SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Wujud Dari Bentuk Cinta


Semuanya berawal dari sebuah rasa nyaman, lantas karena rasa nyaman itu mereka melanjutkannya dengan melakukan hal menyenangkan bersama-sama, selama waktu itu terlalu banyak hal yang mereka lalui, entah rasa senang, bahagia, tangis, tawa, tak jarang juga kebersamaan mereka dilalui dengan sebuah pertengkaran yang tak begitu berarti, karenanya setelahnya mereka segera kembali dan berbaikan. Mereka menamai hubungan mereka sebagai sahabat.


“Dis!” Asha melambaikan tangannya pada seorang perempuan seusianya yang kini tengah celingukan dari pintu masuk sebuah kafe.


“Sha!” Gendis mendekat, lantas segera mendaratkan bokongnya di sebuah kursi di hadapan Asha.


“Gue sampe gak mandi dan gak gosok gigi demi nemuin Lo biar cepet, ada apa sih?” Gendis mengerucutkan bibirnya kesal, lantas segera meneguk minuman yang di pesan Asha tadi, sebelumnya Gendis terburu-buru berangkat dari rumahnya hanya karena panggilan Asha, padahal waktu sudah lumayan siang, namun Gendis si perempuan sembrono bangun tidur siang hari, setelah suaminya berangkat kerja Gendis tertidur lagi, menikmati waktu dan moment berdua sebelum memiliki buah hati diantara mereka, itulah alibi gadis manis yang meski tidak mandi dan tidak gosok gigi katanya.


“Iiieewww, ya gak gitu juga kali” Asha menjepit hidungnya dengan jari-jemarinya, memutar kedua bola matanya malas, senang ternyata Asha masih menjadi prioritas Gendis sampai hari ini. Gendis adalah makhluk yang dikirim Allah untuk membuat hidup Asha yang kelabu menjadi berwarna.


“Makan dulu Dis, Gue tahu Lo belum sarapan, tadi habis bangun dan anterin Vidi sampai depan pintu Lo tidur lagi kan?” ucap Asha yang sudah sangat paham mengenai kebiasaan Gendis.


“Tahu aja Lo” Gendis makan pesanan Asha dengan lahap seperti orang kelaparan, Asha hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Makan pelan-pelan Dis, Gue gak akan rebut makanan Lo”


Gendis menghentikan makannya, gadis itu meskipun sembrono dalam hidupnya, namun dia selalu peka jika tentang sahabatnya, Gendis mendongak menatap Asha dengan tatapan bingung.


“Ada yang aneh, Lo kenapa Sha?” Gendis total menghentikan makannya, kini fokusnya hanya pada Asha.


“Gue mau ngomong sesuatu sama Lo, serius, boleh?” Asha menatap Gendis dengan sayu, membuat Gendis mengernyit dengan perasaan tak nyaman.


Asha memegang tangan Gendis yang berada di sisi piring, bibirnya tersungging senyum, matanya menyiratkan keteduhan.


“Dis, Gue cuman mau bilang ... terimakasih” Asha memulai ucapannya.


“Apaan sih? Gak ada kata terimakasih diantara kita Sha! Lo sahabat Gue sedari dulu, Lo gak pantes mengatakan sesuatu untuk hal yang tidak Lo terima” Gendis menghempaskan tangan Asha, hatinya kian berkecamuk.


“Terimakasih banyak, karena Lo udah mau menjadi sahabat Gue, menemani Gue disaat Gue sangat terpuruk dan hancur sekalipun, Lo satu-satunya manusia yang dikirim Allah buat Gue disaat Gue menderita Dis, Lo udah mau dengerin segala keluh kesah Gue dan Lo juga udah mau pinjemin bahu Lo kala air mata terus menemani hari Gue, makasih buat itu semua, buat Gue Lo bukan cuman sekedar sahabat, lebih dari itu, Lo saudari buat Gue yang yatim piatu Dis” Asha menghela napas pelan, lantas menghembuskannya. Khayalnya kembali melanglang buana pada masa sebelumnya, dimana awal mula pertemuan Gendis dan dirinya, mereka saling menjaga dan saling mengerti untuk sifat masing-masing.


“Lo kenapa Sha?” Gendis makin tak nyaman.


“Tarrraaaaaa!” Asha menunjukkan dua buah kertas di hadapan Gendis.


