
‘Dis, temenin Gue nyari kontrakan baru buat butik Gue yok!’ melalui telepon Asha meminta pada sahabatnya tersebut.
‘Loh? Bukannya sudah dapat ya kontrakannya?’ di ujung sana Gendis mengerutkan keningnya, beberapa hari lalu, Asha memberitahunya sudah mendapatkan tempat yang cocok untuk butiknya, sebuah ruko yang berada di kawasan yang cukup strategis, namun tiba-tiba saja Asha memintanya untuk menemani kontrakan baru? Kenapa? Batin Gendis bertanya-tanya.
‘Tiba-tiba saja pemilik ruko membatalkan kontraknya, katanya ruko-nya mau dipakai anaknya untuk buka toko kue’ Asha menghela napasnya panjang, cukup sulit Asha mencari tempat yang strategis untuk membuka butiknya.
‘Oh, ya sudah, nanti kita cari lagi kontrakan seperti yang kamu mau Sha, aku siap nemenin kamu, mumpung Vidi sedang tugas kerja di luar kota’ Gendis cekikikan diujung sana, membuat Asha berdecak malas.
***
“Gila ya! Orang zaman sekarang pada gak komitmen banget sama janji, seenaknya aja main batalin!” Gendis menggerutu kala mereka baru saja akan berangkat mencari kontrakan baru, Asha sudah melihat beberapa referensi ruko yang akan di kontrakan dan siap huni melalui media sosialnya, Asha juga sekarang sudah membuka media sosial khusus untuk menjual brandnya sendiri, sementara produksi di lakukan kecil-kecilan oleh dirinya sendiri, hanya satu atau dua baju sebagai sampel, sembari Ia berjalan membuka tempat produksi yang lebih besar nanti.
“Ngomong-ngomong, Gue suka banget lihat baju model baru yang semalam Lo update di Ig” Gendis kembali berceloteh, melirik Asha yang kini tengah fokus menyetir.
“O ya?” Asha menanggapi datar seperti biasa, masalah membuat Asha merubah karakternya sendiri, jika dulu Asha adalah gadis periang yang begitu ceria, kini Asha terlihat seperti gadis yang dingin, sedikit ketus, juga datar. Perjalanan hidup mengubah hidup seorang Berliana Asha.
“Iya” Gendis mengangguk semangat.
“Oh ya Sha! Lo tahu gak? Kak Raisya sebentar lagi mau nikah lho” Gendis melirik Asha, menilik ekspresi sahabatnya tersebut.
“O ya?” Asha sedikit mengerutkan keningnya, ekspresinya tak terbaca.
“Iya, Lo juga di undang, undangannya ada di Gue, tapi Gue lupa bawa, Lo datang kan Sha?” Gendis bertanya.
“Entahlah ...” Asha mengedikan kedua bahunya acuh.
“Yah ... datanglah Sha, ngomong-ngomong Kak Raisya beruntung banget deh” Gendis mengerucutkan bibirnya, melipat tangannya di dada.
“Kenapa?” tanya Asha dengan datar.
“Dia nikah sama pengusaha muda, katanya kaya raya banget, tajir melintir” Gendis membelalakan matanya menatap Asha, sementara Asha masih diam enggan menanggapi.
“Iiiihhhh ... iri ... iri ... iri,” Gendis menggerakan kakinya kesal
“Kenapa harus iri, kan Lo juga udah punya Vidi” Asha melirik sahabatnya yang masih mengerucutkan bibirnya.
“Kabarnya Kak Raisya nikah dengan acara yang sangat megah, pokoknya pernikahannya itu dream wedding banget Sha, makanya kita wajib hadir”
“Pernikahan kamu juga dream wedding buat kamu sama Vidi kan? Gak usah iri Dis, tingkat kebahagiaan orang kan beda-beda, bisa jadi orang yang terlihat bahagia, justru mereka menyimpan luka, atau sebaliknya” mata Asha menerawang ke depan, teringat tentang dirinya sendiri.
Tidak ada yang kurang dari seorang Berlina Asha jika dilihat dari kacamata lahir, wajah cantik, harta melimpah, otak cerdas, namun ... siapa yang tahu tentang seberapa beratnya Asha menjalani hidup.
“Bersyukur Dis, Lo udah ketemu pasangan yang sayang sama Lo dan mau nerima apa adanya Lo” Asha kembali buka suara, membuat Gendis mencebik, niat hati Gendis hanya ingin mengajak Asha ghibah ria sembari mengisi keheningan yang terjadi, namun apa daya kalau Asha menganggap apa yang dikatakannya adalah sebuah keseriusan.
“Iya iya bu Ustadzah” Gendis terkikik, lalu melirik kembali penampilan Asha yang terlihat sederhana namun elegan, yang paling utama, kini Asha lebih cantik dengan jilbab yang dikenakannya.
