
Setelah hari kemarin Asha mengadakan pembukaan butik dan pengunjungnya lumayan banyak, hari ini butik kembali didatangi oleh banyak pelanggan baru, kekuatan sosial media di era sekarang memang luar biasa, hanya dengan iming-iming discount yang cukup menggiurkan, sudah bisa menarik beberapa pelanggan untuk berdatangan ke butik Asha, belum lagi beberapa pelanggan datang karena butik tersebut terlihat ramai hingga mengundang penasaran, sejatinya banyak orang yang penasaran lalu mampir hanya karena toko tersebut terlihat ramai, padahal belum tentu juga isi toko tersebut sesuai dengan kriteria mereka. Beberapa potong pakaian juga laris manis di toko online shop milik Asha, hingga Asha dan team mengalami kerepotan yang cukup signifikan.
“Panas banget, capek juga” seorang pegawai Asha yang sedari tadi terlihat sibuk mondar-mandir terlihat mengipas-ngipasi wajahnya yang memerah karena udara yang sedikit sesak karena banyaknya pelanggan, ruko sekecil itu rupanya tidak cukup menampung puluhan orang sekaligus, mereka merasa kewalahan, belum lagi keinginan pelanggan yang beraneka ragam, membuat mereka kadang ingin memaki, namun demi etika, mereka tetap menjaga diri, agar jualannya tetap laris manis.
“Istirahat dulu Mbak, biar saya yang gantikan” Asha datang dengan senyuman tipisnya.
“Eh, Kak Asha jangan ...” pegawai tersebut mengibaskan tangannya menolak, namun Asha segera berlalu, itu artinya bos mereka tidak ingin dibantah, Asha segera bertegur sapa dengan pelanggan, menanyakan apa yang mereka butuhkan. Dengan sabar Asha melayani mereka satu persatu.
“Baju ini bisa discount Mbak?” sebuah pertanyaan berasal dari suara pria dibelakang Asha, Asha segera memutar tubuh, memasang senyum ramah dan bersiap menjawabnya.
“Oh, ya ...” suara Asha menggantung, kala Asha menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, dengan segera Asha kembali memutar tubuhnya, menghindari sosok yang sedari lima tahun lalu ingin Ia hindari.
“Jadi, gimana Mbak? Bisa kurang?” suara itu kian mendekat, membuat tubuh Asha bergetar, jantung Asha berdegup kencang, matanya terpejam berusaha meredam amarah.
“Pergi dari sini!” suara geraman Asha tertahan, matanya mengedar, takut jika salah satu pelanggan Asha melihat interaksi mereka.
“Kenapa kamu sangat tidak adil sekali? Kamu bersikap baik pada pelanggan yang lain, tapi bersikap buruk padaku, bukankah kita sama-sama pembeli?” pria itu tersenyum menyeringai, membuat Asha membulatkan tangannya kesal.
“Aku tidak membutuhkan pelanggan sepertimu! Briyan!” Asha bersiap memutar tubuh, ingin segera hilang dari pandangan mata pria menyebalkan seperti Briyan.
“O ya? Benarkah?” Briyan tersenyum mengejek, membuat Asha menghentikan langkahnya. Pandangannya mengedar pada beberapa pelanggan yang masih memenuhi butik, mereka berbelanja dengan cukup antusias.
“Ekhem! Pengumuman! Pengumuman! Butik ini ...”
“BRIYAN!!!”
Tak sadar Asha membentak Briyan kala Briyan menaikan suaranya, sehingga menarik perhatian beberapa pengunjung.
“Oh, tolong maafkan saya, rupanya teman saya ini sedang bercanda, jadi saya menanggapinya berlebihan, silahkan dilanjutkan belanjanya Ibu-Ibu” Asha memanggutkan kepalanya, berusaha tersenyum semanis mungkin, lalu segera memelototkan matanya pada Briyan yang kini tengah terkekeh geli.
“Apa maumu?” Asha bertanya dengan tangan dilipat di dada. Sungguh hari yang sangat menyebalkan bagi Asha, kenapa juga Briyan sang mantan suami mendatangi tempatnya, mengganggu Asha hingga mood Asha menjadi anjlok sedemikian rupa.
“Tidak ada, aku hanya ingin mengingatkan, Mamih meminta kamu untuk datang makan malam nanti malam, pukul tujuh, kamu mau pergi sendiri, atau mau aku jemput?” pertanyaan Briyan membuat Asha mengepalkan tangannya, menahan rasa jengkel hingga gigi Asha gemelatuk kesal.
