
Hujan kembali deras setelah beberapa saat mereda, kilat kembali menyambar setelah sebelumnya sempat sirna.
“Sha! Buka pintunya Sha! Atau aku bakalan dobrak pintu ini!”
“Aku tahu kamu di dalam Sha! Aku tahu kamu lihat aku dari dalam! Buka Sha! Kita perlu bicara baik-baik!”
Briyan kembali menendang pintu kokoh yang menjulang tersebut, amarahnya tiba-tiba saja memuncak kala ucapannya tidak di dengar oleh Asha, harga dirinya terluka kala tidak ada satupun balasan panggilan dari Asha, selama ini seperti inikah perasaan Asha? Sakit! Kala hatinya terus diabaikan, cintanya tidak pernah dibalas, dan tubuhnya selalu ditolak.
“Aku tahu kamu marah sama aku Sha! Aku terima! Tapi buka dulu pintunya! Kita perlu bicara!” Briyan kembali menendang pintu tersebut.
Sementara itu, di dalam sana Asha tengah menutup mulutnya di balik pintu yang tengah Briyan tendang, gadis itu tahu akan kedatangan Briyan sedari mendengar deru mesin mobil yang berhenti di halaman Villanya, gadis itu segera berlari menuju pintu utama, memastikan jika pintu sudah di kunci dan tirai sudah di tutup semua.
Asha mendengarkan setiap ucapan Briyan, jujurnya hatinya merasa teriris perih, ingin rasanya Ia membuka pintu lalu memeluk Briyan dan menenangkannya, namun ... bayangan kematian orang tuanya dan perlakuan Briyan selama ini terhadapnya membuatnya kembali memutuskan pada sikap tegasnya. Asha akan melepaskan Briyan, apapun yang terjadi.
“Sha! Aku tahu kamu dengerin aku Sha!” suara Briyan terdengar serak. Asha semakin membungkam mulutnya.
“Kalau kamu udah gak mau dengerin aku lagi, ok Sha! Aku pergi” suara Briyan terdengar lesu.
Hening ...
Suara itu tidak terdengar lagi. Tidak ada lagi suara teriakan Briyan, yang terdengar hanya suara rintik air hujan yang semakin melebat.
Asha masih meneteskan air matanya, Asha menarik napas pelan lalu menghembuskannya, mencoba mengintip Briyan dari tirai jendelanya, tidak terlihat Briyan di luar sana, apa karena hari sudah gelap? Asha tidak yakin, yang jelas Asha yakin jika Briyan sudah tidak ada di depan pintu.
Perlahan, untuk membuktikan rasa penasarannya, Asha mencoba untuk membuka pintu, dan mengintip keluar rumah, rasa dingin semakin menusuk kulitnya, kepala Asha keluar rumah untuk memastikan sekali lagi.
“Aku tahu kamu akan keluar Sha”
Asha mengerjap tidak percaya, kala Briyan kini tiba-tiba ada di hadapannya, matanya mengerjap berulang kali kala tatapan mereka beradu.
“Aku tahu kamu masih khawatir sama aku Sha”
Briyan tersenyum lembut, langkahnya perlahan menuju tubuh Asha yang kini masih mematung di depan pintu.
Asha menggelengkan kepalanya berulangkali, kebencian itu tersorot jelas di matanya.
“Briyan ...”
“Ayang! Kamu selalu memanggilku seperti itu Sha, jangan ganti panggilan itu, aku suka mendengarnya” Briyan menyela.
Asha berdecih sinis, lalu tangannya bersiap untuk kembali menutup pintu.
“Kita perlu bicara Sha!” Briyan menahan pintu dengan kakinya, membuat Asha kesulitan menutup pintu.
“Gak ada yang perlu dibicarakan lagi Briyan!” Asha membentak dengan kencang.
Acara tarik menarik pintu tidak bisa dielakkan lagi, sepasang suami istri itu masih tetap egois mempertahankan pendapatnya masing-masing.
“Kamu curang Briyan!” tatapan mata Asha kembali nyalang, bibirnya berdecih kesal.
“Maaf Sha, aku tidak bermaksud menyakiti kamu” Briyan berkata dengan nada memelas.
“Tidak bermaksud? Tapi kamu melakukan kesalahan hampir setiap hari padaku Briyan!” Asha membanting pintu, hingga pintu itu terbuka lebar, dan Briyan hanya bisa mematung melihat reaksi Asha, gadis yang biasa terlihat ceria, penuh tawa, dan manja itu kini tengah menatapnya dengan penuh amarah dan luka.
