SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Side Story Gendis


Gendis terbangun kala mendengar suara lantunan ayat suci Al-quran dari masjid yang berada tidak jauh dari rumahnya, suaranya sayup-sayup merdu, membuat siapa saja yang mendengarnya akan ikut terhanyut. 


“Ah ... ini pasti suara Kak Ilham, Kak Ilham memang calon imam yang sempurna, sudah tampan, baik, shaleh, pinter ngaji, suara adzannya bagus, ya Allah ... nikmat mana lagi yang aku dustakan?” Gendis memeluk gulingnya dengan bibir tersungging. Waktu baru saja menunjukkan pukul tiga dini hari, namun Gendis sudah bangun demi mendengarkan suara lantunan merdu dari pujaan hati. 


Sulit dipercaya, bahwasannya si gadis yang pada awalnya sulit dibangunkan itu tiba-tiba saja menjadi si gadis rajin. 


“Ya Allah ... pliss jodohin Aku sama Kak Ilham, kalau masih belum jodoh juga, tolong ya Allah, jodohin aja, hamba mohon” kedua tangan Gendis menengadah ke langit-langit kamarnya. 


“Hoooaaammm ...” Gendis kembali menguap, matanya memerah dan sedikit bengkak, rasanya baru saja dia menyelesaikan nonton streaming film kesukaannya, tapi dia harus sudah terbangun. 


Sayup suara itu masih melantun merdu, membuat Gendis merasakan matanya menjadi semakin berat, Gendis melirik jam wekker, dirasa masih terlalu pagi untuk bangun, Gendis kembali memeluk gulingnya dan merebahkan tubuhnya. 


“Lima menit aja, Gue nanti bangun lagi setelah lima menit” gumamnya dengan mata terpejam, lantas Gendis kembali masuk ke alam mimpi, meninggalkan dunia nyata yang terlalu fana baginya. 


*** 


“Gendis!!” suara lengkingan juga rasa basah dirasakan di wajah Gendis, kala sebuah cipratan air meluncur begitu saja diwajah bantalnya. Gendis gelagapan, matanya melotot menatap objek yang sudah dengan berani mengguyur wajahnya dengan air dingin. 


“Mamah ...” Gendis menciut kala dilihatnya sang Mamah kini tengah berkacak pinggang di samping ranjangnya. 


“Bagus kamu! Kamu gak akan sekolah? Lihat jam!” teriaknya murka.


Gendis mengerjap lalu matanya melirik pada jam, dan seketika matanya kian melotot, waktu menunjukkan pukul tujuh, dan Gendis masih diatas kasur dengan penampilan acak-acakan! Tidak! Hari ini adalah jadwal ulangan pelajaran yang cukup penting baginya, gurunya galak pula, bagaimana mungkin Gendis bisa melewatkan semua ini?.


“Perasaan tadi baru jam tiga, sekarang kenapa sudah jam tujuh?” Gendis menendang selimutnya dengan kesal. 


“Makanya jangan kebanyakan nonton drakor!” sang Mamah dengan kesal kembali keluar dari kamar, tangannya masih menjinjing spatula yang tadi sempat akan dilayangkan pada kepala putrinya jika tak kunjung bangun. 


Gendis memasuki kamar mandi dengan grasak-grusuk, hingga tidak sadar keningnya terpentok pintu hingga menimbulkan baretan kecil, namun Gendis tidak ingin merasakannya, gadis itu memilih untuk segera mandi ala bebek, lalu dengan gerakan super kilat, Gendis mengenakan seragamnya, menyisir rambut dengan asal, lalu menyambar tas dan segera berlari menuju ruang makan. 


“Papah mana Mah?” Gendis bertanya sembari meneguk susunya yang sudah siap diatas meja makan. 


“Papah udah berangkat duluan, kamu lama jadi di tinggal” ucap Mamah kesal, masih marah karena putrinya bangun kesiangan. Ini memang sudah menjadi penyakit baginya. 


“Yak! Terus aku berangkatnya gimana? Mobilku masih di bengkel Mah, alamat aku bakalan kena hukuman ini, apa aku jangan masuk sekolah aja ya Mah?” 


Pertanyaan itu terlontar begitu saja, membuat Mamah memelototkan matanya kesal. 


“Gendis!” kali ini bukan spatula yang melayang, namun gelas bekas susu minuman Gendis. 


Gendis meringis, menyambar roti isi diatas piring lalu segera berlari keluar dari rumahnya, mengabaikan omelan Mamah yang kini sudah menggema di setiap penjuru rumahnya. 