***
“Ih gilaaaaa panas banget Sha! Mana masih belum dapet yang cocok lagi” Gendis mengipasi wajahnya dengan buku menu yang tersedia di sebuah kafe kala mereka memutuskan untuk makan siang bersama, lama muter-muter mencari kontrakan untuk butik Asha, membuat mereka kelaparan.
“Iya, ternyata sulit sekali mencari kontrakan yang strategis” Asha menundukkan kepalanya di atas meja, merasa lelah juga gerah.
“Asha dan ... Gendis?” Asha mengangkat wajahnya, begitupun dengan Gendis segera menoleh pada sumber suara.
“Siapa ya?” Gendis yang bertanya, menatap pria tampan di hadapannya yang tengah tersenyum lembut menatap mereka bergantian.
“Abimanyu ... teman sekelas kalian, pasti lupa ya?” pria itu mendaratkan bokongnya di salah satu kursi kosong di samping Asha.
“Bolehkan duduk disini?” tanyanya sembari tersenyum manis.
Asha kembali melirik memastikan, setelahnya hanya mengangguk malas, berbeda dengan Gendis, gadis itu terus memindai penampilan pria yang mengaku sebagai Abimanyu tersebut.
“Wait! Lo Abimanyu si cupu itu kan? Kok Lo sekarang banyak berubah sih? Kacamata Lo mana?” Gendis baru menyadari setelah sekian lama mengingat-ingat.
“Haha ... iya aku Abimanyu, ketua kelas kalian yang cupu itu” alih-alih marah, Abimanyu justru malah tergelak.
“Woooaaahhh ... gila! Si cupu sudah jadi suhu rupanya” Gendis terkekeh.
Abimanyu. Pria tampan dengan penampilan modern ala pria kekinian, tubuh atletis dengan rambut di tata rapi, rahang tegas juga memiliki aura bijaksana juga tegas, membuat kaum hawa yang melihatnya merasa terpesona, tak terkecuali Gendis yang sudah bersuami, namun beda hal dengan Asha, gadis itu memilih acuh dan tidak peduli, baginya mengenal orang-orang baru untuk sebuah hubungan baru hanya akan membuang waktunya percuma.
“Sha, aku dengar kamu baru pulang dari luar negri ya?” pandangan Abimanyu beralih pada Asha yang sedari tadi terus menunduk menscroll ponselnya.
“Iya” Asha mengangguk, menjawab sekenanya.
“Ngomong-ngomong Lo kerja dimana? Setelah lulus sekolah Lo lanjut studi dimana? Kok Gue gak pernah denger lagi kabar dari Lo sih?” pertanyaan Gendis menarik perhatian Abimanyu yang masih melirik pada Asha.
“Ah ya, aku lanjut kuliah di luar kota, kebetulan ikut tinggal sama pamanku” jawab Abimanyu disertai senyuman manisnya.
“Sekarang lagi mencoba bisnis baru, sudah tiga tahun belakangan sebetulnya, tapi sekarang baru aja mau berkembang” Abimanyu kembali mengulas senyuman tipis.
“Woooaaahhh, keren keren” Gendis manggut-manggut.
“Ngomong-ngomong kalian dari mana?”
“Kita lagi nyari kontrakan nih buat butiknya Asha” Gendis menjelaskan, sementara Asha masih terlihat acuh.
“O ya? Kamu mau buka butik?” Abim kembali melirik Asha, yang dilirik hanya mengangguk dan berdehem sebagai jawaban.
“Kalau kamu mau, aku bisa bantu, kebetulan aku punya temen yang faham masalah begituan”
Ucapan Abim bagaikan angin segar bagi Asha dan Gendis, dengan semangat Gendis langsung kegirangan, memberikan reaksi yang berlebihan, sementara Asha hanya melirik Abim, lantas mengucapkan terimakasih.
“Sha, boleh tukeran nomornya? Nanti siapa tahu aku butuh buat info ke kamu masalah kontrakan ini” Asha mengangguk, lantas menyebutkan nomor ponselnya, Abim dengan semangat segera mencatatnya.
‘MODUS!’ batin Gendis berteriak kala melihat bagaimana tatapan Abim pada Asha.
.
.
.
Karena aku update 2 bab sehari, mungkin karya ini akan selesai di bulan ini, jangan lupa beri aku dukungan yaaaa.
Terimakasih banyak telah memberiku banyak cinta hingga episode ini, aku sayang kalian, readers paling setia, meski beberapa ada yang tidak menunjukkan dirinya, tapi aku senang dan akan selalu bersyukur dan berterimakasih untuk semua dukungan readers, baik readers baru ataupun readers lama. Aku sayang kalian semua. Love.