang.


“Bagaimana bisa? Bukankah kamu sudah mengunci ingatan Berliana mengenai kejadian itu?” makin panik lah suara di ujung sana.


“Ya, tapi rupanya ingatan itu kembali, meski hanya separuh-separuh dan masih buram, itu bisa saja terjadi Tuan, jika Nona terus tertekan, stres berlebihan, dan mencoba berpikir dengan keras, Nona Asha juga sekarang kembali ke tempat kejadian itu pernah terjadi, hingga memicu ingatan itu bisa saja kembali” jelas dokter tersebut kemudian.


“Lalu bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika kita membuka saja ingatan Asha kembali? Agar dia mengingat kebenaran itu, apa itu akan baik untuknya?”


“Jika kita membuka kembali ingatan Nona Asha, maka resikonya dia akan mengalami rasa sakit melebihi sakitnya kala dia melihat semua kejadian itu, itu akan lebih menyakiti Nona Asha, saya khawatir Nona Asha tidak akan sanggup menahannya” ucapan dokter membuat pria disebrang sana mengacak rambutnya dengan frustasi.


***


“Akhirnya kamu datang juga anak muda” tatapan sinis dilayangkan dari seorang pria menuju paruh baya, usianya kira-kira di bawah Papih Briyan, namun perawakannya tetap terlihat segar dan awet muda.


“Om Hans?” Briyan terbelalak, kala menyadari ternyata orang yang ditemuinya ternyata paman dari Asha, istrinya.


“Ya, ini aku” pria yang dipanggil Om Hans itu melirik dengan sebelah matanya, membiarkan pemuda tampan di hadapannya membenahi posisi duduknya dengan nyaman.


Setelahnya, kini mereka sudah duduk berhadap-hadapan, saling memandang dengan melemparkan pandangan yang sulit diartikan.


“Matamu begitu indah”


Om Hans memulai membuka percakapan, menatap mata Briyan dengan begitu tajam, membuat dahi Briyan mengerut bingung.


“Maksudnya Om?” tanya Briyan penasaran, kata-kata laki-laki di hadapannya ini, Briyan yakin bukan hanya sekedar basa-basi.


“Kamu tidak mengingatnya Briyan?” tanya Om Hans dengan raut mengejek, membuat Briyan semakin bingung dibuatnya.


“Mengingat? Tentang apa Om?” Briyan semakin bertanya-tanya.


“Bagaimana kamu memiliki mata seindah itu? Bagaimana sekarang kamu bisa melihat dunia, berusaha mewujudkan mimpimu, bagaimana kamu bisa melihat perempuan cantik lainnya, hingga berani mengkhianati keponakanku, apa kamu tidak mengingat apapun?” Om Hans mengintimidasi, membuat Briyan mengerutkan keningnya dalam, hingga fikirannya jauh berkelana, semakin banyak mengingat tentang masa lalu, semakin kepala Briyan terasa sakit.


“M maksud Om apa?” air mata Briyan hampir mengalir, tangannya mencengkram erat kepalanya yang terasa kian sakit.


“Maksudku adalah ...”