“Kamu memperlakukan aku layaknya binatang! Kamu tidak pernah sekalipun menganggapku sebagai istrimu! Bahkan kamu tidak pernah menganggapku ada! Kamu juga mengkhianatiku selama pernikahan kita! Aku membencimu Briyan!” teriak Asha penuh emosi.
“Sha ... aku ...”
“Kamu tidak pernah tahu, seperti apa rasanya jadi aku! Aku menunggumu disini! Aku percaya padamu jika kamu hanya menempuh pendidikan dan akan kembali padaku, aku percaya meski kamu tidak memperlakukan aku layaknya manusia, tapi kamu tidak mungkin selingkuh! Tapi apa? Kamu tinggal dengan Raisya selama ini? Apa saja yang sudah kamu lakukan bersamanya? Bahkan untuk membayangkannya saja aku sudah merasa jijik padamu!” Asha murka dengan segala ucapannya, kemarahannya sungguh diluapkan semuanya hari ini, tubuhnya bergetar hebat, air mata sudah berderai sedari tadi.
“Aku tidak ...”
“Awalnya, aku percaya dengan semua janji-janjimu kala kamu akan pergi ke luar negeri waktu itu, namun sekarang ... aku tidak akan mempercayai apapun lagi dari mulutmu, sekali berbohong, tetap saja akan berbohong!” pungkas Asha final.
“Sha! Kamu dengerin aku dulu Sha!” Briyan mencoba menyentuh Asha.
“Jangan pernah menyentuhku! Pembunuh!”
Asha masuk ke dalam rumahnya kembali, menutup pintu dengan kencang hingga Briyan merasa terpental, Briyan masih ternganga dengan luapan amarah Asha, Briyan tak mampu mengatakan hal apapun pada Asha, karena semua yang Asha katakan memang benar adanya.
“Sha ...”
Tok
Tok
Tok
Briyan mengetuk-ngetuk pintu itu dengan perlahan, berusaha bersikap lembut, tubuhnya juga sudah sangat lemah, suhu badannya meninggi, terlalu lama dalam cuaca buruk di tambah beberapa hari belakangan ini pola hidup Briyan tidak teratur, membuat Briyan menjadi begitu lemah.
“Sha ... aku minta maaf sayang ... aku tahu aku salah, aku bukan manusia sempurna, maafin aku Sha.” Suara Briyan terdengar begitu lemah, kini tubuhnya sudah luruh di lantai, kepalanya bersandar pada pintu yang sudah di kunci dengan rapat oleh Asha, kakinya berselonjor, matanya terpejam erat, sementara itu di dalam sana Asha juga melakukan hal yang sama, mereka duduk dengan posisi yang sama, mereka sama-sama menyandarkan tubuh mereka, hingga punggung mereka beradu hanya saja ada pintu sebagai sekatnya.
“Sha ... dulu, waktu kamu kecil ... kamu inget gak? Aku yang pertama kali ngajarin kamu naik sepeda, sampai kamu jatuh berulang kali, tapi aku tetep ajarin kamu, karena kamu sulit diajarin Sha, tapi tetap aku yang dimarahi Mamih dan Papih” Briyan tersenyum kecil kala mengingat kejadian itu, sementara matanya masih terpejam erat, merasakan udara dingin dari angin yang menusuk kulit.
“Waktu kamu lagi makan sosis kesukaanmu, terus ada anjing yang ngejar-ngejar kamu, kamu lari sampai kamu jatuh, aku yang menolongmu Sha, tapi tetap saja aku yang dimarahi Mamih dan Papih” di dalam sana, Asha tengah menutup mulutnya erat, gadis itu teringat pada segala kenangannya di masa lalu.
“Aku selalu jengkel kala ada gadis kecil yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, memarahi teman-temanku karena tak ingin berbagi diriku pada siapapun, memperlakukan aku layaknya aku adalah tawanan, aku tidak suka itu Sha ... “
Asha kembali menangis, dia tahu dia tidak akan kuat mendengarkan ucapan Briyan selanjutnya, Asha memilih untuk berlari menuju kamarnya, menangis sejadi-jadinya di dalam sana, meluapkan segala rasa yang tidak Ia mengerti.
“Tapi ... itu dulu Sha, kamu harus tahu, jika sekarang aku sangat merindukan masa itu, aku rindu Asha yang posesif padaku” Briyan masih mengoceh dengan segala kenangannya.
“Hidupku hampa Sha, kala kamu pergi dari hidupku, kurasa ... aku sudah jatuh cinta padamu Sha ...”