“Sejak kapan kamu jadi seperhatian ini padaku?” Asha tersenyum sinis.
“Emmhh sejak dulu, tepatnya ...” Briyan mendekat, wajahnya mendekati telinga Asha, Asha yang kaget seketika mematung, matanya berulang kali mengedip.
“Sebelum kamu memohon pada Mamih dan Papih untuk aku bebaskan, tentunya kamu masih mengingatnya kan?”
Asha terdiam, bayangan kelam itu kembali mampir di kepalanya, bayangan kala Ia menangis, meminta, memohon, juga bersujud pada kedua mertuanya, agar Briyan mau membebaskannya dengan mudah, hari itu adalah hari paling berat dalam hidup Asha, tanpa Briyan tahu, apa yang telah terjadi pada Asha setelahnya.
“Aku tidak akan datang! Nanti aku akan menelpon Mamih kenapa aku tidak bisa datang” Asha memejamkan matanya” netranya hampir saja tidak bisa menahan lelehan bening yang sekian lama menjadi temannya.
“Oh, begitukah? Baiklah, aku akan menyampaikannya pada Mamih, akan ku sampaikan pada beliau jika Asha, sang calon menantu tidak ingin datang ke acara makan malam, padahal Mamih sudah menyiapkan banyak makanan kesukaannya, bangun di pagi buta, pergi ke pasar, masak dengan kedua tangannya sendiri, membersihkan rumah untuk menyambutnya, Papih juga begitu, bahkan Papih rela tidak masuk kerja, Papih sudah mandi sedari tadi untuk menyiapkan diri bertemu dengan calon mantu, lalu ...”
“Aku bukan calon menantu, tapi mantan menantu!” Asha berucap dengan berang, sementar Briyan masih dengan wajah santainya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
“Yaaaa, siapa tahu kamu akan menjadi menantu keluarga Alexander kembali, jodoh siapa yang tahu?” Briyan mengedikan kedua bahunya, bibirnya menyunggingkan senyuman menyebalkan bagi Asha.
“Briyan! Kamu gila?” Asha semakin berang.
“Ayaaaannngg, Ayang sudah makan belum?” dengan lugasnya Briyan menirukan gaya Asha beberapa tahun silam, membuat Asha jengkel dan ingin segera pergi dari pria menyebalkan dihadapannya.
“Sha!”
Asha mengerjap kaget, kala panggilan itu ditujukan padanya, Asha menoleh lalu membelalakan matanya kala menatap Abimanyu tengah berjalan menuju arahnya, sementara Briyan kembali terdiam, menatap pergerakan Abimanyu dengan santai.
“Hay, Bim ...” Asha menyapa dengan kikuk.
“Sha ... oh ada Briyan juga?” Abim menyapa dengan dahi mengkerut.
“Ya, kebetulan saya lewat sini, dan sengaja mampir, ada yang ingin saya beli” Briyan meraih sepotong baju yang menggantung di hadapannya, pura-pura serius melihatnya.
“Kebetulan sekali, pemilik butik ini adalah Asha, sedari tadi Asha menemani saya, dan banyak membantu saya, betulkan? Asha?”
Gigi Asha gemelatuk menahan amarah, melihat wajah menyebalkan dari Briyan.
“O ya?” Abim tersenyum ramah, lalu menatap Asha kembali.
“Ya” akhirnya Asha mengangguk, terpaksa mengalah sebelum Briyan mengatakan banyak hal aneh lagi.
“O ya Sha, gimana nanti malam? Jadi?” Abim bertanya, membuat Asha semakin dilanda panik dan bingung.
“Hah?” Asha melongo.
“Ya, nanti malam kamu sudah janji untuk makan malam denganku bukan?” Abim menagih janji diwaktu yang sangat tidak tepat, membuat Asha gelagapan.
“Ekhem! Asha ada janji nanti malam” Briyan tiba-tiba menengahi, membuat Abimanyu mengerutkan keningnya.
“Janji?” Abim melirik Asha dan Briyan bergantian, menatap penuh kecurigaan, mungkinkah kali ini Abim kembali kalah start?.
“Ya, tadi Asha sempat bercerita padaku” dengan percaya diri, Briyan membeberkan.
“Apa? Kapan?” Asha sungguh tidak tahan lagi dengan situasi ini.
“Tadi, belum lama kita berbincang, kenapa kamu sudah melupakannya?” Briyan menatap Asha dengan tatapan intimidasi, membuat Asha linglung dan bingung harus menjawab apa.