“Huh! Gila! Terus sekarang Gue gimana?” Gendis celingukan menatap sekitar, sungguh tidak ada yang bisa diandalkan, mau order ojol pun rasanya sulit karena waktunya terlalu mepet. 


“Ya Allah ... gimana ini?” Gendis menendang kerikil dengan kesal.


Ttiiiddd!


Gendis mendongak, dalam hati berharap ada sebuah harapan dari suara klakson yang Ia dengar, namun segera harapan tersebut sirna, setelah melihat siapa yang datang menghampirinya. 


“Ngapain Lo bengong depan pagar rumah? Kesambet?”


Astaga!


Tolong! Hari ini Gendis sedang merasa sial karena kesiangan, dan sekarang kesialannya bertambah, karena si cowok rusuh itu ada dihadapannya. 


“Lo gak mandi ya? Jorok Lo! Pipi Lo juga masih ada bekas bantalnya, Haha” pria itu tertawa terbahak, membuat Gendis kian kesal. Matanya menatap ponselnya, ternyata orderan ojolnya kembali di cancel, ya Tuhan!.


Malas menanggapi, Gendis memilih untuk memalingkan wajahnya, meladeni Vidi yang kini tengah pongah berada di atas motor ninjanya, sama saja mengundang tensi darahnya agar terus naik. 


“Minggir Lo!” Gendis menatap dengan galak. 


“Yeee galak! Lo gak mau bareng sama Gue?”


Tawaran itu sangat menggiurkan, Gendis akan langsung mengangguk tanpa pikir panjang jika orang itu adalah Ilham, namun karena manusia tengis ini adalah Vidi, maka jelas Gendis akan menolak keras. 


“Ya udah kalau gak mau” Vidi mengedikkan bahunya acuh, lantas dia mulai kembali menghidupkan mesin motornya. 


Ting!


Gendis menatap pada layar ponselnya, Asha memberitahunya jika sebentar lagi kelas akan segera masuk, bertanya kenapa Gendis belum datang? Padahal jam pertama adalah ulangan dari guru killer, Gendis kian frustasi, menatap kesal pada Vidi yang kini tengah menghidupkan mesinnya dengan gaya menyebalkan. 


“Mau gak?” sekali lagi Vidi menawarkan, membuat Gendis mencebik kesal. 


“Sepuluh menit nyampe sekolah Gue, kalau telat Gue tendang Lo di jalanan!” dengan gerakan secepat cahaya, Gendis menaiki motor Vidi, menggunakan helm yang cukup kebesaran di kepalanya. 


Vidi tersenyum bangga, lalu mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Gendis mau tidak mau memeluk Vidi di belakangnya. 


“Emang modus banget ni orang!” gerutu Gendis kesal, namun ini adalah pilihan sulit baginya, pegangan Gendis merasa ogah, gak pegangan Gendis masih sayang usianya, Gendis masih bertekad untuk membuat Ilham jatuh cinta padanya. Mengingat Ilham membuat Gendis menjadi senyum-senyum sendiri. 


“Gila Lo?” 


Gendis mengerjap, melirik sekitar ternyata mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah Gendis, Gendis mencebik lalu melompat dari atas motor.


“Nih helm Lo! Makasih!” dengan ketus Gendis merapikan roknya lalu bersiap memasuki sekolahnya. 


“Heh tunggu!” Gendis dengan kesal melirik ke belakang, menatap tajam pada Vidi yang kini tengah tersenyum menyebalkan di mata Gendis.


“Apalagi sih? Gue udah kesiangan nih!” 


“Idih, jadi orang gak ada terima kasihnya sama sekali” Vidi berdecak kesal. 


“Kan tadi udah bilang makasih Vidi! Ih kesel lama-lama!”


“Makasih aja gak cukup, butuh wujud dari makasih” Vidi bersedekap masih menatap Gendis dengan tampang menyebalkan. 


“Ya terus Gue harus gimana lagi? buruan Vidi! Lima menit lagi Gue masuk kelas ih!” Gendis mulai tak sabaran. 


“Sini!” 


Mata Gendis melotot kala Vidi tiba-tiba saja menarik tubuhnya, jarak mereka kini sangat berdekatan. 


“Vidi! Lo ...”


“Kening Lo luka Dis” 


Gendis semakin terheran kala merasakan Vidi menempelkan sebuah plester di keningnya, dan Gendis semakin mematung kala melihat Vidi melajukan motornya dengan senyuman aneh di bibirnya. 


“Dia gila?” Gendis bergumam pelan.