“Apa ini Sha?” Gendis meraih kertas tersebut lantas segera membelalakan matanya kala netranya membaca kertas tersebut.


“Gue tahu, semenjak menikah kalian belum pernah bulan madu, dan Gue juga tahu, Maldives adalah negara yang sangat ingin Lo kunjungin ketika bulan madu, keinginan Lo masih sama kan Dis?” Asha tersenyum cerah kala melihat mata Gendis berkaca-kaca.


“Maksud Lo apa Sha?” Gendis terisak haru.


“Gue mau, Lo bahagia. Gue mau, Lo melakukan apa yang sudah lama Lo impikan, pergi liburan sama suami Lo ke tempat impian Lo, dan Gue harap ketika pulang nanti, Lo bawa keponakan buat Gue” Asha memeluk Gendis erat, di balas pelukan tak kalah erat dari Gendis.


“Lo baik banget Sha, makasih, Gue tahu ini gak murah, tabungan Lo pasti terkuras banyak, Gue bakalan manfaatin liburan ini sebaik mungkin” Gendis berucap dengan sesenggukan.


“Sha Lo ...”


“Lo pernah bilang kan? Cintai diri Lo sendiri, dan melakukan hal ini adalah wujud dari bentuk cinta Gue ke diri Gue sendiri, Gue seneng dan bahagia dari hati, ketika ngeliat Lo bahagia Dis” Asha mengusap air matanya.


“Makasih sudah ada di sisi Gue, meski dunia mengatakan kalau Gue gak lebih dari sekedar orang gila” Asha terisak mengingat masa kelamnya beberapa tahun silam. Sungguh Asha tidak mudah melewati waktunya selama ini.


“Sha, Lo orang baik yang pernah Gue kenal, Lo gak perlu ngelakuin apapun buat bikin Gue bahagia Sha, karena kebahagiaan Gue kalau ngeliat hidup Lo bahagia juga” Gendis semakin terisak.


“Udah! Sekarang Lo siap-siap, hubungin suami Lo, suruh dia urus cutinya, dan kalian berangkat sana!” Asha mendorong bahu Gendis.


“Thanks Sha” Gendis kembali merangkul tubuh Asha, hatinya begitu bahagia kala Ia tahu, sebentar lagi mimpinya akan menjadi nyata, dan itu semua berkat Asha.


***


Asha kembali berjalan melewati sebuah lorong rumah sakit, kali ini tujuannya adalah bertemu dengan Mamih juga Asha berniat menjenguk Papih, setelah beberapa hari Asha melewatkan itu semua.


Asha membuka pintu ruangan dimana Papih dirawat, lantas Asha tersenyum kala Mamih menyambutnya dengan sangat baik, Mamih berdiri dari duduknya, menghampiri dan segera memeluk Asha dengan sayang, dari dulu sikap Mamih tidak pernah berubah.


“Asha sudah makan Nak?” Mamih bertanya dengan lembut.


“Sudah Mih, sama Gendis tadi, Papih gimana Mih?” tanya Asha kemudian menghempaskan bokongnya di salah satu kursi yang berada di samping Papih yang tengah terbaring.


“Papih sudah sadar sayang, hanya saja sekarang kembali tertidur setelah minum obat”


Asha terbelalak, hatinya begitu bahagia ketika tahu bahwa Papih sudah sadar.


“Maaf Mamih belum kasih tahu Asha tadi, Mamih terlalu senang, sampai lupa kabarin Asha.


“Gak apa-apa Mih, Asha seneng Papih sudah bangun” ujar Asha sembari tersenyum tulus.


“Terimakasih sayang”


Asha menatap Mamih yang kini berpenampilan sangat kuyu, wanita yang biasanya terlihat begitu segar dan cantik di usianya tersebut terlihat tidak bersemangat karena kelelahan. Asha memperhatikan dengan detail, lantas menganggukan kepalanya.


“Sembari menunggu Papih bangun, Mamih mau ikut Asha?” Asha menawarkan sesuatu pada Mamih, membuat Mamih mendongak menatap Asha lantas melirik suaminya.


“Papih hanya tertidur, dan jadwal Papih bangun masih beberapa jam lagi, kita bisa titipkan Papih pada suster yang menjaganya, hanya sebentar saja, Mamih mau?” Asha kembali sedikit memaksa.


“Memangnya kita mau kemana Sha?” Mamih mengerutkan keningnya penasaran.